
Rasanya belum genap 24 jam Anggi berada di Bali dan terpisah dari Dito, tapi hatinya merasa sangat gelisah. Ia khawatir apa yang akan terjadi di antara Sarah dan Dito apabila mereka ditinggal berdua saja di rumah.
Sejak kemarin malam Anggi sudah uring-uringan karena bukannya mengenalkan Anggi pada orangtuanya, Dito malah mengirim Anggi dan ibunya ke Bali. Padahal kan Anggi sedang hamil anak Dito, cucu mereka? Tapi kenapa Anggi diperlakukan seolah kriminal yang harus disembunyikan?
"Kamu tega banget sih sama aku, Mas." Gerutu Anggi sambil mengemasi pakaiannya ke dalam koper yang dibantu oleh Dito.
"Maaf ya, Anggi Sayang. Aku belum bisa kabarin Mama dan Papa hal sebesar ini secara mendadak. Aku takut mereka ga siap menghadapinya." Ucap Dito sambil menggenggam tangan Anggi lembut.
"Tapi sampai kapan Mas? Kamu harus inget kalau aku bakal ngelahirin anak kamu, cucu pertama mereka. Kamu ga bisa sembunyiin aku terus." Rengek Anggi kesal.
Dito hanya menghela nafas berat. Sungguh pusing kepalanya menghadapi wanita satu ini yang tidak pernah berusaha mengerti masalah orang lain.
Hingga pagi keberangkatannya ke Bali, Anggi masih merajuk kepada Dito. Walaupun demikian, Dito tetap mengantar kepergiannya dengan pelukan dan kecupan penuh rasa sayang. Sesuatu yang bahkan istri pertama Dito tidak pernah rasakan lagi.
"Aku janji bakal kabarin kamu terus." Ucap Dito sambil melepas Anggi yang berjalan memasukki terminal keberangkatan bersama ibunya.
Dan Dito memang sungguh memegang janjinya. Ia terus menerus menghubungi Anggi baik melalui pesan singkat maupun telepon. Bahkan meskipun Dito menghabiskan malamnya di kamar Sarah, Dito akan tetap meneleponnya sepanjang malam. Anggi merasa menang karena Dito sekarang sudah benar-benar ada di dalam genggamannya.
Tapi hari itu berbeda. Di hari ketiga kedatangan orang tua Dito, secara tiba-tiba ia memberitahu Anggi bahwa mereka berempat akan berlibur bersama di Pantai Ora. Rasanya Anggi sangat tidak tenang mendengarnya. Karena Pantai Ora sudah sangat terkenal sebagai tempat romantis dan destinasi bulan madu kebanyakan orang. Entah akal bulus siapa yang merencanakan ini semua. Sarah atau wanita tua itu?
...****************...
"Kamu ngapain pake acara ke Pantai Ora segala, Mas?" Tanya Anggi tidak setuju saat mendengar Dito mengabari rencana liburannya.
"Mama pengen jalan-jalan katanya, Anggi Sayang. Ya aku bisa apa? Masa harus nolak Mamaku sendiri?" Ujar Dito menjelaskan di telepon.
Sialan! Apa rencana wanita tua itu sebenarnya? Kalau wanita tua itu tahu Anggi sedang mengandung cucunya, Anggi yakin ia akan segera melupakan Sarah dan berpaling kepada Anggi juga. Tapi Dito tetap saja masih menutupi hubungannya dengan Anggi.
"Ya kan kamu bisa nolak, Mas. Bilang kamu banyak kerjaan atau apa gitu." Keluh Anggi.
Dito terdengar menghela nafas. Letih rasanya Dito harus membuat wanita ini berusaha mengerti posisinya.
"Ga bisa, Anggi Sayang. Udah satu tahun lebih aku ga ketemu Mama dan Papa. Jadi ga mungkin aku mau nolak keinginan mereka. Lagian Pantai Ora cuma berapa jam dari Ambon. Rasanya ga masuk akal kalau aku nolak dengan alasan apapun kan?" Dito kembali menjelaskan dengan sabar.
__ADS_1
Anggi hanya dapat mengutuk dalam hati. Ah, palingan itu hanya akal-akalan Dito saja agar dapat berduaan dengan Sarah kan? Rasanya Anggi ingin terbang kembali ke Ambon dan memegangi kaki Dito agar ia tidak pergi kemana-mana. Namun melakukan itu sama saja dengan jalan pintas menuju kehancuran hubungan mereka.
Kata-kata Sarah yang selalu mengejek Anggi dengan sebutan anak TK sudah cukup memberikan cap yang jelek pada Anggi. Istri kedua yang egois dan serakah. Dan Anggi tidak mau Dito juga ikut menganggapnya seperti itu. Mungkin untuk saat ini, hanya diam saja adalah pilihan yang lebih baik.
"Tapi kamu janji, jangan lupa kabarin aku terus ya?" Pinta Anggi akhirnya menyerah.
"Iya, Anggi Sayang. Aku janji." Balas Dito.
Tapi janji hanyalah janji. Sejak pagi hari itu Dito tidak bisa dihubungi. Sama sekali. Setiap panggilan yang Anggi buat hanya dialihkan atau menuju pesan suara.
"Sialan! Mas Dito kemana sih? Kenapa ga angkat-angkat telepon?" Gerutu Anggi kesal sambil mencoba menelepon Dito.
Jarinya terus menerus menekan nomor Dito. Menghubunginya berulang kali. Namun hasilnya sama. Nomor Dito tidak aktif.
"Kamu kenapa, Nggi?" Tanya Bu Risa melihat anaknya yang uring-uringan.
"Dito ga bisa ditelepon dari tadi Ma. Hari ini dia mau liburan sama Sarah dan kedua orangtuanya. Anggi khawatir, Ma." Jelas Anggi pada Mamanya.
"Kamu khawatir apa? Dito itu udah ada dalam genggaman kamu sekarang. Ini kunci pintu masuk kamu, dan Dito ga mungkin lepas dari kamu selama kamu masih punya ini." Ucap Bu Risa sambil menunjuk perut Anggi yang membesar.
"Yah, mungkin aku cuma terlalu khawatir aja Ma." Ucap Anggi akhirnya sadar.
Tapi meskipun mulutnya berkata begitu, sungguh hati Anggi tidak merasa tenang sedikitpun. Terlebih malam itu. Malam dimana Dito dan Sarah tenggelam dalam liarnya permainan cinta mereka.
Sejak pukul 9 malam, hati Anggi terus menerus merasa gelisah. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Ia berkali-kali mencoba menghubungi Dito namun nihil. Ponsel Dito tetap tidak aktif seperti sejak pagi.
Anggi mencoba untuk memejamkan matanya, berharap mungkin tidur bisa membantunya merasa tenang. Tapi tidak berhasil. Rasa tidak tenang itu tetap menyelimuti hatinya. Ia merasa sesuatu yang besar akan sungguh-sungguh terjadi. Dan Anggi sudah bisa menebak itu apa. Hanya saja di sudut hatinya ia berharap semua kekhawatirannya hanyalah ilusi belaka.
Ya Tuhan, semoga Mas Dito ga berbuat apa-apa sama Sarah.
...****************...
Hari ini adalah hari kepulangan Anggi. Ia akan kembali ke Ambon dan bertemu suaminya lagi. Sudah seminggu ia berada di Bali dan berpisah dengan Dito. Hatinya sangat rindu dengan segala hal tentang Dito. Anggi berpikir mungkin ia akan menghabiskan malamnya dengan bergumul bersama Dito semalam suntuk.
__ADS_1
"Mas, pesawatku jam 1 siang. Flightnya sekitar 7 jam, jadi mungkin aku sampai jam 8 atau 9 malem gitu." Jelas Anggi di telepon.
Dito tampak menggumam. Tanda ia mengerti. Namun Anggi tidak terdengar puas dengan jawaban Dito.
"Mas? Aku sampainya jam 9 malem ya?" Tanya Anggi memperjelas.
"Iya, Anggi Sayang. Nanti aku jemput ya ke bandara. Tenang, ga usah khawatir." Ucap Dito mengerti dengan kekesalan Anggi.
Setelah berbincang-bincang selama kurang lebih 10 menit, Anggi mengakhiri panggilannya. Ia segera berkemas dan check out dari hotel tempat ia dan ibunya menginap. Dengan menggunakan taksi online Anggi menuju ke Denpasar, tempat bandar udara dimana pesawat yang akan membawanya pulang bermarkas.
Rasanya Anggi sudah tidak sabar lagi. Malam ini ia akan mengurung Dito dalam kamarnya dan mendekapnya erat agar Dito tidak kabur kemana-mana lagi apalagi kembali ke Sarah. Memikirkan apa yang ia akan lakukan bersama Dito malam ini saja membuat hati Anggi berbunga-bunga. Tanpa sadar senyumnya mengembang lebar
"Kamu senang banget kayanya, Nggi. Ga sabar mau ketemu Dito ya?" Tanya Bu Risa menebak isi kepala putrinya.
Anggi mengangguk semangat.
"Iya, Ma. Aku udah kangen banget sama Mas Dito. Rasanya ga sabar banget mau ketemu dia." Jawab Anggi antusias seperti anak kecil yang baru mendapat permen.
Bu Risa hanya tertawa melihat putrinya. Ia merasa menang karena sudah bisa mewujudkan apa yang ia janjikan kepada Anggi selama ini. Memberinya kebahagiaan terbesar yang Anggi inginkan. Meskipun begitu banyak hal licik dan kotor yang ia lakukan, itu tidak masalah baginya. Bu Risa tidak peduli jika tangannya harus kotor sekalipun. Asalkan ia dapat menjanjikan hidup yang bahagia untuk putrinya, ia akan melakukan itu semua.
Setelah 7 jam lebih perjalanan yang mereka tempuh dengan pesawat, akhirnya Anggi dan Bu Risa tiba di Ambon. Kota kelahiran mereka. Kota dimana mereka menghabiskan seluruh hidupnya selama ini. Anggi langsung berjalan menuju terminal kedatangan begitu mereka mendarat dan mendapatkan bagasinya. Mata Anggi menebar ke segala penjuru. Mencari sosok Dito di tengah keramaian.
Akhirnya setelah beberapa menit mencari, dua bola matanya menangkap sosok yang ia rindukan. Seorang pria dengan wajah manis dan tatapan yang teduh. Pria yang sudah membuatnya bertekuk lutut dan gila dalam cintanya. Yang sudah membuat Anggi rela menyerahkan segalanya dan bahkan menjadi istri kedua sekalipun. Pria bernama Dito.
Anggi mempercepat jalannya diikuti dengan Bu Risa dari belakang.
"Nggi, pelan-pelan. Inget perut kamu!" Ucap Bu Risa mengingatkan Anggi.
Tapi Anggi tidak peduli. Ia mau secepatnya sampai dalam pelukan suaminya.
"Mas Dito! Aku kangen banget sama kamu!" Ucap Anggi sambil memeluk Dito.
Dito balas memeluk Anggi dan mencium keningnya. Anggi membenamkan kepalanya di bahu Dito. Menciumi aroma tubuh suaminya yang sangat ia rindukan. Tapi tunggu dulu. Bau apa ini? Anggi mencium bau lain dari tubuh suaminya. Bau parfum wanita? Ia tampak familiar dengan bau ini, namun sangat sulit bagi Anggi untuk menebaknya. Pikiran Anggi menjelajah sampai akhirnya matanya menemukan sesuatu di pakaian Dito. Sesuatu yang berhasil membuat jantungnya berhenti berdetak untuk sejenak.
__ADS_1
Ada bekas lipstick di kerah kemeja Mas Dito?