Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Rencana Besar


__ADS_3

Sejak Anggi pulang dari rumah sakit, Dito memang menjadi sangat perhatian dengan Anggi. Jika Anggi mengerang kesakitan sedikit saja, Dito akan segera membantunya. Jika Anggi sedang tidak nafsu makan, Dito akan segera mengajaknya berjalan-jalan. Perhatiannya memang kembali seperti dulu tapi tidak lebih dari itu. Dito seperti membangun pagar yang membatasi hubungannya dan Anggi. Dan Dito pun enggan melompati batas itu.


Tapi kini Anggi sudah tidak punya apa-apa yang bisa membuatnya lebih berharga dibandingkan Sarah di mata Dito. Anak yang diharapkannya telah pergi. Kini bagaimana ia bisa menggeser Sarah di hati Dito?


Anggi baru saja pulang dari check up ke dokter terkait kegugurannya kemarin. Ia lalu masuk ke kamarnya dan ingin mengganti baju. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat nama yang tertulis di layar ponsel.


"Iya, halo Ma?" Sapa Anggi pada penelepon.


Rupanya Mama Anggi yang meneleponnya. Mungkin hanya sekedar menanyakan bagaimana kabar putrinya.


"Udah selesai check up nya, Nggi?" Tanya Mamanya.


"Udah Ma." Jawab Anggi sambil menyalakan speaker handphonenya.


"Gimana kata dokter?" Sang Ibu kembali bertanya.


"Kata dokter keadaanku udah pulih sepenuhnya Ma. Lukanya juga udah kering sempurna dan boleh beraktivitas seperti biasa lagi. Aktivitas berat juga boleh." Jelas Anggi di telepon.


"Dito gimana?" Mama Anggi bertanya. Nada bicaranya berubah serius.


Anggi menangkap hal lain yang mau dibicarakan ibunya. Ia segera mematikan speaker dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.


"Dito tadi balik ke kantor habis nganter aku periksa, Ma." Jawab Anggi.


"Engga, maksud Mama, Dito dan kamu gimana? Kalian udah tidur satu kamar? Kalian udah campur?" Tanya Mamanya penuh selidik.


Anggi terdiam.

__ADS_1


"Belum ya?" Mamanya seperti bisa menebak isi hati anaknya.


"Iya belum Ma." Jawab Anggi lemah.


"Dito kayanya masih ragu harus mendulukan siapa. Aku atau Mbak Sarah. Dia bingung harus gimana biar adil." Jelas Anggi kemudian.


Wanita di seberang telepon hening sejenak. Ia lalu membuka suara.


"Kamu ga bisa gini terus Nggi. Kalau kamu mau posisi kamu aman, kamu harus secepatnya hamil anak Dito lagi." Ucap Mama Anggi serius.


"Tapi gimana caranya Ma? Dito aja ga pernah ada di kamar Anggi lebih dari 1 jam." Ujar Anggi bingung.


"Mama punya rencana."


...****************...


Anggi sudah putus asa. Ia rela melakukan apa saja demi bisa mendapatkan Dito seutuhnya. Sekarang ia tak ingin lagi membagi tempatnya dengan Sarah. Anggi mau hanya dirinya lah wanita satu-satunya di sisi dan hati Dito. Meskipun itu artinya harus berbuat keji, Anggi tetap akan melakukannya.


"Maaf Mbak Sarah, sama seperti kamu, aku juga ga mau kehilangan Dito. Mungkin kamu bahagia kan mendengar aku kehilangan anakku? Tapi itu ga akan bertahan lama, Mbak. Mulai sekarang aku akan mengambil Dito pelan-pelan dari kamu, Mbak." Gumam Anggi sambil menatap bayangannya di kaca.


Anggi menelepon Dito. Mengatakan kalau ia ingin makan malam bersama Dito karena ia sedang suntuk di rumah. Anggi yakin benar Dito akan mengabulkan permintaannya. Lagipula sekedar makan malam tidak akan menimbulkan masalah apapun bukan?


Dan benar saja. Dito setuju dan akan mengajak Anggi makan malam berdua di restoran favoritnya. Dari jam 5 sore Anggi sudah mempersiapkan dirinya dengan sangat sempurna. Mandi dan berendam dengan rempah yang diberikan ibunya agar aroma tubuhnya manis dan menggoda. Warna-warna cantik Anggi oleskan ke wajahnya. Membuatnya tampak makin cantik dan sempurna. Tak lupa Anggi memilih pakaian tercantik yang ia punya. Gaun pendek merah yang ketat dan membuat siluet tubuhnya terlihat sangat indah.


Pukul 7, Dito pulang ke rumah sesuai janjinya. Ia pamit sebentar pada Anggi untuk bersiap-siap. Tak lama kemudian, Dito mengetuk pintu kamar Anggi dan mengajaknya untuk pergi.


Anggi melangkah dengan percaya diri keluar dari kamarnya. Ia merasa sudah tampil sangat sempurna saat ini. Bahkan Dito pun tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya ketika melihat Anggi yang terlihat sangat memukau. Sarah hanya bisa terdiam mematung melihat keduanya. Bibirnya tersenyum kaku. Anggi dapat dengan jelas membaca kegelisahan di wajah Sarah. Tapi Anggi tidak peduli lagi. Malam ini, semua akan berbalik berpihak kepada Anggi.

__ADS_1


"Aku sama Anggi pergi dulu ya, Yang." Pamit Dito kepada Sarah yang tampak berat mengantarkan Anggi dan Dito untuk pergi.


...****************...


Makan malam itu sangatlah sempurna. Hidangannya, suasananya, dan semuanya. Dito pun sangat perhatian dengan Anggi. Tapi itu semua belum cukup. Anggi masih akan melancarkan satu serangan terakhir yang akan menjamin kemenangannya yang telak. Ia menyodorkan segelas minuman pada Dito.


"Mas, minum dulu ini. Aku udah pesanin khusus buat kamu."


Ya, minuman itu memang minuman khusus. Anggi sudah mencampurnya dengan obat yang diberikan ibunya. Obat yang akan dengan cepat menaikkan gairah seksual Dito. Memacu nafsu birahi Dito hingga ke puncaknya.


Tanpa curiga, Dito menegak minuman itu sekaligus. Kenapa ia harus curiga kepada istrinya sendiri? Setelah menghabiskan minumannya, Dito pun segera mengajak Anggi pulang.


Selama perjalanan pulang, Anggi tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Dito. Memperhatikan reaksi yang ditimbulkan obat itu pada tubuh Dito. Tak butuh waktu lama, tampaknya obat yang ia masukkan ke dalam minuman Dito sudah bekerja. Dito mulai tampak gelisah dan membuka dua kancing kemejanya.


Anggi membaca ini sebagai sinyalnya untuk melancarkan serangan pertamanya. Ia menyingkapkan pakaiannya, memperlihatkan pahanya yang putih bersih. Tangannya menyentuh Dito dengan lembut. Dito menoleh pada Anggi. Anggi dapat merasakan jantung Dito yang berdegup kencang dan nafasnya memburu.


"Kita ke hotel yuk, Mas." Ajak Anggi sambil tersenyum nakal pada Dito.


Tanpa ragu Dito langsung mengarahkan mobilnya ke hotel terdekat yang bisa mereka temukan. Sebuah hotel bintang 5 yang mewah dan nyaman. Tempat yang sangat cocok untuk Anggi menjalankan misinya.


Anggi dan Dito berkejaran dalam nafsunya dan terburu-buru memasukki kamar hotelnya. Tanpa basa-basi Dito langsung mendorong Anggi ke kasur. Menjelajahi tubuh Anggi dan menanggalkan pakaian Anggi satu persatu. Dito memimpin permainannya dengan ganas namun Anggi pun tidak mundur. Ia sama agresifnya dengan Dito. Mendesah, menjerit, dan menciumi setiap lekuk leher Dito seperti singa kelaparan.


Di babak kedua, Anggi bermanuver dan berada di atas Dito. Anggi menyetir permainan yang panas dengan gerakannya yang lihai. Dito mendesah penuh nafsu. Inti kewanitaan Anggi menjepitnya dengan sangat erat. Membuatnya benar-benar terlena dan tenggelam dalam nikmatnya bercinta dengan Anggi. Rasanya tidak sia-sia Anggi mengikuti saran ibunya untuk melakukan ratus dan berendam dalam ramuan itu. Sekarang bagian kewanitaannya terasa sangat ketat dan legit. Memuaskan Dito di setiap gerakannya.


Malam itu, entah berapa jam dan berapa ronde mereka berdua habiskan untuk saling bergumul dalam nafsu yang panas dan membara. Jika kali ini Dito yang menyetir, maka di ronde selanjutnya Anggi yang menguasai permainan. Anggi terus menerus menarik Dito mencapai kepuasannya berkali-kali hingga akhirnya Dito bertekuk lutut dalam permainan cinta terhebat yang pernah ia lakukan.


Puas. Sungguh hanya kepuasan yang mereka berdua rasakan malam ini. Anggi yakin seratus persen, Dito tidak akan bisa lepas darinya setelah ini. Siapa lagi yang bisa mengimbangi liarnya nafsu Dito selain Anggi? Anggi akan terus menarik Dito semakin dekat dengannya dan semakin jauh dari Sarah.

__ADS_1


__ADS_2