
Saya hamil anak Mas Dito, Mbak...
Sarah mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya. Apa yang baru dibacanya ini? Jantungnya seperti direnggut oleh sebuah tangan tak terlihat dan berhenti begitu saja. Siapa gadis ini? Apa maksud dari perkataannya?
Jangan bercanda, Mbak. Saya istrinya Dito, apa maksudnya Mbak bilang seperti itu?
Tangannya gemetar hebat. Sarah terus menerus berharap bahwa semua ini adalah prank dan gadis ini hanya mengerjainya saja.
"Yang! Ayo kita berangkat! Udah ada panggilan boarding tuh!" Seru Dito menyadarkan Sarah dari lamunannya.
Sarah menoleh. Ia memperhatikan suaminya dengan seksama. Rasanya tidak mungkin pria yang selama ini dikenalnya sebagai seseorang yang lugu, dapat melakukan pengkhianatan sebesar ini kepada Sarah. Sarah memejamkan matanya sejenak. Seperti ada satu ton batu yang membebani kepalanya.
"Untuk sekarang, aku lebih pilih percaya sama Dito..." gumam Sarah sembari mematikan ponselnya.
Dito segera menggandeng tangan Sarah dan mengajaknya berjalan menuju boarding gate. Pesawat mereka menuju Semarang sebentar lagi akan berangkat. Namun pikiran Sarah tidak berhenti berkecamuk. Setiap pertanyaan menyerangnya hanya karena satu pesan singkat dari Anggi
Ia terus menerus berharap bahwa hal yang paling ia takutkan tidak akan terjadi. Entah berapa ratus untai doa ia sebutkan di sepanjang perjalanan pulangnya. Pikirannya tidak bisa tenang dan hanya ingin mengetahui satu hal. Kebenaran tentang wanita bernama Anggi.
...****************...
"Yang, gimana kalau aku ikut ke Ambon?" Tanya Sarah sebelum tidur.
Dito diam. Entah karena ia tidak mendengar kata-kata Sarah, atau ia memilih tidak menjawabnya.
"Yang?" Tanya Sarah kembali.
"Eh iya?" Dito tersadar dari lamunannya.
"Gimana? Aku ngajuin mutasi ke Ambon aja ya? Aku ga bisa kalo kita harus LDM Yang! Buat apa udah nikah tapi masih jauh-jauhan?" Ucap Sarah kembali menegaskan.
Dito tampak kebingungan menjawab pertanyaan Sarah. Sebenarnya bukan hanya itu alasan Sarah ingin pindah ke Ambon. Ada sebuah pertanyaan besar yang harus ia cari sendiri jawabannya. Dan untuk menemukannya, ia harus pergi ke kota itu. Kota tempat dimana wanita bernama Anggi berada.
"Iya gapapa Yang, tapi jangan mendadak gini. Aku ngajuin izin bawa istri dulu ke bosku ya. Kamu kan juga harus ngajuin mutasi ke kantor kan?" Jawab Dito.
"Okay, no problem. Besok aku bakal mulai ajuin berkasnya ya. Kamu besok jadi pulang ke Ambon?"
"Jadi Yang, pesawatku jam 10 pagi."
"Oke, nanti aku ikut anter kamu ya. Sekarang kamu tidur gih, biar besok ga kesiangan! Good night~" kata Sarah sambil mengecup Dito.
Sungguh, sebenarnya Sarah sangat takut mengambil keputusan ini. Tapi ia tidak bisa terus menerus hidup dalam kebohongan dan tanda tanya. Pesan-pesan dari Anggi tidak cukup meyakinkannya akan hal yang sebenarnya terjadi.
Sarah mengintip ke arah Dito yang tampaknya sudah terlelap. Ia membuka instagramnya, mengecek pesan dari Anggi. Rupanya gadis itu mengirim cukup banyak pesan selama Sarah dalam perjalanan pulang tadi.
__ADS_1
Iya, benar Mbak. Saya ngga bercanda. Sekarang saya hamil 4 bulan, anak Mas Dito.
Maaf kalo saya mengagetkan Mbak Sarah, tapi saya juga bingung harus bagaimana Mbak. Karena Mas Dito tidak bisa saya hubungi sejak sebulan yang lalu.
Jadi saya pikir, mungkin Mbak Sarah bisa membantu saya dalam masalah ini.
Duar! Bagai disambar petir di siang bolong. Hatinya sakit. Sakit sekali. Seperti ada seribu pisau yang menghujamnya dalam waktu yang bersamaan. Empat bulan? Itu berarti saat Dito berada di Ambon? Apakah pengkhianatan ini terjadi ketika Dito mulai berubah menjadi sangat sulit dijangkau? Ketika Dito ditempatkan di tempat yang katanya "pelosok"?
Berbagai tanda tanya menyelimuti benak Sarah. Ribuan andai, mungkin, dan apakah terlontar dari lubuk hatinya. Ingin rasanya ia bertanya langsung kepada Dito tentang kebenarannya. Tapi ia takut. Ia takut jika Dito jujur dan semuanya menjadi hancur. Tapi ia juga takut jika Dito berbohong dan menutupi semuanya, sementara Sarah dan Anggi terjebak dalam hubungan tak bernama dengan penuh kebohongan.
...****************...
"Mbak Sarah, dipanggil sama Pak Bowo ke ruangannya." Dyas, sekretaris Pak Bowo menyampaikan pesan kepada Sarah.
"Pasti ini soal pengajuan mutasi." Batin Sarah.
Ia melangkah menuju ruang Pak Bowo, kepala cabang Bank tempat ia bekerja. Beberapa hari yang lalu, Sarah mengajukan permohonan mutasi dengan alasan ikut suami ke kantornya. Sarah benar-benar berharap agar permohonan mutasinya dapat disetujui dan ia bisa ikut pindah ke Ambon bersama Dito.
"Mbak Sarah, kemarin mengajukan permohonan untuk mutasi, ya?" Tanya Pak Bowo pada Sarah.
"Iya Pak." Sarah menjawab singkat.
"Dengan alasan untuk ikut suami? Suaminya kerja apa Mbak?" Pak Bowo kembali bertanya.
"Kebetulan saya udah liat permohonannya, ya karena alasannya mau ikut suami makanya jadi saya bantu urusin. Karena kalian kan pengantin baru ya, pasti susah sekali kalau terpisah jauh seperti ini. Hahaha." Pak Bowo tertawa mencairkan suasana.
"Jadi saya udah cross check ke KCU Ambon, dan untungnya posisi RM disana juga sedang kosong Mbak. Jadi mutasi Mbak saya acc ya." Sambung Pak Bowo.
Senyum Sarah sumringah. Bagaikan mendapat durian runtuh! Permohonan mutasinya disetujui! Itu artinya Sarah bisa segera tinggal satu atap bersama Dito. Dan itu artinya Sarah bisa mencari tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya.
"Jadi kapan saya bisa mulai pindah Pak?" Sarah kembali bertanya pada Pak Bowo.
"2 minggu lagi kamu sudah harus mulai melapor dan bekerja di KCU Ambon ya Mbak. Jadi persiapannya bisa dimulai dari sekarang." Pak Bowo mengingatkan Sarah sambil tersenyum.
"Baik Pak! Terimakasih Pak Bowo! Terimakasih banyak!" Jawab Sarah senang.
"Iya, sama-sama Mbak Sarah. Selamat menempuh hidup baru sama suaminya ya!" Pak Bowo memberikan selamat pada Sarah.
Pak Bowo memang atasan yang terbaik. Ia selalu membantu bawahannya apalagi untuk urusan birokrasi seperti ini. Mungkin kalau tidak dibantu Pak Bowo, bisa-bisa pengajuan mutasi Sarah ditolak.
Sarah mengabari Dito melalui whatsapp. Semenjak pulang ke Ambon, Dito memang jadi lebih mudah dihubungi jika dibandingkan dulu. Tapi tetap saja, Sarah tidak bisa ujug-ujug langsung meneleponnya.
Yang, mutasi aku di acc sama Pak Bowo. Minggu depan aku berangkat ke Ambon nyusul kamu ya!
__ADS_1
...****************...
Untuk pertama kalinya Sarah terpisah sejauh ini dengan keluarganya. Sejak lahir hingga sebesar ini, Sarah tidak pernah sekalipun jauh dari Mama dan adiknya. Jadi pindah ke Ambon merupakan hal baru dari hidupnya. Sekarang ia merantau di tanah orang tanpa ada siapapun di sisinya kecuali Dito.
Sarah menebar pandangannya ke seluruh pelosok terminal kedatangan. Ia mencari suaminya yang sudah berjanji akan menjemputnya. Kurang lebih 5 menit ia berkeliling, ia mendengar suara yang sangat familiar memanggil namanya.
"Sarah! Sini! Aku disini!" Suara seorang pria memanggil Sarah.
Ia menoleh ke arah sumber suara tersebut. Sarah menemukan Dito berdiri disana. Wajahnya sumringah melihat istrinya yang datang.
"Ditoooo!!!" Seru Sarah sambil berlari memeluk suaminya.
Baru seminggu mereka terpisah sebagai suami istri, tapi sepertinya rasa rindu di hati keduanya sudah sangat membuncah. Memang benar kata orang, kehidupan setelah menikah sangatlah berbeda. Yang biasanya rasa rindu itu masih bisa terobati, ketika sudah menikah rasanya sangat sulit untuk jauh dari pasangan tercinta.
"Gimana kabarmu, Yang?" Tanya Dito menatap Sarah dengan perasaan berbunga.
"Aku kemarin sakit Yang" ucap Sarah murung.
Dito tampak khawatir.
"Sakit apa? Kok ga cerita sama aku?" Dito bertanya kepada Sarah.
"Sakit kangen! Hahaha!" Seru Sarah mengerjai Dito.
Dito tertawa. Ia sempat berpikir Sarah menutupi sesuatu ternyata itu hanyalah salah satu dari sekian banyak lelucon garing Sarah.
"Ayo ikut saya Bu Sarah, biar saya antar ke kediaman Pak Dito." Ucap Dito bercanda seraya menggandeng Sarah.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil Dito. Mobil itu langsung melaju meniti jalan raya menuju rumah dinas yang selama ini Dito tinggali. Kurang lebih 1 jam roda kereta besi itu bergulir, Dito dan Sarah akhirnya tiba di rumah yang dituju.
Rumah yang selama ini hanya Sarah lihat melalui panggilan video dan foto semata, kini ada di hadapannya. Sarah menjerit senang. Akhirnya ia bisa tinggal bersama Dito dan benar-benar memulai kehidupan barunya sebagai suami istri.
"Ini kamar kita Yang, satunya aku kosongin sih. Buat anak kita atau nanti kalo misalnya ada tamu dateng." Ucap Dito menjelaskan isi rumahnya.
Sarah hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Dito. Tujuan lainnya untuk ke Ambon harus segera ia laksanakan. Mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya. Karena sejujurnya, bahkan hingga detik ini pun Sarah masih percaya sepenuhnya pada Dito. Dan ia yakin gadis bernama Anggi itu hanyalah salah satu dari sekian gadis tidak bertanggung jawab yang mencoba membuat kekacauan di rumah tangga orang lain.
"Kamu aku tinggal sendirian gapapa ya? Aku harus balik ke kantor lagi Yang." Ucap Dito sambil memindahkan koper Sarah ke dalam kamar.
"No problem. Tapi mungkin aku jalan-jalan keluar boleh ya? Bosen nih aku, ada beberapa barang juga yang harus aku beli." Jawab Sarah sambil membongkar barang-barangnya.
"Oke, ga masalah Yang. Kabarin aku aja kalo kamu mau pergi-pergi ya. Siapa tau aku bisa anter kamu! Bye!" Pamit Dito sambil mencium kening istrinya.
Sarah melambaikan tangannya sambil melihat mobil Dito menghilang di balik tikungan jalan. Begitu mobil putih itu menghilang, Sarah langsung menekan beberapa nomor di ponselnya. Menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Halo Mbak Anggi, saya Sarah. Sekarang saya ada di Ambon. Bisa kita ketemu?"