Honey Trouble

Honey Trouble
Menggoyahkan Hati


__ADS_3

Apa yang dikatakan oleh Kelly benar. Arthur memang kerap bergonta-ganti pasangan selepas dia tolak oleh Kelly. Meski mereka tidak memiliki status dalam hubungan mereka, Kelly kerap kali meminta jatah padanya dan tentu saja Arthur dengan senang hati memberikannya. Mereka tidak mempermasalahkan dengan siapa mereka tidur sebelum


melakukan penyatuan. Namun kali ini agak sedikit berbeda.


Mengingat Arthur baru saja tidur dengan mahasiswinya belum lama ini, sesuatu didalam benaknya seakan bersikeras memberitahunya bahwa dia tidak bisa lagi kembali pada kehidupan lamanya. Dia tidak tahu apa yang merasukinya saat ini. Namun meski begitu, gagasan untuk tidur bersama Kelly saat bibir dan tubuhnya masih


mengingat rasa dari Silvana yang tertinggal. Arthur tidak bisa melakukannya lagi.


“Berhentilah, kumohon.” Dia kali ini mengiba pada perempuan itu. Mencoba mengekspresikan kesungguhannya untuk tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi. Dia benar-benar menjauhkan tangan Kelly yang mencoba menggapai dirinya dibawah sana dengan mencengkramnya erat.


Melihat betapa kokohnya pertahanan Arthur. Perempuan itu kontan merenggut tangannya dari pegangan pria itu segera, kemudian menatap Arthur dengan cara yang tidak bisa dia definisikan. Dia sungguh bingung dengan tingkah Arthur yang diluar kebiasaannya seperti ini. Arthur balik menatap Kelly pula, dia harap pandangan matanya cukup bisa mengkonfirmasi perempuan itu dan memberikannya pengertian tanpa harus bicara.


“Oh aku paham, Arthur,” gumam perempuan itu. Nada suaranya terdengar bosan dan kesal disaat yang bersamaan. “Ini cukup mengkonfirmasiku bahwa kau akhirnya telah menemukan oranglain.”


“Apa?” Mendengar komentar Kelly, kontan ada sesuatu yang menjalar di tulang belakangnya. Gelenyar tidak nyaman itu membuat pria itu serba salah. “Aku tidak mene—”

__ADS_1


“Sudahlah, tidak usah mengatakan alasan yang hanya membuat aku semakin menyedihkan.” Kini suara Kelly terdengar sendu. Dia mungkin kecewa karena ini kali pertama Arthur menolaknya. Dia bahkan tidak bisa membayangkan pria itu akan menolaknya seperti ini. Sebelumnya padahal Kelly cukup percaya diri bahwa Arthur akan terus mengejar-ngejarnya. Namun dititik ini rasanya anggapan super pede-nya yang kelewatan itu sudah tidak berlaku lagi. “Aku paham kalau kau sudah berpindah kelain hati.”


Arthur menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa membenarkan persepsi yang Kelly ujarkan padanya. Sebab bagi Arthur sendiri dia masih belum bisa memahami dirinya untuk sekarang. Segala hal yang terjadi diantara mereka tiba-tiba berputar. Dia mengenal Kelly memang sebagai perempuan yang perseptif, tapi bukankah ini jadi konyol. Mengapa orang lain bisa menjustifikasi perasaan yang dia miliki, saat dia yang memiliki tubuh dan hati bahkan tidak lebih tanggap dan belum bisa mencerna segalanya dengan baik?


“Tidak, bukan seperti itu Kelly. Aku hanya—” Arthur berusaha untuk memprotes perkataan wanita yang menjadi pengisi relung hatinya. Namun perkataannya dengan cepat diputus oleh Kelly.


“Jika memang bukan seperti anggapanku. Jika bukan itu penyebabnya kau tidak akan menghindari ciumanku atau menolak sentuhanku,” ujarnya. “Sikapmu padaku menunjukan bahwa kau sedang menjaga hati seseorang, jangan remehkan aku soal ini Arthur. Karena aku perempuan tentu saja aku lebih peka akan hal ini…” Dia tiba-tiba saja memperlihatkan air muka yang dipenuhi oleh kesenduan. Kepalanya tertunduk setelah Arthur mencuri pandang pada wajahnya yang benar-benar kusut bahkan pria itu melihat ada air mata yang menetes darinya. Dalam situasi ini tentu Arthur tidak tahu harus bagaimana.


Menghadapi seorang perempuan yang sedang menangis adalah hal yang paling membingungkan sealam raya. Dia tidak memeluknya, tidak bisa menyentuhnya, bahkan kata-kata saja tidak sanggup Arthur utarakan. Pria itu hanya mampu mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Menyaksikan seorang perempuan sedang terluka di hadapannya. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa lantaran penyebab mengapa perempuan itu menangis adalah dirinya sendiri.


“Ini salahku, aku tahu seharusnya tidak pantas bagiku untuk mengatakan ini padamu. Tapi… apakah kau benar-benar sudah tidak lagi menginginkanku?”


“Maafkan aku Arthur.”


Kini Arthur semakin bingung dengan apa yang Kelly katakan. Rasa bersalah makin terasa berat untuk pria itu pikul. “Kenapa kau meminta maaf? Ini bukan salahmu ok? Ini salahku karena tidak bisa tegas pada perasaanku.”

__ADS_1


“Tidak. Justru ini mungkin terjadi karena aku Arthur. Alasan mengapa kau merasa bimbang terhadap perasaanmu sendiri adalah aku,” balas Kelly. Dia menatap wajah Arthur lekat-lekat. “Saat itu aku ingin mengatakan bahwa aku juga ingin bersamamu.  Aku ingin kita bisa melangkah menuju hubungan yang diikat oleh status dan bisa membuat kita melangkah lagi menuju komitmen yang serius. Aku salah karena berpikir kau tidak akan berhenti mengejarku,


sehingga aku memilih untuk menggantungkan kita tanpa adanya kejelasan. Aku sadar bahwa kini aku telah membuatmu menunggu terlalu lama. Sedangkan aku tidak pernah membiarkanmu lebih mendekat padaku kecuali saat aku yang pertama menginginkanmu. Itu jenis hubungan kita selama ini kan?”


Kelly berharap dia mendengar sesuatu yang lebih seperti sanggahan. Namun semakin lama menunggu harapan yang perempuan itu miliki semakin pupus. Dia tahu dia telah terlambat sekarang, dia tahu bahwa barangkali ini adalah karma yang harus dia petik karena telah menyianyiakan hati yang tulus untuknya. Tapi sekali lagi, Kelly berharap bahwa dia bisa mendengar jawaban yang dapat membuat hatinya berbunga-bunga. Dia berharap pria itu menyangkalnya dan mengatakan kata cinta seperti biasanya. Dia berharap pria yang berdiri dihadapannya kini adalah Arthur yang dia kenal. Sosok Arthur yang selalu memujanya dengan kata-kata cinta dan perlakuan yang lembut.


Sedangkan Arthur sendiri, dia sibuk bergumul dengan isi hatinya sendiri. Pria itu mencoba untuk merangkai kata-kata dan menjawab dengan baik. Paling tidak jenis jawaban yang tidak akan melukai mereka berdua. Namun sepertinya waktu yang Kelly berikan padanya terlalu singkat. Sekali lagi Arthur terpaksa harus melihat senyuman


yang terukir dalam wajahnya yang sedang menangis. Ini buruk! Katakanlah sesuatu Arthur. Katakanlah dan jadilah seorang pria yang jantan. Namun…


“Kurasa kau tidak benar-benar mencintai aku, Arthur.” Suara Kelly terdengar pilu. Arthur sekali lagi menghancurkan hubungan yang dia pikir akan berjalan lancar menuju jenjang pernikahan tapi sekali lagi, dia mungkin akan kehilangan. “Kau hanya mencintai kenyamanan yang bisa kau dapatkan dari aku, bukan begitu? Kita adalah dua insan yang menghabiskan waktu sebagai rekan kerja, saling berkeluh kesah dan berbagi cerita. Kita berdua jelas bukan lagi pemuda pemudi yang baru dimabuk cinta. Kita sudah dewasa dan sudah mengerti apa yang kita inginkan dan apa yang tidak. Alasan kau menginginkanku hanya karena aku bisa mengobati rasa sepimu. Itu saja. Karena tahu kau hanya memanfaatkanku aku jadi ragu untuk menerima usulanmu untuk berkencan. Karena saat itu aku belum memiliki rasa seperti itu padamu.” Kelly menghela napasnya dengan berat. Kemudian menghapus air matanya. “Tapi sekarang saat aku sudah merasakannya, kau justru telah berpaling dariku dan menemukan tambatan hati baru. Bukankah ini ironi? Arthur saat ini aku mencintaimu.” Akunya, Kelly kemudian mengepalkan kedua tangannya. “Tapi sekarang kau tidak.”


“Kelly aku—”


“Siapapun yang berhasil menggoyahkan hatimu adalah perempuan yang sangat beruntung.” Kemudian Kelly memunggungi Arthur dan melangkah pergi tanpa berbalik lagi. Wajahnya terlihat sedikit kusut.

__ADS_1


Dia hanya memandang kepergian Kelly tanpa adanya upaya untuk mengejar perempuan itu seperti yang seharusnya dia lakukan. Tapi… siapapun yang memilikimu? Kata-kata yang Kelly berikan padanya sedikit mengganggu. Dan perasaannya semakin hampa begitu dia mencoba untuk memikirkannya.


Memangnya wajar baginya untuk jatuh cinta pada seorang perempuan belia yang notabene adalah mahasiswinya sendiri hanya karena mereka tidur sekali? Itu rasanya mustahil dan tidak mungkin!


__ADS_2