Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Wanita Bertubuh Gempal


__ADS_3

Tepat memasukki bulan keempat kehamilan Anggi, Mama Anggi ikut pindah dan tinggal di rumah yang ada di sebelah rumah mereka. Meskipun sudah pernah bertemu, Sarah tidak mengetahui apapun tentang wanita bertubuh gempal itu selain bahwa dia adalah Ibu dari istri kedua suaminya.


Belakangan barulah Sarah tahu kalau wanita bertubuh gempal itu bernama Haurisa Kaihatu. Tapi ia biasa dipanggil Ibu Risa. Ia berpisah dengan ayah Anggi sejak usia Anggi 5 tahun dan sejak saat itu ia membesarkan Anggi sendiri. Namun selain tangguh, Ibu Risa juga memiliki hati yang keras. Apabila ia menginginkan sesuatu, ia tidak akan menyerah hingga keinginannya tercapai. Setidaknya itu yang Sarah lihat dari beberapa kali pertemuannya.


Tapi masalahnya, satu-satunya keinginan Bu Risa adalah kebahagiaan Anggi. Dengan kata lain, apapun yang menjadi keinginan Anggi juga menjadi keinginan Bu Risa. Dan hanya ada satu keinginan Anggi. Memiliki Dito seutuhnya. Tidak dibagi dengan siapapun apalagi Sarah.


Begitu melihat sosok Bu Risa yang datang kemarin, Sarah sudah dapat merasakan masalah besar sedang berjalan mendatanginya. Sorot mata wanita itu ketika melihat Sarah persis seperti seekor macan yang mengincar buruannya. Hanya dengan melihatnya, Sarah tahu kalau Bu Risa punya seribu satu rencana di otaknya untuk menjauhkan Sarah dari Dito. Mungkin yang ada di pikiran Bu Risa adalah ia harus menyingkirkan Sarah secepatnya agar putrinya dapat bahagia.


Tapi Sarah bukanlah wanita lemah yang akan mundur begitu saja. Jika Bu Risa menganggap putrinya berhak atas Dito, maka Sarah juga memiliki hak yang sama. Lalu kenapa ia harus mundur? Lagipula istri Dito yang resmi diakui negara hanya Sarah, bukan?


...****************...


Sarah memutuskan untuk liburan ke Semarang selama seminggu. Ia pulang sendirian karena merasa penat dan sesak tinggal di rumah itu bersama Anggi dan Bu Risa. Setidaknya berkumpul bersama ibunya sejenak akan menghilangkan rasa stressnya.


"Dito mana, Nduk? Kok ndak ikut?" Tanya Mama Dito ketika melihat Sarah pulang sendirian.


"Dito lagi sibuk Ma, dia lagi ada proyek di NTB." Jawab Sarah.


Bohong. Itu semua bohong. Dito sebenarnya ada di rumah. Tengah bermanjaan dan memuja istri keduanya yang sedang hamil. Bahkan Dito pun tidak tahu kalau Sarah akan ke Semarang. Yang ia tahu adalah Sarah pergi ke Jakarta karena urusan pekerjaan.


"Oh, Mama nanti pengen deh sekali-sekali main ke Ambon. Mau liat kalian disana. Boleh kan ya?" Tanya Mama Dito.


Sarah tercekat. Keadaan yang gawat jika ini semua terjadi. Tapi Sarah tidak mungkin melarang mertuanya menemui anaknya sendiri.


"Ah iya, boleh Ma. Boleh banget. Nanti Mama telepon Sarah atau Dito aja kalau mau main ke Ambon. Biar Sarah bisa ambil cuti buat nemenin Mama jalan-jalan ya." Jawab Sarah sambil tersenyum palsu.


Sialan. Semoga rencana Mama Dito untuk berkunjung hanya wacana saja. Karena kalau itu semua terjadi, Sarah tidak tahu lagi bagaimana harus menyembunyikan semua ini.


Setelah seminggu berada di Semarang, Sarah pun kembali ke Ambon. Walaupun ia benci berada bersama orang-orang itu, rasanya tidak mungkin jika Sarah pulang dengan tangan kosong kan? Sarah mempersiapkan beberapa kudapan khas Jakarta untuk memalsukan liburannya. Agar orang-orang di rumah tidak ada yang tahu kalau Sarah baru saja dari Semarang.


Pukul 14.00 WIB, pesawat Sarah mendarat di Bandar Udara Internasional Pattimura. Namun kedatangannya kali ini sangat jauh berbeda dibandingkan kedatangan pertamanya. Jika di kedatangan pertamanya ada Dito yang menyambutnya dengan hati bahagia, kali ini Sarah harus menelan kenyataan pahit kalau tidak ada siapapun yang akan menunggunya apalagi menjemputnya.


Terkadang Sarah berpikir, apakah menyuruh Dito bertanggung jawab pada Anggi adalah sebuah kesalahan besar yang telah ia lakukan? Karena dari situlah awal kehancuran rumah tangganya bermula. Mungkin jika saat itu Sarah memaksa Anggi untuk pergi dan jangan mengganggu hidup mereka, semua ini tidak akan terjadi. Tapi Sarah tidak bisa membiarkan darah daging Dito lahir tanpa ayah. Hidup tanpa ayah sangatlah berat dan Sarah paham itu. Jadi Sarah tidak mau ada anak lain yang merasakan hal yang ia rasakan. Terlebih lagi itu anak suaminya sendiri. Hidup memang kadang selalu memberikan pilihan yang dilematis.

__ADS_1


Akhirnya setelah kurang lebih satu setengah jam menempuh perjalanan menggunakan taksi, Sarah tiba di rumahnya. Rumah yang ia tempati bersama Dito dan Anggi. Rumah yang awalnya ia kira akan menjadi surga malah berubah jadi neraka dalam sekejap mata.


Sarah membuka pintu dan melihat Anggi dan ibunya tengah mengobrol sambil menonton televisi di ruang tamu. Mata keduanya langsung tertuju pada Sarah yang masuk membawa koper dan bawaannya. Bu Risa tampak tidak senang melihat Sarah datang dan hal itu terlihat jelas di wajahnya. Tapi Sarah tidak ambil pusing. Ia masuk ke kamarnya dan meletakkan kopernya tanpa berkata sepatah katapun.


Tak lama Sarah keluar dari kamarnya dan meletakkan oleh-oleh yang ia beli di meja makan.


"Nggi, Bu Risa, ini aku bawa oleh-oleh dari Jakarta." Jawab Sarah singkat lalu meninggalkan dua ibu dan anak itu kembali ke kamarnya.


Baru beberapa menit di rumah saja suasananya sudah terasa sangat berbeda. Sarah merasa seperti tamu tak diundang yang mengganggu kebahagiaan hidup dua orang itu. Terkadang Sarah bingung, sebenarnya siapa yang berhak tinggal disini secara sah?


...****************...


Sarah sedang menyelesaikan laporan akhir bulan di kamarnya ketika ia mendengar Anggi mengerang kesakitan. Tak lama terdengar suara Bu Risa yang tampak panik.


"Nggi, kamu kenapa Nak?!" Seru Bu Risa.


"Ga tau Ma. Perut Anggi sakit banget habis makan itu tadi." Jawab Anggi memegangi perutnya sembari memegangi perutnya yang sakit.


Sarah dan Dito yang mendengar kerusuhan itu langsung buru-buru keluar dari kamarnya masing-masing. Wajah Dito berubah panik melihat Anggi yang tergolek di lantai sambil memegangi perutnya.


"Anggi perutnya tiba-tiba sakit habis makan oleh-oleh yang dibawa Sarah. Ga tau ada apa di dalamnya." Jawab Bu Risa.


Sarah kaget. Matanya membelalak. Oleh-oleh yang ia bawa hanyalah soes biasa. Bagaimana bisa sebuah kue soes menyakiti ibu hamil?


"Hah? Kue ini?" Tanya Sarah bingung sambil menunjukkan kue soes di tangannya yang baru saja ia makan setengah.


"Ayo kita bawa Anggi ke dokter Ma. Dito takut nanti ada apa-apa sama kandungan Anggi."


Dito langsung cepat menggendong Anggi dan membawanya ke mobil sementara Bu Risa mengekor di belakang Dito. Mereka bertiga pergi tanpa berpamitan dengan Sarah dan meninggalkan Sarah sendirian di rumah dalam kebingungan.


Sarah menghabiskan kue soes di tangannya. Tidak ada yang aneh dengan kue soes ini karena Sarah pun ikut memakannya.


"Perasaan ga ada apa-apa? Aku makan ini ga apa-apa kok. Kenapa Anggi bisa tiba-tiba sakit perut?" Gumam Sarah bertanya kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


Rasa penasaran mendorong Sarah untuk memeriksa kue soes yang ada di meja makan. Ia mengambil satu dan memakannya. Namun mulut Sarah merasakan rasa pahit aneh dari krim kue itu. Sarah pun spontan meludahkan kue soes tersebut dari mulutnya.


"Kenapa kue soes ini pahit banget? Ga mungkin basi kan? Lagian kalo basi harusnya asem dong?" Sarah bertanya-tanya.


Hidungnya menghendus kue soes yang ia gigit. Ada yang aneh dengan kue ini. Seperti ada sesuatu yang dicampurkan ke dalam krimnya. Sesuatu seperti obat? Tapi obat apa dan siapa yang melakukannya? Sarah mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah. Mencari benda-benda mencurigakan namun ia tidak menemukan apapun.


Sialan! Sarah tahu benar ada yang tidak beres disini tapi ia tidak bisa menduganya. Sarah membongkar semua kue soes yang ada dalam kotak itu. Membelahnya satu persatu dan akhirnya Sarah menemukan sesuatu di dalam salah satu kue soes.


"Obat sakit kepala?" Ucap Sarah merasa heran.


...****************...


Di rumah sakit, Dito tampak khawatir dengan keadaan Anggi. Ia dengan cemas menunggu Anggi diperiksa. Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Anggi keluar dari ruang pemeriksaan bersama Anggi. Tampaknya Anggi sudah baik-baik saja dan tidak merasakan sakit lagi.


"Gimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Dito cemas.


"Istri Bapak dan kandungannya baik-baik saja. Bapak tidak perlu khawatir. Ibu Anggi cuma salah makan saja Pak. Mungkin ada makanan yang menimbulkan reaksi alergi atau makanan yang kualitasnya kurang baik sehingga mengakibatkan hal seperti itu." Jelas Dokter itu dengan rinci.


Pikiran Dito langsung tertuju pada Sarah. Semua ini terjadi tak lama setelah Anggi memakan kue soes pemberian Sarah. Apa mungkin benar kata Anggi? Apakah Sarah benar-benar merasa iri dan tidak terima dengan kehamilan Anggi? Sebegitukah besarnya kedengkian Sarah hingga ia tega berbuat seperti ini? Rasanya sulit bagi Dito untuk mempercayainya.


"Dit, mama boleh bicara sesuatu?" Tanya Bu Risa saat Dito tengah menunggu racikan obat Anggi selesai.


"Iya kenapa Ma?" Tanya Dito bingung.


"Kayanya ini semua karena Sarah, Dit. Mama ga tau dia sengaja atau engga, tapi Anggi kesakitan ga lama setelah makan kue soes yang dibawa Sarah." Ujar Bu Risa pelan.


"Tapi Sarah ga mungkin sejahat itu Ma. Ga mungkin Sarah mau nyelakain Anggi." Dito berusaha membela Sarah.


"Mama ga nyalahin atau nuduh Sarah. Tapi mungkin aja Sarah kurang teliti jadi kue soes yang dia bawa udah rusak. Mama ga nganggep Sarah jahat, Dit. Cuma Sarah emang selalu lalai dalam hal kaya gini. Dulu juga begitu kan? Anggi keguguran waktu dia cuma berdua di rumah sama Sarah. Mungkin Sarah ga terlalu peduli sama kondisi Anggi karena dia ngerasa bukan dia yang hamil. Tapi Mama peduli Dit. Anggi itu putri Mama dan dia lagi hamil cucu Mama." Bu Risa kembali meneruskan kata-katanya yang semakin menjatuhkan Sarah.


Dito memijat-mijat keningnya. Kepalanya pusing harus ditempatkan di posisi dilematis. Ditambah lagi sifatnya yang sulit mengambil keputusan hanya tambah mempersulit posisinya.


"Jadi Mama mau Dito gimana?" Tanya Dito pada akhirnya.

__ADS_1


Bu Risa diam sejenak sebelum akhirnya mengutarakan maksudnya.


"Jauhkan Sarah dari Anggi."


__ADS_2