
3 tahun kemudian
Sarah kini hidup bahagia bersama putra kesayangannya yang ia beri nama Ansel Tristan Pramudya. Seorang bangsawan yang berani dan cerdas. Nama indah yang diberikan oleh orangtua Dito. Dan Sarah tidak keberatan dengan nama itu karena nama yang diberikan begitu indah.
Kehadiran Ansel benar-benar membawa warna baru bagi hidup Sarah. Seolah-olah ada berbagai palet warna yang dilukiskan dalam kehidupannya semenjak Ansel hadir. Putranya yang tampan, yang memiliki wajah persis seperti Dito mantan suaminya, merupakan sebuah anugerah terbesar bagi Sarah yang tidak akan pernah ia tukar dengan apapun.
Begitu pula bagi Mama dan adiknya. Ansel bagaikan malaikat yang mampu menghilangkan letih mereka hanya dengan satu tawanya. Semenjak memiliki cucu, Mama Sarah kini selalu pulang dengan beragam mainan untuk cucunya. Terkadang lucu terkadang aneh.
Baim pun sekarang memiliki hobi baru. Mengajak Ansel sunmori setiap minggu seperti janjinya. Dan teman-teman Baim pun selalu senang dengan kedatangan Ansel. Bahkan mereka menjulukki Ansel sebagai ketua geng motor mereka. Setiap minggu pagi, Baim akan langsung meminta Sarah menyiapkan Ansel agar ia bisa mengajaknya pergi.
Dan seperti janji Sarah, ia tidak pernah membatasi kedua orangtua Dito untuk menemui Ansel. Bagaimanapun juga Ansel adalah cucu mereka. Terlebih lagi wajah Ansel yang persis seperti pinang dibelah dua dengan putra mereka. Jadi kehadiran Ansel seperti obat rindu bagi mereka. Setiap akhir pekan, kedua orangtua Dito akan mengajak Ansel berjalan-jalan seharian hingga sore. Dan ketika pulang, Ansel akan membawa sekeranjang mainan baru bersamanya.
Elton pun semakin dekat dengan Sarah. Ia tidak ragu lagi menunjukkan rasa cintanya pada Sarah dan tampaknya Sarah juga menyadari itu. Tapi keduanya masih tetap menjaga batasan tak terlihat di antara mereka. Elton mengerti akan luka yang begitu dalam di hati Sarah sehingga Elton tidak pernah mendesak Sarah untuk menerima cintanya. Elton selalu menunggu dengan sabar hingga Sarah sembuh dari lukanya dan bersedia menerima Elton sepenuhnya.
Kebiasaan baru Elton selama tiga tahun terakhir adalah selalu datang ke Semarang untuk mengunjungi Sarah dan keluarganya. Entah itu sebulan sekali atau bahkan sebulan dua kali. Tidak peduli sejauh apapun jarak Ambon dan Semarang, tidak peduli sesibuk apapun dia, Elton akan selalu menyempatkan dirinya untuk berkunjung ke Semarang.
Bahkan Elton dan Baim sekarang menjadi dekat dan sering menjuluki persahabatan mereka sebagai "Gym Bros". Mereka seringkali pergi ke pusat kebugaran berdua dan sibuk menghabiskan waktu dengan mengangkat beban. Sarah terkadang tertawa geli melihat foto yang dikirim Elton kepadanya. Mama Sarah juga sangat menyukai Elton, si pria tampan yang sangat baik dan mencintai Sarah sepenuh hatinya.
Sarah sangat bersyukur dengan lembaran baru yang ia tulis sekarang. Semuanya sangat indah dan nyaman di hatinya walaupun berjalan dalam tempo yang perlahan. Ia berterimakasih pada Tuhan atas kesempatan kedua yang diberikan kepadanya. Sarah tidak akan salah langkah lagi. Ia akan berusaha sekeras mungkin untuk menjaga kebahagiaan yang ia miliki sekarang.
...****************...
"Kamu dimana El? Ini aku udah di bandara, El." Tanya Sarah di telepon.
Hari ini adalah kesekian kalinya Elton kembali datang ke Semarang. Dan seperti biasa, Sarah dan Ansel akan selalu dengan setia menjemputnya.
"Sebentar ya, Sarah. Ini aku lagi jalan keluar. Kamu dimana?" Elton balik bertanya sambil celingukan mencari Sarah.
Sarah sibuk mencari sosok Elton kemana-mana. Lalu ia merasakan Ansel menarik ujung pakaiannya.
"Kenapa sayang?" Tanya Sarah sambil berjongkok di depan Ansel.
Ansel tampak menunjuk-nunjuk ke arah terminal kedatangan. Tanpa aba-aba, anak kecil itu langsung berlari ke dalam terminal dan menghampiri seseorang.
"Ansel! Jangan kesana Nak!" Seru Sarah panik.
Ternyata sosok yang dikejar Ansel adalah Elton yang langsung menyambutnya dengan bahagia dan menggendongnya. Ansel tertawa bahagia di dalam gendongan Elton. Sarah dapat melihat dengan jelas mata Ansel yang berbinar bahagia ketika melihat Elton menggendongnya.
Terkadang Sarah seringkali bertanya kepada dirinya sendiri, haruskah ia melewati batasan itu? Melangkah dari masa lalu dan mulai membuka hatinya untuk Elton. Karena ia melihat kebahagiaan yang begitu besar dalam diri putranya dan juga keluarganya setiap kali bersama dengan Elton. Mungkinkah ini pertanda Sarah harus mulai melupakan luka masa lalunya?
"Menurut kamu Elton gimana, Nduk?" Tanya Mama Sarah saat Sarah sembari memperhatikan Elton dan Ansel yang bermain berdua di kejauhan.
"Maksudnya gimana, Ma?" Sarah bertanya balik, seolah bingung padahal ia paham benar kemana arah pembicaraan ibunya.
__ADS_1
"Elton kayanya pria yang baik, Nduk. Dia keliatannya juga sayang banget sama kamu dan Ansel. Kalian ga mau lanjut lebih serius po?" Lanjut Mama Sarah bertanya tentang hati putrinya.
Sarah terdiam.
"Aku ga tau, Ma. Rasanya masih berat buat aku ngebuka hati lagi. Aku masih trauma, Ma." Jawab Sarah pelan.
"Mama ngerti, Nduk. Tapi kamu juga harus inget, kamu ga bisa terus-terusan terjebak dalam masa lalu. Kamu juga berhak bahagia sama hidupmu, Nduk. Kamu ga perlu nyiksa diri kamu kaya begini." Nasihat Mamanya lagi.
Sarah hanya mendengar perkataan Mamanya. Kata-kata itu lama-lama meresap dalam pikirannya. Membuat Sarah mulai berpikir bahwa tidak ada salahnya membuka hati. Karena seperti tidak semua pria itu brengsek, maka tidak setiap hubungan pula akan berakhir sama.
...****************...
Hari ini Elton, Sarah, dan Ansel akan pergi bersama seperti yang biasa mereka lakukan setiap Elton datang ke Semarang. Entah itu mengajak Ansel ke taman hiburan atau sekedar berkeliling mall dan bermain di wahana anak, ini adalah agenda wajib bagi mereka bertiga.
Sebelum pergi ke mall, Sarah menyempatkan diri untuk mampir ke rumah orangtua Dito. Menyampaikan titipan dari ibunya untuk Mama Dito.
"Wah, ada apa nih kok datang sama Nak Elton, Nduk?" Sambut Mama Dito ramah.
"Mau ngasih Mama undangan ya?" Lanjut Mama Dito tanpa ragu.
Sarah dan Elton hanya meringis tertawa.
"Bukan, Ma. Ini Sarah mau anterin titipan dari Mama." Ucap Sarah sambil menyerahkan sebuah kantong kepada Mama Dito.
Keduanya hanya bisa tertawa dan bingung menjawab apa. Mungkin hanya suasana canggung yang menggantung di udara. Sarah dan Elton tampak kikuk dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, mereka bertiga akhirnya tiba di salah satu mall terbesar di Semarang. Sarah dan Elton langsung mengajak Ansel untuk bermain di salah satu wahana permainan anak yang cukup terkenal.
"Ansel gimana, Sarah? Dia udah bisa ngomong?" Tanya Elton sembari menyendok es krim ke mulutnya dan memperhatikan Ansel yang sedang asyik bermain.
"Kata dokter ga ada masalah apa-apa sama Ansel, El. Ansel telat ngomong bukan karena speech delay atau yang lainnya. Memang motorik yang duluan berkembang di Ansel ada di kakinya." Jelas Sarah.
"Baguslah kalo gitu. Mungkin emang belum waktunya Ansel ngomong aja kali ya. Lagian setiap anak kan beda-beda. Kamu jangan terlalu khawatir ya, Sarah." Hibur Elton sambil menatap ke arah Sarah.
Tiba-tiba Ansel berlari ke arah Sarah dan Elton yang sedang menunggunya. Entah karena apa, Ansel dengan cepat menggerakkan kakinya menuju kedua orang itu. Elton dan Sarah tertawa melihatnya karena ternyata Ansel ingin meminta es krim yang dimakan Elton. Elton segera mendudukkan Ansel dalam pangkuannya dan memberikan Ansel sesuap es krim.
Ansel tampak senang mendapatkan suapan es krimnya. Lalu mulutnya tampak berkomat kamit seperti ingin mengucapkan sesuatu.
"Apa Nak? Ansel mau bilang apa Sayang?" Tanya Sarah bersemangat. Tampaknya Ansel akan segera mengucapkan kata pertamanya
"Pa! Pa!!!" Ucap Ansel terbata-bata sambil menunjuk Elton.
Sarah dan Elton hanya dapat saling berpandangan dan tertawa.
__ADS_1
"Papa!" Seru Ansel lagi sambil memeluk Elton dengan tangan kecilnya.
"Aduh maaf ya El, aku ga tau kenapa Ansel manggil kamu kaya gitu. Ga usah terlalu dipikirin ya. Namanya juga anak kecil." Kata Sarah merasa tidak enak.
"Ga apa-apa, Sarah. Santai aja. Ga usah ngerasa ga enak kaya gitu." Balas Elton sambil mengangkat Ansel dalam gendongannya.
"Papa!" Seru Ansel senang sambil tertawa.
"Aku Om Elton. Om Elton. Tapi kalau kamu mau aku jadi Papa Elton ya ga apa-apa, Ansel. Aku bisa kok jadi Papa kamu." Canda Elton sambil tertawa.
"Eh maksudnya, El?" Tanya Sarah.
"Ga apa-apa kalau kamu belum siap. Aku bakal sabar nunggu sampai kamu siap, Sarah." Jawab Elton sambil tersenyum lalu pergi bermain bersama Ansel.
Sarah terdiam. Mungkinkah ini sebuah petunjuk yang ditunjukkan semesta agar Sarah sadar bahwa Elton adalah pilihan yang tepat untuknya? Pertama Mamanya, lalu mantan ibu mertuanya, dan sekarang Ansel. Semuanya seolah dengan sengaja ingin membuat Sarah membuka hatinya untuk Elton. Berpaling dari masa lalu dan melangkah menjalani lembaran baru bersama Elton.
Mungkinkah ini hal yang tepat? Mungkinkah Elton adalah orang yang mampu menyembuhkan luka Sarah dan membantunya percaya lagi akan cinta? Mungkinkah Elton adalah sosok yang dapat menggantikan Dito sepenuhnya baik dari hati Sarah maupun Ansel?
Sarah terus menerus menanyakan hal itu berkali-kali. Namun tidak lagi hari ini. Sarah sudah mantap dengan pilihannya. Salah satu yang membuatnya yakin adalah puteranya Ansel yang tampak sangat bahagia bersama Elton.
"El." Kata Sarah pelan saat mereka bertiga berada di mobil.
Elton menoleh.
"Kenapa Sarah?" Tanya Elton.
"Soal yang tadi. Yang Ansel panggil kamu Papa." Sambung Sarah.
"Udah ga usah kamu pikirin. Ga apa-apa, aku ga keberatan kok, Sarah. Kata-kata aku tadi juga ga usah terlalu kamu pikirin ya." Ucap Elton sambil tersenyum kepada Sarah.
"Aku mau, El!" Kata Sarah dengan nada serius.
Elton tampak bingung. Ia menatap Sarah seolah menuntut penjelasan.
"Aku mau kamu jadi Papanya Ansel, El. Aku mau nikah sama kamu." Ucap Sarah pelan sambil tersipu malu.
Elton kaget. Ia tidak pernah menyangka perjuangannya untuk mendapatkan Sarah selama lima tahun terakhir akan berhasil juga. Akhirnya ia akan menikah dengan wanita pujaan hatinya! Sungguh hati Elton rasanya ingin meledak karena bahagia.
"Serius, Sarah?" Tanya Elton seolah tidak percaya.
Sarah mengangguk malu. Elton langsung memeluk Sarah erat. Senyumnya mengembang hingga pipinya terasa seperti mau meledak. Tangannya mendekap Sarah erat dan enggan melepaskannya.
"Makasih ya Sarah. Makasih udah mau ngebuka hatimu lagi untuk aku. Makasih udah mau nikah sama aku. Makasih untuk semuanya ya, Sarah."
__ADS_1