Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Bertemu Kembali


__ADS_3

Setelah membujuk Maya berkali-kali untuk menberikan nomor telepon Sarah yang baru, akhirnya Dito berhasil mendapatkannya. Dito sudah membulatkan tekadnya untuk bertemu dengan Sarah. Banyak hal yang belum selesai di antara mereka dan Dito harus membicarakannya berdua saja.


Dito memasukkan nomor yang diberikan oleh Maya dan meneleponnya.


Tut... tut... tut...


Terdengar beberapa kali nada tunggu berbunyi sebelum akhirnya suara wanita yang ia tunggu menjawabnya. Hati Dito bergejolak seperti anak SMP yang menelepon kekasihnya untuk pertama kali. Sejak dulu Dito memang selalu suka mendengar suara indah Sarah. Bahkan ketika mereka masih menikah, Dito sering meminta Sarah untuk menyanyikannya sedikit bait lagu. Dan nyanyian Sarah sangat manjur membuat Dito terlelap tidur.


"Halo?" Jawab Sarah ragu. Ia tidak mengenal siapa penelepon itu.


"Halo Sarah. Ini aku Dito." Ucap Dito.


Sarah terhenyak. Dito dapat dengan jelas mendengar nafasnya yang tercekat dari seberang telepon. Apakah sebegitu besar rasa benci Sarah sehingga mendapat panggilan dari Dito seolah mimpi buruk baginya?


Sarah terdiam. Tak lama kemudian ia bersuara.


"Kamu mau apa nelepon aku?" Tanya Sarah datar.


Suara itu terdengar sangat dingin. Seolah tidak ada perasaan apapun selain benci dari Sarah kepada Dito.


"Bisa kita ketemu, Sarah?" Pinta Dito.


Tanpa berpikir, Sarah langsung menjawab singkat.


"Engga." Jawab Sarah singkat dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Sialan! Teleponku langsung dimatiin sama Sarah!" Umpat Dito.


Dito mencoba meneleponnya lagi namun Sarah mematikan ponselnya. Ponsel Sarah tidak bisa dihubungi selama sisa hari itu. Dito memutar otaknya, bagaimana ia bisa menemui Sarah? Dan sebuah ide terlintas di benaknya. Ide terlicik yang pertama kali terlintas di kepala Dito sepanjang ia hidup.


...****************...


Semenjak melahirkan Ansel, Sarah memang mengundurkan diri dari pekerjaannya dan kini fokus membangun bisnisnya sendiri. Memang penghasilannya tidak lagi sebesar dulu, namun setidaknya masih sangat cukup untuk menghidupi dirinya sendiri dan Ansel. Terlebih lagi, Sarah jadi memiliki banyak waktu luang untuk mengurus Ansel dan melihat Ansel tumbuh berkembang secara langsung. Dan menurut Sarah itu adalah yang paling berharga baginya.


Hari ini, restoran Sarah secara tiba-tiba didatangi segerombolan mahasiswa yang ingin makan disana. Alhasil, Sarah sedikit kelimpungan dan harus pulang lebih telat dibandingkan biasanya. Pukul 10 karyawannya baru selesai berberes dan melakukan closing transaksi. Dan mereka pun satu persatu berpamitan untuk pulang pada Sarah.


Sarah melirik ke handphonenya. Jam 10.30 malam. Hari ini ia tidak membawa mobilnya karena Elton berjanji akan menjemputnya. Tapi ia tidak mengira ia akan pulang selarut ini. Elton yang tadi sudah menjemput terpaksa pulang lagi karena Sarah tidak enak jika ia harus menunggu terlalu lama.


15 menit Sarah menunggu Elton untuk datang menjemputnya. Sebuah mobil tampak memasuki parkiran restorannya. Namun Sarah tidak mengenal mobil itu.


"Mobil siapa itu?" Gumam Sarah bertanya pada dirinya sendiri.


Tak lama, sesosok pria turun dari mobil itu. Tubuh Sarah membeku melihat siapa yang turun dari mobil itu. Sosok yang sangat ia benci. Yang telah membuat lubang menganga di hatinya. Dito.


Dito tersenyum canggung sembari berjalan menghampiri Sarah.


"Ngapain kamu kesini?" Tanya Sarah dingin.

__ADS_1


"Ada yang harus aku bicarain sama kamu, Sar." Ucap Dito.


"Ngomong aja sekarang disini. Emang kenapa?" Kata Sarah.


"Jangan disini, Sar. Kita cari tempat yang enak buat ngobrol yuk." Ajak Dito sambil memegang tangan Sarah.


Sarah menepisnya.


"Ga usah pegang-pegang aku. Oke, aku bakal ikut kamu. Tapi ga lebih dari 1 jam." Ingat Sarah tajam.


"Makasih ya, Sar." Ucap Dito sambil berjalan di depan Sarah.


Sarah mengetik pesan singkat untuk memberitahu tentang kepergiaannya dengan Dito.


El, Dito tiba-tiba dateng kesini ngajak aku pergi buat ngomongin sesuatu. Kamu ga usah jemput aku ke resto ya.


...****************...


Sarah dan Dito akhirnya tiba di sebuah kafe yang berada tak jauh dari restoran Sarah. Mungkin tempat itu berjarak kurang lebih 10 menit berkendara dengan mobil. Dito masuk duluan dan mencari tempat duduk yang berada di sudut kafe. Ia ingin pembicaraannya tidak diganggu oleh siapapun.


"Ayo duduk, Sar." Ajak Dito mempersilahkan Sarah duduk.


Sarah duduk tanpa basa-basi. Ia menatap Dito datar. Tanpa rasa penasaran sedikitpun tentang apa yang ingin dibicarakannya.


"Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" Tanya Dito akhirnya.


"Sebenarnya apa hubungan kamu sama Elton?" Sambung Dito.


Sarah tertawa getir.


"Itu bukan urusan kamu, Dit. Lagian untuk apa kamu nanyain itu? Anggap aja hubungan kami seperti yang kamu tuduhin ke aku dulu. Kami selingkuh dari kamu. Itu kan yang kamu mau aku bilang?" Jawab Sarah.


Dito terdiam.


"Aku ga pernah selingkuh sekalipun dari kamu, Dit. Tapi kayanya kamu lebih percaya surat kaleng daripada aku kan?" Tanya Sarah tajam.


"Maafin aku, Sar. Aku sadar aku udah salah besar sama kamu." Ucap Dito tertunduk.


"Aku udah lama maafin kamu, Dit. Kamu ga perlu khawatir aku bakal ganggu kehidupanmu karena aku juga udah bahagia sama hidupku." Kata Sarah.


"Aku mau tanya satu hal lagi, Sarah." Dito kembali bertanya.


"Apa?" Balas Sarah.


"Siapa ayah Ansel yang sebenarnya?" Tanya Dito.


Sarah tertawa lagi. Begitu pahit sampai seolah tawanya tengah menghina Dito.

__ADS_1


"Yang jelas bukan kamu. Kamu sendiri kan yang bilang kalau bayi yang aku kandung waktu itu bukan anakmu? Aku masih ingat jelas Dit. Kamu bilang ga akan ngakuin anakku sebagai anakmu." Ucap Sarah.


"Ansel anakku kan?" Tanya Dito.


"Udah ga ada yang perlu aku bicarain sama kamu lagi, Dit. Aku pulang ya." Ucap Sarah tanpa menjawab pertanyaan Dito sedikitpun.


Sarah beranjak dari tempat duduknya. Barulah ia berjalan beberapa langkah dari meja tempat ia dan Dito duduk, tapi kepalanya terasa sangat pusing. Sarah seperti tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan jatuh terhuyung.


"Kamu kenapa Sarah?" Tanya Dito membantunya berdiri.


Sarah menggeleng lemah. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Kedua tangan dan kakinya seperti lemas tak bertulang. Dito memapahnya masuk ke dalam mobilnya. Dan Sarah hanya bisa terduduk lemas di dalamnya.


Namun aneh, kenapa matanya tiba-tiba menjadi kabur? Kesadaran Sarah pelan-pelan menipis dan menghilang. Hal terakhir yang ia ingat adalah ia melihat senyuman yang tersungging di bibir Dito.


...****************...


Sarah tiba-tiba tersadar. Seolah ia sedang tidur panjang namun tiba-tiba seseorang membangunkannya secara paksa. Rasanya seperti baru jiwanya saja yang kembali ke tubuhnya namun tidak dengan raganya. Tubuhnya masih terasa lemas dan tidak bisa bergerak. Namun matanya terbuka lebar dan ia dapat dengan jelas melihat Dito ada di atasnya. Mempreteli pakaiannya satu persatu.


"Dit... kamu mau apa?" Sarah berkata lemah.


"Maafin aku, Sarah. Aku ga bisa ngelupain kamu sejak kita pertama ketemu kemarin. Setelah sekian lama, kayanya aku jatuh cinta lagi sama kamu." Ucap Dito tertawa.


Tawa itu terdengar mengerikan di telinga Sarah. Seolah Dito sedang merencanakan sesuatu di kepalanya. Tangan Dito sibuk melepas kancing kemeja Sarah satu per satu. Sarah menangis, ia tidak bisa apa-apa karena tubuhnya tidak mau bekerja sama dengannya.


"Jangan Dit... aku mohon jangan..." ucap Sarah sambil menangis.


Dito mengusap air mata Sarah dan mencium pipinya.


"Jangan takut, Sarah. Aku kan juga pernah jadi suamimu. Jadi harusnya kamu udah tau gimana permainanku." Kata Dito.


Dito benar-benar gila. Ia terobsesi kepada Sarah sejak pertemuan kembali mereka di sekolah Ansel. Hanya sepersekian detik melihat Sarah namun berhasil membuat Dito memikirkannya sepanjang hari. Dan Dito mantap untuk tidak merelakan Sarah kepada siapapun. Ia tidak mau lagi kehilangan cintanya dan putranya Ansel.


"Aku cuma ga mau kehilangan kamu lagi, Sarah. Aku ga mau kamu dan Ansel pergi dari kehidupanku buat yang kedua kalinya." Ucap Dito.


Baju Sarah berhasil ditanggalkan oleh Dito. Sekarang Dito menurunkan tubuhnya dan mulai melepas celana jeans yang Sarah pakai.


"Tapi bukan gini caranya Dit. Ini salah Dit." Sarah berkata lirih.


"Aku ga peduli lagi sama benar dan salah, Sar. Mungkin dengan begini, kamu dan Ansel bisa kembali lagi sama aku. Setelah malam ini, kita bakal tinggal sama-sama lagi kaya impian kita, Sarah."


"Dit... aku mohon... lepasin aku. Kamu udah punya Anggi dan Deo. Ga seharusnya kamu kaya gini." Sarah berkata lirih.


Air matanya semakin deras mengucur. Ia takut melihat Dito yang dikuasai oleh obsesi. Ia takut Dito akan melakukan sesuatu di luar akal sehat. Dan Sarah takut Elton akan kecewa padanya jika ia mengetahui apa yang akan terjadi pada malam ini.


Sarah hanya dapat terus menerus berdoa di dalam hatinya. Berharap sebuah keajaiban yang makin lama tampak makin pudar.


Ya Tuhan, tolong selamatkan aku.

__ADS_1


__ADS_2