
Sejak kejadian itu, kondisi rumah yang sudah seperti neraka menjadi semakin menyesakkan bagi Sarah. Dito benar-benar dengan keras melarangnya mendekati Anggi dan bayinya. Bahkan mendekati seluruh anggota keluarga kecilnya itu. Seolah Sarah adalah seorang yang membawa virus mematikan bagi mereka semua.
Jika Sarah masuk di saat mereka tengah mengobrol di ruang tengah, maka Dito, Anggi, dan Bu Risa akan menatapnya dengan sinis lalu pergi menjauhi Sarah. Jika mereka sedang makan malam dan melihat Sarah masuk ke dapur, mereka akan segera menghentikan apapun yang mereka bicarakan. Seolah-olah khawatir Sarah akan menguping dan membuat rencana untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.
Anggi yang awalnya masih suka tersenyum dengan Sarah, kini merasa seperti di atas awan. Ia merasa seperti nyonya sebenarnya di rumah. Merasa posisinya ada di atas Sarah. Ketika bertemu Sarah, maka ia akan berlalu begitu saja atau bahkan membuang muka. Begitu juga Bu Risa. Memang benar kata pepatah, buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Dan demi Tuhan, selama ini hanya bantal Sarah lah yang menjadi saksi bisu pahitnya hidup Sarah. Entah sudah berapa liter air mata yang membasahinya tiap malam. Hanya bantal Sarah yang mendengar keluh kesah dan pedihnya hati Sarah. Tak ada satu katapun tentang kejelekan Dito ataupun rumitnya rumah tangga mereka yang Sarah ceritakan. Baik itu kepada Mamanya maupun Mama Dito.
Sarah takut. Ia takut jika semuanya terbongkar, maka kedua wanita yang paling ia cintai akan terluka selamanya. Bagi Sarah, cukuplah ia saja yang terluka. Jangan sampai ada orang lain yang hatinya ditorehkan luka baru. Sungguh keegoisan bodoh namun Sarah tak dapat berhenti melakukannya.
...****************...
Sarah menyesap kopinya sambil menikmati angin sore. Entah sejak kapan hal ini menjadi kebiasaannya. Duduk di atap gedung kantor sepulang kerja sampai waktu senja. Dan ketika langit sudah gelap, barulah ia akan pulang. Mungkin karena Sarah tidak tahan berada di rumah itu. Mungkin juga karena melihat langit memberikan perasaan tenang di hatinya.
Selama di Ambon, Sarah tidak punya rekan kerja yang terlalu dekat dengannya. Ia merasa tidak ada yang benar-benar klik dengannya. Jadi di tanah orang ini, ia benar-benar sendiri tanpa ditemani siapapun. Bahkan seorang teman pun tidak punya.
Jika dibandingkan saat ia belum menikah dulu, begitu banyak perubahan yang terjadi pada Sarah. Dulu ia begitu supel dan mudah bergaul. Namun sekarang, ia lebih memilih menutup diri dan menganggap kantor hanya sebatas tempatnya bekerja. Entah karena trauma yang diberikan Dito dan Anggi atau karena hal lain, tapi kini sangat sulit bagi Sarah untuk dapat membuka diri dan mempercayai orang lain lagi.
Jika dulu hati Sarah selembut sutera, sangat mudah terbawa perasaan. Kini hati itu sudah membatu karena ribuan luka yang tertoreh setiap harinya hingga membuat Sarah mati rasa. Senyumnya yang dulu terus terpasang di wajahnya, kini bahkan sangat sulit rasanya untuk ia berikan pada dunia.
"Sarah? Kamu ngapain disini?" Tanya seorang pria dari belakang Sarah.
Sarah melepas earbudnya dan menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
"Elton? Kamu ngapain disini?" Tanya Sarah bingung. Ada pendatang di satu-satunya zona pribadi Sarah di kantor ini. Dan Sarah tidak terlalu suka itu.
"Aku boleh gabung?" Tanya Elton hati-hati.
Sarah ragu menjawabnya namun pada akhirnya ia mengiyakan permintaan Elton.
"Iya boleh, lagian tempat ini kan bukan punyaku juga." Jawab Sarah membersihkan lantai di sebelahnya agar Elton bisa duduk.
Pria itu lalu duduk di sampingnya dan ikut menyesap segelas kopi yang ia sendiri bawa.
__ADS_1
"Kamu ngapain disini?" Tanya Elton membuka suara.
"Ga ngapa-ngapain. Aku cuma suka aja duduk disini. Rasanya tenang. Kalau kamu?" ucap Sarah tanpa mengalihkan pandangannya yang menerawang jauh ke langit.
"Aku suka liat langit. Dari dulu sampe sekarang. Di kantorku dulu juga aku selalu begini tiap pulang." Jawab Elton.
"Kamu sama kaya mama mertuaku." Ucap Sarah pelan sambil tersenyum tipis.
Keduanya kembali terdiam. Tidak ada suara apapun selain semilir angin yang menghasilan suara gemerisik dedaunan. Cuacanya pun sangat bagus. Langit yang bersih dengan semburat kemerahan pertanda waktu senja akan datang.
"Capek ga?" Tanya Elton tiba-tiba kepada Sarah.
"Eh? Capek kenapa?" Sarah terhenyak dengan pertanyaan Elton. Ia mengalihkan pandangannya dari langit ke arah pria di hadapannya itu.
"Aku tahu kamu habis nangis. Cuma aku ga tau karena apa. Mungkin capek karena tekanan pekerjaan ya?" Tanya Elton menduga-duga.
Sialan! Darimana pria di depannya ini tahu kalau Sarah habis menangis? Sarah mengecek wajahnya. Apakah mungkin matanya terlihat bengkak? Atau hidungnya berwarna merah?
Sarah hanya mengangguk.
Elton menatap Sarah dan menyentuh ujung mata Sarah dengan jarinya. Hati-hati sekali. Sarah kaget dan agak sedikit memundurkan tubuhnya karena gerakan Elton yang mendadak.
"Masih ada air mata disini." Jawab Elton sambil mengusap pelupuk mata Sarah pelan.
Sarah terdiam dan menatap Elton tanpa bisa berkata apa-apa. Apa yang sebenarnya pria ini mau? Sekedar mencari teman? Atau ada maksud lain dari tingkahnya tadi? Sarah tidak mau salah mengartikannya.
"Kalau kamu ga keberatan, aku siap dengerin semua cerita dan keluhanmu. Itu kalau kamu ga masalah." Ucap Elton hati-hati sambil menyesap kopinya lagi.
"Thanks..." jawab Sarah pelan. Sarah sendiri bingung ia berterimakasih untuk apa. Mungkin karena ia merasa akhirnya menemukan sosok yang dapat ia percayai? Entahlah. Ada sesuatu di dalam diri Elton yang membuat Sarah merasa aman. Membuat Sarah berpikir ia bisa mempercayai pria ini dan menjadikannya sebagai tempat berkeluh kesah. Padahal ini baru pertemuan kedua mereka.
Langit sudah mulai gelap. Setelah sama-sama duduk dalam diam dan hanya menatap langit, Sarah akhirnya beranjak pergi.
"Elton, udah malem. Aku harus pulang dulu. Aku pamit ya." Ucap Sarah berpamitan.
__ADS_1
"Kita turun barengan aja yuk. Aku juga mau pulang ini." Ajak Elton.
Keduanya lalu berjalan bersama menuruni tangga spiral yang terjal menuju ke lantai empat kantor mereka. Sarah lalu bergegas mengambil tas di mejanya dan ternyata ia melihat Elton masih menunggunya.
"Kamu harusnya ga perlu nungguin aku, El." Ucap Sarah merasa tidak nyaman.
"Ga apa-apa. Aku juga mau pulang kok. Kita turun barengan aja." Elton mengajak Sarah dengan tulus. Murni sebuah ajakan layaknya dari seorang sahabat.
Sarah dengan canggung berjalan di samping Elton. Keduanya lalu tiba di lobby kantor.
"Aku langsung pulang ya. Permisi." Ucap Sarah langsung berlari meninggalkan Elton yang masih tersenyum menatapnya.
Tiba-tiba sebuah suara memanggil Elton. Ia menoleh ke asal suara itu.
"Ton! Belom pulang lo?" Tanya pria itu dari arah sofa lobby.
"Eh, Jim! Belom nih." Kata Elton sembari berjalan menghampiri Jimmy, rekan satu kantornya yang berasal dari Jakarta.
"Lo habis darimana sama Sarah?" Tanya Jimmy.
"Dari atap. Abis ngeliat senja." Jawab Elton singkat. Senyumnya tidak berhenti mengembang memikirkan waktu yang ia habiskan bersama Sarah tadi.
"Lo suka sama dia ya?" Tanya Jimmy langsung seolah-olah bisa membaca pikiran temannya.
"Kayanya iya, Jim. Cinta pada pandangan pertama. Hahaha!" Elton mengakuinya sambil tertawa.
"Wah, berat Ton. Suka sama Sarah itu berat banget." Jimmy mengingatkan Elton.
"Berat gimana? Lo tahu apa soal dia?" Tanya Elon penasaran.
Jimmy terdiam sejenak. Ia ragu untuk melanjutkan ceritanya. Namun karena wajah Elton seperti menuntut sebuah kebenaran, akhirnya untaian kisah menyedihkan itu pun terungkap.
"Kasian banget tu cewek, Ton. Hidupnya berat banget."
__ADS_1