
Beberapa kali berkirim pesan dengan Anggi, Sarah berhasil meminta nomor teleponnya dengan alasan untuk memudahkan mereka berkomunikasi. Ini adalah hal pertama yang harus ia selesaikan ketika tiba di Ambon. Menyelesaikan kesalahpahaman dan mungkin tanda tanya lainnya. Sarah langsung menghubungi Anggi saat Dito meninggalkannya di rumah sendirian.
Beberapa detik menunggu, seorang perempuan menjawab teleponnya.
"Halo?"
"Halo Mbak Anggi, saya Sarah. Sekarang saya ada di Ambon. Bisa kita ketemu?" Sarah langsung bertanya pada perempuan itu.
Perempuan di seberang telepon terdengar menggumam. Memikirkan sesuatu, mungkin?
"Oke, aku bisa ketemu Mbak Sarah hari ini. Jam 1 di Ambon City Centre gimana Mbak?" Perempuan itu menjawabnya.
Sarah langsung menyetujuinya. Ia sudah tidak bisa menunda rasa ingin tahunya lagi. Baik atau buruk, hal ini harus diselesaikan secepatnya. Dan semoga saja bukan yang kedua yang terjadi.
Pukul 11.30 Sarah bersiap-siap untuk pergi menemui Anggi. Sarah baru saja mengecek lokasi Ambon City Centre di aplikasi peta di ponselnya dan ternyata tempat itu hanya berjarak 30 menit dari rumahnya. Tak lama kemudian, taksi online yang ia pesan sudah tiba.
"Mbak Sarah?" Tanya si supir taksi memastikan.
"Iya, benar Pak." Sarah menjawab mantap.
"Ayo silahkan naik Mbak." Si supir taksi membukakan pintu mobilnya untuk Sarah.
Sarah pun menaikki mobil yang akan mengantarnya menemui Anggi. Kemilau Ambon yang indah tidak mampu mencuri hatinya. Kepalanya sudah mau meledak karena berbagai hal yang terasa seperti kebohongan. Sulit baginya untuk bisa bersantai dan menikmati suasana sebelum ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Akhirnya Sarah tiba di tempat ia dan Anggi berjanji bertemu. Di sebuah kafe yang terletak di mall itu. Beberapa menit Sarah berkeliling mencari letak kafe itu dan akhirnya ia berhasil menemukannya. Sebuah kafe kecil yang terletak di sudut lantai 2 Ambon City Centre.
Matanya menangkap sosok seorang wanita yang tengah duduk sendirian dan tampak menunggu seseorang. Hatinya berdegup kencang. Jantungnya seperti akan lepas melihat perempuan itu. Perempuan itu tengah berbadan dua. Ia sedang mengandung dan sangat terlihat jelas dari perutnya. Sarah takut. Ia takut jika apa yang selama ini dikhawatirkannya benar-benar terjadi.
Kakinya gemetar namun ia tetap melangkah maju mendekati perempuan itu. Perempuan cantik berambut panjang hitam yang bergaya mirip seperti Sarah.
"Mbak Anggi?" Mulutnya berat sekali untuk menegur perempuan itu.
__ADS_1
Perempuan itu menoleh dan melihat Sarah. Ia tersenyum kecil dan mengangguk. Sarah duduk di hadapannya. Dengan jantung yang berdegup tidak karuan, ia mendengar setiap untai fakta menyakitkan keluar dari mulut perempuan itu. Perempuan bernama Anggi.
...****************...
Anggi bukanlah seorang wanita istimewa. Ia hanyalah seorang wanita kelahiran Ambon yang bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan permodalan. Parasnya yang cantik dan tubuhnya yang proporsional adalah warisan dari ibunya, wanita Ambon yang memang terkenal akan kecantikannya. Matanya yang indah dan rambutnya yang hitam legam adalah warisan ayahnya, si pria bugis berhati keras.
Dan Anggi pun hanya seorang wanita biasa yang tidak pernah membayangkan kisah cinta seperti di drama Korea. Ia hanya berharap dapat hidup bahagia dengan siapapun pilihannya nanti selamanya.
Tapi sejujurnya Anggi sedikit pesimis dengan yang namanya cinta. Pria-pria yang selama ini ia kencani memiliki satu tabiat yang sangat ia tidak suka. Sifat dan hati yang keras. Tipikal pria timur pada umumnya. Seperti juga ayahnya si pria Bugis yang senantiasa berbicara dengan intonasi tinggi dan menyakitkan hati.
Bukan bermaksud menyinggung suatu ras tertentu, Anggi bahkan berani bersumpah! tapi Anggi sendiri pun berdarah Timur dan tidak menyukai perangai seperti itu. Ia lelah dengan hidup yang penuh bentakan verbal sejak kecil. Karena itu, ia langsung jatuh hati dan luluh ketika bertemu dengan Dito. Pria bertutur lembut dan bertatapan teduh. Yang selalu tersenyum manis dengan siapapun yang ia temui.
Hari itu Anggi ditugaskan oleh atasannya untuk menemui kepala proyek dari perusahaan konstruksi rekanan yang baru dipindahkan ke Ambon. Kebetulan Anggi memang menjadi sekretaris dalam proyek tersebut. Jadi segala remeh temeh hingga hal penting terkait proyek pembangunan jembatan di Kabupaten Buru menjadi tanggung jawabnya. Atasan Anggi, Pak Zul, memberikannya kontak si kepala proyek baru. Pria asing bernama Dito.
"Nanti kau telepon saja Pak Dito langsung ya Anggi. Pokoknya saya percayakan semuanya pada kau!" Pesan Pak Zul pada Anggi sebelum ia berangkat.
Anggi pun menghubungi Dito melalui whatsapp, menanyakan kesediaannya untuk ditemui terkait pembahasan proyek. Pria bernama Dito itu sepakat untuk bertemu di kantor keesokan harinya pukul 10 pagi.
Anggi pun mengendarai mobilnya menuju lokasi PT. Karst Konstruksi Indonesia. Ia sangat paham lokasi perusahaan itu karena perusahaan itu merupakan salah satu rekanan kantornya. Jadi Anggi lumayan sering bolak balik kesana untuk mengurusi banyak hal.
Kurang lebih 20 menit mengendarai mobil, akhirnya Anggi tiba di kantor yang ia tuju. Ia langsung masuk melewati lobby, menunjukkan tanda pengenalnya pada resepsionis, dan menuju ke lantai 3 yang merupakan kantor kepala proyek baru.
Anggi akhirnya tiba di depan pintu kantor kepala proyek yang baru. Dengan mantap ia mengetuk pintu kayu itu.
TOK! TOK! TOK!
"Iya?" Suara seorang pria menyahutinya dari dalam.
"Dari suaranya kok kaya masih muda?" Anggi membatin di depan pintu.
"Saya Anggi, Pak. Sekretaris PT. Multi Asia Finansial sekaligus perwakilan untuk proyek pembangunan jembatan Kabupaten Buru." Anggi mengenalkan dirinya dari depan pintu.
__ADS_1
"Oh baik, silahkan masuk aja Mbak Anggi." Ucap pria itu mempersilahkan.
Anggi masuk ke dalam ruangan itu dan benar saja, sesosok pria berumur 30an duduk di hadapannya. Tersenyum ramah padanya dengan wajahnya yang manis.
"Silahkan duduk Mbak Anggi. Saya Dito, kepala proyek yang baru dipindahkan dari Semarang." Ucap Dito ramah.
Dito menjulurkan tangannya mengajak Anggi bersalaman.
"Eh iya, saya Anggi Pak." Jawab Anggi gugup.
Sial! Anggi terlalu terpesona melihat senyum Dito sehingga ia tampak seperti orang bodoh. Bagaimana tidak? Baru kali ini ia melihat pria dengan tatapam seteduh Dito. Wajar saja kalau Anggi langsung terhipnotis dan bengong sejenak, bukan?
"Jadi gimana Mbak Anggi?" Dito bertanya menyadarkan Anggi dari lamunannya.
Anggi terhenyak. Ia terlalu tenggelam dalam dua bola mata Dito yang selalu bersinar dalam garis senyumnya.
"Ah iya, Pak. Jadi untuk bisa mencairkan dana proyek ini, perusahaan kami harus melakukan survei lapangan dulu Pak. Untuk bukti dan studi kelayakan agak pendanaannya bisa cair Pak." Anggi menjelaskan singkat.
"Baik. Jadi kapan Mbak Anggi bersedia saya ajak ke lokasi pembangunannya? Letaknya kira-kira 5 jam dari sini. Mungkin lebih baik kita berangkat bareng aja biar efisien ya?" Dito kembali bertanya.
"Baik, saya ga masalah Pak." Anggi mantap menjawabnya
"Kalau begitu, besok kita berangkat pakai mobil saya ya? Jam 8 kita berangkat dari sini. Bagaimana?" Dito menawarkan kepada Anggi.
"Baik Pak." Anggi menjawabnya dengan anggukan.
Pertemuan pertama Anggi dan Dito hanya sesingkat itu. Tidak lebih dari setengah jam. Tapi tutur kata dan perilaku Dito yang lemah lembut berhasil mencuri hati Anggi untuk selamanya. Anggi tidak bisa berhenti memikirkan Dito. Pria yang tampaknya hanya beberapa tahun lebih tua darinya, tapi penuh pengertian dan kebijaksanaan.
Semalam suntuk, Anggi terus membayangkan wajah Dito yang manis dan rupawan. Ia tersenyum-senyum sendiri mereka ulang adegan pertemuan pertamanya dengan Dito. Hatinya berbunga-bunga. Ia merasa menemukan pria idamannya. Pria dengan perkataan dan perilaku lemah lembut. Yang memperlakukan seorang wanita seperti barang yang rawan pecah. Dengan lembut dan hati-hati.
Anggi terus menerus bertanya di dalam hatinya.
__ADS_1
Kira-kira Pak Dito single ga ya?