
Pikiran Sarah melayang kemana-mana. Ia berpikir keras kenapa Bu Risa memiliki kunci kamarnya dan untuk apa? Apakah dalang di balik semua ini adalah Bu Risa?
"El, apa kata dokter?" Tanya Sarah ingin tahu.
Elton terdiam. Ia tampak ragu menjawab pertanyaan Sarah. Namun akhirnya ia buka suara.
"Dokter nemuin kandungan misoprostol di darah kamu. Kamu tahu apa itu misoprostol?"
Sarah menggeleng.
"Itu obat peluruh kandungan, Sarah."
Mata Sarah menjelit. Ia kaget dan tidak percaya dengan kata-kata dari mulut Elton.
"Ga mungkin, El. Mana mungkin aku minum obat berbahaya kaya gitu." Ucap Sarah tak percaya.
"Aku tahu, Sarah. Tapi emang benar dokter nemuin itu di darahmu. Dan aku juga belum tahu darimana asalnya." Kata Elton.
Kemudian terdengar suara ketukan di pintu ruangan Sarah. Seorang perawat terlihat menyembulkan kepalanya dan masuk ke dalam ruangan itu.
"Pak Elton, ini hasil labnya sudah keluar dan bisa Bapak cek." Ucap perawat itu ramah.
"Gimana hasilnya, Sus?" Tanya Elton meminta jawaban.
Perawat itu mengangguk.
"Positif, Pak. Kami menemukan misoprostol di dalam sample. Dan dosisnya pun cukup besar." Jawab perawat itu.
Sarah tampak bingung dengan apa yang dibicarakan kedua orang di hadapannya.
"Maksudnya apa, El?" Tanya Sarah ketika perawat itu pergi meninggalkan mereka.
Elton terdiam. Ia bingung apakah ia harus mengungkapkannya ke Sarah atau tidak.
"El? Jawab please. Kamu tahu sesuatu kan?" Pinta Sarah sambil menggenggam tangan Elton.
__ADS_1
Sungguh Elton tidak tahu mengapa tapi ia dapat menjadi sangat lemah di hadapan Sarah. Bahkan jika Sarah meminta untuk diambilkan bulan, Elton akan terbang dan mengambilnya sekarang juga untuk dipersembahkan pada Sarah. Elton tidak kuasa melihat mata Sarah yang menatapnya begitu dalam. Berharap sebuah jawaban. Tapi sayangnya jawaban itu sangat mengerikan. Bahkan terlalu mengerikan untuk Elton sampaikan.
"El, please. Aku harus tahu semuanya." Pinta Sarah lirih.
Elton menghembuskan nafas berat.
"Ini soal obat peluruh kandungan tadi." Jawab Elton akhirnya.
Sarah masih menatap dengan serius. Menunggu lanjutan kata-kata itu.
"Dokter nemuin misoprostol dalam dosis yang cukup tinggi di minuman kamu. Di infused water yang kamu minum tadi." Ucap Elton pelan.
DUAR! Seperti petir di siang bolong Sarah mendengarnya. Ia tidak percaya, ada yang dengan sengaja memasukkan obat itu ke dalam minumannya. Ada seseorang yang ingin Sarah kehilangan bayinya. Tapi siapa? Sarah belum memberi tahu siapapun soal kehamilannya.
Namun tiba-tiba seperti setiap kabel di tubuhnya tersambung. Seolah setiap saraf di otaknya bekerja bersamaan. Ia tampaknya mengerti siapa yang melakukan ini semua.
"El, tadi kamu bilang siapa yang siapin baju aku?" Tanya Sarah kembali.
Elton yang sedari tadi hanya tertunduk kemudian mengangkat wajahnya menghadap Sarah.
"Bu Risa, Sarah. Kenapa emangnya?" Jawab Elton.
Air mata Sarah tumpah. Ia menangis sejadi-jadinya. Meratapi nasibnya yang begitu malang. Elton yang melihat Sarah menangis langsung bangkit. Entah apakah ini akan terlihat salah atau tidak, entah apa yang akan dipikirkan Sarah, tapi Elton tidak peduli. Ia tidak bisa melihat Sarah hancur di depannya berkeping-keping sementara ia tidak berbuat apa-apa.
Elton segera merengkuh Sarah ke dalam pelukannya. Mengusap-usap kepalanya dan berusaha menenangkan Sarah. Dan tangis Sarah makin pecah. Ia menangis sekuat-kuatnya di pelukan Elton.
"Bu Risa, El. Ini semua ulah dia. Aku yakin!" Ucap Sarah di sela isak tangisnya.
Elton masih mendekap Sarah dengan erat. Menenangkan tubuhnya yang bergetar hebat karena tangis. Betapa malangnya nasib wanita ini. Seseorang yang tinggal di bawah satu atap dengannya malah menjadi musuh terbesarnya. Dan bahkan sampai tega mencelakai dia dan bayinya.
"Ga apa-apa, Sarah. Ga apa-apa. Kamu ga perlu takut."
Karena aku akan selalu ngelindungin kamu. Elton melanjutkan kata-katanya dalam hati.
Setelah berhasil menghentikan tangisnya, Sarah duduk menatap Elton yang tampak menunggu penjelasannya.
__ADS_1
"Aku yakin ini semua ulah Bu Risa, El."
Elton memandang Sarah bingung. Tatapannya seolah meminta penjelasan.
"Kunci kamarku, El. Aku tahu persis cuma ada satu kunci yang bisa buka kamarku. Dan satu-satunya kunci itu aku yang pegang. Tapi tadi kamu bilang Bu Risa yang siapin pakaianku kan?" ujar Sarah.
Elton mengangguk.
"Itu ga mungkin El. Aku ga seceroboh itu untuk ninggalin kamarku dalam keadaan ga terkunci. Berarti Bu Risa punya kunci cadangan kamarku, kan?" Sarah melanjutkan.
"Entah gimana caranya, tapi Bu Risa berhasil buat kunci cadangan kamarku tanpa aku tahu." Sarah mengakhiri kalimatnya.
Mulut Elton menganga membentuk "oh". Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat kisah yang ada di sinetron terjadi di layar kaca. Ibu istri muda yang kejam dan bahkan tega mencelakai istri tua. Tidak pernah terpikirkan oleh Elton ada orang yang begitu tega menyakiti wanita sebaik Sarah.
"Aku takut, El." Kata Sarah setelah diam cukup lama.
"Anakku dalam bahaya. Ada yang ga suka aku hamil anak Dito dan orang itu Bu Risa. Ga menutup kemungkinan Anggi juga bakal begitu. Aku takut banget. Dito belum tahu apa-apa soal anaknya." Ucap Sarah sambil merenung memegangi perutnya.
"Aku bahkan ga berani bilang ke siapapun kalau aku lagi hamil, dan semua ini udah terjadi sama aku. Aku bingung El. Aku harus gimana?" Sarah meracau. Tampak ketakutan yang amat besar ada di matanya.
Memang begitulah seorang ibu. Jika dulu Sarah tidak peduli sekejam apa dua penyihir itu memperlakukannya, kini Sarah takut akan apa yang bisa mereka lakukan. Persetan dengan keselamatan dirinya. Yang Sarah takutkan hanyalah anaknya ada dalam bahaya. Sarah takut ketika ia lengah, semua mimpi buruknya sekejap menjadi nyata.
Elton tidak bisa membiarkan hal ini terjadi begitu saja. Meski itu artinya dia yang harus terluka dalam pertarungan ini. Meski artinya ia harus berdarah-darah, ia tidak peduli. Jika perlu ia akan menjadi sayap pelindung bagi Sarah dan bayi di perutnya.
...****************...
Sedari tadi Bu Risa duduk termenung di ruang tamu. Otaknya berputar dan bertanya-tanya siapa pria tampan yang mengantar mobil Sarah tadi? Hatinya berkata lain, tidak mungkin pria itu hanya sekedar teman biasa. Bu Risa bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Elton.
"Pasti pria itu bukan sekedar temannya aja." Gumam Bu Risa.
"Apa Ma? Mama bilang apa tadi?" Tanya Anggi yang mengira Mamanya sedang bicara dengannya.
"Ah engga, Mama ga bilang apa-apa kok." Ucap Bu Risa mengalihkan.
Pikirannya terus berputar. Ia bepikir keras bagaimana ia bisa memanfaatkan semua ini untuk keuntungannya dan putrinya. Lalu sebuah ide terlintas di kepalanya. Ide yang ia yakin bisa mengamankan posisi putrinya selamanya.
__ADS_1
Bu Risa mengambil ponselnya. Menelepon anjing pesuruhnya, Malik.
"Halo Malik? Bisa kita ketemu? Saya ada tugas buat kamu."