Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Kebenaran yang Pahit


__ADS_3

"Aku mau cerai sama Dito, Ma." Ucap Sarah pelan.


Mama dan adiknya terbelalak kaget mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Sarah. Mereka bertanya-tanya mengapa Sarah mengambil keputusan senekad ini?


"Ada masalah apa, Nduk? Kamu bilang sama Mama semuanya baik-baik aja. Kok kamu tiba-tiba mau pisah sama Dito?" Tanya sang Ibu bingung.


"Semua itu bohong, Ma. Aku nutupin yang sebenarnya terjadi karena aku ga mau buat Mama dan orangtua Dito kepikiran." Sarah berkata lirih.


"Memang sebenarnya ada apa sih, Mbak?" Tanya Baim bingung.


"Dito selingkuh. Satu bulan pernikahan kami berjalan, Dito menikah buat yang kedua kalinya. Dengan selingkuhannya yang sekarang jadi istri keduanya." Sarah akhirnya mengungkapkan kenyataan pahit yang selama ini dia pendam.


Sarah membongkar cerita tentang nasib pernikahannya yang malang. Dimana ia mengetahui Dito selingkuh sebelum pernikahan mereka dan wanita itu hamil anak Dito. Setiap kata dan setiap kisah tanpa terlewat sedikitpun dituturkan dengan penuh rasa sakit oleh Sarah. Betapa ia terluka karena pengkhianatan besar itu namun perubahan Dito adalah hal yang paling menyakitkan baginya.


Air mata tumpah kembali membanjiri pelupuk mata Sarah. Meskipun sudah berkali-kali ia mengingatkan dirinya bahwa harga seorang Dito tidak sepadan dengan apapun dalam hidupnya, namun tetap saja menceritakan kisah ini seperti membuka kembali lukanya. Mungkin karena luka itu belum benar-benar sembuh dan bahkan masih menganga. Meninggalkan lubang lebar di hati Sarah.


Mama Sarah tercekat mendengar nasib putrinya. Tak pernah ia bayangkan putri yang ia besarkan dan jaga sepenuh hati akan dihancurkan oleh orang yang selama ini ia percaya untuk melindungi putrinya. Anak muda itu, Dito, yang selalu tampak sopan di hadapannya selama 10 tahun terakhir ternyata menjadi duri paling menyakitkan dalam pernikahan putrinya.


Tangisnya tumpah. Mama Sarah merasa bersalah karena telah membiarkan putri kecilnya merana sendirian di tanah orang. Jauh dari lindungan sayap induknya. Dan bahkan tidak dalam satu perahu yang sama dengan suami pilihannya.


Sementara Baim sang adik tampak sangat marah mendengar kakak kesayangannya diperlakukan seperti ini. Matanya tampak berkilat-kilat karena api kemarahan telah menelan akal sehatnya. Tinjunya mengepal karena rasa marahnya.


"Kenapa kamu ga pernah cerita apa-apa sama Mama, Nduk? Gimana kamu bisa kuat ngadepin ini semua sendirian?" Ucap Mama Sarah sambil memeluk putrinya dan mengelus rambutnya.


Sarah hanya bisa diam. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain diam. Semua yang dilaluinya sudah menguras habis energinya seperti sebuah botol yang kosong. Yang membuat Sarah makin terluka adalah melihat air mata ibunya yang jatuh menangisi kemalangan nasibnya.


"Sialan! Wong lanang edan! Berani dia kaya giniin kamu Mbak?! Aku bakal kasih pelajaran dia Mbak!" Seru Baim beringas. Ia tidak terima dengan perlakuan tidak berhati dari mantan kakak iparnya itu.


Baim bergegas mengambil helmnya, berniat menyusul Dito yang ia kira ada di rumah orangtuanya.


"Kamu mau kemana, Dek?" Tanya Sarah.

__ADS_1


"Aku mau ngasih pelajaran ke wong lanangan brengsek itu Mbak! Si brengsek itu ada di rumah orangtuanya kan?!" Seru Baim emosi.


"Ga ada gunanya Im. Dito sampe sekarang masih di Ambon." Ucap Sarah.


"Ah sialan!" Geram Baim kesal seraya membanting helmnya.


"Mertuamu gimana, Nduk? Masa mereka diem aja tau anaknya begini?" Tanya Mama Sarah.


Sarah menggeleng. Mama dan adiknya terbelalak kaget.


"Mama sama Papa Dito belom tau apa-apa soal ini, Ma." Kata Sarah lirih.


"Kita kesana sekarang, Nduk. Mereka harus tahu perbuatan anaknya ke kamu selama ini."


...****************...


Memberi tahu kedua mertuanya tentang kebusukan anaknya adalah hal yang paling berat bagi Sarah. Karena ia sadar benar betapa kedua mertuanya menjunjung tinggi moral dan norma. Betapa mereka membanggakan hasil didikan mereka yang tampak pada tutur dan perilaku Dito yang begitu sopan. Melakukan hal ini sama saja dengan mencoreng muka mereka dengan arang.


"Maksudmu apa, Nduk? Dito punya istri dua gimana?" Tanya ibu mertua Sarah tampak tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Tangan Mama Dito gemetar memegang foto-foto yang Sarah tunjukkan. Foto pernikahan Dito dan Anggi, foto keluarga Dito, Anggi, dan Deo, serta bukti lainnya yang bisa ia kumpulkan. Sarah ingin menunjukkan kalau yang ia ungkap adalah sebuah kebenaran dan bukan kepalsuan. Sarah tidak ingin dicap sebagai pembohong oleh orang-orang yang ia sayangi.


"Maaf, Ma, Pa, jujur berat banget buat Sarag ngasih tau ini ke Mama dan Papa. Tapi Sarah juga udah ga sanggup lagi buat hidup sama Dito." Ucap Sarah.


"Tapi kemaren waktu Mama dan Papa kesana, kalian baik-baik aja, Nduk. Kapan semua itu terjadi?" Tanya Mama Dito.


"Itu semua sandiwara, Ma. Aku sama Dito berbohong seolah kami pasangan yang romantis di depan Mama Papa. Padahal kenyataannya udah hampir satu tahun aku udah ga sekamar sama Dito. Karena Dito selalu lebih memilih Anggi daripada aku." Jelas Sarah.


Pertanyaan di kepala ibu mertuanya kini terjawab. Alasan kenapa Sarah dan Dito belum memiliki anak juga dan mengapa mereka berdua selalu mengelak untuk membahas hal itu. Karena Dito dan Sarah sendiri sudah tidak pernah hidup sebagai suami istri sejak lama.


"Kenapa Dito bisa tega ngelakuin itu semua, Pa? Kenapa dia tega maluin kita kaya gini?" Mama Dito menangis kecewa dengan tindakan putranya.

__ADS_1


Lalu secara tiba-tiba, ayah mertua Sarah duduk berlutut di depannya. Sarah kaget melihatnya dan mencegah ayah mertuanya melakukan perbuatan itu. Tapi pria itu menepiskan tangan Sarah.


"Biarin, Nduk. Biarin Papa minta maaf sama kamu. Maafin Papa karena gagal mendidik Dito, Nduk. Maafin Papa karena gagal membesarkan Dito jadi pria sejati yang bertanggung jawab. Papa sudah gagal jadi ayah yang baik, Nduk. Maafin Papa." Papa Dito meminta maaf kepada Sarah dengan sungguh-sungguh.


Hati Sarah teriris melihat pemandangan di depannya. Sungguh ia bukan manusia kejam yang sengaja membuat kedua mertuanya berlutut di depannya. Sungguh ia sebenarnya tidak mau menorehkan luka ini di hati orang setua mereka. Sungguh memang Dito pria yang brengsek. Tidakkah ia sadar sebesar ini akibat dari perbuatannya selama ini? Orangtuanya harus kehilangan harga diri mereka dan kini terus mempertanyakan nilai yang mereka tanamkan pada anak semata wayangnya.


Sarah duduk berlutut di hadapan ayah mertuanya dan menggenggam tangannya lembut. Ayah mertuanya mengangkat wajahnya yang tertunduk dan menatap Sarah. Wajah yang penuh kerutan itu tampak lelah dan sangat kecewa. Sarah lalu memeluk ayah mertuanya. Bagaimanapun Sarah juga memiliki andil dalam kacaunya hubungan mereka. Karena Sarah lah yang memaksa Dito menikahi Anggi dan berakibat pada semua ini.


"Udah, Pa. Papa jangan minta maaf sama aku. Ini semua bukan salah Papa. Papa jangan begini, aku ga sanggup liat Papa begini. Biarin Dito bahagia dengan hidup pilihannya dan aku dengan hidupku sendiri, Pa. Aku mohon. Berhenti nyalahin diri Papa sendiri." Pinta Sarah sungguh-sungguh.


Kedua orangtua Dito hanya tertunduk diam dalam rasa malu. Lalu Mama Dito mengangkat kepalanya dan memperhatikan Sarah. Khususnya perut Sarah yang tampak membesar.


"Kamu lagi hamil, Nduk?" Tanya Mamanya seolah tidak percaya.


Sarah mengangguk lemah.


"Dito ga boleh menceraikan kamu begitu aja, Nduk. Kamu kan lagi hamil anaknya." Ujar Mama Dito masih berusaha mempersatukan anaknya.


Sarah tersenyum getir.


"Dito ga mau ngakuin anakku sebagai anaknya, Ma. Dito kira aku hamil dengan laki-laki yang ia tuduh jadi selingkuhanku. Padahal laki-laki itu cuma sahabatku, Ma."


Sungguh hati kedua orangtua Dito terbagi dalam dilema. Di satu sisi, impian mereka untuk memiliki cucu akhirnya terwujud. Tapi di sisi lain, pernikahan kedua orangtua anak di dalam perut Sarah bahkan sudah berakhir sebelum ia lahir. Dan Mama Dito tidak sampai hati untuk mencegah Sarah berpisah dari Dito. Karena itu sama saja memasukkan Sarah kembali dalam belenggu yang menyiksa hidupnya.


Sarah seperti memahami kegelisahan ibu mertuanya.


"Mama jangan khawatir, walaupun aku udah ga sama Dito, anak ini bakal selamanya tetap jadi cucu Mama."


Kedua orangtua Dito berjanji akan menyelesaikan semua masalah Dito dan Sarah. Termasuk membebaskan Sarah dari hubungan yang menyakitkan inj. Hingga Sarah pulang, hanya satu kalimat yang terus menerus diulang oleh ibu mertuanya.


"Maafin kami ya, Nduk."

__ADS_1


__ADS_2