Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Hidup yang Pedih


__ADS_3

Mata Elton hanya dapat terbelalak mendengar setiap patah kata yang keluar dari mulut Jimmy. Hatinya ikut sakit mendengar betapa pedihnya hidup yang Sarah jalani. Ingin rasanya Elton berlari memeluk Sarah dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


"Lo tau cerita ini darimana, Jim?" Tanya Elton penasaran.


"Istri gue itu teman SMA istri keduanya suami Sarah, si Dito itu. Udah bukan rahasia lagi sih di antara teman-temannya kalau si Anggi itu sekarang jadi bini muda." Jawab Jimmy menjelaskan.


Elton hanya dapat terdiam.


"Tapi gila ya suaminya Sarah. Cewek secantik Sarah aja masih diselingkuhin, bro! Anjing emang." Ucap Jimmy ikut kesal.


Bagaimana tidak? Siapapun yang melihat Sarah pasti akan mengakui kecantikannya. Dan kepribadian Sarah bahkan jauh lebih baik daripada parasnya. Walaupun Sarah yang sekarang tampak tertutup, tapi kebaikan-kebaikan kecil itu masih ada dan terlihat jelas. Seperti sudah menjadi kebiasaan bagi Sarah untuk berbuat baik.


Perasaan Elton campur aduk. Di satu sisi hatinya terasa pedih melihat kehidupan getir yang Sarah jalani sendiri. Dan di sisi lain ia marah. Marah kepada Dito yang sudah menyia-nyiakan wanita seperti Sarah. Beribu andai ia ucapkan dalam hati. Seandainya Elton bertemu Sarah lebih awal, pasti ia akan menjadikan Sarah ratu dalam hidupnya. Seandainya yang bersama Sarah adalah Elton dan bukan Dito, tidak akan ia biarkan setetes air matapun jatuh dari mata indah Sarah.


Mungkin itulah mengapa Elton merasa tertarik dengan Sarah bahkan di pertemuan pertamanya. Ia merasakan aura yang familiar dari Sarah. Dan kini ia mengerti dari mana rasa itu. Karena hidup yang Sarah jalani sama persis dengan kisah hidup ibunda Elton. Tanpa ia sadari, Elton seperti melihat sosok ibunya dalam diri Sarah. Wanita kuat dengan beribu luka yang bertahan hidup sendirian di tanah orang.


...****************...


Elton menekan beberapa nomor di ponselnya. Tampaknya ia akan menelepon seseorang. Ia lalu menempelkan telinganya di ponsel. Setelah beberapa kali nada tunggu berbunyi, suara seorang wanita menjawab telepon itu.


"Halo?" Tanya wanita itu.


"Halo, Bu. Ibu sehat?" Tanya Elton kepada wanita yang ternyata merupakan ibunya.


"Ibu sehat, El. Kamu gimana kabarnya disana? Baik-baik aja kan?" Tanya Ibu Elton dari telepon.


Ah, ternyata satu lagi kemiripan antara Sarah dan ibunya. Panggilan itu. Kedua wanita itu memanggil Elton dengan sebutan yang sama. Bahkan tanpa diminta untuk memanggilnya seperti itu pun Sarah dengan sendirinya memanggil Elton dengan panggilan yang sama dengan ibunya. El.


"Baik, Bu. El senang banget bisa dimutasi ke Ambon." Jawab Elton bahagia.


"Wah kenapa tuh? Kamu udah dapet pacar ya?" Goda ibunya di telepon.


"Engga, Bu. Engga begitu. Cuma El suka aja disini. Susah jelasinnya, tapi nanti kalau ada waktu pasti El bakal ceritain semuanya." Janji Elton pada ibunya.


"Oh iya, Bu. El boleh tanya sesuatu?" Tanya Elton ragu.


"Tanya apa, El?" Sang ibu balik bertanya.


"Dulu banget, gimana rasanya waktu ayah ninggalin ibu buat wanita sialan itu?" Elton meneruskan kata-katanya walaupun ragu.


Ibunya menghela nafas berat. Mungkin memang puteranya sudah memasukki usia dimana ia ingin tahu perasaan sebenarnya dari sang ibu. Karena selama ini sang ibu selalu menutupi setiap lukanya dengan senyuman.


"Berat, El. Berat banget rasanya. Mungkin benar kata orang kalo rasanya dikhianati itu kaya mati berkali-kali. Karena memang sesakit itu hati ibu dulu." Ibu Elton menjawab dengan pelan.


Elton terdiam. Sebanyak itukah luka yang ibunya simpan selama ini? Tapi tak satupun rasa pedih itu ia tunjukkan di depan wajah Elton.

__ADS_1


"Tapi seiring waktu, lama-lama hati ibu ga terasa sakit lagi El. Biarinlah ayahmu bahagia sama perempuan lain, toh ibu disini juga bahagia sama kamu. Cuma kamu satu-satunya yang jadi penyemangat ibu. Waktu ibu terpuruk dulu, cuma kamu yang jadi motivasi ibu buat tetap ngelanjutin hidup." Ibunya melanjutkan kata-katanya.


Iya, memang benar waktu ayahnya mengusir ibunya dari rumah, Elton sudah berumur 3 tahun. Jadi setidaknya ibunya punya Elton yang selalu menemaninya. Tapi bagaimana dengan Sarah? Sarah tidak punya siapapun disini. Betapa malangnya nasib wanita itu.


"Kasihan banget dia." Gumam Elton pelan.


"Siapa yang kasihan El?" Tanya ibunya


Elton ragu untuk melanjutkan ceritanya. Ia diam sejenak dan mulai bercerita.


"Teman kantorku, Bu. Namanya Sarah."


...****************...


Tubuh Sarah rasanya tidak enak sekali. Mungkin ia kecapekan kerja karena sejak 2 minggu yang lalu ia setiap hari pulang lembur. Pertama karena memang ia dijanjikan promosi jabatan oleh atasannya namun harus mencapai target nasabah terlebih dahulu. Karena itu Sarah mati-matian mengejarnya. Yang kedua karena Sarah malas berada di rumah. Siapa yang tidak merasa jengah jika berada di rumah tapi dianggap seperti tamu tak diundang?


Sejak pagi hingga siang ini, Sarah sudah 5 kali bolak balik ke kamar mandi untuk muntah dan buang air kecil. Untungnya ia sudah izin pada atasannya untuk tidak bekerja hari ini.


"Palingan dibawa tidur juga sembuh kali ya?" Gumam Sarah pada dirinya sendiri.


Barulah ia akan memejamkan matanya, sebuah panggilan masuk ke ponsel Sarah. Sarah melirik namanya.


"Pak Andi? Aduh ngapain sih nelepon segala? Ga tau aku lagi cuti apa?" Gerutu Sarah kesal.


"Halo, selamat siang Pak Andi. Ada yang bisa saya bantu Pak?" Tanya Sarah.


"Aduh, maaf ya Sarah, saya tahu kamu lagi izin sakit. Tapi ini penting banget, kamu bisa ke kantor sekarang? Pimpinan KCU kita hari ini ke kantor dan mau ngereview laporan kredit makro. Ini kamu yang pegang kan?" Tanya Pak Andi merasa tidak enak.


"Iya, Pak. Emang saya yang pegang makro." Sarah menjawab lesu.


"Bisa tolong ke kantor sebentar untuk pemaparan laporan kamu? Dua atau tiga jam paling lama." Pinta Pak Andi kembali.


Sarah mendengus. Rasanya tubuhnya sakit sekali tapi pekerjaan tidak bisa berhenti menghampirinya. Sarah memijat kepalanya yang berdenyut.


"Baik, Pak. 30 menit lagi saya sampai di kantor." Jawab Sarah akhirnya mengiyakan.


Tak butuh waktu lama, Sarah pun tiba di kantor. Wajahnya yang tampak pucat ia samarkan dengan pulasan lipstick berwarna merah. Setidaknya penampilannya akan terlihat lebih baik dan tidak seperti mayat hidup.


Selama kurang lebih dua setengah jam ia berdiri di hadapan atasannya memaparkan laporan kinerja kredit makro yang ia pegang selama beberapa bulan terakhir. Tugas yang sangat menyita waktu dan kesehatannya, namun setidaknya mampu mengalihkan pikiran Sarah dari betapa menyedihkan hidupnya.


"Terimakasih banyak ya Sarah. Maaf banget saya udah ganggu cuti kamu." Pak Andi meminta maaf karena merasa iba melihat wajah Sarah yang sangat pucat seperti tak dialiri darah.


"Nggak apa-apa, Pak. Saya pamit pulang dulu ya Pak." Jawab Sarah lemah.


Ia merasa mual lagi. Dengan cepat Sarah berlari ke toilet kantornya lalu memuntahkan kembali isi perutnya. Ya Tuhan, sakit apa yang sebenarnya sedang ia alami? Kenapa tubuhnya tidak bisa diajak bekerjasama sedikitpun?

__ADS_1


Sarah berjalan lemah menyeberangi lobi kantornya. Barulah beberapa langkah ia berjalan, tubuhnya terasa seperti melayang. Pandangan Sarah tiba-tiba gelap dan keseimbangannya hilang entah kemana.


Wah gawat, kayanya aku bakal pingsan. Batin Sarah.


Sarah sudah mempersiapkan dirinya akan jatuh menghantam keramik lobby kantornya. Namun tiba-tiba sepasang tangan menangkapnya. Ia terjatuh. Tapi di dalam pelukan seseorang. Sarah membuka matanya lemah.


"El?" Ucap Sarah lemah lalu matanya terpejam lagi.


"Sarah! Bangun Sar! Kamu kenapa?" Elton menepuk-nepuk pipi Sarah pelan. Berusaha menyadarkannya dari pingsan.


Elton khawatir. Ia langsung menggendong Sarah dan membawanya ke mobilnya. Lalu dengan cepat Elton menginjak pedal gasnya. Memacu mobilnya menuju ke rumah sakit. Ia tidak ingin sesuatu, sekecil apapun itu, terjadi pada wanita ini.


...****************...


Sarah tersadar. Matanya terbuka dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah atap putih polos dan lampu. Dimana dia? Apakah sekarang ia ada di rumah sakit? Seingatnya tadi ia jatuh pingsan di lobi dan seseorang menangkapnya. Seseorang? Siapa orang yang menangkapnya?


"Kamu udah sadar?" Tanya Elton pelan.


Sarah terkejut. Wajahnya berpaling melihat pria yang duduk di sebelahnya. Elton ada disana dengan wajah yang sangat khawatir.


"El? Kok kamu ada disini?" Tanya Sarah bingung.


"Aku tadi liat kamu pingsan di lobby. Aku takut kamu kenapa-kenapa makanya aku bawa kamu ke rumah sakit." Jelas Elton dengan penuh perhatian.


Ya Tuhan, sudah berapa lama Sarah tidak merasa dikhawatirkan seperti ini? Bahkan Dito yang dikenalnya selama lebih dari sepuluh tahun pun tidak peduli apakah Sarah masih hidup atau mati. Tapi pria di hadapannya ini, yang baru ia temui dua minggu lalu, sudah memiliki kekhawatiran sebesar ini terhadap Sarah?


"Kamu kenapa Sarah? Sakit atau gimana?" Tanya Elton bingung.


"Aku juga ga ngerti, El. Dari kemarin badanku ga enak banget. Dan pagi ini aku muntah-muntah terus. Mungkin masuk angin karena kecapekan ngejar target dari Pak Andi." Ucap Sarah lemah.


Tak lama kemudian, seorang dokter datang menghampiri mereka berdua. Dokter itu mempersilahkan Elton untuk duduk di kursi yang ada di depannya.


"Ibu ga perlu bangun, Bu." Ucap dokter itu mengingatkan Sarah.


"Ga apa-apa, Dok. Saya bisa kok." Sarah lalu beranjak pelan dari ranjang rumah sakit dan dibantu oleh Elton untuk duduk di kursi sampingnya.


"Ibu kapan terakhir kali menstruasi?" Tanya dokter itu sambil menuliskan sesuatu.


Hah? Kenapa dokter ini menanyakan jadwal menstruasi Sarah? Apa hubungannya kecapekan dan menstruasi? Atau jangan-jangan?


"Dua bulan yang lalu dok." Jawab Sarah pelan. Wajahnya seolah mencari jawaban atas keraguannya.


Dokter itu pun hanya tersenyum menatapnya lalu bergantian melihat ke arah Elton yang duduk di samping Sarah.


"Selamat ya Pak, istri bapak sedang hamil dan sekarang kandungannya sudah memasukki usia tiga bulan!"

__ADS_1


__ADS_2