
Pikiran Sarah tidak dapat fokus sedari tadi. Pertemuan singkatnya dengan Dito sukses mengacaukan moodnya dan membuatnya tidak bisa berpikir dengan baik.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok kaya banyak pikiran gitu?" Tanya Elton khawatir saat mereka makan malam bersama Ansel.
"Ah, ga apa-apa, El. Aku cuma kecapean aja kayanya." Ucap Sarah berbohong.
Elton tersenyum dan melanjutkan makannya sembari sesekali menyuapi Ansel dengan menu yang sedang ia santap.
Banyak sekali pertanyaan di kepala Sarah yang menuntut jawaban. Apa yang dilakukan Dito di Semarang? Mengapa ia bisa berada di sekolah Ansel? Dan sejauh apa yang Dito tahu tentang Ansel? Sungguh Sarah sangat takut jika masa lalunya kembali dan akan mengacaukan kebahagiaan yang sudah miliki sekarang.
"Mama, sel adi ain ama emen alu!" Seru Ansel bercerita tentang harinya.
"Oh, Ansel tadi main sama temen baru ya? Siapa nama temennya, Nak?" Tanya Sarah sambil memperhatikan putera kecilnya.
"Deo!" Seru Ansel bahagia.
Sarah terhenyak. Deo? Anak Dito dan Anggi? Apakah Deo baru pindah ke sekolah yang sama dengan Ansel? Apakah itu alasan Dito berada di tempat tadi? Sarah sangat bersyukur ia hanya bertemu Dito saja dan bukan wanita penyihir itu. Mungkin jika Sarah bertemu dengan Anggi lagi, kemarahannya bisa langsung meledak dan Ansel akan menangis melihat Mamanya berubah menjadi monster.
Di dalam hatinya Sarah terus menerus berharap Dito tidak mengganggu kehidupan barunya lagi. Semoga Dito tidak mengusik kebahagiannya yang sekarang. Semoga Dito tidak menggali lebih jauh tentang Ansel. Dan berbagai semoga lainnya Sarah bacakan di dalam hati seolah-olah mantra.
...****************...
Dito larut dalam pikirannya sejak pertemuannya dengan Sarah. Ternyata benar dugaannya selama ini. Ansel memang anak Sarah. Namun mengapa Ansel bisa begitu mirip dengan Dito? Bukankah seingat Dito, bayi yang dikandung Sarah waktu itu adalah anak hasil perselingkuhan Sarah dengan rekan kerjanya? Atau mungkin benar yang selama ini dikatakan Sarah jika bayi yang dikandungnya memang anak Dito?
Dan hal lain yang membuat Dito tak bisa berhenti memikirkan Sarah adalah Sarah sendiri. Betapa cantiknya wanita itu sekarang. Seolah kecantikannya yang dulu kini bertambah 100 kali lipat. Senyumnya yang masih sama dan tubuhnya yang bahkan terlihat lebih indah. Dito merasa seolah ia jatuh cinta lagi dengan Sarah untuk yang kedua kalinya.
"Ah, Sarah. Kenapa kamu bisa berubah secantik itu?" Gumam Dito pelan.
Sebuah ide terlintas di benak Dito. Ia harus mencari tahu lebih banyak tentang Sarah dan keluarganya. Dan siapa lagi informan terbaik tentang Sarah kalau bukan sahabat Sarah, Maya, yang juga merupakan sepupu Dito. Dito segera membuka kunci ponselnya dan menghubungi Maya.
"Halo, Dit. Ada apa?" Tanya Maya dari telepon.
__ADS_1
"Aku udah pindah ke Semarang, May. Bisa kita ketemu? Banyak yang mau aku tanyain sama kamu."
Awalnya Maya ragu mengiyakan ajakan Dito karena ia khawatir dengan apa yang ingin Dito cari tahu melalui Maya. Tapi ia juga tidak punya alasan lain untuk menolak ajakan Dito. Besok hari Minggu dan tidak mungkin Maya berbohong kalau besok ia harus bekerja. Kalaupun Maya menolaknya, Dito pasti akan langsung mendatangi rumah Maya. Lagipula Dito adalah sepupu Maya. Cepat atau lambat Dito pasti akan menariknya untuk bertemu entah dengan alasan apa lagi.
Dan akhirnya Maya mengiyakan ajakan Dito untuk bertemu. Keesokan harinya, Dito dan Maya bertemu di sebuah cafe pada pukul 3 sore. Tidak sulit untuk mencari Maya di antara orang-orang. Menemukan seorang wanita dengan tinggi 170 sentimeter dan pakaian hitam dari ujung kepala hingga kaki bukanlah tugas yang sulit bagi Dito. Kecuali jika Maya sudah mengubah kebiasaan berpakaiannya, maka akan butuh waktu sedikit lama bagi Dito untuk menemukannya.
Benar saja, hanya butuh waktu beberapa detik bagi Dito untuk menemukan sepupunya yang sedang menunggunya di sudut cafe itu. Dito melambaikan tangannya yang lalu dibalas oleh Maya. Ia lalu berjalan menghampiri wanita itu sambil sumringah.
"Hey Maya! Apa kabar?" Tanya Dito sambil duduk di hadapan Maya.
"Baik, Dit. Tapi jadi buruk gara-gara kamu." Jawab Maya ketus.
Dito tertawa.
"Loh kok gara-gara aku?" Tanya Dito.
"Gara-gara kamu persahabatanku sama Sarah jadi canggung rasanya." Ucap Maya.
"Aku tahu ini cerita lama, Dit. Tapi aku harus nanya ini langsung ke kamu karena aku masih kesal kalo ingat semuanya. Kok kamu tega ngelakuin hal sekejam itu ke Sarah, Dit? Bukan cuma kamu selingkuh dari Sarah, tapi kamu punya istri dua? Dan kamu lupain tugas kamu sebagai suami Sarah? Kok kamu bisa serendah itu sih, Dit!" Sembur Maya tanpa henti.
"Aku ga habis pikir! Aku loh yang selalu belain kamu di depan Sarah karena aku percaya sama kamu! Kalo aku tahu kamu tukang selingkuh, mending aku suruh Sarah mutusin kamu sebelum kalian nikah Dit!" Maya kembali mengomel.
Dito menghela nafas. Bahkan sejak hari sidang perceraian pertamanya ditetapkan, rasa sesak terus menghantui hati Dito. Hingga bertahun-tahun lamanya Dito tetap menyimpan penyesalan itu. Namun lidahnya terlalu kaku untuk meminta maaf pada Sarah.
"Iya, May. Aku emang manusia rendahan. Aku sadar itu." Jawab Dito pelan.
Maya mendengus kesal.
"Bagus kalo kamu dah nyadar." Ucapnya sambil menyeruput kopinya.
"Ngomong-ngomong kamu mau tanya apa? Jangan bilang ini soal Sarah?" Tanya Maya kembali.
__ADS_1
Dito mengangguk. Maya membalasnya dengan tatapan kaget.
"Apa lagi sih, Dit? Udahlah kamu kaya ga suka aja liat Sarah bahagia." Seru Maya kesal.
"Please, May. Ceritain semua tentang Sarah sejak dia pisah sama aku. Aku mau tahu semuanya." Pinta Dito.
Maya menghela nafas. Terlintas di benak Maya apakah sepupunya ini menyesal karena berpisah dengan Sarah? Tapi rasanya tidak mungkin kalau mengingat Dito lah yang telah membawa neraka dunia ke hidup Sarah.
"Sekarang Sarah udah bahagia, Dit. Dia punya anak yang pinter banget namanya Ansel. Keluarganya juga support banget sama dia. Dan seingetku sekitar 3 bulan lagi dia mau nikah, Dit." Jelas Maya.
Mata Dito terbelalak. Menikah? Sarah akan menikah dengan siapa? Mungkinkah dengan pria yang ia lihat bersamanya di mall waktu itu?
"Sama orang, Dit. Ya kali sama batu." Jawab Maya ketus.
"Siapa cowok yang mau nikah sama Sarah?" Tanya Dito penasaran.
Maya membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto. Foto prewedding Sarah dan seorang pria. Dito kaget karena ia kenal benar dengan sosok pria itu. Bukan berarti Dito pernah bertemu dengannya, tapi Dito pernah melihatnya di foto. Pria itu adalah pria yang ia tuduh berselingkuh dengan Sarah waktu itu.
Kalau memang Sarah berselingkuh dengan pria itu, kenapa baru sekarang mereka menikah? Apakah mungkin kata-kata Sarah benar bahwa ia tidak berselingkuh? Itu berarti tuduhan Dito pada Sarah salah besar. Dan apakah mungkin kalau Ansel ternyata adalah anaknya? Darah dagingnya dengan Sarah?
"Terus Ansel, anak itu anak siapa?" Tanya Dito kembali.
"Ya anak Sarah Dit, masa iya anak pungut." Jawab Maya.
"Maksudku siapa bapaknya?" Dito memperjelas kata-katanya.
"Lah mana aku tau. Bukannya kamu bapaknya? Kamu udah liat kan anaknya? Mukanya aja mirip banget sama kamu kok. Masa iya anak orang lain." Jelas Maya.
Hati Dito berkecamuk dalam perasaan yang campur aduk. Ya Tuhan, itu berarti Sarah meninggalkannya dalam keadaan hamil anak Dito. Sesuatu yang selama ini selalu Dito harapkan. Namun ketika buah hati itu datang, Dito malah menolak mengakuinya. Bahkan Dito malah menuduh ibu dari anaknya melakukan perselingkuhan yang tidak pernah terjadi.
Ansel adalah anaknya dan Sarah adalah ibu dari anaknya. Dito sudah melakukan kesalahan di masa lalu dengan melepaskan Sarah begitu saja. Kali ini tidak lagi. Ansel dan Sarah adalah miliknya dan akan selamanya begitu. Dito akan melakukan apapun juga untuk mendapatkan mereka kembali ke dalam hidupnya.
__ADS_1
Aku akan bawa kamu dan Ansel kembali dalam hidupku, Sarah.