Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Terpesona


__ADS_3

Anggi tiba lebih awal di kantor Dito. Ia tidak sabar menunggu perjalanan dinasnya hari ini bersama Dito. Selama lima jam lebih dia akan bersama Dito. Itu artinya Anggi bisa dengan puas bertanya-tanya tentangnya.


Tak lama berselang, sebuah mobil pajero putih memasukki halaman kantor. Anggi sudah bisa menebak siapa yang mengendarai mobil itu karena kepala proyek sebelumnya pun menggunakan mobil dinas yang sama. Seorang pria turun dari mobil itu. Dito.


Dito tampak berbeda dari kemarin. Hari ini ia mengenakan pakaian yang lebih santai. Celana jeans dan kaos polo berwarna hijau tua. Pakaian santai seperti itu praktis membuat Dito tampak muda seperti usianya. Tubuh Dito yang proporsional tampak seperti model yang mengiklankan pakaian tersebut di majalah. Anggi yang melihatnya pun makin terpesona dengan pria yang ada di hadapannya.


"Kita berangkat Mbak Anggi?" Tanya Dito menyadarkan lamunannya.


Anggi mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia lalu mengangguk dan mengikuti Dito masuk ke dalam mobilnya. Anggi duduk di sebelah kursi supir, persis di sebelah Dito. Ia berterimakasih pada Tuhan atas kesempatan ini karena ia dapat dengan puas mencuri pandang ke arah Dito.


Selama di perjalanan, Anggi dan Dito banyak berbincang satu sama lain. Ya sebagian besar hanya membahas pekerjaan. Banyak yang Dito tanyakan karena ia baru pindah ke kantor bagian Ambon. Dan tampaknya juga Dito ingin menjaga batasannya dalam hubungan profesional saja. Tapi Anggi tidak pantang menyerah. Ia sudah terlalu jatuh dalam pesona Dito hingga ia tak akan mundur begitu saja.


"Ngomong-ngomong, Pak Dito kelahiran tahun berapa? Kayanya masih muda banget Pak." Anggi bertanya dengan penuh rasa penasaran.


Dito tertawa renyah. Ya Tuhan, bahkan tertawa pria ini pun terdengar indah, pikir Anggi.


"Menurut Mbak Anggi tahun berapa?" Dito kembali bertanya.


"Ummm... 92 ya?" Anggi menebak.


"Kurang tepat sih, naik dikit lah. Saya kelahiran 90 Mbak." Dito kembali menjawab.


"Berarti baru 32 tahun?" Anggi tampak kaget dengan jawaban Dito.


"Hahaha iya Mbak. Kenapa? Keliatan lebih tua ya?" Dito tertawa cengengesan.


"Engga Pak, malah keliatan lebih muda. Tapi saya kaget loh. Bapak kan baru 32 tahun tapi udah jadi kepala proyek 3 kali. Bentar lagi bisa jadi Kepala Cabang kayanya Pak." Canda Anggi kepada Dito.


"Kalo Mbak Anggi, sekarang usianya berapa?" Sekarang Dito yang bertanya kepada Anggi.


"Sekarang saya 26 tahun Pak. Udah tua kan?" Jawab Anggi sambil tersenyum.


"Ah engga juga. Belum 50 ya belum tua dong Mbak. Berarti jarak kita cuma 6 tahunan ya Mbak?" jawab Dito sambil bergumam.


Anggi mengangguk senang. Ia senang Dito menanggapi percakapannya dengan antusias.


"Ya udah, ga usah panggil Pak kalo gitu. Panggil saya Mas Dito aja. Biar ga kaku." Ucap Dito.


Hati Anggi berbunga-bunga. Mungkinkah ini lampu hijau baginya untuk melintasi garis profesionalitas? Mungkinkah ini artinya ada kesempatan baginya untuk lebih dekat dengan Dito? Menjadi sesuatu yang lain selain rekan kerja?


"Kalo gitu Mas Dito bisa panggil saya Anggi aja. Ga perlu pake Mbak Anggi. Kan saya lebih muda." Anggi membalasnya dengan riang.


Dito tersenyum. Pertanda ia setuju dengan kesepakatan itu.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong Mas Dito, ini udah jam 12. Kita makan siang dulu gimana? Nanti baru lanjut ke Buru?" Anggi menawarkan Dito.


Dito melirik ke arah jam tangannya.


"Astaga, saya sampe lupa waktu. Boleh deh, kita makan dulu ya Anggi."


Anggi? Wah indah sekali rasanya nama Anggi dilantunkan oleh suara merdu Dito. Ia tidak pernah menyangka bahwa sebuah panggilan singkat bisa membolak-balikkan hatinya dalam sekali percobaan.


Anggi dan Dito berhenti di sebuah restoran. Tidak terlalu besar, tapi cukup ramai. Restoran ini adalah restoran rekomendasi Anggi, si akamsi yang lahir dan besar di Ambon. Yang sepanjang hidupnya sudah dihabiskan untuk menjelajahi seluruh penjuru Sulawesi. Dan Anggi benar-benar antusias mengenalkan semua hal tentang Sulawesi pada Dito.


"Kita makan disini aja Mas. Saya jamin Mas Dito suka makanannya." Seru Anggi ceria.


Keduanya masuk ke restoran dan memesan beberapa makanan. 15 menit kemudian, pesanan mereka datang dan dihidangkan ke hadapan mereka. Dan persis seperti kata Anggi, Dito sangat menyukai makanan di tempat itu.


"Gimana makanannya Mas?" Anggi bertanya dengan penuh rasa penasaran.


"Enak! Enak banget ini. Saya suka!" Ucap Dito sambil makan dengan lahap.


Setelah selesai makan, Dito langsung berjalan menuju kasir. Hendak membayar makanan tadi, tampaknya. Anggi buru-buru mengejarnya.


"Mas Dito, biar saya aja yang bayar."


Dito menolak dan mengisyaratkan Anggi untuk memasukkan kembali dompetnya.


"Engga apa-apa, Anggi. Biar saya yang bayar."


"Mas Dito, uang makan saya tadi biar saya ganti ya? Saya transfer ke rekening Mas Dito?"


"Engga usah, Anggi. Engga apa-apa. Udah tanggung jawab saya sebagai laki-laki yang ngajak makan perempuan, untuk ngebayarin kan?" Dito menjawab.


Anggi terdiam. Bingung harus menjawab apa.


"Udah, uang kamu disimpen aja. Buat keperluan kamu yang lebih penting." Jawab Dito sambil tersenyum.


Ah, rasanya lama-lama Anggi bisa hilang kewarasannya jika terus menerus diperlakukan seperti ini. Penuh kelembutan dan perhatian. Sesuatu yang baru pertama kali Anggi rasakan dari sekian banyak hubungan yang telah ia lalui.


Setibanya di Kabupaten Buru, Anggi dan Dito sibuk melakukan survey lapangan terkait lokasi pembangunan jembatan. Anggi sibuk mencatat dan memotret berbagai pojok dan segi bangunan. Membuat laporan singkat yang akan dijabarkan nanti setelah ia tiba di rumah dan merapikan laporannya. 2 jam mereka berkeliling lokasi, akhirnya Anggi selesai melakukan survei.


Dito melirik jam tangannya. Pukul 4 sore. Cuaca hari ini terlalu indah jika dilewatkan begitu saja.


"Anggi habis ini ada janji ga?" Tanya Dito kepada Anggi.


"Ga ada sih Mas. Kenapa emangnya?" Anggi balas bertanya kepada Dito.

__ADS_1


"Kita ke pantai yuk. Di dekat sini ada pantai yang lumayan bagus. Namanya pantai..." ucap Dito sambil mengingat-ingat sesuatu.


"Pantai Lala?" Anggi meneruskannya.


"Iya, Pantai Lala. Gimana? Mau kesana?" Dito menawarkan.


Anggi mengangguk senang. Ia semakin yakin bahwa kesempatannya untuk dekat dengan Dito semakin besar. Lagipula tidak ada salahnya pergi ke pantai sepulang kerja, kan? Cuacanya sedang bagus dan ia akan pergi dengan orang yang ia sukai. Bagaimana bisa Anggi menolaknya?


...****************...


Anggi dan Dito akhirnya tiba di Pantai Lala setelah berkendara kurang lebih 15 menit. Dito segera mengajak Anggi turun. Anggi yang sudah lama sekali tidak ke pantai langsung berlari dengan senang. Begitu menemukan tempat yang pas, ia langsung menjatuhkan bokongnya dan duduk di atas pasir pantai yang halus. Anggi memejamkan matanya dan membiarkan angin laut menerpa wajahnya.


"Suka kelapa ga?" Suara Dito menyadarkan Anggi.


Anggi membuka matanya dan melihat Dito duduk di sebelahnya sambil menyodorkan sebuah kelapa muda yang sudah dikupas. Ia menerimanya dengan senang hati dan langsung menyeruputnya.


"Ahhhh... Segarnya. Makasih loh Mas Dito buat kelapanya."


Dito hanya mengangguk dan tersenyum. Matanya jauh memandang lautan yang tidak berujung. Entah apa yang ada di kepala Dito sampai selarut itu dalam pikirannya.


"Kamu tahu kenapa saya ajak kamu ke pantai?" Tanya Dito memecah keheningan.


"Kenapa?" Anggi balik bertanya.


"Engga ada apa-apa sih, hahaha. Cuma cuacanya lagi bagus, dan kayanya kamu juga keliatan penat dan capek banget. Makanya saya pikir mungkin main ke pantai bisa bantu hilangin stress kamu." Dito menjawab sambil tetap memandang ke laut lepas.


Gila! Ini pukulan telak bagi Anggi. Ia mutlak kalah dengan pesona Dito. Ia jatuh cinta dan mungkin tidak akan bisa bangkit lagi untuk mencintai orang lain. Tidak ada satu orang pun yang pernah perhatian seperti ini padanya. Bahkan kedua orangtuanya pun begitu dingin dengannya. Tapi Dito, pria yang baru ia temui dua hari, sudah bisa menangkap rasa lelah dan jenuh hanya dengan melihat wajahnya. Dan bahkan mengajak Anggi untuk bersantai dan menghilangkan rasa stressnya. Astaga, betapa sempurnanya pria yang ada di hadapannya ini? Apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan hatinya dan menjadikan Dito miliknya?


Anggi terdiam. Ia ragu untuk menanyakan satu pertanyaan yang selama ini mengganggunya. Tapi ia mantap harus menanyakannya. Anggi tidak mau bergantung pada harapan palsu. Ia mau kepastian agar dia dapat dengan yakin melangkah. Entah itu mengejar cintanya. Atau berlari meninggalkannya.


"Maaf kalau terdengar pribadi Mas. Tapi saya boleh tanya sesuatu?"


"Tanya apa?" Dito menoleh dan langsung menatap ke dalam mata Anggi.


Ya Tuhan, Anggi berpikir betapa indahnya dua bola mata yang menatapnya ini. Apakah dosa jika ia ingin menikmati tatapan ini untuknya sendiri selama sisa hidupnya?


"Mas Dito sudah punya istri atau pacar?"


Dito tertawa. Sebuah tawa yang sulit diartikan oleh Anggi. Ia tidak pernah pandai dalam menerjemahkan hal seperti ini. Sungguh!


"Menurut kamu?" Dito kembali tertawa.


"Belum ya?" Tanya Anggi memperjelas pertanyaannya.

__ADS_1


Dito menjawab singkat sambil tersenyum tipis.


"Iya, belum."


__ADS_2