Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Penyesalan


__ADS_3

Sarah dan Elton tengah dalam perjalanan menuju Saloka Theme Park. Entah kenapa, hatinya berkata bahwa Dito membawa Ansel pergi kesana. Janji Dito 10 tahun lalu masih terpatri jelas di kepala Sarah dan mungkin juga pada Dito.


Setengah perjalanan, ponsel Sarah berdering. Ia terbelalak kaget melihat nama peneleponnya dan segera mengangkatnya.


"Siapa, Sayang?" Tanya Elton penasaran.


"Dito." Jawab Sarah sebelum mengangkat teleponnya.


Sarah mengangkat telepon dan tanpa aba-aba Dito langsung berbicara.


"Sarah, Ansel ada sama aku sekarang." Ucap Dito.


"Kemana kamu bawa Ansel?" Tanya Sarah lagi.


"Kamu tahu tempatnya." Ujar Dito terdengar lesu.


"Saloka?" Sarah berusaha memastikan.


"Iya." Jawab Dito singkat lalu memutuskan sambungan telepon.


"Dito beneran ngajak Ansel ke Saloka?" Tanya Elton seolah tidak percaya.


Sarah mengangguk. Instingnya benar dan Dito membawa Ansel kesana untuk menepati janjinya.


Akhirnya mesin beroda empat itu tiba di tempat yang disebutkan Dito. Sarah turun dari mobil dan segera berlari memasukkinya. Namun langkahnya terhenti. Kepalanya terasa penuh seolah-olah berjuta kenangan dari masa lalu menyerbu untuk muncul lagi. Tanpa ia sadari, air matanya merembes membasahi pipinya.


"Sialan kamu Dito." Ucap Sarah lirih sambil mengusap air matanya dengan kasar.


Elton melihat Sarah yang tiba-tiba menghentikan langkahnya dan tertunduk.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Elton menghampiri Sarah.


Sarah hanya menggeleng.


"Engga, ga apa-apa. Ayo kita cari Ansel sekarang, El." Ucap Sarah seolah-olah tidak terjadi apa


"Kita harus nyari Ansel kemana, Sayang?" Tanya Elton sambil melihat sekelilingnya.


Begitu banyak orang di taman bermain itu. Tua, muda, bahkan anak-anak semuanya tumpah ruah di satu tempat. Bak mencari jarum di tumpukan jerami, sungguh sulit untuk menemukan Ansel dan Dito di antara kerumunan orang ini.


Sarah terdiam sejenak. Otaknya mencoba berpikir keras kira-kira kemana Dito membawa Ansel. Lalu sebuah kemungkinan muncul di kepalanya.

__ADS_1


"Bianglala, El. Pasti Dito ngajak Ansel kesana." Ucap Sarah.


Sarah dan Elton memacu kakinya agar berlari dengan cepat ke wahana bianglala. Waktu semakin bergulir dan langit semakin memerah. Senja sebentar lagi turun dan Sarah harus menemukan Ansel secepatnya. Dan benar dugaan Sarah, ia melihat Dito dan Ansel berdiri di depan bianglala. Seolah menunggu seseorang untuk datang.


"Ansel!" Teriak Sarah sambil berlari menhampiri putranya.


"Mama!" Seru Ansel mengejar sang ibu yang menangis bahagia.


Sarah memeluk Ansel dengan erat. Seolah takut kehilangan putranya lagi. Sementara Elton sudah kehilangan kesabarannya dan langsung mencengkeram kerah jaket yang dikenakan Dito.


"Apa gue bilang, Dit?! Gue bakal habisin lo kalo lo ganggu Sarah dan Ansel lagi!" Seru Elton hendak melayangkan pukulan ke wajah Dito.


Namun Ansel tiba-tiba berlari dan memeluk kaki Elton. Matanya memelas meminta Elton untuk tidak melakukan aksi anarkis itu.


"Jangan, Pa! Ansel mohon! Papa kan bukan orang jahat. Jangan ya Pa. Ansel takut liat Papa begini." Pinta Ansel sungguh-sungguh.


Elton langsung menjatuhkan tinjunya yang terkepal ke samping tubuhnya. Ansel sukses menggugurkan segala rasa marahnya dengan satu tatapan dari matanya. Dan mungkin Elton tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri jika Ansel mengalami trauma karena melihatnya menghajar Dito. Anak sekecil Ansel tidak seharusnya menyaksikan kedua ayahnya bergulat memperebutkannya.


"Maafin Papa ya, Ansel. Papa janji ga akan pukul Om Baik Hati kamu lagi." Ucap Elton sambil memeluk Ansel.


Sarah kira Dito akan bertingkah seperti orang gila ketika Ansel berlari kembali kepadanya. Namun tidak. Sedari tadi Dito hanya tertunduk lesu seperti habis mengalami sesuatu yang sangat menyakiti hatinya. Sarah bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Ansel mengatakan sesuatu sehingga Dito sampai bereaksi seperti itu?


Dito berjalan menghampiri Sarah, Elton, dan Ansel. Wajahnya tampak ingin mengatakan sesuatu. Namun Dito mengurungkannya.


"Aku boleh minta sesuatu?" Ucap Dito ragu.


Mendengar ucapan Dito, Elton langsung bersiaga satu. Ia takut laki-laki brengsek di depannya bertingkah lagi. Namun Sarah memegang lengan Elton, mencegahnya untuk meledak dalam amarah.


"Boleh aku ajak kamu dan Ansel naik bianglala bareng? Untuk yang terakhir kalinya?" Pinta Dito.


Elton menoleh ke arah Sarah. Ekspresinya menunjukkan seolah ia habis mendengar usul teraneh dari seorang ilmuwan gila. Tapi Sarah mengangguk pelan. Ia mengisyaratkan kepada Elton bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Ga apa-apa, El."


...****************...


Sarah, Dito, dan Ansel menaikki bianglala itu. Seperti 10 tahun yang lalu, mereka tiba di puncak bianglala pada pukul 4 sore. Ketika langit mulai berwarna kemerahan dan pemandangan di depan mata terlihat sangat menakjubkan.


"Kamu inget kita dulu sering kesini, Sar?" Tanya Dito sambil memandang jauh ke arah langit.


"Inget, Dit. Dulu ini salah satu kencan yang paling aku suka." Jawab Sarah.

__ADS_1


"Kamu inget juga kan aku pernah janji sama kamu?" Ucap Dito.


"Kalau kita nikah dan punya anak, aku janji bakal bawa kamu dan anak kita naik ini." Sambung Dito.


Sarah mengangguk.


"Sejak kapan hubungan kita jadi kaya gini ya Dit?" Tanya Sarah sambil merenung.


Tidak, Sarah tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Dito atas kehancuran rumah tangganya. Di sudut hatinya, Sarah merasa ia juga turut andil dalam semua ini. Kebodohan Sarah yang memaksa Dito menikahi Anggi hingga Sarah yang begitu naif menganggap Anggi sebagai adiknya dan tidak mungkin merusak hidupnya. Atau mungkin memang semuanya sudah menjadi permainan takdir. Kedua orang dipertemukan dan disatukan untuk sekian lama, hanya untuk pernikahan mereka berakhir dalam waktu 1 tahun.


"Aku juga ga tau, Sar." Jawab Dito sambil menghela nafas pelan.


Keduanya hanya terdiam dalam hening dan Ansel pun hanya bingung mendengarkan apa yang dibicarakan kedua orang dewasa di dekatnya ini.


"Aku minta maaf ya buat semua kesalahanku selama ini. Karena aku udah nyakitin kamu segitu parahnya. Karena aku udah ngeraguin cinta kamu. Karena aku udah ninggalin kalian di saat kalian butuh aku. Aku minta maaf buat semuanya ya, Sar." Ucap Dito penuh sesal.


Sarah tertegun. Ia menatap Dito. Setelah 3 tahun tidak bertemu, baru kali ini dia benar-benar menatap Dito sedalam ini. Dito yang sekarang sudah tidak muda. Kerutan halus sudah mulai muncul di wajahnya. Sehelai dua helai uban sudah tumbuh di kepalanya. Dan di matanya hanya ada penyesalan yang tersisa.


Sarah mengangguk.


"Ansel Sayang, Mama mau kasih tau Ansel sesuatu deh." Ucap Sarah sambil memangku Ansel.


"Apa Ma?" Tanya Ansel penasaran.


"Om yang di depan Ansel ini Papa Ansel juga lo. Jadi mulai sekarang Ansel boleh panggil Om ini Papa." Kata Sarah sambil menunjuk Dito.


Ansel menatap Dito dan Sarah bergantian. Wajahnya bingung, tak mengerti maksud ibunya.


"Tapi kan Papa Ansel Papa Elton Ma?" Tanya Ansel.


Sarah tersenyum. Lucu sekali melihat wajah anaknya yang bingung.


"Mulai sekarang Ansel punya dua Papa loh! Papa Elton dan Papa Dito. Keren kan? Jadi Ansel bisa ulang tahun dua kali, dapet hadiah dua kali, jalan-jalan dua kali. Banyak deh pokoknya!" Bujuk Sarah meyakinkan anaknya.


Mata Ansel berbinar. Sungguh pikiran seorang anak kecil memang sederhana. Bahkan hal sekompleks ayah kandung dan ayah sambung pun dapat menjadi hal yang sederhana jika dikaitkan dengan sebuah mainan.


"Keren Ma! Ansel suka!" Seru Ansel bahagia.


"Jadi sekarang Om jadi Papanya Ansel juga!" Seru Ansel kembali sambil memeluk Dito.


Dito menangkap Ansel dalam pelukannya. Ia memeluknya sangat erat. Tanpa terasa air mata Dito menetes. Ia merasa bahagia putranya mau menerima dirinya dengan sepenuh hati.

__ADS_1


Dito menggerakkan mulutnya tanpa suara. Memberikan isyarat kepada Sarah bahwa ia merasa berterimakasih atas kebesaran hati Sarah.


"Makasih ya."


__ADS_2