
Bu Risa tampak duduk di sebuah meja yang berada di pojok kafe. Ia tampak tersembunyi dari pengunjung lainnya. Hari ini ia telah berjanji akan bertemu dengan keset kakinya yang paling setia. Siapa lagi kalau bukan Malik.
Ponsel lalu berdering. Anggi putri tercintanya menelepon. Mungkin ia bingung kenapa ibunya tiba-tiba menghilang.
"Halo Ma? Mama dimana? Kok ga ada di rumah?" Tanya Anggi di telepon.
"Mama keluar sebentar, Nggi. Ada janji sama teman Mama. Kamu ga apa-apa kan Mama tinggal?" Ucap Bu Risa pada anaknya
"Ga apa-apa, Ma. Tapi jangan lama-lama ya, aku repot kalau harus jagain Deo sendiri." Gerutu Anggi.
Bu Risa tertawa.
"Iya, paling lama 2 jam kok. Nanti Mama langsung pulang habis ini ya."
Bu Risa pun segera menutup teleponnya ketika Anggi mengakhiri pembicaraan mereka. Tak lama, matanya menangkap sosok yang ia tunggu tengah berjalan ke arahnya. Malik, si pecandu obat batuk yang juga pesuruh setia Bu Risa untuk segala perbuatan kotornya.
"Duduk." Ucap Bu Risa singkat.
Malik langsung duduk di hadapan Bu Risa. Ekspresinya mengisyaratkan ia siap mendengar instruksi Bu Risa selanjutnya.
"Ibu mau saya ngapain?" Tanya Malik.
Bu Risa lalu menunjukkan sebuah foto di handphonenya kepada Malik.
"Kamu ikuti perempuan ini dan foto setiap gerakannya. Khususnya kalau ia sedang bersama laki-laki. Kalau perlu kamu bisa lakukan apa saja untuk dapat foto yang terbaik. Kamu ngerti?" Perintah Bu Risa.
Malik lalu melihat wanita yang ada di foto itu.
"Cantik banget, Bu. Ga buat saya aja ni cewek?" Tanya Malik iseng.
Bu Risa tertawa sinis.
"Terserah kamu mau apain dia, yang jelas kamu harus dapet foto-foto dia sama laki-laki lain. Terserah siapa laki-laki itu." Ucap Bu Risa tegas.
Malik mengangguk tanda mengerti.
"Siap Bu."
Tak lama kemudian Malik pergi meninggalkan Bu Risa yang masih duduk sendirian menghabiskan kopinya. Senyumnya mengembang penuh kemenangan bahkan sebelum berperang.
__ADS_1
...****************...
"Bu Sarah hari ini sudah bisa pulang ya. Obatnya jangan lupa diminum Bu, apalagi yang penguat kandungan itu penting. Dan ibu juga ga boleh terlalu capek. Pak Elton, tolong ya untuk makanan istrinya lebih diawasi dan pastikan gizinya seimbang." Pesan perawat saat membantu Sarah bangkit dari ranjangnya.
Mulut Sarah menganga. Terkejut dengan apa yang dikatakan perawat barusan.
"Suami? Maksudnya apa, El?" Tanya Sarah bingung.
Elton hanya tertawa cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf ya, Sarah. Aku harus bohong biar kamu bisa ditangani secepatnya. Mereka nunggu persetujuan suami untuk ngambil tindakan, tapi aku ga tau gimana caranya hubungin Dito. Jadi mau ga mau aku harus bohong dan ngaku sebagai suami kamu." Ucap Dito menyesal.
Sarah tertawa kecil. Lucu sekali melihat pria dengan badan sebesar Elton tampak seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri permen.
"Iya ga apa-apa, El. Tapi kalo gitu aku merasa ditipu nih." Ucap Sarah sambil pura-pura ngambek.
"Eh, maksudmu? Jangan ngambek dong, Sarah." Balas Elton.
"Aku ga ngambek lagi kalo kamu traktir aku makan di Mie Huy." Ujar Sarah.
Elton tertawa. Ia senang melihat Sarah tampaknya sudah sehat dan bisa tersenyum seperti semula. Buktinya, sekarang sudah meminta ke Elton pajak untuk mentraktirnya.
Sarah tertawa sambil menonjok lengan Elton yang kekar. Di balik kemalangannya yang tidak ada habisnya, Sarah bersyukur bisa menemukan sahabat sebaik Elton. Setidaknya ia tidak akan merasa kesepian lagi di tanah orang ini.
...****************...
Sebuah mobil sedan berwarna hitam tampak memasukki pekarangan rumah. Bu Risa dan Anggi bingung karena mereka tidak mengenal mobil itu. Keduanya langsung berjalan ke arah pintu karena penasaran siapa yang ada di dalamnya.
Tak lama kemudian, seorang pria tampan berkulit putih dengan tubuh yang kekar turun dari mobil itu. Matanya yang sipit makin memicing karena terkena sinar matahari yang terang. Bu Risa terdiam, ia mengenal dengan jelas siapa pria itu karena mereka juga pernah bertemu sebelumnya.
"Siapa itu Ma? Ganteng banget." Puji Anggi seolah tidak bisa membohongi matanya.
"Elton." Jawab Bu Risa singkat.
"Elton siapa? Kok Mama bisa tau?" Tanya Anggi bingung.
"Kamu liat aja nanti dia turun sama siapa." Kata Bu Risa datar.
Tak lama kemudian, sesosok wanita turun dari kursi samping supir. Elton membukakan pintu untuk wanita itu dan membantunya turun dari mobil.
__ADS_1
"Sarah? Itu siapanya Sarah?" Anggi tampak kaget melihat Sarah turun dari mobil yang baru datang itu. Terlebih lagi melihat pria tampan yang ada bersama Sarah.
"Katanya sih temannya Sarah." Jawab Bu Risa.
Kedua orang itu lalu berjalan membelah halaman rumah dan tiba di depan pintu masuk. Sarah berjalan duluan sementara Elton mengikutinya dari belakang sembari membawakan barang-barangnya. Sarah melihat sosok kedua wanita itu berdiri di depan pintu. Wajah mereka tampak bertanya-tanya tentang semua yang ada di depan mata mereka.
Sarah geram. Ia masih ingat dengan jelas skenario jahat Bu Risa yang hampir menghabisi nyawa bayi di dalam perutnya. Sarah sudah hampir mengangkat tangannya untuk menampar Bu Risa, tapi Elton menahannya. Ia memegang tangan Sarah sambil menatapnya serius.
Elton menggeleng. Seolah-olah mereka berkomunikasi melalui telepati, Sarah pun menurunkan tangannya dan menghela nafas. Sarah memejamkan matanya sebentar. Berharap kemarahannya dapat menguap dengan sendirinya. Setelah ia merasa lebih tenang, ia masuk dan berjalan melewati kedua wanita itu.
"Maaf tapi rencana Ibu gagal." Ucap Sarah pelan ketika ia berhenti tepat di samping Bu Risa.
Bu Risa hanya terdiam. Matanya melirik Sarah dengan sinis. Yang Sarah tidak tahu adalah Bu Risa masih punya sejuta rencana di otaknya. Dan setiap rencana itu akan membawa kesengsaraan baru untuk hidup Sarah.
Elton mengantar Sarah hingga ke dalam rumah. Bahkan membawakan barang-barang Sarah ke dalam kamar. Elton dengan sigap memapah Sarah untuk duduk saat ia melihat Sarah tampak kesulitan dengan rasa sakitnya.
"Ga usah, El. Aku tu ngerepotin kamu terus lo. Ga enak aku." Ucap Sarah sambil mengingatkan Elton.
Elton berdecak kesal. Seandainya Sarah tahu kalau Elton membantunya setulus hatinya. Tidak sedikitpun Elton merasa keberatan dengan hal ini. Bahkan jika Sarah meminta jantungnya, Elton akan mencabut dan memberikannya sekarang juga. Sebesar itulah rasa cinta Elton ke Sarah. Wanita yang baru ia kenal selama satu bulan tapi sudah bisa mengubah seluruh warna dalam hidupnya.
"Ga usah bandel. Tolong lah Sarah. Nurut dikit ya. Nanti kalo udah sehat baru boleh lari-larian kaya dulu." Elton menasihati Sarah.
Sarah hanya tertawa kecil.
"Kamu kek ibu-ibu, ngomel mulu." Ucap Sarah pelan.
Elton mendelik.
"Kamu mau aku piting pake lenganku?" Canda Elton sambil melipat lengannya dan menunjukkan ototnya yang kekar.
"Dasar gapura kabupaten!" Balas Sarah tertawa.
Untuk pertama kalinya dalam satu tahun terakhir Sarah dapat tersenyum kembali. Ia dapat merasakan hidup yang sedikit lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dan meskipun itu bukan karena Dito melainkan Elton.
Bersahabat dengan Elton ga terlalu buruk juga. Batin Sarah.
Namun yang tidak Sarah ketahui adalah di luar kamarnya, dua wanita berhati busuk itu tengah menguping pembicaraan mereka. Keduanya tampak terkejut dan tidak senang melihat Sarah yang tampak bahagia. Sang ibu memikirkan berbagai cara untuk menghancurkan kebahagiaan Sarah, karena ia ingin hanya putrinya yang bahagia di rumah ini. Dan sang anak, tampak tidak percaya Sarah membawa pulang pria setampan Elton. Rasa iri sedikit timbul di hatinya namun buru-buru ia tepis dengan mengingat bahwa ia juga punya suami setampan Dito.
Bu Risa membatin,
__ADS_1
Kamu bisa puas berbahagia sekarang, Sarah. Karena mimpi burukmu sebentar lagi akan datang.