Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Bantuan Mama


__ADS_3

"Kamu dan Dito kenapa sebenarnya?" Tanya Mama Dito kepada Sarah dengan tulus.


Sarah gelagapan. Ia bingung harus menjawab apa. Pertanyaan ini sama sekali di luar prediksinya. Ia tidak menyangka bahwa ibu mertuanya akan membaca semua sandiwara mereka dalam sekali lihat.


"Kenapa apanya Ma? Maksud Mama gimana?" Tanya Sarah sambil berpura-pura tenang.


"Sebenarnya ada masalah apa antara kamu sama Dito? Mama ga bermaksud menekan kamu, Nduk. Cuma Mama mau tahu, kenapa kalian belum dapet momongan juga." Ucap Mama Dito dengan hati-hati.


Sarah menghela nafas lega. Ternyata sandiwara mereka cukup berhasil mengelabui mata Mama. Buktinya Mama tidak curiga sedikitpun soal itu.


"Sarah juga ga tau Ma. Mungkin memang belum waktunya aja Sarah dikasih momongan." Jawab Sarah pelan.


Bohong! Lagipula bagaimana Sarah bisa hamil anak Dito kalau setiap malam Dito tidak pernah tidur dengannya? Apakah Sarah bisa hamil begitu saja tanpa adanya peran Dito? Sarah kan bukan amoeba yang dapat membelah dirinya sendiri.


"Kamu sudah konsultasi ke dokter, Nduk?" Tanya Mama Dito penuh perhatian.


"Sudah, Ma. Ga ada masalah sama kita berdua. Mungkin memang karena Sarah dan Dito sama-sama capek kerja aja jadi agak susah buat dapetnya." Jawab Sarah berbohong lagi.


Sebenarnya Sarah tidak tega membohongi ibu mertuanya yang berharap banyak pada Sarah dan Dito. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kan Sarah mengatakan pada Mamanya bahwa Sarah sudah tidak pernah sekamar dengan putranya lagi? Terlebih lagi memberi tahu kalau putranya memiliki dua istri dan istri mudanya sedang hamil tua? Sarah tidak yakin ibu mertuanya cukup kuat untuk mengetahui itu semua.


Mama Dito lalu menepuk pundak Sarah sambil tersenyum penuh makna.


"Kamu mau Mama bantu?"


"Mama mau bantu? Gimana caranya Ma?" Tanya Sarah tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Bagaimana Mama Dito mau membantu mereka untuk secepatnya dapat anak? Membawa Sarah ke orang pintar? Atau mengurung Dito di dalam kamar bersama Sarah?


Ibu mertuanya lalu membisikkan rencananya kepada Sarah yang hanya dibalas dengan ekspresi kaget dari Sarah. Ia tidak menyangka ibu mertuanya, seorang wanita keturunan priyayi, bisa berpikir seliar ini.


"Pokoknya kamu nurut aja sama Mama. Biar Mama yang atur semuanya. Ga boleh ngomong engga ya, harus manut!" Ucap Mama Dito sambil mencubit hidung Sarah.


Sarah hanya dapat memandang ibu mertuanya tidak percaya. Mungkin kalau predikat ibu mertua terbaik ada, maka ia akan memberikannya langsung kepada wanita di hadapannya ini.


...****************...


Sesuai rencana Mama Dito, Sarah, Dito, dan kedua orangtuanya akan berlibur ke Pantai Ora.


"Ngapain sih Ma mau liburan-liburan gitu? Kaya ga pernah muda aja lo Mama itu." Keluh Papa Dito geleng-geleng mendengar istrinya yang merengek minta diajak ke Pantai Ora.

__ADS_1


Mama Dito pun langsung mencubit pinggang suaminya dan memelototinya. Sungguh memang pria tidak pandai menangkap kode wanita. Sudah sejak tadi ia memberikan isyarat pada suaminya namun si kepala batu ini tidak mengerti juga.


Papa Dito meringis kesakitan karena mendapat cubitan yang keras dari istrinya.


"Sampean iki, udah aku bilangin semalem kenapa toh?


Sarah tersenyum geli melihat tingkah kedua mertuanya. Ah, andai saja hubungan Sarah dan Dito bisa selanggeng mereka.


Akhirnya setelah menyerah dengan rengekan Mamanya, mereka berempat memutuskan untuk berangkat ke Pantai Ora hari itu juga. Seperti sudah direncanakan, Mama Dito langsung mengangkut kopernya untuk berlibur di Pantai Ora selama 5 hari.


Seperti sebuah keluarga bahagia, kedua orang tua Dito bersama Dito dan Sarah menempuh perjalanan selama 4 jam untuk mencapai Pantai Ora yang ada di Pulau Seram. Begitu tiba disana, Sarah dan ibu mertuanya langsung menuju ke resepsionis untuk memesan cottage yang akan mereka tempati selama disana.


"Saya pesan dua cottage ya, Mbak. Jaraknya harus agak jauh, biar anak saya punya privasi sama suaminya. Saya ga mau gangguin mereka berduaan pokoknya." Kata Mama Dito kepada resepsionis yang membalasnya sambil tertawa.


Pantai Ora sangatlah indah. Suasananya, pemandangannya, dan bahkan fasilitasnya. Sangat pantas jika tempat ini mendapat julukan surga dunia dan Hawaiinya Indonesia. Sungguh jika mereka yang berada di surga dapat bercerita, mungkin mereka akan menggambarkan indahnya Pantai Ora seperti surga. Ditambah lagi cottage tempat mereka menginap yang terletak di atas air menyajikan pemandangan yang sangat indah.


Sarah tersenyum senang. Hatinya dipenuhi kebahagiaan karena dapat berkumpul dengan orang-orang yang ia sayang di tempat seindah ini. Rasanya sudah lama sekali Sarah tidak berlibur melepas penatnya. Apalagi tinggal bersama Anggi dan Bu Risa sudah mengubah hidup Sarah seolah ia berada dalam sinetron murahan setiap harinya. Mungkin memang liburan seperti ini yang Sarah butuhkan.


"Makasih banyak ya, Ma." Ucap Sarah sambil memeluk erat ibu mertuanya.


...****************...


Malam itu, Sarah, Dito, Mama, dan Papa berkumpul bersama dalam satu meja makan di restoran yang ada di resor tempat mereka menginap. Ah, rasanya sudah lama sekali Sarah tidak berkumpul seperti ini. Seingat Sarah terakhir kali ia makan bersama Dito dan kedua orangtuanya adalah sebelum Dito melamarnya. Dan itu berarti lebih dari satu tahun yang lalu.


"Jadi Nduk, Nang, sampai kapan kalian masih mau nunda punya anak?" Tanya Papa Dito sambil menyuap makanannya.


Dito kaget dengan pertanyaan Papanya sehingga ia tersedak makanannya sendiri.


"Lah kok kaget gitu? Papa udah pengen momong cucu lo." Sambung sang ayah sambil tertawa.


Dito buru-buru meneguk air yang diberikan oleh Sarah.


"Doain aja secepatnya ya, Pa." Jawab Dito singkat.


Pria tua itu tampak kecewa dengan jawaban Dito yang tidak terlihat antusias menanggapi pertanyaannya.


"Kita berusaha terus kok Pa. Tapi mungkin emang belum dikasih aja kayanya." Jawab Sarah ketika melihat perubahan raut ayah mertuanya.


Sarah lalu mencubit pinggang Dito. Mengisyaratkannya untuk berperan sesuai dengan skenario yang mereka rancang. Tak lama kemudian, makan malam mereka usai dan keempatnya beranjak pulang ke cottage masing-masing.

__ADS_1


"Nduk, sini dulu!" Panggil Mama Dito pada Sarah ketika mereka berdua sedang berjalan di jembatan kayu menuju cottage yang mereka sewa.


"Kenapa Ma?" Tanya Sarah bingung.


Wanita itu lalu memberikan Sarah dua botol minuman yang entah apa. Sarah menerawang kedua botol dengan larutan berwarna cokelat kehitaman yang ada di dalamnya. Beberapa rempah yang entah apa namanya terlihat melayang-layang di dalamnya.


"Ini apa Ma?" Tanya Sarah sambil bergidik ngeri.


"Ini buat kamu sama Dito. Yang botol merah kamu yang minum, yang botol biru buat Dito." Jawab ibu mertuanya penuh rahasia.


"Tapi ini apa Ma? Sarah serem banget liatnya." Tanya Sarah lagi penuh selidik.


"Ini titipan dari si Mbah buat kalian. Kalau ini hadiah dari Mama khusus buat kamu dan harus kamu pake malem ini, Nduk." Ucap Mama Dito seraya memberikan sebuah tas kertas yang Sarah tidak tahu berisi apa.


"Ayo kamu sama Dito minum ini sekarang!" Titah Mama Dito sambil tersenyum sumringah.


Sarah lalu berlari kecil menghampiri Dito dan memberikan botol berwarna biru yang ia dapatkan dari ibu mertuanya.


"Ini apa?" Tanya Dito bingung.


Sarah hanya mengangkat bahunya pertanda ia juga tidak mengetahui benda apa yang diberikan ibu mertuanya.


"Kata Mama disuruh minum." Jawab Sarah membuka botol tersebut lalu meminumnya.


Dito juga melakukan hal yang sama dan segera menghabiskan minuman itu. Lagipula tidak mungkin seorang ibu akan meracuni anaknya sendiri kan?


Beberapa meter di belakang Sarah dan Dito, kedua orangtuanya berjalan beriringan sambil memperhatikan anak dan menantunya.


"Itu apa toh Ma?" Tanya Papa Dito bingung.


"Katanya Papa mau punya cucu kan?" Mama Dito bertanya kembali.


Suaminya hanya membalas dengan anggukan dan tetap bingung.


"Iya, terus hubungannya apa?" Tanya suaminya masih dengan kebingungan yang sama.


Mama Dito tersenyum penuh kemenangan sebelum meneruskan kata-katanya.


"Itu senjata rahasia Mama."

__ADS_1


__ADS_2