
"Hah? Mama beneran mau kesini tiga hari lagi?" Tanya Dito seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Mamanya.
Sang ibu terdengar tertawa di telepon.
"Iya, Mama serius. Ini Mama sama Papa udah pesen tiket, Nang. Hari Minggu nanti pesawat kita berangkat jam 3 sore. Nanti jemput kita sama Sarah ya!" Jelas Mamanya dengan nada yang sangat bahagia. Tak lama kemudian sambungan telepon itu ditutup setelah Mama Dito pamit.
Sarah dan Dito hanya dapat saling berpandangan. Kedatangan ibu mertuanya berarti sama saja dengan kepergian Anggi dari rumah ini walau cuma sesaat. Mama Dito tidak bisa berada di rumah ini bersama dengan Anggi. Bagaimana jika Anggi mengatakan hal yang tidak-tidak dan semua rahasia yang Sarah dan Dito jaga baik-baik malah terbongkar? Sarah sangat mengenal Anggi yang suka mencari perhatian dan itulah yang paling menakutkan bagi Sarah.
"Gimana Dit?" Tanya Sarah sambil melirik ke arah Anggi dan Bu Risa yang masih menatap mereka berdua dengan mata yang setajam pisau.
"Mbuh, Sar. Aku belum kepikiran harus gimana." Jawab Dito mengangkat bahunya pertanda ia belum menemukan solusi.
Sarah berpikir keras. Apa yang harus ia dan Dito lakukan agar kehadiran Anggi di hidup Dito tidak terhendus oleh Mama dan Papa mertuanya? Sarah tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika semua masalah ini terbongkar dan diketahui oleh kedua orangtua Dito. Yang jelas, sudah pasti hidup salah satu dari mereka bertiga akan hancur tanpa sisa.
Tiba-tiba Sarah menepukkan tangannya seolah mendapatkan ide yang begitu hebat untuk masalah ini.
"Ada ide?" Tanya Dito bingung melihat Sarah.
Sarah mendekat ke Dito dan tampak membisikkan sesuatu.
"Aku ga yakin ini ide yang bagus, Sar." Jawab Dito ragu.
"Ya kamu punya ide lain apa? Dari tadi bengong doang. Mbok ya bantu mikir." Sembur Sarah kesal.
Tapi bukan hanya Sarah yang kesal. Anggi juga merasa kesal. Ia tidak bisa lagi menahan rasa cemburunya karena melihat Sarah dan Dito yang berduaan sejak tadi meskipun panggilan dari Mama Dito sudah lama terputus. Dengan kesal Anggi bangkit dari tempat duduknya, berjalan dengan hentakan kaki yang kesal, lalu masuk ke kamar dan membanting pintunya.
"Anggi kenapa?" Tanya Dito bingung sambil melihat Sarah.
"Dia cemburu, bego! Sana samperin dulu bojo kesayanganmu. Nanti kalo dia ngambek kamu ga dapet jatah lo Dit." Ucap Sarah tidak peduli dan kembali menonton tayangan dramanya.
"Jangan lupa pikirin saran aku tadi. Kayanya ga jelek-jelek amat kok." teriak Sarah santai sebelum Dito masuk ke kamar Anggi.
...****************...
Keesokan paginya Sarah, Dito, Anggi, dan Bu Risa berkumpul menjadi satu di ruang makan. Kalau kata Dito, ada hal penting yang harus dibicarakan bersama. Maka mereka pun duduk di satu tempat pagi itu.
"Eh aku ga apa-apa nih duduk dekat Anggi? Tar dia keguguran kalo dekat-dekat sama aku." Tanya Sarah dengan wajah tanpa dosa.
__ADS_1
Dito melotot kepada Sarah, mengisyaratkannya untuk diam. Sementara Anggi dan Bu Risa tersenyum kecut karena sudah mendapat olokan dari Sarah sepagi ini.
"Sorry ya Nggi, manusia radioaktif mau duduk dulu dekat kamu. Kalo kamu ga suka, kamu ngejauh dulu aja. Takutnya radiasi aku bahaya buat bayi kamu." Olok Sarah sekali lagi sambil menarik kursi untuk duduk di dekat Dito.
Anggi hanya merajuk dalam diam. Ia memang selalu kehabisan kata-kata untuk membalas olokan Sarah. Entah karena aura wanita itu memang sangat mengintimidasi Anggi, atau memang pada dasarnya Anggi tidak pandai berbicara tajam seperti Sarah.
Dito berdeham untuk menarik perhatian kedua istrinya dan mertuanya.
"Jadi ada yang mau aku bicarain." Kata Dito akhirnya buka suara.
"Kenapa Mas? Penting banget ya sampai kamu harus ngumpulin kita sepagi ini?" Tanya Anggi sambil memegang tangan kanan Dito dengan kedua tangannya.
"Jadi Mamaku bakal ke Ambon lusa. Kamu pasti tau kan kalo Mama ga tau apa-apa soal hubungan kita yang rumit ini?" Tanya Dito kepada Anggi.
Anggi mengangguk pelan.
"Dan aku mau untuk saat ini, biar tetap begitu. Biar Mama dan Papa ga tahu tentang hubungan kita, Anggi." Sambung Dito lagi.
Anggi tampak tidak setuju dengan perkataan Dito.
"Iya, aku tahu. Aku pasti akan kasih tau semuanya kalau aku ketemu cara dan waktu yang tepat. Tapi itu bukan sekarang, Anggi Sayang. Aku belum bisa kasih tahu hal sebesar itu ke Mama dan Papa sekarang." Ucap Dito penuh rasa sesal sembari mengusap pipi Anggi.
Ya Tuhan, opera sabun kacangan apa ini yang ada di hadapan Sarah. Jam belum genap pukul 8 tapi si istri kedua sudah mulai membuat drama. Sarah memutar bola matanya. Ia risih melihat drama dan sikap manja Anggi. Tampaknya Anggi harus merasakan kepalanya dilubangi dengan bor sesekali.
Anggi merajuk lagi. Terlihat jelas dari wajahnya karena ketika Anggi merajuk, pipinya akan mengembang seperti adonan donat yang kebanyakan ragi. Dan Sarah selalu saja ingin tertawa setiap kali melihatnya.
"Jadi kamu maunya gimana, Mas?" Tanya Anggi akhirnya buka suara.
"Aku mau kamu sama Mama liburan dulu ya beberapa hari. Aku bakal rencanain liburan untuk kamu dan Mama ke Bali selama Mama dan Papaku disini. Ga apa-apa kan, Anggi Sayang?" Tanya Dito berusaha meyakinkan Anggi.
"Ya aku ga bisa nolak juga kan, Mas?" Balas Anggi kesal.
Sarah hanya dapat tersenyum menahan tawa melihat Anggi dan Dito yang bertengkar. Ia membatin,
Astaga, lucu juga liat anak TK sama om-om berantem.
...****************...
__ADS_1
Sarah dan Dito sudah siap di bandara sejak 1 jam yang lalu untuk menjemput kedua orangtua Dito. Tak lama berselang, pemberitahuan tentang kedatangan pesawat dari Semarang disuarakan di pengeras suara.
"Mama udah sampe, Dit." Ucap Sarah memberitahu Dito.
Mata Sarah menangkap sosok yang mereka cari. Kedua mertuanya melambai dengan bahagia ke arah mereka sambil tersenyum sumringah. Dito yang berdiri agak jauh dari Sarah pun langsung merapat dan menggandeng tangan Sarah.
"Hai Ma! Hai Pa!!!" Seru Sarah menghampiri kedua mertuanya sambil mencium tangan mereka.
Mama Dito langsung memeluk Sarah erat dan mencium kedua pipinya.
"Mama tu kangen banget lo sama kamu, Nduk!" Seru Mama Dito bahagia.
Memang dari dulu Mama Dito sangat ingin punya anak perempuan. Jadi ketika Dito si anak tunggal memiliki kekasih seperti Sarah, Mamanya dengan tangan terbuka menerima Sarah. Dan bahkan memperlakukan Sarah seperti putrinya sendiri.
"Sama aku ga kangen, Ma?" Tanya Dito berpura-pura pundung.
"Engga lah, ngapain kangen sama kamu kalo ada anak cewek Mama disini." Canda Mama Dito kepada Dito.
Kedua orang tua Dito tertawa lepas melihat anaknya yang tampak bahagia hidup dengan wanita pilihannya. Namun mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik senyuman dan tawa yang diberikan Sarah dan Dito.
Keempatnya lalu masuk ke mobil Dito dan melaju pulang ke rumah yang ditempati oleh Dito, Sarah, dan Anggi. Untunglah Anggi dan Bu Risa sudah berada di Bali sejak kemarin jadi Sarah dan Dito dapat menghilangkan jejak Anggi dari rumah mereka untuk sementara.
...****************...
Malam itu, Mama Dito memanggil Sarah untuk berbicara berdua sementara Dito pergi bersama Papanya menelusuri kota Ambon sembari mencari makanan.
"Nduk, sini dulu. Mama mau bicara sebentar." Panggil Mama Dito pada Sarah.
Sarah yang saat itu sedang di dapur membuatkan ibu mertuanya kopi langsung menghampirinya. Ia bertanya-tanya apa yang akan dibicarakan Mama Dito? Apakah mungkin Mama Dito curiga dengan hubungannya dan Dito? Menurut Sarah mereka berdua sudah bersandiwara dengan cukup baik, jadi seharusnya Mama dan Papa tidak akan curiga.
"Pripun, Ma?" Tanya Sarah sembari menyajikan kopi untuk ibu mertuanya.
Ia lalu mengambil posisi dan duduk di sebelah ibu mertuanya yang tengah duduk di teras. Langit malam ini sangat cerah dan banyak bintang yang meneranginya. Mama memang sejak dulu sangat suka menenangkan diri dengan menatap langit seperti ini. Entah itu pagi, sore, atau malam. Sarah sangat hafal kebiasaan itu.
Ibu mertuanya lalu bertanya. Sebuah pertanyaan yang membuat jantung Sarah berdetak di luar ritmenya.
"Kamu sama Dito kenapa sebenarnya?"
__ADS_1