Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Kedatangan Si Kecil


__ADS_3

Setelah seminggu dirawat karena komplikasinya, akhirnya kondisi Anggi membaik dan ia boleh pulang ke rumah. Di hari kepulangan Anggi, Dito sudah sibuk sekali sejak pagi. Khususnya mempersiapkan kamar bermain untuk pangeran kecilnya.


Sarah hanya dapat menatapnya sambil tersenyum getir. Ia sadar ia tidak akan sanggup membantu Dito tanpa terlihat iri atau bahkan menyedihkan. Tidak tahu bagaimana ia akan bertahan hidup di rumah itu apabila bayi itu sudah datang.


Pukul 3 sore, Dito, Anggi, dan Bu Risa tiba di rumah. Sarah mengamatinya dari pintu. Ia melihat Dito yang begitu sigap membuka pintu mobil untuk Anggi. Dan tidak lama kemudian Anggi keluar dari mobil sambil membawa bayi kecil di tangannya. Mereka bertiga lalu masuk ke rumah bersama bayi itu.


Sarah menyambutnya dengan tersenyum canggung. Ia bingung harus berekspresi seperti apa karena ia juga tidak mengerti dengan hatinya saat ini. Di satu sisi, ia begitu senang karena melihat bayi kecil yang tampan itu bergabung bersama keluarganya. Tapi di sisi lain, ia iri. Ia juga ingin memiliki anaknya sendiri. Darah dagingnya dan Dito. Cucu yang akan dipersembahkannya kepada Mamanya dan kedua mertuanya.


Sarah mengulurkan tangannya, menawarkan Anggi untuk membantu tapi Anggi melewatinya begitu saja. Bahkan tanpa menoleh sedikit pun.


"Ga usah, Sar. Gapapa." Dito berkata singkat. Ia dan Bu Risa kemudian menyusul Anggi masuk ke kamar Anggi.


Selama berjam-jam mereka bertiga ada di dalam kamar Anggi. Sarah tidak tahu apa yang mereka bertiga lakukan tapi sungguh tampaknya sangat bahagia. Sesekali Sarah mendengar suara Dito yang tertawa karena mengajak main anaknya.


"Mana anak Papa? Mana?" Ucap Dito dari arah kamar Anggi.


Terkadang juga terdengar suara Bu Risa yang terdengar bahagia.


"Aduh Dito! Liat anakmu, mirip banget sama kamu! Itu matanya, hidungnya, sampe ke bibirnya!"


Lalu mereka bertiga akan tertawa lagi. Sesekali juga Sarah mendengar kata-kata manja dari Anggi yang meminta perhatian suaminya. Entah karena bekas jahitannya yang pedih atau air susunya yang tidak mau keluar. Selalu saja ada alasan. Sampai-sampai Sarah merasa mungkin Anggi dan Bu Risa sengaja memanas-manasinya agar Sarah merasa iri.


Sarah hanya dapat mendengarkan semua kebahagiaan itu dari dinding kamarnya. Ada sebuah keluarga yang tengah diberikan kebahagiaan besar di rumahnya. Tapi walaupun dalam satu rumah, Sarah tidak diberikan kesempatan untuk bergabung bersama mereka. Seolah-olah Sarah adalah wanita pembawa sial yang akan merenggut kebahagiaan mereka.


Tanpa disadari, air mata Sarah jatuh menetes dari pelupuk matanya. Setetes, dua tetes, dan lama-lama tak terbendung lagi. Sarah menangis dalam diam. Ia membenamkan wajahnya dalam bantal agar tidak menimbulkan suara. Sekuat apapun ia mencoba mengeraskan hatinya untuk tidak terluka, bagaimanapun juga Sarah hanyalah manusia biasa. Manusia yang punya emosi dan dapat merasa terluka. Ia tidak bisa sekuat dulu. Batu di hatinya pun lama-lama bisa hancur karena air mata yang hampir tiap malam ia teteskan. Entah berapa lama lagi Sarah mampu bertahan hidup seperti ini.


...****************...


Ponsel Sarah berdering di tengah kesibukannya bekerja. Sarah melirik sebentar ke arah peneleponnya.


"Dito?"


Sarah mengacuhkannya karena Sarah sudah tahu benar pasti hal tidak penting yang akan dibicarakannya. Karena tidak mungkin Dito membicarakan hal yang penting selain dengan Anggi, istri kesayangannya.


Ada telepon masuk lagi. Panggilan yang sama dari Dito. Sarah tetap mengabaikannya. Hari ini adalah akhir bulan dan ia sangat sibuk dengan laporan kasnya. Tidak ada waktu untuk pembicaraan remeh temeh apalagi hanya sekedar menghadapi rengekan dan drama dari Anggi.


Sebuah pesan masuk.


Sarah, angkat teleponnya. Aku mau bicara sama kamu. Penting!


Sarah membaca pesan yang masuk dari Dito itu. Apa sih yang begitu pentingnya sampai Dito seheboh ini? Pasti masih bisa menunggu hingga sampai Sarah tiba di rumah kan?

__ADS_1


Nanti aja Dit bicaranya. Waktu aku sampai di rumah aja. Sekarang aku lagi sibuk banget. Maaf ya.


Sarah mengetikkan pesan balasan untuk Dito. Tidak tahu apa yang sedang terjadi di rumah tapi prioritas Sarah sekarang adalah menyelesaikan pekerjaannya. Setidaknya jika rumah tangganya tidak berjalan mulus, kariernya tidak boleh menghadapi hal yang sama.


Pukul 8 malam akhirnya Sarah baru menyelesaikan pekerjaannya. Ia melirik jamnya dan baru sadar kalau hari sudah lumayan larut. Ia bergegas mengemasi barang-barangnya dan keluar dari ruangannya. Sarah memacu langkahnya cepat membelah lobi. Namun tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahnya. Suara seorang pria memanggil namanya.


"Sarah! Kak Sarah!"


Sarah menoleh ke asal suara. Seorang pria asing berseragam sama dengannya menghampirinya. Ia memicingkan matanya, mencoba mengingat apakah ia mengenal pria itu? Kenapa pria tidak dikenal ini bisa mengetahui namanya?


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Sarah kepada pria asing itu bingung.


"Ini nametagnya jatuh disana tadi." Jawab pria itu sambil tersenyum.


Sarah hanya mengeluarkan "oh" singkat tanda ia mengerti.


"Terimakasih ya. Ngomong-ngomong apa kita pernah kenal atau ketemu sebelumnya? Kok kamu bisa tahu nama saya?" Sarah bertanya heran.


"Saya tahu nama kamu dari situ." Ucap pria itu seraya menunjuk nametag yang masih ada di tangan Sarah.


"Oh, I see. Terimakasih ya udah kembaliin ini ke saya. Kalau ini sampai hilang, bisa-bisa besok saya kena marah." Ucap Sarah kepada pria asing itu.


"Boleh. Nama saya Sarah, udah tahu kan dari nametag tadi. Pindah darimana ya?" Ujar Sarah kembali bertanya.


"Saya Elton, asli Manado, lahir di Manado, besar di Manado, dan baru setua ini merantau ke Ambon." Ucap pria bernama Elton itu sambil cengengesan.


Sarah tersenyum kikuk. Wah, Sarah menangkap aroma manusia sok asik di depannya. Mungkin karena pria ini belum punya teman jadi berusaha berteman dengan Sarah? Atau memang pria ini adalah tipe yang suka sok akrab? Ah, entahlah. Yang jelas Sarah sekarang harus pulang karena tubuhnya sangat lelah.


"Eh iya Elton, saya pamit pulang dulu ya. Udah jam 8 soalnya." Pamit Sarah merasa tidak enak.


"Eh iya, mau pulang bareng saya ga?" Tawar Elton tanpa merasa canggung.


Tapi justru Sarah yang menjadi canggung karena bertemu pria yang begitu supel ini.


"Ga usah, Elton. Saya bawa kendaraan sendiri kok. Saya pamit ya. Permisi." Sarah mengakhiri percakapan dengan rasa tidak enak.


Elton hanya tersenyum menatap punggung Sarah yang berjalan menjauh darinya. Ah, pertemuan pertama mereka yang hanya beberapa menit itu meninggalkan kesan mendalam di hati Elton. Ia juga tidak mengerti apa yang dimiliki Sarah sehingga ia begitu tertarik pada wanita itu. Dan Elton bertekad akan menggali lebih dalam tentangnya.


...****************...


Sarah baru sampai di rumah saat jam menunjukkan pukul 9 malam. Cukup malam karena jarak antara kantornya dan rumah memang agak jauh. Begitu ia membuka pintu, ia melihat Dito, Bu Risa, dan Anggi tengah menunggunya di ruang tamu.

__ADS_1


"Ada apa ini?" Tanya Sarah bingung melihat ketiganya.


"Bisa kita bicara sebentar, Sarah?" Tanya Dito serius.


Sarah melangkah menuju ruang tamu dan duduk di hadapan ketiga orang yang menatapnya dengan tidak senang.


"Kenapa Dit?" Sarah mengulang pertanyaannya.


"Kamu pulang tadi siang?" Tanya Dito langsung.


"Iya. Aku pulang bentar buat ambil berkas terus balik kantor lagi. Kenapa emangnya?" Sarah balik bertanya.


"Apa kamu yang bakar semua baju dan perlengkapan Deo, Mbak?" Anggi bertanya dengan nada yang menuduh.


Sarah bingung. Membakar apa? Perlengkapan bayi mungil itu? Apa maksud Anggi?


"Maksudnya? Buat apa aku ngelakuin semua itu? Kaya ga ada kerjaan aja." Bantah Sarah. Ia tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Omong kosong macam apa ini?


"Tadi waktu kita pulang dari dokter, Mama bilang dia nyium bau sesuatu terbakar. Waktu kita ke halaman belakang, kita ngeliat barang-barang Deo udah hangus terbakar." Jelas Dito.


"Terus menurut kamu, aku yang ngelakuin semuanya?" Sarah bertanya tajam.


"Memang siapa lagi? Cuma kamu yang punya motifnya. Anggi dan Mama ga mungkin melakukan hal kaya gini sama Deo!" Suara Dito mulai meninggi.


"Kalian semua udah gila." Desis Sarah kesal.


Sungguh geram sekali Sarah mendengarnya. Sepertinya semua orang di rumah ini sudah gila karena berpikir Sarah tega berbuat kejam pada bayi sekecil itu. Kepala Sarah pusing dan tubuhnya terlalu lelah untuk mendebat perkataan mereka.


"Kamu ga suka kalau aku yang ngasih Mas Dito anak pertamanya kan Mbak?" Tanya Anggi. Kata-kata itu sungguh terdengar tajam dan menusuk hati Sarah. Jika bisa, rasanya Sarah ingin melompat dan langsung mencabut lidah beracun wanita itu.


"Aku bukan orang gila yang bisa berbuat kaya gitu. Terserah kalian mau percaya atau engga, tapi hidupku udah terlalu sibuk buat ngurusin drama kacangan kalian." Ucap Sarah sambil beranjak meninggalkan ketiga orang itu.


"Sarah." Panggil Dito.


Langkah Sarah terhenti. Ia menoleh pada Dito.


"Mulai hari ini, jangan dekati Anggi dan anakku lagi." Titah Dito dingin. Tak ada sedikitpun emosi ataupun rasa cinta kepada Sarah di mata itu. Seolah-olah semuanya memang tidak pernah ada disana. Seolah Sarah tidak pernah menjadi bagian penting di dalam hidupnya.


Sarah memutar bola matanya. Jengah. Ia lalu berkata,


"Terserah. Aku ga peduli."

__ADS_1


__ADS_2