Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Bukan Sebuah Nirwana


__ADS_3

Anggi pikir hidupnya akan sangat bahagia setelah menikah dengan Dito. Bagaimana tidak? Ia akan menikah dengan pria yang sangat ia cintai. Akhirnya setelah begitu banyak rintangan, bayi yang dikandungnya dapat membawa ia bersatu dengan Dito.


Namun ternyata impian hanyalah tetap menjadi mimpi belaka. Pernikahan yang ia harapkan ternyata bukan sebuah nirwana. Cinta yang dulu Dito hujani sekarang pergi entah kemana. Kehangatan Dito yang dulu hampir tiap malam mendekap Anggi kini hilang tanpa sisa. Anggi selalu menghabiskan malamnya sendiri meskipun sudah berstatus sebagai seorang istri.


Dito benar-benar hanya menikahi Anggi sebagai bentuk tanggung jawabnya seperti yang diminta Sarah. Tidak pernah lebih dari itu. Tapi Anggi tahu, Dito sangat menginginkan bayinya. Sorot mata Dito selalu menunjukkan kebahagiaan apabila hal itu berkaitan dengan bayinya. Meskipun tidak bertingkah seperti seorang suami, Dito selalu berusaha ada untuk calon bayinya sebagai seorang ayah.


Dito akan sigap menemani Anggi memeriksakan kandungannya. Ia juga dengan antusias bertanya kepada dokter tentang bayinya. Namun kebahagiaan dan antusiasme itu tidak Dito bagi dengan Anggi melainkan dengan Sarah. Setelah pulang dari dokter, Dito akan segera menghampiri Sarah dan bercerita tentang calon bayinya. Matanya berbinar bahagia persis seperti anak kecil yang bercerita tentang mainan barunya.


Sepulang kerja Dito akan menghampiri Anggi untuk menyapa bayinya.


"Halo anak Papa! Sehat-sehat ya di dalam, nanti Papa bakal langsung gendong kamu begitu kamu lahir!"


Namun hanya sebatas itu saja. Setelah dengan ceria menyapa bayi yang ada di perut Anggi, Dito hanya akan tersenyum secukupnya pada Anggi dan melangkah pergi. Entah Anggi harus menyesali keputusannya atau tidak. Tapi sungguh, bukan seperti ini kehidupan pernikahan yang ia inginkan.


Setiap malam Anggi hanya dapat berharap bahwa pernikahannya dengan Dito dapat menjadi lebih baik. Dito dapat mulai menerimanya bukan hanya sebagai ibu anaknya, tetapi juga sebagai isteri. Sebagai wanita yang dicintainya. Anggi rela jika harus berbagi tempat dengan Sarah di hati Dito. Tapi setidaknya, berbagi lebih baik daripada tidak mendapatkannya sama sekali, bukan?


...****************...


Hari itu, Anggi tidak sendirian di rumah. Ada Sarah yang menemani. Semenjak kehamilannya mendekati trimester akhir, Anggi memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Bahkan ia sudah sepenuhnya mengambil cuti melahirkan selama satu bulan terakhir.


"Jangan capek-capek kerja, kasihan anakku nanti." Pesan Dito waktu itu saat melihat Anggi masih sibuk bolak balik kantor.


Dan Anggi hanya ingin menjadi istri yang baik bagi Dito. Karena itu ia mulai mengurangi pekerjaannya dan bahkan mengambil cuti agar dapat mantap di rumah. Sebagai balasannya, Anggi seringkali kesepian karena sendirian di rumah. Tapi tidak apa-apa, semuanya akan Anggi lakukan demi dapat melahirkan anaknya dengan sehat dan sempurna.


Anak inilah satu-satunya harapan Anggi dalam hubungannya dengan Dito. Bayi inilah yang mempersatukan mereka dan mempertahankannya hingga sekarang. Entah apa yang terjadi jika Anggi tidak pernah mengandung anak Dito. Mungkin menjadi istri Dito hanya akan menjadi angan-angan saja.


Perut Anggi semakin hari semakin membesar dan makin membuatnya susah untuk bergerak. Bahkan menggunting kuku kakinya sendiri bagaikan tugas besar bagi Anggi. Untunglah Sarah selalu dengan suka hati membantunya menyelesaikan urusan-urusan seperti ini. Sebenarnya terbuat dari apa hati wanita ini sehingga dia bisa sangat tangguh?


Tiba-tiba Anggi merasakan sakit yang sangat melilit di perutnya. Ah mungkin dia hanya perlu buang air. Biasanya jika ada Sarah, Anggi akan diantar hingga ke kamar mandi. Tapi tadi Anggi melihat Sarah sedang tertidur di ruang tamu. Mungkin ia terlalu lelah karena sering lembur beberapa minggu terakhir. Lebih baik Anggi pergi sendiri saja dan tidak merepotkannya sesekali.


Anggi berjalan pelan menuju kamar mandi. Letih sekali rasanya meniti jalan ini. Ia membuka pintu kamar mandi dan melangkah perlahan. Tapi tiba-tiba Anggi tampak menginjak sesuatu yang sangat licin. Apa ini? Sabun? Anggi tidak ingat apa yang telah membuat kakinya tergelincir yang jelas seketika ia terhempas jatuh ke kamar mandi dengan bokong yang langsung menghantam lantai.


BRAK!!!


Sakit. Sakit sekali. Perutnya berdenyut-denyut. Anggi hanya dapat mengerang sambil menahan rasa sakit. Apa ini? Kenapa banyak darah yang mengalir dari selangkangannya? Astaga! Anggi berteriak meminta tolong namun kesadarannya semakin lama semakin tipis.


Ya Tuhan, siapapun tolong aku.


...****************...

__ADS_1


Hal terakhir yang Anggi ingat hanyalah rasa nyeri hebat yang menyerang perut bagian bawahnya sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran. Entah berapa jam ia tidak sadarkan diri, tapi ketika bangun yang Anggi lihat hanyalah atap berwarna putih bersih.


Rumah sakit?


Hanya tempat itu satu-satunya yang terlintas di pikiran Anggi. Ia mencoba bergerak melihat sekelilingnya tapi bagian tubuh bawahnya terasa sangat sakit. Seperti ada ratusan luka terbuka disana. Pedih dan sangat sulit untuk digerakkan.


Tiba-tiba sesuatu terlintas di benak Anggi. Ia baru saja terjatuh di kamar mandi! Ya Tuhan, bagaimana kondisi kandungannya? Anggi meraba-raba perutnya tapi ia tidak merasakan detak jantung itu lagi. Perutnya kosong. Ia dapat merasakannya dengan jelas.


"Mas Dito..." Anggi memanggil Dito dengan lemah.


Dito yang berdiri di dekat jendela kamarnya ternyata mendengarnya dan langsung menghampiri Anggi.


"Iya, Nggi? Gimana? Mana yang sakit?" Tanya Dito penuh kekhawatiran.


"Anak kita Mas. Dimana? Dimana bayiku?" Tanya Anggi lirih.


Dito terdiam. Kepalanya tertunduk dan tidak bisa menjawab pertanyaan Anggi.


"Jawab Mas! Dimana anak kita?" Anggi tetap bertanya kepada Dito.


Dito menggenggam tangan Anggi. Entah itu cinta atau rasa bersalah, tapi saat ini Dito hanya ingin bersama Anggi. Menggandengnya melewati semua ini bersama.


"Kemana Mas? Dibawa kemana? Aku mau lihat!" Anggi kembali bertanya karena Dito yang tidak kunjung buka suara.


"Kamu keguguran dan dokter gagal menyelamatkan bayi kita..." ucap Dito pelan.


Seperti petir di siang bolong, hal yang paling Anggi takutkan benar-benar terjadi! Satu-satunya tali harapan yang mempersatukan ia dan Dito kini putus. Calon anaknya, darah dagingnya dan Dito kini sudah kehilangan kesempatan untuk hidup.


Demi Tuhan, bahkan jika Dito enggan bertanggung jawab sekalipun, Anggi tidak akan pernah menggugurkan bayi ini. Karena bayi ini adalah tanda cintanya dan Dito. Tapi kenapa? Kenapa ketika semuanya menunggu kehadiran bayi ini, kini dia malah pergi? Terlebih lagi, meninggalkan ibunya terpuruk sendiri?


Air mata mengalir deras dari mata Anggi. Rasa sakit yang mengalir dari tubuh bawahnya tidak mampu mengalahkan remuk hatinya saat ini. Harapan dan cintanya hancur seketika di depan mata. Hanya karena satu kesalahannya yang sepele.


Dito mengusap kepala Anggi. Tangan kanannya menggenggam dan menciumi tangan Anggi. Anggi dapat melihat penyesalan teramat dalam di mata Dito.


"Maafin aku, Nggi. Aku gagal jagain kamu dan bayi kita." Kata Dito dengan penuh rasa sesal.


Anggi hanya diam. Matanya menerawang jauh. Memikirkan kemana jiwa anaknya sekarang dibawa? Dan juga kemana nasib akan membawanya setelah ia kehilangan bayinya.


"Aku janji, akan ngejagain kamu dengan baik mulai sekarang Nggi. Maafin aku karena cuma bisa ngasih rasa sakit ke kamu." Ucap Dito sambil mengusap air mata Anggi.

__ADS_1


Anggi menatap Dito lemah. Ya Tuhan, sudah berapa lama ia tidak merasakan sentuhan dari tangan pria yang ia cintai setengah mati ini? Apakah ini jawaban dari doa Anggi setiap malam? Kehilangan bayinya sebagai bayaran atas rasa sayang Dito yang kembali muncul? Anggi pun bingung apakah luka yang ia terima akan sepadan dengan kasih sayang Dito.


...****************...


Ini merupakan hari ketiga Anggi dirawat di rumah sakit. Dito pun selalu menjenguk dan merawatnya setiap hari tanpa terlewat. Bergantian dengan Mamanya. Tapi dimana Sarah? Kenapa dia tidak pernah menunjukkan batang hidungnya selama Anggi dirawat? Apa karena ia terlalu bahagia mengetahui Anggi kehilangan bayinya hingga tidak sudi lagi melihat Anggi disini?


Dito baru saja pergi ke kantor setengah jam yang lalu. Itu berarti sebentar lagi Mama akan datang dan menjaga Anggi. Dan tidak berapa lama, sosok yang ditunggu pun tiba. Seorang wanita bertubuh gempal masuk ke kamar Anggi. Mamanya.


"Gimana keadaanmu hari ini, Nggi? Masih sakit?" Tanya Mamanya pada Anggi sambil mengeluarkan beberapa masakan.


Anggi menggeleng.


"Ini makan dulu ya. Mama suapin. Mama udah buatin makanan kesukaan kamu biar kamu cepat sehat." Ujar Mamanya sambil menyuapi Anggi.


Rasanya mulut Anggi masih sangat pahit untuk menelan makanan. Mungkin karena pengaruh banyaknya obat-obatan yang ia konsumsi selama beberapa hari terakhir. Jadi Anggi hanya bisa menelan beberapa suap nasi sebelum kembali kehilangan nafsu makannya.


"Nggi, Mama boleh tanya sesuatu?" Tanya Mamanya setelah membereskan sisa makan Anggi.


"Tanya apa Ma?" Anggi menjawab.


"Kamu cinta Dito?" Mamanya kembali bertanya.


Anggi terdiam. Matanya menerawang jauh. Ia lalu menoleh ke arah Mamanya.


"Iya Ma. Cinta banget." Jawab Anggi lirih.


"Kamu ga mau kehilangan dia kan?" Tanya Mama Anggi sekali lagi.


Anggi menggeleng.


"Ga mau Ma. Entah apa yang bakal terjadi sama Anggi kalau Anggi sampai kehilangan Dito juga."


"Kalau begitu, kamu harus ikutin kata Mama." Ucap Mama Anggi terdengar serius.


Anggi menoleh ke arah Mamanya yang kini menatapnya dengan serius.


"Maksud Mama?"


Wanita gempal itu terdiam sebelum melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Kamu harus rebut hati Dito sepenuhnya dan secepatnya hamil anak Dito lagi."


__ADS_2