
"Hai cantik, kita makan siang yuk!" Canda Elton sambil menarik kursi di samping Sarah.
Sarah memutar bola matanya. Lagi-lagi Elton dengan gombalan kelas terinya.
"Si cantik ini udah punya suami, El." Sarah mengingatkan Elton.
Elton tertawa. Tentu Elton sadar benar kalau Sarah adalah wanita bersuami. Tapi Elton juga tidak bisa menahan rasa cintanya pada Sarah. Setidaknya dengan bersahabat dengan Sarah, ia masih bisa memuja wanita yang ia cintai. Meskipun hanya di dalam diam.
"Kamu udah kasih tahu Dito soal anaknya?" Tanya Elton ingin tahu.
Sarah menggeleng lesu.
"Kenapa?" Elton bingung.
"Aku takut kalau terjadi apa-apa lagi sama bayiku, El. Mungkin lebih baik aku nunggu Dito pulang biar aku bisa bicarain ini secara pribadi sama dia." Ucap Sarah lirih.
Elton melihat perubahan mood pada Sarah. Dan ia menyalahkan dirinya yang begitu bodoh menanyakan hal itu pada Sarah.
Aduh Elton! Makanya otak digedein, jangan otot doang lu gedein. Elton mengutuk dirinya sendiri di dalam hati.
"Kamu mau makan apa? Aku yang traktir deh hari ini!" Seru Elton.
Sarah menoleh, matanya berbinar mendengar kata traktir. Otaknya mulai berputar mencari makanan apa yang harus ia santap siang ini.
"Aku mau nasi padang!" Seru Sarah bahagia.
"Oke siap, Mang Elton siap mengantar Neng Sarah! Ayok kita berangkat!" Seru Elton sambil beranjak dari kursinya dan menggandeng Sarah untuk pergi makan siang.
"Tumben ga bawa mobil, El?" Tanya Sarah ketika mereka tiba di parkiran dan tidak melihat sedan hitam milik Elton.
"Lagi pengen bawa motor aja, Sarah. Kasian si seksi ga pernah aku bawa jalan-jalan." Ujar Elton sambil memakai helmnya.
Ia membawa helm cadangan yang sengaja ia bawa untuk Sarah. Ia memberikan helm itu kepada Sarah, namun Elton baru sadar Sarah membawa banyak barang di kedua tangannya. Elton lalu dengan cepat memakaikan helm itu ke Sarah.
Hening.
Keduanya bertatapan untuk sepersekian detik saat Elton berusaha mengancingkan pengait helm itu. Elton merasa jantungnya berdebar tidak karuan melihat Sarah dalam jarak yang hanya beberapa sentimeter ini. Matanya yang hitam dan indah seolah menyedot Elton untuk tenggelam di dalamnya. Hidungnya yang mungil tampak lucu menyangga kacamatanya. Dan bibirnya. Ya Tuhan, Elton tidak bermaksud untuk berpikiran mesum, tapi mungkin bibir itu adalah bibir paling indah dan lembut yang pernah Elton lihat.
Elton segera memalingkan wajahnya. Ia takut Sarah melihat semburat kemerahan di pipinya dan curiga padanya.
"Kenapa El? Di mataku ada belek ya?" Tanya Sarah bingung.
Dan sialnya gadis ini tampaknya tidak pernah ada perasaan lebih pada Elton. Sungguh Elton ingin memberikan piala sebagai wanita paling setia untuk Sarah. Meskipun sudah diselingkuhi dan bahkan dimadu, hatinya tetap hanya milik satu pria. Si berengsek bernama Dito.
"Engga, mataku kelilipan. Ayok naik, kita langsung berangkat!"
"Sini aku tiupin!" Ucap Sarah sambil memegang wajah Elton tanpa dosa.
__ADS_1
Kini wajah Sarah dan Elton hanya terpaut jarak beberapa mili. Sangat dekat sampai Elton takut detak jantungnya terdengar oleh Sarah. Kalau jantungnya ibarat sebuah balon, maka jantung itu bisa meledak sekarang karena tingkah Sarah.
Sarah meniup mata Elton pelan. Elton terhenyak dan mengedipkan matanya yang sebenarnya tidak apa-apa. Elton langsung membuang muka karena ia sadar pasti wajahnya sudah sangat tidak karuan.
Sarah lalu segera naik ke motor Elton dan keduanya berpacu dengan cepat menuju tempat mereka akan makan siang hari itu. Restoran padang seperti yang diinginkan si ibu hamil. Seperti ngidam-ngidam Sarah lainnya, Elton lah yang memenuhinya seolah Elton adalah ayah si bayi. Mungkinkah ini yang dinamakan berkorban demi cinta?
...****************...
Sarah tampak cemas dan beberapa kali menoleh ke belakang saat ia dalam perjalanan kembali ke kantor bersama Elton.
"Kenapa, Sarah?" Tanya Elton bingung melihat Sarah.
"Aku ngerasa kaya ada yang ngikutin kita dari tadi El. Kamu liat motor di belakang kita." Ucap Sarah seraya mendekat ke arah Elton.
Elton pun melambatkan motornya agar ja dapat mendengar Sarah dengan lebih baik.
"Apa kata kamu? Ada yang ngikutin kita? Yang mana?" Tanya Elton bingung.
"Kamu liat ke spionmu. Ada motor hitam yang ngikutin mulai dari kita keluar kantor sampe sekarang. Aku inget yang bawa motornya bahkan sampe turun ngikutin kita ke restoran, El." Jelas Sarah.
Elton melirik ke arah spionnya. Benar kata Sarah. Awalnya Elton juga merasa motor itu mengikutinya, tapi rasa curiga itu ia tepis jauh-jauh. Tapi ternyata Sarah juga merasakan hal yang sama. Siapa orang ini? Dan apa yang diinginkannya dengan mengikuti mereka? Apakah dia mau menjambret Elton dan Sarah? Atau ada maksud lain?
Elton dengan sigap memacu kecepatan motornya. Matanya terus mengecek motor yang mengikutinya. Ternyata pengendara misterius itu pun turut mempercepat lajunya. Pria itu tampak takut kehilangan jejak Elton dan Sarah.
"Pegangan, Sarah." Ucap Elton pada Sarah.
"Hah? Kenapa?" Teriak Sarah bingung.
Sarah hanya menurut saja dan langsung memegang pinggang Elton dengan erat. Elton menambah laju kecepatan motornya dan secara tiba-tiba berbelok menghadang motor yang mengikuti mereka sedari tadi.
CITTTT!
Suara ban motor Elton berdecit ketika bergesekkan dengan aspal. Pengendara motor itu terkejut dan mengerem motornya secara mendadak. Akibatnya pengendara motor itu jatuh tersungkur dari motornya.
Elton bergegas turun dari motornya dan menangkap pria misterius itu. Elton mencengkeram kerah kemeja pria itu dan membuka helmnya.
"Kamu kenal dia, Sarah?" Tanya Elton kepada Sarah.
Sarah menggeleng. Bahkan ia pun tidak pernah bertemu dengan pria itu, apalagi mengenalnya.
"Engga, El." Jawan Sarah setelah berkali-kali melihat pria itu untuk memastikannya.
"Apa yang lo mau? Ngapain lo ngikutin dari tadi hah?!" Seru Elton.
Tapi pria itu tampak tidak fokus. Matanya bahkan tidak bisa mantap menatap Elton dan terus menjelajah kemana-mana. Seperti pecandu narkoba yang kehabisan efek obatnya.
"Lo denger ga omongan gue?!" Bentak Elton sambil menggoyangkan pria itu dengan kasar.
__ADS_1
"Saya ga ngapa-ngapain Pak, saya cuma disuruh orang!" Jawab pria itu takut.
"Siapa yang nyuruh lo?!" Elton masih mencengkeram leher pria itu.
"Lepasin saya dulu Pak, biar saya tunjukkin orangnya." Ujar pria itu setengah memohon.
Pria itu tampak mencari sesuatu di tas yang ia bawa. Mungkin foto bosnya. Tapi tiba-tiba ia menyemprotkan sesuatu ke mata Elton.
"Argh!" Seru Elton kesakitan.
Sarah panik dan langsung berlari mendekati Elton. Dan ketika mereka berdua lengah, pria misterius itu kabur dengan cepat menggunakan motornya.
"Kamu ga apa-apa, El?" Tanya Sarah panik.
Elton tampak mengusap-usap matanya. Sungguh rasanya pedih sekali. Tampaknya benda yang disemprotkan pria itu adalah semprotan lada. Sialan! Rasanya mata Elton seperti mau terbakar.
"Sini El, aku bersihin matamu!" Ucap Sarah sambil mengguyur wajah Elton dengan air minum yang ia bawa.
Setelah beberapa kali membasuh wajah dan matanya, akhirnya Elton dapat membuka matanya kembali. Elton mengerjapkan matanya beberapa kali agar dapat melihat dengan lebih baik.
"Kemana tu orang?" Tanya Elton celingukan mencari pria itu.
"Dia kabur pas aku sibuk nolongin kamu, El." Jawab Sarah.
"Ah sialan!" Seru Elton kesal sambil meninju udara.
"Maaf ya El, gara-gara aku orang itu kabur." Sesal Sarah.
Elton langsung menoleh ke arah Sarah dan memegang kedua pundaknya. Matanya menatap Sarah seolah-olah Elton lah yang merasa bersalah.
"Engga, kamu ga boleh bilang gitu. Kamu ga salah, Sarah. Aku bakal lebih marah kalo kamu ngejar dia dan bahayain bayi kamu." Ucap Elton menenangkan Sarah.
Mereka berdua lalu duduk di tepi jalan. Menenangkan hati mereka yang berdegup kencang karena kejadian barusan.
"Tapi orang itu siapa ya El? Apa maunya dan siapa yang nyuruh dia?" Tanya Sarah bingung.
"Aku juga ga tau, Sarah." Jawab Elton menerawang. Pikirannya sibuk mencari tahu siapa orang itu tapi tidak sedikit pun Elton menemukan jawabannya.
Sarah berbicara pelan. Sangat pelan hingga tampak seperti ia tengah berbicara pada dirinya sendiri.
"Semoga ga ada hal buruk yang terjadi."
...****************...
Ponsel Bu Risa berdering. Ia dengan cepat mengangkat telepon itu tanpa melihat nama si penelepon karena ia sudah tahu benar siapa itu.
"Halo Malik? Gimana kerjaan kamu?" Tanya Bu Risa dingin.
__ADS_1
"Aman, Bu. Semuanya lancar. Foto-fotonya juga udah saya cetak dan kirim ke Ibu." Jawab Malik penuh percaya diri.
Bu Risa tersenyum penuh kemenangan. Sebentar lagi langkah final rencana besarnya akan dieksekusi. Dan setelah ini, posisi dan kebahagiaan putrinya akan aman untuk selamanya.