Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Anggi yang Baru


__ADS_3

Hari ini adalah hari kepulangan Anggi dari rumah sakit. Sebenarnya Sarah merasa sangat bersalah karena sama sekali tidak bisa menjenguk Anggi. Mau bagaimana lagi? Baik Dito dan Ibu Anggi melarangnya untuk melihat Anggi seolah-olah ia adalah pembunuh yang akan menghabisi putrinya.


Sarah pikir setidaknya ia bisa meringankan beban Anggi dengan membantu merawatnya di rumah. Karena itu, hari ini Sarah khusus memasak untuk Anggi. Sulit memang, karena sejujurnya Sarah tidak terlalu pandai memasak. Tapi ia akan berusaha keras untuk membantu Anggi agar cepat sembuh.


Suara mesin mobil Dito sudah terdengar. Sarah mengintip ke arah halaman. Kereta besi berwarna putih yang biasa dikendarai Dito memasukki pekarangan rumahnya. Ia menunggu keduanya turun dari mobil. Tak lama, Dito turun dan kemudian membukakan pintu untuk Anggi. Dito kemudian menuntun Anggi berjalan memasukki rumah mereka bertiga.


Hati Sarah sedikit retak melihat Dito yang tampak sangat perhatian dengan Anggi. Tapi sudahlah, tidak ada gunanya merasa iri pada orang yang memang sedang membutuhkan perhatian. Sarah membuka pintu dan menyambut keduanya.


"Sini biar aku bantu, Yang." Ucapnya mengulurkan tangan ingin membantu membawa barang milik Anggi.


Namun keduanya hanya berlalu melewati Sarah tanpa menggubrisnya sedikitpun. Sarah terdiam. Apakah mereka tidak melihat Sarah yang berdiri disini? Sarah belum menjadi hantu kan? Mestinya mereka berdua tahu Sarah berdiri menunggu dan menyambut mereka. Tapi kenapa?


Sarah melihat Anggi menggandeng erat Dito. Entahlah, ada perasaan gelisah di hatinya. Anggi yang sekarang di lihatnya tampak berbeda dengan Anggi yang selama ini ia kenal. Anggi yang sekarang seperti tengah membawa tujuan khusus yang Sarah belum bisa menebak itu apa. Dan mungkin itu akan sangat berbahaya bagi hubungan Sarah dan Dito.


...****************...


Sarah, Anggi, dan Dito tengah berkumpul di meja makan bertiga. Sarah telah memasak beberapa makanan khusus untuk menyambut Anggi yang pulang dari rumah sakit. Ia menyajikannya di meja dan duduk di hadapan Anggi dan Dito yang berada bersebelahan.


"Ayo kita makan!" ajak Dito penuh semangat.


Dito mulai mengambil beberapa hidangan dan menuangkannya ke piringnya. Begitu juga Sarah dan Anggi yang mengikutinya.


"Huek!" Anggi memuntahkan makanannya baru di suapan pertamanya.


"Kenapa Nggi?" Tanya Dito khawatir.

__ADS_1


"Iya, Nggi. Kenapa? Makanannya ga enak ya?" Sarah ikut bertanya.


Anggi menggeleng. Ia meletakkan sendoknya.


"Ga tau, Mbak. Mungkin perut aku aja lagi ga enak." ujar Anggi sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Maaf ya Mbak, kayanya aku ga bisa habisin makanannya. Aku pamit ke kamar aja." Jawab Anggi sambil beranjak meninggalkan Dito dan Sarah.


Tak lama kemudian, Dito juga ikut menyusul Anggi masuk ke dalam kamarnya. Sarah terdiam sendirian di meja makan. Hatinya sedih. Bahkan suaminya pun tidak mau menghabiskan masakannya sendiri dan lebih memilih mengejar Anggi. Padahal ini kali pertama mereka makan bersama setelah sekian lama sibuk dengan urusan masing-masing.


Sayup-sayup Sarah dapat mendengar percakapan antara Dito dan Anggi di dalam kamarnya.


"Kamu kenapa, Nggi? Kok ga mau makan?" Tanya Dito khawatir.


DEG! Sarah terkejut mendengar apa yang masuk ke telinganya. Ya Tuhan, apakah seburuk itu rasa masakannya sehingga Anggi berpikir seperti itu? Mungkin masakannya memang tidak seenak Anggi, tapi tidak pernah sedikitpun Sarah sengaja melakukannya dengan tujuan buruk seperti itu.


Sarah baru akan mengetuk pintu kamar Anggi, namun perkataan Dito membuatnya menghentikan tangannya.


"Maafin Sarah ya, dia kan memang ga sejago kamu kalo soal masak. Aku ga tau juga kenapa dia masak makanan kaya gitu padahal kamu baru pulang dari rumah sakit." Ucap Dito merasa bersalah.


Tangan Sarah hanya menggantung di udara sebelum akhirnya ia megurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar Anggi. Kenapa Dito juga seolah-olah menganggap Sarah dengan sengaja melakukannya? Tidakkah terbersit di pikiran Dito untuk membela Sarah? Sumpah demi Tuhan, tidak ada sedikit pun niat buruk dari Sarah. Tapi kenapa kedua orang ini malah menganggapnya seperti kriminal?


CKLEK! Pintu kamar Anggi terdengar terbuka. Sarah melihat Dito dan Anggi keluar kamar. Tampaknya mereka berdua akan pergi ke suatu tempat. Makan malam mungkin?


"Kalian mau kemana?" Tanya Sarah ikut berdiri melihat keduanya berjalan ke arah pintu.

__ADS_1


"Kita mau makan di luar, Mbak. Mbak Sarah mau nitip apa? Nanti kita bungkusin." Jawab Anggi sambil tersenyum tipis.


Senyum apa itu? Senyum kemenangan karena Dito lebih memilih membela Anggi? Atau itu senyum yang menandakan dimulainya perang antara si istri tua dan muda?


"Ah, ga usah. Aku udah kenyang. Kalian pergi aja berdua." Ucap Sarah datar.


Sungguh memang Sarah sangat ahli menutupi perasaannya. Meskipun hatinya terbakar api cemburu melihat mereka berdua, tapi untuk apa marah-marah atas hal sepele seperti itu? Bukannya memperbaikki hubungannya dengan Dito, malah Dito akan semakin menjauh darinya karena menganggap Sarah egois.


Malam itu, Sarah sebenarnya agak sedikit gelisah. Selain karena sudah pukul sebelas namun Dito dan Anggi belum pulang, Sarah juga gundah karena ia tidak tahu akan bersama siapa Dito menghabiskan malamnya kali ini. Ini hari pertama Anggi pulang dari rumah sakit dan ia pasti membutuhkan banyak bantuan. Selain itu melihat perubahan Dito akhir-akhir ini yang begitu jauh dari Sarah, maka tidak heran jika nanti Dito akan bermalam bersama Anggi.


Tidak, demi Tuhan bukannya Sarah tidak suka hal itu terjadi. Hal yang wajar jika seorang suami bermalam dengan istrinya. Tapi Dito adalah suaminya, jadi wajar kan kalau ia merasa sedikit cemburu dan takut?


...****************...


Alarm Sarah berbunyi kencang. Ia melirik ke arah jam dinding. Pukul 5 pagi? Astaga dia ketiduran karena menunggu Dito dan Anggi semalaman. Sarah segera berlari keluar kamar karena ia tidak melihat Dito di sampingnya. Mungkinkah Dito tidur bersama Anggi?


Begitu ia menjejakkan kakinya ke ruang tamu, hati Sarah sungguh merasa lega. Ia melihat sosok Dito tidur sendirian di kasur depan televisi. Bukan di kamar Anggi maupun di kamar Sarah. Dito memilih tidur sendirian di ruang tengah.


Dasar laki-laki plin-plan. Sarah berucap di dalam hati.


Ia mengenal Dito selama lebih dari 10 tahun jadi ia sangat paham mengapa Dito mengambil keputusan seperti ini. Ia tidak ingin mengecewakan istrinya dengan bertingkah tidak adil. Ia takut Sarah merasa kecewa karena ia lebih memilih bermalam bersama Anggi. Tapi di sisi lain, ia tak ingin Anggi merasa terluka di saat ia lemah. Mungkin daripada terjebak dalam dilema, Dito lebih memilih bermalam bersama nyamuk di ruang tengah saja.


Dan begitulah terjadi setiap malam selama kurang lebih 2 bulan. Sepulang kerja, Dito akan mandi di kamar mandi belakang, mengambil pakaiannya di kamar Sarah, dan kemudian berguling-guling hingga tertidur di depan televisi. Paginya ia akan bangun, dan bersiap-siap ke kantor, lalu pergi hingga malam baru kembali. Walaupun terdengar membosankan, setidaknya Sarah tidak perlu takut kegelisahannya menjadi nyata.


Sarah kira semuanya akan berjalan sebagaimana adanya. Damai dan terasa adil bagi Sarah dan Anggi. Namun manusia memang tempatnya keserakahan. Semua yang tampak baik-baik saja, berubah 180 derajat hanya dalam satu malam.

__ADS_1


__ADS_2