Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Pernikahan Kedua


__ADS_3

Hari ini genap 2 bulan Sarah tinggal di Ambon bersama Dito sebagai suami istri. Dan hari ini juga hari dimana Dito dan Anggi akan menikah. Entah bagaimana dan dimana mereka akan menikah, Sarah tidak peduli. Sarah tidak setangguh itu hingga sanggup menyaksikan pernikahan suaminya di depan matanya. Dan Sarah juga bukan wanita bodoh yang mau saja dengan sukarela terluka atas nama sebuah pengorbanan.


Ia duduk di ruang tamu yang kosong sendirian. Bahkan Sarah pun tidak tahu apa yang ia tunggu. Mungkinkah ia menunggu harapan baru dari hubungannya dan Dito?


Tak lama, sosok yang ia tunggu tiba. Dito turun dari mobilnya dan langsung masuk ke rumah.


"Anggi mana?" Tanya Sarah pada Dito.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Belum kering bibir Sarah berucap, wanita yang ia tanyakan berjalan mengekor di belakangnya. Itu dia Anggi. Istri kedua suaminya. Madu Sarah dalam pernikahannya.


"Kamu ga usah ngarep banyak, Nggi. Aku nikahin kamu cuma karena Sarah nyuruh aku. Ga lebih ga kurang." Jawab Dito datar saat Anggi akan mengikutinya masuk ke kamar.


Anggi terduduk lesu. Sarah menghampirinya.


"Kamu bisa tidur di kamar yang sana, Nggi. Nanti aku akan pelan-pelan bicara sama Dito buat nerima kamu ya." Bujuk Sarah sambil


membimbing Anggi memasukki kamarnya.


Sarah masuk ke kamarnya dan disana ia melihat Dito tengah duduk di pinggir kasurnya. Hanyut dalam pikirannya sendiri yang Sarah pun tidak tahu tentang apa.


"Yang, gimana tadi?" Tanya Sarah menyadarkan Dito dari lamunannya.


"Udah, aku udah nikahin Anggi walaupun cuma di bawah tangan. Please kamu jangan perang dingin lagi sama aku, Yang." Jawab Dito memelas.


"Tapi kamu juga harus adil, Yang. Aku ga munafik, aku bukan malaikat yang bisa nerima gitu aja liat kamu nikah sama Anggi. Aku juga cemburu, Dit. Kamu tahu betapa sakitnya hati aku waktu tahu yang sebenarnya?" Sarah berkata panjang lebar.


"Aku udah nurutin syarat kamu buat nikahin Anggi. Tapi tolong jangan paksa aku untuk pura-pura jadi suami yang baik bagi Anggi, Yang. Aku tahu aku khilaf, tapi aku berani sumpah kalau di hatiku cuma ada kamu!" Jawab Dito mantap.


"Seenggaknya, kamu bisa kan mencoba jadi ayah yang baik buat calon bayi kamu?" Tanya Sarah memohon kepada Dito.


Dito hanya mengangguk pelan pertanda ia menyetujuinya walaupun ragu.

__ADS_1


...****************...


Seperti yang dijanjikan Dito kepada Sarah, Dito juga memperlakukan Anggi dengan baik. Namun hanya sebatas sebagai ayah dari bayinya saja. Jika Anggi ingin memeriksakan kandungannya ke dokter, maka Dito akan menemaninya. Jika Anggi ngidam sesuatu, maka Dito akan membelikannya. Jika Dito baru pulang kerja maka ia akan langsung menyapa bayinya. Hanya itu saja. Tidak kurang tidak lebih. Tidak pernah sekalipun Dito menghabiskan malamnya bersama Anggi di kamar mereka.


Tapi Sarah tahu, Dito sangat menunggu kehadiran bayinya. Mungkin naluri ayahnya tergelitik dan merasa senang dengan harapan akan memiliki seorang anak. Sarah tahu itu semua. Karena ia melihat wajah Dito yang bersinar setiap kali pulang membawa perlengkapan untuk bayinya. Mata Dito yang berbinar setiap saat bercerita tentang hasil konsultasi kandungan Anggi. Ah, seandainya Sarah juga dapat memberikan perasaan yang sama pada Dito.


Tapi apa yang bisa Sarah lakukan? Memasukki usia pernikahannya yang kelima bulan, belum juga ada tanda-tanda kehamilannya. Bahkan meskipun Sarah dan Dito selalu mencobanya setiap malam. Tapi tetap nihil. Yah mungkin memang belum rezekinya Sarah untuk diberikan momongan secepat ini. Hanya saja Sarah merasa sedikit gelisah karena usia kandungan Anggi sudah memasukki bulan kedelapan. Sebentar lagi Dito akan menggendong anak pertamanya, namun bukan darah dagingnya bersama Sarah.


...****************...


Sarah sedang bersantai di rumahnya. Ia mengambil cuti dari kantornya. Bukan untuk apa-apa, hanya saja ia ingin sejenak mengistirahatkan pikirannya. Ya mungkin nanti ia akan berjalan-jalan sedikit di mall atau pantai. Entahlah, semuanya tergantung suasana hatinya nanti.


Tiba-tiba terdengar suara erangan dari arah kamar mandi.


"Anggi?!" Sarah berseru karena ia kenal persis suara siapa itu.


Sarah berlari dan menemukan Anggi terjatuh di kamar mandi. Ia tergolek lemah dan kakinya dipenuhi darah. Mata Sarah terbelalak melihat pemandangan di depannya.


Sarah panik, ia takut terjadi sesuatu pada Anggi terlebih lagi pada bayinya. Kenapa Anggi bisa terjatuh di kamar mandi? Apa karena dia terpeleset di lantai yang licin? Atau karena apa? Sarah terus-menerus mereka adegan itu di kepalanya. Ia takut kalau ini semua terjadi karena kelalaiannya dalam menjaga Anggi.


"Halo, Yang? Cepat pulang sekarang! Anggi jatuh di kamar mandi!" Seru Sarah di telepon.


Dito yang mendengar itu semua pun turut khawatir. Ia bergegas memacu mobilnya dan pulang ke rumah. Ketika sampai di rumah, betapa terkejutnya Dito melihat Anggi yang terguling di kamar mandi dengan darah mengucur deras dari kedua kakinya. Dito langsung menggendong Anggi dan membawanya ke mobil. Sarah dengan cepat berlari mengikutinya.


Sesampainya di rumah sakit, Anggi langsung dimasukkan ke dalam ruang operasi. Keadaannya cukup mengkhawatirkan karena Anggi kehilangan cukup banyak darah. Terlebih lagi Anggi berada di trimester akhir kehamilan yang sangat rawan.


Sarah dan Dito hanya dapat duduk termangu di luar ruang operasi. Panik, bingung, dan takut bercampur menjadi satu. Dito tampak sangat kalut. Harapannya untuk memiliki anak sekarang tampak hanya setipis kabut di siang hari. Dan Sarah terus menerus menyalahkan dirinya sendiri karena gagal merawat Anggi.


Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya datang dengan wajahnya yang penuh ketakutan. Dito tampak mengenalnya dan langsung menghampirinya.


"Gimana Anggi, Dito?" Ujar wanita itu khawatir.

__ADS_1


"Sekarang Anggi lagi di ruang operasi Ma, Dito juga belum tahu gimana keadaannya." Jawab Dito tertunduk lesu.


Ma? Mungkinkah wanita ini orangtua Anggi? Wanita Ambon yang katanya berhati keras dan dingin? Tapi sekejam apapun seorang ibu, ia akan bertekuk lutut jika melihat putrinya di ujung tanduk. Namun tiba-tiba wanita itu datang menghampiri Sarah dengan wajah marah.


PLAK!


Wanita itu mendaratkan tangannya ke pipi Sarah. Bekas kemerahan tampak di pipinya. Sarah bingung. Kenapa ia ditampar?


"Kamu Sarah? Pasti ini semua ulahmu kan? Pasti kamu sengaja mendorong Anggi biar dia jatuh kan? Kamu mau dia kehilangan bayinya biar kamu bisa menjauhkan Anggi dari Dito kan?!" Tuduh wanita itu semena-mena.


Sarah terhenyak. Kupingnya masih berdenging karena tamparan keras tadi tapi wanita di depannya sudah menghujaninya dengan ribuan tuduhan tak berdasar? Astaga, cobaan apalagi ini?


"Engga, Bu. Ibu salah paham. Saya ga ngapa-ngapain Anggi! Saya tidak tahu apa-apa, tiba-tiba aja saya dengar Anggi teriak-teriak kesakitan! Bahkan hal sehina itu pun ga pernah terlintas di pikiran saya Bu!" Sarah membela dirinya.


"Sudahlah, ga usah munafik! Saya tau kamu iri dengan anak saya yang sebentar lagi akan melahirkan anak Dito! Saya tau kamu takut kehilangan posisi kamu sebagai istri Dito kan!" Wanita itu menunjuk batang hidung Sarah.


Sarah menoleh ke arah Dito. Ia sangat berharap Dito berdiri dan membelanya. Tapi tidak. Dito hanya tertunduk lesu dan diam saja mendengarkan kata-kata tajam itu menusuk hati Sarah. Mungkinkah Dito juga berpikiran sama seperti wanita ini? Mungkinkah Dito juga mengira Sarah yang melakukan semua ini kepada Anggi? Agar Anggi kehilangan bayinya?


Air mata tidak terbendung lagi dari pelupuk mata Sarah. Ternyata benar, sekali pria itu lemah maka akan selamanya ia lemah. Jika dulu ia tidak pernah berani membela Sarah, apa yang membuatnya sekarang dapat berubah?


Tidak lama, seorang dokter keluar dari ruang operasi. Ia berjalan menghampiri Dito yang langsung mendatanginya.


"Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Dito khawatir.


Dokter itu membuka maskernya dan mulai berbicara.


"Berita baiknya, Ibu Anggi berhasil selamat melewati masa kritisnya."


Sang dokter diam sejenak, tampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


"Berita buruknya, kami gagal menyelamatkan bayi Ibu Anggi."

__ADS_1


__ADS_2