Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Kepingan Masa Lalu


__ADS_3

Untuk pertama kalinya dalam 5 tahun terakhir, Dito akhirnya menginjakkan kakinya kembali di Semarang. Ia kembali dipindahkan ke kampung halamannya. Bersama Anggi dan Deo, Dito akan kembali ke tanah kelahirannya. Dan itu juga berarti Dito harus berdamai dengan masa lalunya. Sarah.


"Wah, ini pertama kalinya aku ke Semarang loh Mas." Ucap Anggi bahagia saat melihat kota Semarang.


"Gimana menurutmu? Bagus ga? Ini kota kelahiranku, Nggi." Tanya Dito kepada Anggi.


"Bagus banget, Mas. Mulai sekarang kita bakal tinggal disini ya?" Tanya Anggi antusias.


Dito mengangguk.


"Tapi kita harus ketemu orangtuaku dulu." Ucap Dito.


Senyum Anggi memudar. Sialan! Anggi terlalu senang akan pindah ke kota ini sampai ia lupa kalau mertuanya juga ada disini. Mau tidak mau Anggi harus mengalahkan gengsinya dan berdamai dengan kedua orangtua Dito.


Memang Mama dan Papa Dito sudah memaafkan kesalahannya dan mulai menerima Deo. Namun tampaknya masih berat bagi mereka untuk menerima Anggi sebagai menantunya. Mungkin setiap melihat Anggi, mereka teringat dengan rasa malu yang mencoreng muka mereka. Atau mungkin melihat Anggi membuat rasa bersalah kedua mertuanya terhadap Sarah muncul lagi.


Dito, Anggi, dan Deo akhirnya tiba di rumah kedua orang tua Dito. Tempat Dito menghabiskan masa kecilnya dan tumbuh besar. Dan mungkin akan menjadi rumah bagi keluarga kecilnya juga. Rumah itu bahkan masih sama seperti terakhir kali Dito melihatnya lima tahun lalu. Cat rumahnya, mobil yang terparkir di garasinya, dan bahkan tanaman yang ada di pekarangannya.


Dito mengetuk pintu depan rumah itu. Tak berapa lama, seorang wanita paruh baya dengan wajah ayu khas wanita priyayi membuka pintu itu dan menyambut mereka.


"Dito? Kamu pulangnya hari ini, Nang?"


"Iya, Ma. Maaf ya Dito ga ngabarin. Dito mau buat kejutan untuk Mama." Ucap Dito sambil mencium tangan ibunya.


Mata Mama Dito lalu menangkap sosok Anggi yang berdiri di belakang Dito. Senyumnya pun memudar melihat sosok wanita yang ada bersama putranya. Anggi mengulurkan tangannya untuk mencium tangan ibu mertuanya, tapi mertuanya hanya membalasnya dengan senyuman yang dingin. Mama Dito langsung mengacuhkannya dan beralih ke Deo, cucunya.


"Aduh cucu Eyang udah besar ya, ayo sini maen sama Yangti dulu!" Seru Mama Dito sembari menggendong dan membawa Deo pergi.


Anggi tampak muram. Ternyata perang dingin itu masih ada di antara mereka meskipun bertahun-tahun sudah berlalu. Anggi bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sehina itukah Anggi di mata kedua mertuanya? Tapi Anggi kan hanya ingin memperjuangkan haknya sebagai istri? Apakah itu adalah hal yang salah?


Dito membaca kekecewaan dari raut wajah Anggi. Ia mengambil tangan Anggi dan menciumnya. Berharap meredakan sedikit rasa kecewa istrinya.

__ADS_1


"Maafin Mama ya, Mama cuma butuh sedikit waktu aja kok buat nerima kamu." Ucap Dito kepada Anggi.


Anggi hanya mengangguk dalam diam. Jika kedua mertuanya tidak segera menerimanya sebagai menantu, mungkin Anggi harus melakukan cara lain untuk mewujudkannya.


...****************...


Dito, Anggi dan Deo tengah mengunjungi mall untuk berbelanja. Anggi merengek meminta beberapa baju baru untuknya dan Deo karena menurutnya baju yang ia punya sudah lama dan usang. Dito hanya mengangguk dan menurutinya karena ia memang tidak pernah menolak permintaan istrinya. Mereka bertiga pun segera pergi ke salah satu pusat perbelanjaan terkenal di kota Semarang.


Sementara Anggi sibuk memilih pakaian untuknya, Dito mengajak Deo bermain di salah satu wahana permainan anak. Dito menunggu di kursi tunggu sementara Deo asik bermain dengan anak-anak lain di dalam sana. Dito dapat dengan jelas mendengar suara Deo tertawa terbahak-bahak. Tampaknya Deo sedang bermain dengan teman sebayanya.


"Dasar anak-anak." Gumam Dito sambil tersenyum kecil.


Lalu tiba-tiba Deo berteriak.


"Eh tunggu! Kamu mau kemana? Jangan pergi dong!" Suara Deo terdengar memanggil seorang anak yang tampaknya lebih kecil dari dia.


Anak itu berlari ke arah pintu keluar wahana dan Deo sibuk mengejarnya. Namun anak itu tersandung dan terjatuh beberapa meter di dekat Dito. Dito reflek berdiri dan menghampiri anak laki-laki itu.


Anak itu bangun lalu menatap Dito sambil mengucapkan terimakasih. Ia kemudian berlari pergi dari tempat itu.


Hanya sepersekian detik Dito menatap wajah anak itu namun entah kenapa ia merasa sangat familiar dengannya. Mulai dari mata hingga bibir. Mulai dari rambut hingga senyumnya. Dito merasa anak kecil yang baru ia temui itu sangat mirip dengan wajahnya. Tapi siapa anak itu? Mengapa anak itu bisa sangat mirip dengan Dito?


Tiba-tiba seperti ada sebuah bel yang dibunyikan di kepala Dito. Rasa penasarannya tampak terjawab dengan sendirinya. Alasan mengapa anak itu tampak tidak asing baginya. Alasan mengapa anak itu memiliki wajah yang sama persis dengannya. Dito seolah mendapatkan gambaran keseluruhan dari pertanyaannya.


"Sarah..." gumamnya pelan.


Dito langsung berdiri dengan kedua kakinya. Kepalanya celingukan ke kanan dan ke kiri. Matanya memandang ke seluruh penjuru mall mencari sosok anak itu. Dan akhirnya ia menemukannya. Anak itu berlari ke arah seorang wanita yang menunggunya bersama seorang pria.


"Mama!" Teriak anak itu sambil berlari menghampiri wanita itu.


Lalu anak kecil asing itu pergi bersama seorang wanita dan pria yang menunggunya. Dito tidak bisa melihat wajah kedua orang yang bersama dengan anak itu karena posisi keduanya yang memunggungi Dito. Ia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya dan hatinya bergejolak ingin mencari jawaban. Secara reflek kakinya bergerak hendak mendekati ketiga orang itu.

__ADS_1


"Papa mau kemana?" Tanya Deo yang melihat Papanya akan pergi.


Langkah Dito terhenti. Ia teringat dengan anaknya yang masih ada dalam wahana bermain. Dito berbalik ke arah Deo dan tersenyum.


"Ga kemana-mana. Deo udah mainnya? Kita cari Mama yuk!" Ajak Dito sambil menggendong anaknya.


Bohong! Sebenarnya itu hanya alasan Dito agar ia dapat bertemu dan mencari tahu tentang anak itu lagi. Namun usaha Dito sia-sia. Anak itu dan kedua orang yang bersamanya sudah tidak ada di tempat mereka berdiri. Dito berdecak kesal karena gagal mengejarnya.


Aku harus cari tahu siapa anak itu.


...****************...


Banyak sekali urusan yang harus dilakukan Dito menyangkut kepindahannya. Selain mengurus berkas kepindahannya ke kantor lama, Dito juga harus mengurus dokumen kepindahan lainnya. Tugas lain yang muncul sejak ia memiliki anak adalah mencari sekolah baru untuk anaknya Deo. Dan ternyata mencari sekolah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan mulai dari biaya hingga fasilitas.


"Ya ampun, milih playgroup aja susahnya kaya gini. Gimana nanti kalau Deo mau kuliah ya, Nggi?" Tanya Dito sembari melihat-lihat brosur playgroup yang ada di tangannya.


"Ya itung-itung kamu latihan buat nanti milih kampus Dito, Mas. Kamu udah ada pilihan yang pas belum buat sekolah Deo?" Tanya Anggi seraya duduk di samping suaminya dan menyajikannya segelas teh.


Sang putra, Deo, sudah tertidur di ranjang mereka dari jam 7 malam tadi. Mungkin ia terlalu lelah bermain bersama kedua kakek neneknya.


"Gimana kalau besok kita liat langsung ke sekolahnya aja, Mas? Kayanya jaraknya juga ga terlalu jauh. Biar Deo bisa liat dan pilih sendiri sekolahnya." Usul Anggi sambil ikut membaca brosur yang dipegang Dito.


Dito tampak membuka handphonenya untuk mengecek jadwalnya besok.


"Boleh deh, besok juga aku lagi kosong. Nanti kita cari sekolah Deo ya. Jam 10 kita berangkat ya." Kata Dito kepada Anggi.


Anggi langsung mengiyakan kata-kata suaminya. Ia lalu mencium pipi suaminya lembut.


"Tidur yuk, Mas. Udah jam 11. Besok kita bakal sibuk banget loh." Ajak Anggi.


Dito pun mengangguk dan mengikuti istrinya ke ranjang. Anggi dan Dito tidur di sisi kiri dan kanan Deo. Tak berapa lama, Anggi sudah terlelap dalam mimpinya. Namun tidak dengan Dito.

__ADS_1


Sejak pertemuannya dengan anak kecil itu, otaknya terus menerus teringat dengan bocah itu. Ia ingin sekali mencari tahu lebih jauh tentang anak itu. Siapa namanya, siapa orang tuanya, dan kenapa anak itu bisa mirip dengannya. Namun tampaknya Dito harus menunda rasa ingin tahunya untuk sejenak karena banyak hal yang harus ia selesaikan dulu.


__ADS_2