Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Permainan Baru Dito


__ADS_3

Kejadian malam itu sangatlah memberikan kenangan buruk bagi Sarah. Selama beberapa hari setelahnya, tragedi itu terus menerus berulang di pikiran Sarah. Mendatanginya setiap malam dalam bentuk mimpi buruk. Bahkan Sarah masih dapat mendengar suara tawa Dito yang terdengar dingin dan mengerikan di telinganya. Ia dapat merasakan tangan Dito yang waktu itu menjelajahi tubuhnya secara paksa.


Selama berhari-hari, Sarah terpaksa harus bertarung dengan insomnia karena ia takut melihat kejadian itu dalam mimpinya lagi.


"Kamu masih mimpi buruk, Sayang?" Tanya Elton karena melihat Sarah yang terlihat kurang tidur akhir-akhir ini.


Sarah mengangguk pelan.


"Kamu mau kita ke dokter, Sayang? Atau ke hipnoterapis? Aku khawatir sama kamu, Sayang." Ucap Elton sambil menyelipkan rambut Sarah ke belakang telinganya.


Akhirnya Sarah menyerah dengan bujukan Elton dan pergi ke hipnoterapis untuk menghilangkan traumanya. Seperti luka fisik yang membutuhkan obat luar, luka psikis pun perlu di obati. Dan untunglah terapi yang Sarah jalani menunjukkan hasil yang baik. Mimpi buruk itu perlahan pergi dan Sarah dapat tidur nyenyak kembali.


Namun bagai tak ada hari cerah dalam kamus hidupnya sejak kedatangan Dito. Barulah satu kejadian selesai, kejadian lain kembali muncul dalam hidupnya. Dan pelaku utamanya tentu saja adalah Dito.


Ansel pulang dari sekolah dengan wajah sumringah. Tangannya membawa sebuah robot yang canggih dan apik. Sarah bingung melihat mainan yang dipegang puteranya. Seingatnya ia tidak pernah membelikan Ansel mainan itu.


"Ansel sayang, hari ini sekolahnya seru?" Tanya Sarah.


Ansel mengangguk antusias.


"Seru Ma! Seru banget!" Jawab Ansel.


"Ini mainan robotnya Ansel dapet darimana? Dikasih ibu guru ya?" Ucap Sarah sambil menunjuk robot yang dipegang Ansel.


Ansel menggeleng.


"Rahasia, Ma!" Seru Ansel sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir.

__ADS_1


Sarah tertawa. Mungkin mainan itu diberikan oleh salah satu temannya yang baru pulang dari jalan-jalan. Atau mungkin salah satu guru Ansel yang memberikannya karena Ansel bertingkah baik hari ini. Sarah menganggap hal itu hanyalah sebuah angin lalu dan bukan hal yang penting.


Tetapi yang awalnya hanya Sarah anggap sebagai hal sepele, lama kelamaan semakin membuatnya khawatir. Karena Ansel selalu membawa mainan baru setiap pulang sekolah. Terkadang ketika Sarah menjemputnya, Ansel akan keluar dari dalam sekolahnya dengan membawa mainan tersebut. Sarah menjadi bingung karena siapa orang asing yang cukup loyal untuk menghadiahi anak orang lain setiap hari? Sarah khawatir seseorang ini sebenarnya menginginkan hal lain dari Ansel.


Hari itu, seperti biasa Ansel pulang dengan membawa sebuah mainan baru. Kali ini ia mendapatkan action figure dinosaurus dengan ukuran yang cukup besar. Dalam sekali melihat pun Sarah tahu bahwa mainan itu tidak berharga murah. Sarah lalu memanggil Ansel, berniat menanyakan perihal mainan itu.


"Ansel sayang, mama boleh tanya sesuatu?" Tanya Sarah sambil mengajak Ansel bermain.


Ansel mengangguk.


"Siapa yang suka kasih mainan Ansel setiap hari? Mainannya bagus-bagus banget lo." Sambung Sarah.


Dan lagi-lagi Ansel memberikan isyarat yang sama. Menempelkan jari telunjuknya ke bibir pertanda itu sebuah rahasia.


"Engga apa-apa, bilang aja sama Mama. Soalnya Mama mau ngomong makasih sama orang yang kasih Ansel mainan." Bujuk Sarah.


Tapi Ansel kukuh dengan jawabannya.


"Om? Om siapa, Sayang?" Sarah makin penasaran.


"Om baik yang suka kasih Ansel mainan. Itu rahasia, Ma." Ansel membalas pertanyaan ibunya.


Sarah terdiam. Siapa pria itu? Pria yang Ansel panggil Om Baik Hati, yang terus menghujani Ansel dengan mainan baru tiap hari. Mungkinkah pria itu adalah Dito? Tapi Elton sudah mengingatkan Dito dengan keras agar ia tidak mengganggu Sarah dan Ansel lagi. Apakah Dito senekad itu hingga melanggar janjinya sendiri meskipun sudah diancam oleh Elton?


...****************...


Sudah beberapa minggu terakhir ini Mama Sarah yang menjemput Ansel dari sekolahnya. Karena Sarah lumayan disibukkan dengan persiapan pernikahannya dengan Elton yang sudah semakin dekat. Namun kejadian yang terjadi beberapa minggu belakangan membuat Sarah khawatir dengan keadaan Ansel. Mainan baru yang tiap hari ia bawa dan Om Baik Hati yang sering mengajak Ansel bermain. Kedua hal ini benar-benar mengganggu pikiran Sarah.

__ADS_1


Jadi hari itu, Sarah memutuskan untuk menjemput Ansel ke sekolahnya sendiri. Beberapa menit menyetir mobilnya, akhirnya Sarah tiba di sekolah Ansel. Ia menunggu di tempat para orangtua menunggu. Waktu berlalu namun Sarah tidak juga melihat Ansel keluar dari kelasnya. 10 menit. 20 menit. Hingga 30 menit dan hampir semua teman sekelas Ansel sudah pulang namun Ansel tak kunjung ditemukan.


Sarah panik. Ia segera mencari wali kelas Ansel. Menanyakan keberadaan putranya.


"Maaf Bu Ranti, saya boleh tau Ansel dimana ya?" Tanya Sarah pada guru wanita yang ia temui.


"Loh, bukannya tadi Ansel izin pulang duluan ya, Ma? Tadi Ansel dijemput sama Papanya katanya hari ini Ansel izin karena ada acara keluarga, Ma." Ucap Bu Ranti menjelaskan.


Hati Sarah mencelos. Jantungnya serasa jatuh dari tempatnya. Ansel ada dimana? Siapa yang menjemputnya? Sarah panik. Hanya ketakutan yang ada di hatinya. Ia takut hal buruk terjadi pada Ansel. Ia takut Ansel diculik dan Sarah akan kehilangan hartanya yang paling berharga selamanya.


"Siapa yang jemput Ansel Bu? Ga mungkin Papanya jemput Ansel! Ibu kan tau saya single parents!" Tangis Sarah pecah. Ia bingung harus kemana mencari anaknya.


"Astaga Bu, tapi saya yakin orang itu Papanya Ansel Ma. Karena mukanya mirip banget sama Ansel, makanya tadi Ansel saya izinin pulang sama orang tadi. Ya ampun, Ma. Ayo kita cari Ansel sama-sama, Ma!" Ucap Bu Ranti ikut panik.


"Tunggu dulu, Bu. Tadi Ibu bilang apa? Orang yang jemput Ansel mirip sama Ansel?" Sarah seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Bu Ranti mengangguk.


"Saya tahu siapa orangnya, Bu. Terimakasih Bu Ranti, saya pamit dulu." Jawab Sarah langsung berlari kembali ke mobilnya.


Dito biang keladinya. Sarah yakin Dito yang menjemput Ansel dan membawanya entah kemana. Siapa lagi yang mirip dengan Ansel kalau bukan ayahnya sendiri si pria brengsek itu? Dito benar-benar sudah gila! Apa yang ia pikirkan sehingga ia berani membawa Ansel tanpa sepengetahuan Sarah?


Sarah menekan nomor Dito. Mencoba menghubunginya. Namun nomornya tidak aktif. Hanya operator yang menjawabnya. Tangis Sarah tidak kunjung berhenti karena rasa panik sudah menyelimuti hatinya. Ia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa selain Elton. Sarah langsung menelepon kekasihnya.


"Kenapa Sayang?" Tanya Elton saat menerima telepon Sarah.


"Ansel, El..." jawab Sarah terbata-bata.

__ADS_1


Elton panik mendengar suara tangis Sarah. Apa yang terjadi pada Ansel sehingga Sarah menangis seperti ini?


"Ansel diculik Dito, El..." ucap Sarah akhirnya.


__ADS_2