Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Seorang Papa


__ADS_3

Ansel tak kunjung ditemukan meskipun Sarah dan Elton sudah mencarinya di setiap tempat. Mulai dari rumah kedua orangtua Dito, taman bermain dekat komplek rumah mereka, dan bahkan setiap taman bermain yang ada di daerah itu. Tapi tetap saja hasilnya nihil. Ansel dan Dito bak hilang ditelan bumi.


Sarah terduduk lemas. Ia sudah tidak tahu lagi harus mencari Ansel kemana. Mungkin sekarang ia tampak seperti orang gila karena riasannya yang sudah tidak karuan terkena air mata. Mungkin pakaiannya sudah tampak seperti gembel karena Sarah merangkak kemana-mana mencari Ansel. Mungkin kakinya sudah melepuh bergesekkan dengan sepatu karena ia terus berlari mengejar setiap anak yang ia kira Ansel. Tapi Sarah tidak peduli. Yang ia inginkan hanyalah Ansel kembali dalam pelukannya.


"Kita harus cari Ansel kemana lagi, El? Aku udah ga tau lagi." Ucap Sarah sambil menangis.


Elton memeluknya dan mengelus kepala Sarah lembut. Sebuah gesture yang selalu dilakukan Elton apabila Sarah sedang gelisah.


"Ansel pasti ketemu, Sayang. Percaya sama aku ya. Kita bakal terus cari Ansel sampai ketemu." Kata Elton pelan sambil berusaha menghilangkan kegelisahan di hati Sarah.


Sejujurnya, sama seperti Sarah, hati Elton pun gelisah tidak karuan. Pikirannya tidak bisa tenang jika belum melihat Ansel dengan kedua matanya sendiri. Meskipun Ansel bukan anak kandungnya, tapi Elton sudah bersama Ansel sejak ia masih di dalam kandungan ibunya. Bahkan sejak Ansel lahir hingga sebesar ini, Elton lah yang selalu menjadi sosok ayah bagi Ansel. Bagi Elton, Ansel sudah seperti anaknya sendiri.


"Kenapa Dito bisa senekad ini, El? Apa dia belum puas udah nyakitin aku, sekarang dia mau ambil Ansel juga? Sebenarnya apa salahku sama dia El?" Kata Sarah.


"Kamu ga salah, Sayang. Kamu ga perlu nyalahin diri kamu sendiri." bisik Elton pelan.


Baik Sarah dan Elton sama-sama tidak mengira Dito akan bertingkah sejauh ini. Entah apa yang membuat Dito menjadi seperti ini. Mungkinkah penyesalan yang menggelayutinya selama beberapa tahun ini yang mengubahnya? Atau mungkin obsesi Dito untuk mendapatkan Sarah dan Ansel telah berkembang menjadi begitu besar?


Sarah begitu tenggelam dalam pikirannya memikirkan setiap kemungkinan kemana Dito membawa Ansel. Dan tiba-tiba tempat itu terlintas di benak Sarah. Tempat dimana dulu Sarah dan Dito seringkali menghabiskan akhir pekannya bersama.


"Dito ga mungkin ngajak Ansel kesana kan?" Gumam Sarah seolah tidak percaya.


"Kamu bilang apa Sayang?" Ujar Elton saat mendengar gumaman Sarah.


"Kayanya aku tahu kemana Dito bawa Ansel, El." Ucap Sarah.


"Kemana?" Tanya Elton penasaran.


"Saloka."


...****************...


10 tahun yang lalu


"Yang, kita ke Saloka yuk! Main-main gitu, udah lama kan kita ga amusement park date?" Ajak Sarah pada Dito.


Dito hanya tertawa mendengar ajakan kekasihnya itu. Meskipun sudah sebesar ini, Dito dan Sarah masih sangat suka berkunjung ke taman bermain. Naik bianglala, main gokart, atau bahkan ke rumah hantu. Sarah sendiri sering menyebutnya sebagai amusement park date.


"Ayok! Tapi bantuin aku selesaiin skripsi dulu dong, Yang!" Pinta Dito manja.

__ADS_1


"Ih kamu tuh ya. Aku nih bego Yang, mana ngerti aku teknik-teknik gitu. Malah kamu suruh bantuin buat skripsi!" Ucap Sarah kesal.


Dito tertawa mendengar omelan Sarah.


"Ya udah kalo gitu bantuin kasih semangat aja deh! Aku lagi butuh booster biar semangat nih!" Seru Dito sambil tertawa.


Sarah mendekat ke Dito dan mencium pipi kekasihnya itu singkat.


"Tuh! Udah boosternya. Udah semangat belom?" Tanya Sarah.


Pipi Dito bersemu kemerahan. Ia kaget dengan reaksi tiba-tiba kekasihnya. Sebagai balasan Dito hanya dapat tersenyum malu-malu setelah mendapatkan sebuah kecupan dari sang wanita tercinta.


"Ayo buruan! Selesaiin skripsinya biar kita bisa ke Saloka!" Seru Sarah.


Dito pun langsung memacu jemarinya. Dengan cepat ia mengetik kata demi kata, baris demi baris, dan halaman demi halaman agar skripsi sialan ini bisa selesai. Kalau Dito telat wisuda karena sibuk pacaran, bisa-bisa orangtuanya akan melarang ia berhubungan dengan Sarah lagi. Dan Dito tidak mau itu terjadi.


Dalam waktu dua jam, Dito berhasil menyelesaikan satu bab skripsinya. Lalu Sarah dan Dito bergegas pergi ke Saloka untuk melakukan apa yang Sarah namai sebagai amusement park date. Dengan motor sportnya, Dito dan Sarah melaju ke taman bermain itu.


"Yang! Ayo kita naik itu!" Seru Sarah menunjuk sebuah biang lala.


Dito mengangguk setuju dan mereka berlari menuju permainan biang lala. Wahana ini akan menjadi wahana terakhir yang mereka kunjungi hari ini setelah seharian menghabiskan waktu menaikki berbagai permainan.


"Bagus banget ya, Yang." Gumam Sarah. Matanya tak lepas dari lembayung senja yang ada di depannya.


"Iya, cantik banget. Kaya kamu." Ucap Dito sambil memuji Sarah.


Sarah hanya terkekeh mendengarnya.


"Apaan sih kamu? Gombal melulu." Balas Sarah geli.


"Nanti kalau kita udah nikah dan punya anak, aku janji bakal bawa kamu dan anak kita kesini." Janji Dito pada Sarah.


"Beneran? Janji ya?"


Dito tersenyum dan melingkarkan jari kelingkingnya dengan milik Sarah.


"Iya, aku janji."


...****************...

__ADS_1


"Ayo Om, aku mau pulang. Aku kangen sama Mama Papa. Kita mainnya udahan dulu ya?" Ucap Ansel mengajak Dito untuk pulang.


Dito terkejut. Papa? Sesungguhnya jika Ansel tahu bahwa ayahnya yang sebenarnya adalah pria yang ia panggil Om Baik Hati. Pria yang sekarang tengah bersamanya adalah ayah kandungnya dan bukan Elton. Terlintas di benak Dito mungkin memang ini saatnya Ansel mengetahui kebenarannya. Bagaimanapun juga, Dito tidak mau melepaskan Ansel. Jadi cepat atau lambat ia harus memberitahu Ansel tentang siapa sebenarnya Dito di dalam hidup Ansel.


"Ansel, om boleh kasih tau Ansel sesuatu?" Ujar Dito sambil berjongkok menghadap Ansel.


Ansel mengangguk.


"Apa Om?"


"Ansel tau ga, kalau sebenarnya Om ini Papanya Ansel loh." Jawab Dito sambil tersenyum.


Muka Ansel tampak cemberut. Pertanda ia tidak setuju dengan perkataan itu.


"Engga mungkin, Om. Papa Ansel itu namanya Elton. Papa Elton tau!" Seru Ansel memberitahu Dito.


"Iya, tapi Papa benerannya Ansel itu Om. Bukan Papa Elton." Dito kembali berusaha menjelaskan.


"Tapi kalo Om Papa Ansel, kenapa Om ga pernah dateng waktu Ansel ulang tahun?" Tanya Ansel.


Dito terdiam.


"Terus kenapa setiap Mama sakit, Om ga pernah ada nemenin Mama?" Ucap Ansel lagi.


Dito kembali bungkam.


"Terus kalo Ansel sakit, Om juga ga ada kan? Ya berarti Om bukan Papa Ansel dong!" Seru Ansel heboh.


"Kalo kata Mama, Papa itu kan harus ada setiap kita butuh Papa. Waktu Ansel ulang tahun, pasti Papa Elton ada dan ngajak Ansel jalan-jalan seharian. Waktu Mama sakit juga, pasti Papa Elton yang ada nemanin Mama. Terus waktu Ansel sakit, pasti Papa Elton takut dan langsung bawa Ansel ke rumah sakit! Om tahu ga, dulu waktu Ansel sakit banget, Papa Elton sampe nangis tau! Berarti Papa Elton yang Papanya Ansel kan?" ucap Ansel penuh semangat.


Dito terduduk mendengar kata-kata anak empat tahun di hadapannya itu. Seolah-olah ditampar kebenaran oleh anaknya sendiri. Sekedar menjadi ayah biologis ternyata tidaklah cukup membuat Dito menjadi seorang ayah. Dito tidak pernah ada bersama Ansel ketika Ansel membutuhkan seorang ayah. Dito juga tidak pernah melindungi ibu Ansel seperti yang ia katakan tadi.


Di saat ia meninggalkan anak dan istri pertamanya demi hidup bersama istri keduanya, Elton lah yang ada disisi mereka. Mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Dito dan melaksanakan perannya baik sebagai pasangan maupun ayah sepenuh hatinya.


Dito terus memikirkan perkataan Ansel. Mungkinkah memang lebih baik jika semuanya tetap seperti ini? Mungkinkah memang lebih baik jika Sarah dan Ansel bersama Elton dan bukannya Dito? Mungkinkah yang terbaik adalah Dito cukup merasa bersyukur dengan apa yang ia punya sekarang? Hidup bahagia bersama Anggi dan Deo? Dito sendiri pun ragu apakah ia mampu bertingkah adil pada kedua putranya.


Seolah mencapai sebuah pencerahan, Dito mengambil ponselnya dan menelepon sebuah nomor.


"Sarah, Ansel ada sama aku sekarang."

__ADS_1


__ADS_2