Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Kegilaan Dito


__ADS_3

Mungkin benar Dito sudah gila. Tapi Dito memang seperti itu sejak dulu. Jika ia menginginkan sesuatu maka ia tidak akan berhenti hingga mendapatkannya. Begitu pula kali ini. Tidak peduli apa dan bagaimana, Dito ingin Sarah dan Ansel kembali dalam pelukannya. Ia ingin merajut lagi mimpinya untuk memiliki keluarga bahagia dengan Sarah dan Ansel seperti cita-citanya dulu.


Walaupun mungkin terdengar gila, satu-satunya cara bagi Dito untuk mendapatkan keduanya adalah dengan membawa Ansel bersamanya. Maka dengan sendirinya Sarah akan kembali kepadanya.


Sejak 2 minggu terakhir, Dito selalu mengunjungi Ansel di sekolahnya. Tidak peduli apakah Deo sedang bersekolah atau tidak, Dito akan tetap datang di sekolah itu. Menunggu untuk bertemu dengan Ansel. Terkadang apabila Anggi ingin menjemput Deo, Dito malah akan menawarkan dirinya yang melakukannya. Semuanya agar ia dapat bertemu dengan Ansel.


Tapi hari itu, Dito merasa perlu melakukan sebuah langkah besar untuk mendapatkan miliknya kembali. Tidak peduli kegemparan apa yang akan terjadi tapi Dito akan mengatakan kepada Ansel bahwa ia adalah ayah Ansel yang sebenarnya. Hanya Dito dan bukan Elton.


Pukul 9 pagi, satu jam sebelum Ansel pulang sekolah, Dito sudah ada disana. Kebetulan hari itu Deo sedang libur sekolah jadi Dito dapat puas bertemu dan bermain dengan Ansel tanpa harus memikirkan Deo.


"Selamat pagi, Miss. Saya ayahnya Ansel. Apakah bisa saya ajak Ansel pulang duluan, Miss? Karena ada urusan keluarga jadi kami sekeluarga harus pergi ke luar kota." Ucap Dito pada wali kelas Ansel.


Bu Ranti melihat Dito. Awalnya ia tampak ragu untuk memperbolehkan Ansel pergi bersama Dito. Namun karena wajah Ansel yang sangat mirip dengan Dito, bahkan orang buta sekalipun akan tahu Dito adalah ayah Ansel.


"Oh, saya harus telepon Mama Ansel dulu kalau begitu, Pak." Kata Bu Ranti kemudian.


Dito tertawa.


"Engga perlu, Miss. Saya kan ayahnya Ansel, pasti saya udah kabarin Mama Ansel dong kalau saya yang bakal jemput." Ujar Dito berusaha meyakinkan.


Bu Ranti tampak percaya dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Dito sehingga akhirnya ia mengizinkan Ansel pergi bersama Dito. Kecurigaan itu semakin sirna karena melihat Ansel yang begitu bahagia saat bertemu dengan Dito.


"Om baik hati!" Seru Ansel saat menghampiri Dito.


Dito tertawa lepas dan menggendong Ansel dalam pelukannya.


"Ayo kita jalan-jalan, Ansel!"


...****************...

__ADS_1


Pikiran Sarah sangat kalut. Ia tidak tahu harus mencari Ansel dan Dito kemana. Sudah berkali-kali Sarah mencoba menghubungi Dito namun hanya suara operator yang menjawabnya. Berbagai skenario menakutkan terpikirkan oleh Sarah namun ia buru-buru membuangnya jauh-jauh.


"Dito ga mungkin jahatin Ansel kan, El?" Tanya Sarah kepada Elton dengan perasaan gugup.


Bertanya? Mungkin itu bukanlah sebuah pertanyaan. Kata-kata itu lebih seperti sebuah cara bagi Sarah untuk meyakinkan dirinya sendiri. Meyakinkan kalau tidak akan terjadi apa-apa pada putranya. Dan meyakinkan dirinya, dengan sedikit kepercayaan yang tersisa, bahwa Dito tidak mungkin membahayakan nyawa darah dagingnya sendiri.


"Kita coba ke rumah orangtuanya Dito ya, Sayang? Siapa tau mereka ngerti Dito pergi kemana." Usul Elton dan langsung memacu mobilnya ke tujuan.


Namun tetap saja hasilnya nihil. Ketika Sarah dan Elton sampai di rumah kedua mantan mertuanya, Dito tidak ditemukan disana. Sarah berusaha keras mencari informasi tentang keberadaan Dito tapi yang ia dapat tetaplah nol besar.


Tok tok tok!


Sarah mengetuk pintu rumah besar itu. Tak lama seorang wanita membukanya. Bukan Mama Dito ataupun Bi Asih asisten rumah tangga mereka, melainkan Anggi. Anggi istri kedua Dito yang kini menjadi istri sahnya. Raut wajah Anggi tampak berubah ketika melihat Sarah yang berdiri di ambang pintu.


"Mau ngapain kesini?" Tanya Anggi ketus.


"Mau apa kamu nyariin Dito, Mbak?" Anggi membalas dengan nada yang sinis.


Mungkin Anggi berpikir Sarah adalah wanita murahan tanpa harga diri. Yang bahkan setelah dibuang pun masih akan merangkak ke kaki suaminya. Tapi Anggi salah besar. Kedatangan Sarah bukan untuk Dito tapi hanya untuk putra semata wayangnya, Ansel.


"Dimana Dito Nggi?" Ucap Sarah.


"Dito ga ada di rumah. Udah dari pagi dia keluar katanya ada rapat di kantor." Jawab Anggi dengan malas.


"Jawab dulu, kenapa kamu nyariin suamiku, Mbak?" Kejar Anggi pada Sarah yang tampak akan pergi.


"Dito bawa Ansel pergi! Dito ngebawa anakku pergi ga tau kemana Anggi!" bentak Sarah.


Anggi terkejut. Matanya terbelalak seolah-olah akan keluar dari rongganya. Mulutnya menganga, tak percaya apa yang didengarnya.

__ADS_1


"Ga mungkin, Mbak! Kamu jangan nyari-nyari alasan! Mas Dito itu ke kantornya. Lagian ngapain dia bawa anak kamu pergi?!" Seru Anggi tidak percaya.


Sarah geram. Ia tidak punya waktu untuk berdebat dengan wanita keras kepala ini. Tapi sepertinya Anggi tidak bisa melihat Sarah pergi begitu saja tanpa satu pertengkaran sedikit pun.


"Karena Dito ayahnya Ansel!" Seru Sarah kesal.


Bagai sebuah gong ditabuh di dekat telinganya, Anggi terkejut bukan kepalang mendengar kata-kata Sarah. Dito adalah ayah dari anak Sarah? Bukankah ibunya waktu itu bilang kalau Sarah hamil dengan selingkuhannya? Karena itu Dito mengusirnya?


"Kamu jangan bohong, Mbak! Mama bilang kamu hamil sama selingkuhanmu! Jangan-jangan kamu yang sudah nyuci otak Dito biar dia percaya kalau Ansel itu anaknya?! Anak Dito itu Deo dan cuma Deo!" Seru Anggi tidak percaya.


"Kamu tanya sama ibu mertuamu kalau ga percaya. Aku harus pergi nyari Ansel, aku ga punya waktu buat ngeladenin omong kosong kamu!" Seru Sarah sambil berlari pergi bersama Elton untuk kembali mencari Ansel.


Anggi terduduk. Apakah mungkin Ansel adalah anak kecil di foto itu? Yang ia lihat berfoto bersama kedua mertuanya? Pantas saja mengapa Anggi merasa tidak asing melihat foto bocah itu. Karena Ansel sangat mirip dengan suaminya dan juga Deo, anaknya.


Air matanya tidak dapat dibendung lagi. Anggi kecewa karena Dito telah membohonginya. Inikah alasan Dito berubah semenjak pulang ke Semarang? Inikah alasan kenapa Dito selalu antusias menjemput Deo dan bahkan sering menghilang setiap pagi? Karena ia ingin bertemu anaknya dengan Sarah? Dan terlebih lagi, sekarang Dito membawa pergi anak itu dari ibunya? Apa mau Dito sebenarnya?


Anggi hanya dapat menangis tergugu.


"Teganya kamu sembunyiin ini semua dari aku Mas."


...****************...


Dito dan Ansel sangat bersenang-senang hari ini. Ia mengajak Ansel ke taman hiburan, mencoba menaikki setiap wahana, dan membeli berbagai mainan yang bagus untuk Ansel. Hati Dito dipenuhi kebahagiaan karena ia merasa Ansel telah kembali sepenuhnya menjadi miliknya. Semakin lama Dito menghabiskan waktu bersama Ansel, semakin ia menyadari kemiripan di antara mereka berdua. Seperti kebiasaan-kebiasaan kecil Dito yang juga ia lihat pada Ansel.


Dito merasa impiannya untuk kembali hidup sebagai keluarga bahagia bersama Ansel dan Sarah sudah ada di depan mata. Selangkah lagi dan mimpinya akan menjadi nyata. Ia akan tinggal bersama istrinya yang cantik dan puteranya yang tampan. Serta kedua orangtuanya pasti akan merasa sangat senang dengan hal ini. Karena tidak seperti Anggi yang tidak pernah bisa menyesuaikan diri dengan kedua orangtuanya, Sarah adalah kesayangan Mama dan Papanya.


Senyum Dito mengembang membayangkan semua yang akan terjadi. Kepingan-kepingan hidupnya akan perlahan kembali pada tempatnya. Tiba-tiba Dito merasakan ada yang menarik ujung pakaiannya. Dito menoleh. Ia melihat Ansel memintanya mendekat seperti ia ingin berbicara.


"Om, Ansel kangen Mama sama Papa. Ansel mau pulang, Om."

__ADS_1


__ADS_2