Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Kenikmatan yang Penuh Dosa


__ADS_3

Dito duduk di hadapan Anggi yang terengah-engah sehabis mencapai puncaknya. Ia membuka celananya, menunjukkan kejantanannya yang kini telah menegang. Anggi memerhatikan dengan kaget. Ujung benda itu berwarna kemerahan dan mengeluarkan cairan sedikit demi sedikit.


"Gede banget Mas... aku ga yakin bakal muat..." ucap Anggi ragu.


Pria itu tertawa gelap. Terdengar penuh nafsu. Tanpa basa basi Dito mengarahkan intinya sejajar dengan Anggi dan memasukkannya ke dalam. Anggi menjerit kesakitan. Ini bukan yang pertama baginya, tapi ini pertama kalinya benda sebesar itu masuk ke dalam tubuhnya.


"Ahhhhh!!!!" Jerit Anggi dengan suara yang sangat sensual.


Dito memulai gerakannya dengan perlahan. Ritme yang panjang dan perlahan. Setelah ia merasa bagian kewanitaan Anggi mulai melonggar dan memberikannya jalan, Dito mulai memacu kuda-kudanya dengan ritme yang cepat. Pendek, cepat, dan menghantam di setiap sisi inti Anggi.


Ranjang yang mereka tempati berdecit keras menandakan liarnya permainan mereka. Suara ******* dan bau kelamin tercampur menjadi satu di ruangan itu.


"Ah... ah... ah... Ma...aa..ss..." ucap Anggi terbata-bata.


Dito menggumam dengan erangan yang pendek dan tidak beraturan. Nafasnya memburu. Berpacu mengikuti semakin panasnya permainan cinta antara Dito dan Anggi. Panggulnya bergerak maju mundur mengikuti irama pinggang Anggi yang menari bersamanya. Keduanya terbuai dalam kenikmatan duniawi yang terasa sangat manis.


Anggi dan Dito saling beradu. Menempel erat dan bergesekkan. Keduanya tenggelam dalam nafsu dan berkejaran mencapai klimaksnya masing-masing. Tak berapa lama, hentakan Dito menjadi pendek tak beraturan. Tubuhnya menegang. Begitu pula tubuh Anggi yang mulai terasa panas dan bergetar hebat. Keduanya merasa akan mencapai puncaknya. Anggi menarik Dito ke dalam pelukannya dan Dito membenamkan wajahnya di leher Anggi. Hujaman-hujaman penuh nafsu tetap Dito berikan sampai akhirnya mereka berdua tiba bersama di titik itu.


"Ahhhhhh!!!!" Jerit Anggi.


"Mas Ditoo...." Anggi mendesah kencang.


"Anggiiii...." Dito turut mengerang memanggil nama gadis yang ada di bawahnya.


Keduanya mengerang, mendesah, dan menjerit bersama dalam sebuah sensasi nikmat yang memuaskan nafsu birahi. Cairan-cairan mengkilap merembes keluar dari dalam inti Anggi yang kemerahan dan berdenyut-denyut. Memeras habis kejantanan Dito dengan dinding-dinding dalamnya yang menegang. Dito akhirnya menarik keluar senjatanya dan berbaring di sisi Anggi. Mereka berdua terengah-engah namun merasa bahagia. Anggi menyeka peluh yang ada di kening Dito lalu mengecup bibirnya singkat.


"I love you..." ucap Anggi.


Keduanya berpelukkan dan terlelap dalam mimpi masing-masing. Tanpa menyadari mimpi buruk sebenarnya akan datang setelah permainan liar malam itu.


...****************...


"Huek! Huek! Huek!" Anggi memuntahkan semua isi perutnya.

__ADS_1


Ia berjalan perlahan keluar dari kamar mandinya. Ini sudah ketiga kalinya ia muntah pagi ini. Anggi mengecek kalender siklus menstruasinya. Bulan ini sudah kedua kalinya ia tidak menstruasi. Ketakutan tiba-tiba menyergapnya.


Anggi bergegas menuju apotik untuk membeli sebuah testpack. Ia harus benar-benar mencobanya agar tidak dihantui rasa takut. Mungkin saja ia cuma masuk angin kan? Ia membawa testpack itu ke dalam kamar mandi dan menyiramkan air seninya ke ujung alat tersebut. Beberapa menit waktu terlewat namun rasanya seperti berjam-jam.


Dua buah garis kemerahan muncul di testpack itu. Anggi positif hamil.


Anggi terduduk lemas di kamar mandi. Kepalanya pusing melihat dua garis merah itu. Seperti dihantam batu, ia oleng dan akhirnya terjatuh pingsan.


Tiba-tiba saja ia membuka mata dan melihat langit-langit kamarnya.


"Nggi! Anggi? Bangun, Nak." Ia mendengar suara ibunya memanggilnya.


Anggi mengerjap-ngerjapkan matanya yang buram. Mencoba melihat lebih baik. Ia menoleh, ternyata ia tengah terbaring di kasurnya dan ibunya ada di sampingnya. Wajah ibunya tampak cemas dan bingung. Orangtua mana yang tidak bingung jika melihat putrinya pingsan di kamar mandi?


"Kamu kenapa, Nggi?" Tanya ibunya khawatir.


Anggi berdiri perlahan dan menggelengkan kepalanya.


Tidak. Mamanya tidak boleh tahu kalau Anggi hamil. Tidak sebelum Dito tahu tentang kehamilannya. Ia harus yakin dulu bayi ini akan memiliki ayah, baru ia akan memberitahu ibunya.


Mendengar jawaban putrinya, Mama Anggi memutuskan untuk meninggalkannya sendirian di kamar. Ia ingin memberikan waktu sendirian agar putrinya dapat beristirahat.


Anggi langsung menghubungi Dito. Kalaupun ia harus memberitahu seseorang, maka ayah bayi ini adalah orang pertama yang harus tahu.


Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan coba beberapa saat lagi.


Sialan! Suara operator yang menjawabnya. Anggi panik. Sudah 2 minggu ini ia tidak berkomunikasi dengan Dito karena terlalu sibuk bekerja. Ia sampai tidak sadar kalau Dito menjadi sangat sulit dihubungi selama beberapa pekan terakhir.


Anggi bergegas mengganti bajunya dan pergi ke kantor Dito. Namun setibanya disana, ia pun mendapat kabar yang makin membuat rasa takutnya membesar.


"Pak Dito sedang cuti 1 bulan, Bu Anggi." Jawab Cynthia, sekretaris Dito.


Takut, panik, dan mual semua dirasakan menjadi satu oleh Anggi. Satu tempat terakhir yang dia tahu untuk mencari Dito. Dan tempat itulah harapan terakhirnya. Rumah Dito. Anggi akhirnya tiba di rumah Dito. Namun rumah di hadapannya kosong, tanpa seorang pun di dalamnya. Bahkan pagarnya pun terkunci.

__ADS_1


"Ya Tuhan... Dito kemana sih? Kok tiba-tiba ngilang kaya gini?" Anggi menangis sejadi-jadinya.


Air mata mengalir membanjiri pipinya. Ketakutan terbesarnya pun akhirnya datang. Anggi hamil tanpa tahu dimana ayah bayinya berada. Apa kata ibunya nanti jika ia mengetahui semua ini. Bagaimana ayahnya akan bereaksi mendengar semuanya? Ayahnya pasti akan menghina ibunya sebagai wanita tidak becus yang gagal membesarkan anak.


Anggi panik. Tangannya gemetar hebat. Ia membentur-benturkan kepalanya ke setir mobilnya. Betapa bodohnya ia dengan mudah jatuh hati dan menyerahkan semuanya pada pria itu.


"Sekarang aku harus gimana, Tuhan?! Kemana aku harus nyari Dito..." Anggi terisak, ia menggigit bibirnya dan menahan tangisnya yang tidak dapat ia hentikan.


Akhirnya Anggi memutuskan untuk menelepon satu nama. Hanya orang itu yang terlintas di benaknya. Sahabatnya, Kinan.


"Halo, Nan? Kamu dimana? Aku mau bicara."


...****************...


Kinan panik mendengar sahabatnya tiba-tiba ingin menemuinya. Biasanya ini bukan pertanda yang baik. Apalagi tampaknya suara Anggi terdengar seperti habis menangis. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan pria bernama Dito itu?


Anggi mengabarinya kalau ia sudah sampai di depan kost Kinan. Kinan segera berlari membuka pintu dan melihat Anggi dalam keadaan tidak karuan. Matanya sembab dan wajahnya pucat.


"Astaga Anggi! Kamu kenapa?!" Seru Kinan kaget.


Kinan langsung menggandeng Anggi dan mengajaknya masuk ke kamarnya. Disana Anggi mulai menceritakan semuanya pada Kinan. Mulai dari pertemuannya dengan Dito, kencan-kencan mereka, hingga malam panas yang mengakibatkan semuanya lepas kendali.


"Jadi sekarang aku hamil, Nan." Ucap Anggi getir.


Mata Kinan terbelalak mendengarnya. Ia tahu sahabatnya ini bodoh kalau soal cinta. Tapi ia tidak mengira kalau Anggi akan sebodoh itu hingga mau bercinta tanpa menggunakan pengaman! Dan itu lebih dari satu kali?


"Sekarang Dito dimana, Nggi? Jangan bilang dia ngilang? Balik ke Semarang?" Tanya Kinan penuh selidik.


Anggi hanya mengangguk lemah. Bahu Kinan pun ikut merosot melihat anggukan Anggi. Entahlah, ia tidak pernah ada di posisi seperti ini. Jadi Kinan bingung harus bagaimana. Tapi tidak mungkin bagi Kinan untuk meninggalkan sahabatnya terpuruk sendiri.


Sebuah ide tersirat di pikiran Kinan. Mungkin ia bisa menggunakan bakatnya menjadi CIA untuk menemukan jejak Dito. Kinan segera mengambil ponselnya, memasukkan nama Dito dan berhasil menemukan seluruh jejak digitalnya. Namun Kinan membeku ketika melihat sebuah foto di akun instagram Dito. Foto yang baru diunggahnya beberapa hari lalu. Dengan ragu ia mengatakan hal ini kepada sahabatnya.


"Nggi, Dito mau nikah..."

__ADS_1


__ADS_2