Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Lengah


__ADS_3

Sekarang Sarah memiliki kebiasaan baru semenjak hamil. Kebiasaan itu adalah mengecek kalender setiap hari. Selain ia penasaran dengan perkembangan bayinya, ia juga menunggu hari kepulangan Dito. Ia tidak sabar ingin memberitahu Dito tentang kehamilannya.


Namun Sarah sama sekali tidak mendapatkan informasi apapun tentang kepulangan Dito. Boro-boro mengetahui jam pesawatnya, tanggal kepulangan Dito saja Sarah tidak tahu. Ia sudah berkali-kali bertanya pada Anggi, tapi Anggi jelas sekali terlihat tidak ingin memberitahunya. Entah apa yang ingin Anggi dapatkan dengan bertingkah semacam itu.


"Memangnya untuk apa sih kamu mau tau, Mbak? Toh Dito juga ga mau dijemput kamu. Dia pasti maunya aku sama Deo yang jemput dia." Ucap Anggi enteng tanpa menyadari betapa menyakitkannya kata-kata itu untuk Sarah.


Dan Sarah hanya bisa menunggu kepulangan Dito tiap hari. Tanpa sebuah kepastian. Sarah tampak seperti keledai dungu yang bergantung pada harapan yang tidak pasti. Namun bagaimanapun, Sarah harus bertemu Dito. Harus. Tidak peduli jika Anggi akan menghalanginya, Sarah harus membicarakan kehamilannya secara pribadi dengan Dito.


Hari itu, Sarah baru pulang dari kantor dan melihat tidak ada siapapun di rumah. Benar-benar dalam keadaan kosong.


"Orang-orang pada kemana ya? Apa mungkin jemput Dito ke bandara?" Gumam Sarah bingung.


Sarah senang dengan kesimpulan yang ia tarik. Akhirnya Dito pulang juga dan Sarah bisa memberitahukan kehamilannya pada Dito.


Dan benar saja, sekitar pukul 9 malam Sarah mendengar suara Anggi yang tengah berbicara dengan antusias dari arah pekarangan. Sarah mengintipnya dari jendela dan melihat Anggi dan Dito yang berjalan bersama. Bu Risa mengikuti di belakangnya sambil menggendong si kecil Deo.


Senyum Sarah mengembang. Hari-hari baik akan segera datang karena kehamilannya. Ia segera keluar kamarnya. Hendak menyambut Dito.


"Halo Dit!" Seru Sarah menyapa Dito. Tapi hati Sarah mencelos. Dito melewatinya begitu saja bahkan tanpa menyapa sekalipun.


Sarah berlari kecil mengikuti Dito dan menyentuh pundaknya. Dito menoleh dengan ekspresi datar.


"Ada yang harus aku bicarain sama kamu, Dit." Ucap Sarah.


"Nanti aja bisa kan? Aku baru pulang dan badanku capek banget, Sar." Balas Dito tidak peduli.


Bahkan tanpa menunggu jawaban Sarah, Dito telah berjalan meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun. Sarah hanya menatap tidak percaya pada Dito sambil melihat sosok Dito dan Anggi masuk ke dalam kamar mereka.


Sarah lalu membatin,


Kalo kamu tahu apa yang bakal aku sampein, kamu ga akan beginiin aku lagi Dit.


...****************...


Sarah terburu-buru bangun. Sialan! Ia kesiangan dan lupa bertemu dengan Dito untuk membicarakan kehamilannya. Sarah buru-buru keluar kamar namun hanya menjumpai Bu Risa yang sedang menonton televisi.


"Dito kemana Bu?" Tanya Sarah pada Bu Risa.


"Pergi sama Anggi dan Deo." Jawab Bu Risa tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.

__ADS_1


Ah, betapa senangnya bisa menghabiskan waktu layaknya sebuah keluarga bahagia. Rasa iri menelusup ke hati Sarah. Ia juga ingin seperti itu. Menghabiskan akhir pekan bersama suaminya. Tapi tampaknya Dito tidak peduli sedikitpun dengan keinginan Sarah. Pasti ia akan menyuruh Sarah untuk melupakan keinginan remehnya itu.


"Pergi kemana Bu?" Tanya Sarah lagi.


"Jalan-jalan lah! Emang mau kemana lagi kalau suami istri keluar sama anaknya?!" Jawab Bu Risa ketus.


Benar, Dito dan Anggi kan memang suami istri jadi mereka bisa sepuasnya berjalan-jalan bersama. Apalagi sekarang mereka sudah memiliki Deo, pasti Dito akan sangat senang menghabiskan waktu dengan istri dan anaknya itu. Tapi Sarah kan juga istri Dito? Mengapa Sarah tidak bisa mendapatkan hak yang sama?


"Pulangnya kapan Bu?" Sarah bertanya lagi.


Bu Risa tampak kehabisan kesabarannya. Ia meletakkan remote televisi dengan kasar di sebelahnya lalu menoleh ke arah Sarah dengan sinis.


"Saya ga tahu! Memangnya kamu mau apa nyariin Dito terus?!" Bentak Bu Risa.


Sarah langsung kecut. Semenjak hamil, nyalinya memang sudah tidak sebesar dulu lagi. Mungkin karena energinya lebih banyak dihabiskan untuk mengkhawatirkan kehamilannya, Sarah tidak bergairah lagi membalas kata-kata kasar itu.


"Ada yang mau aku omongin sama Dito, Bu. Nanti kalo Dito pulang tolong kasih tahu ya Bu." Ujar Sarah sambil meninggalkan Bu Risa dan masuk ke kamarnya.


Sarah sedang rebahan di kamarnya sambil menonton drama Korea favoritnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Dari siapa?" Gumamnya.


"Pak Andi? Seriously? Ini hari Sabtu loh!" Gerutu Sarah kesal.


Sarah segera mengangkat panggilan itu. Tapi memang begitulah Sarah. Sejak dulu Sarah selalu berdedikasi pada pekerjaannya. Tak peduli hari apapun itu, jika menyangkut pekerjaan ia akan selalu bersedia mengerjakannya. Dulu Baim selalu mengejeknya dengan sebutan mental budak korporat sejati setiap melihat Sarah yang dengan senang hati ke kantor di akhir pekan.


"Selamat pagi Pak Andi. Ada apa Pak?" Tanya Sarah ramah.


Sarah mendengarkan kata-kata Pak Andi lamat-lamat. Rupanya ada hal mendadak terjadi di kantor. Salah satu nasabah makro terindikasi melakukan pemalsuan jaminan pinjamannya. Dan sialnya, Sarah adalah salah satu yang mengaudit berkas pinjaman itu.


"Masalah kok ada-ada aja sih. Baru juga mau istirahat bentaran." Gerutu Sarah sambil beranjak dari kasur.


Mau tidak mau Sarah harus bersedia pergi ke kantor dan menyelesaikan masalah ini. Karena kalau sudah berurusan dengan nasabah kredit makro, maka sirkulasi dana di kantornya dipertaruhkan. Dengan berat hati Sarah harus mengikhlaskan waktu istirahatnya hari ini demi kelangsungan karier yang selama ia bangun.


Sarah menatap bayangannya di cermin. Usia kandungannya sudah memasukki bulan keempat dan perut gendutnya sudah mulai terlihat. Sarah tersenyum sambil mengelus perutnya.


"Semangat ya Dek, Mama mau kerja dulu biar hidup kamu enak!"


...****************...

__ADS_1


Urusan terkait jaminan pinjaman memang hal yang sangat krusial. Apalagi nasabah yang bermasalah ini mengajukan pinjaman sebesar 2 milyar. Bukan jumlah kecil dan setiap berkas harus diperiksa dengan baik.


"Lagian kok bisa-bisanya dia berani malsuin jaminan padahal dia ngajuin pinjaman sebesar ini?!" Seru Pak Andi tidak percaya dengan yang ia lihat.


Sarah hanya geleng-geleng kepala melihat atasannya ini. Pak Andi memang terkenal baik hati pada setiap orang tapi ada satu hal yang Sarah seringkali keluhkan. Reaksinya selalu berlebihan terhadap semua hal. Termasuk pada hal seperti ini.


"Ya udah tinggal kita tolak aja kan Pak?" Tanya Sarah memastikan.


"Seenak jidatmu bilang tolak tolak. Kamu telepon dulu nasabah ini, minta ganti jaminan yang lain. Saya percaya kamu bisa selesaiin ini ya Sarah." Ucap Pak Andi sambil tertawa.


Setidaknya Sarah harus menghabiskan waktu 5 jam untuk menyelesaikan masalah ini. Pukul 5 sore, seluruh pekerjaannya selesai dan Sarah dengan cekatan membereskan seluruh berkasnya. Ia mau segera pulang dan bertemu dengan Dito.


"Pasti Dito udah ada di rumah jam segini." Gumam Sarah sambil melihat ke arah jam dinding di ruangannya.


Setibanya di mobil, Sarah segera menyalakan mesin mobilnya. Barulah ia hendak memacu mobilnya, ponselnya berdering. Sarah segera mengangkatnya.


"Hai cantik!" Ucap si penelepon sambil tertawa.


Sarah tidak perlu melihat siapa yang meneleponnya untuk tahu itu. Siapa lagi yang akan memanggilnya cantik kalau bukan Elton si gapura kabupaten.


"Apaan El?" Jawab Sarah malas.


"Kamu dimana?" Tanya Elton penasaran.


"Di kantor. Ini baru mau pulang." Jawab Sarah.


"Hah? Ngapain kamu di kantor? Ini kan Sabtu, Bu Bos!" Ucap Elton.


"Biasa, kaisar nyuruh dateng gara-gara nasabah." Jelas Sarah malas.


Elton terdengar tertawa.


"Ya udahlah, aku cuma mau cek kamu dimana aja. Sana gih pulang. Hati-hati ya, jangan lupa ngomong sama Dito soal bayimu." Ingat Elton kembali.


Sarah mengiyakannya dan mengakhiri panggilannya dengan Elton. Ia lalu dengan segera memacu mobil kesayangannya pulang. Ia sudah tidak sabar ingin memberitahukan kabar bahagia yang selama ini ia simpan sendiri kepada Dito.


Namun sesampainya di rumah, Sarah malah merasakan ada yang tidak beres terjadi di depan matanya. Dito duduk di ruang tamu sendirian. Matanya nanar menatap pintu. Seolah-olah ia memang menunggu Sarah pulang. Ada apa dengan Dito? Mengapa ia menatap Sarah seperti itu?


Dito duduk dalam diam dan langsung memanggil Sarah begitu ia melihat sosok Sarah pulang dan memasukki rumah.

__ADS_1


"Kita harus bicara, Sar."


__ADS_2