Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Kabar yang Mengejutkan


__ADS_3

Sarah menatap dokter itu tak percaya. Ia hamil? Hamil anak Dito? Sungguh rasanya ia seperti kejatuhan durian runtuh. Mungkin ini pertanda Tuhan memberikannya kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungannya dengan Dito.


"El, aku hamil! Aku hamil anak Dito El!" Seru sarah bahagia saat mereka berdua duduk di dalam mobil Elton setelah mereka keluar dari ruangan dokter.


"Kamu senang, Sar?" Tanya Elton tersenyum getir.


Sarah mengangguk penuh antusias. Matanya berkaca-kaca dan berulang kali membaca surat hasil pemeriksaannya.


"Senang banget, El! Mungkin ini kesempatan aku untuk memperbaikki hubungan sama Dito! Mungkin aku bisa dapetin posisi aku lagi di hati Dito!" Seru Sarah berbunga-bunga.


Elton hanya tersenyum menatap wanita yang ada di hadapannya tampak bahagia. Sungguh, selama mengenal Sarah baru kali ini Elton melihatnya tersenyum selebar ini. Tidak apa-apa, asalkan Sarah bahagia Elton pun akan merasa bahagia juga. Meskipun kebahagiaan itu tidak berasal darinya. Elton akan menjadi orang yang selalu mendukung dan memberi semangat Sarah meskipun dari jauh.


"Kapan kamu mau kasih tau Dito?" Tanya Elton penasaran.


"Aku harus nunggu waktu yang tepat El. Karena itu kejutan besar buat Dito. Mungkin pulang ini aku bakal ajak Dito makan berdua dan kasih tau ini sama dia." Jawab Sarah penuh semangat.


Elton pun mengantar Sarah kembali ke kantor karena mobilnya masih ada disana. Sesampainya di kantor, Sarah langsung bergegas mengemasi barangnya dan berpamitan singkat pada Elton.


"El, aku pulang duluan ya!" Seru Sarah sambil berlari kecil ke arah parkiran tempat mobilnya berada.


"Iya, hati-hati ya Sarah!" Seru Elton melambaikan tangannya.


Elton hanya dapat memperhatikan Sarah yang berlari menjauh darinya. Mungkin seperti itulah kini kesempatannya untuk menjadi dekat dengan Sarah. Semakin jauh. Tapi setidaknya sekarang Sarah sudah merasa bahagia dengan hidupnya. Bukankah itu yang diharapkan oleh Elton?


...****************...


Sarah baru saja tiba di rumahnya. Ia tidak sabar ingin memberi tahu Dito tentang kabar bahagia ini. Namun setibanya di rumah, keadaan rumah tampak begitu sepi. Sarah pun bertanya-tanya kemana semua penghuni rumah ini.


"Bu, Dito mana?" Tanya Sarah saat melihat Bu Risa keluar dari dapur.


Bu Risa tidak menggubris pertanyaan Sarah dan hanya melewati Sarah seolah-olah tidak ada siapapun disana.


"Bu saya nanya loh! Semuanya pada kemana?" Ucap Sarah lagi menegaskan setiap kata-katanya.

__ADS_1


Yang ditanya pun akhirnya menoleh dengan jengah. Seperti tampak malas meladeni pertanyaan Sarah.


"Anggi lagi pergi ke bandara." Jawab Bu Risa singkat.


"Ngapain?" Tanya Sarah kembali.


"Nganter Dito." Ucap Bu Risa kembali.


"Dito mau kemana? Kok ga ngabarin aku?"


"Dito mau dinas ke Flores satu bulan." Kata Bu Risa.


Sarah terkejut. Setidak penting itukah posisinya di hidup Dito sehingga Dito tidak mengabarinya hal sepenting ini? Bagaimanapun juga Sarah masih istri Dito yang sah bukan?


"Kok Dito ga ngabarin aku?" Tanya Sarah kembali dengan nada kecewa.


Bu Risa tampak lelah meladeni pertanyaan Sarah. Ia berdecak kesal.


Jika kata-kata itu punya wujud, maka Sarah yakin setiap kata yang dilontarkan Bu Risa akan berbentuk seperti pisau. Tidakkah ia terpikir betapa menyakitkannya ucapan yang ia keluarkan, apalagi bagi seorang wanita seperti Sarah? Wanita yang memang sedang menunggu kehadiran seorang anak.


Sarah hanya tersenyum getir. Ia lalu masuk ke kamarnya. Air matanya mengalir turun membasahi pipinya. Kini ia bingung, bagaimana ia harus menghadapi kehamilannya? Haruskah ia memberitahu Dito melalui telepon saja? Atau apakah sebaiknya ia menunggu Dito pulang saja?


"Dito harus tahu kehamilanku. Karena gimanapun juga anak ini adalah anak Dito." Tekad Sarah.


Sarah mencoba menelepon Dito dengan ponselnya. Tapi panggilannya dialihkan ke kotak suara. Ponsel Dito tidak aktif.


"Mungkin Dito udah di pesawat kali ya?" Gumam Sarah.


Hingga malam hari Sarah mencoba menghubungi Dito namun selalu gagal. Entah itu ponselnya mati, berada di luar jangkauan, atau bahkan sibuk. Sarah bingung. Dengan cara apa ia harus memberitahu kehamilannya kalau Dito saja tidak bisa dihubungi sama sekali? Mengapa selalu ada saja halangan bagi Sarah dan Dito untuk kembali baik-baik saja?


...****************...


Bu Risa tengah menyapu rumah seperti kebiasaannya tiap pagi. Mulai hari ini hingga sebulan ke depan, Dito tidak ada di rumah dan berada di Flores untuk keperluan pekerjaannya. Itu berarti pemegang keputusan tertinggi ada di tangan putrinya. Dan setiap keputusan yang diambil Anggi pasti adalah keputusannya juga. Secara tidak langsung, sejak Dito berada di Flores, Bu Risa menjadi orang nomor satu di rumah ini.

__ADS_1


Bu Risa mengetuk pintu kamar putrinya. Sudah pukul 10 pagi tapi Anggi belum bangun juga.


"Nggi! Bangun, Nggi! Udah siang!" Seru Bu Risa.


"Ah, bentar lagi lah Ma. Aku mau tidur bentar lagi mumpung lagi ga ada Mas Dito." Jawab Anggi malas.


Sang ibu hanya tertawa. Ya, biarlah mungkin Anggi hanya ingin mendapatkan istirahat yang ia butuhkan. Karena sejak cucunya Deo lahir, hidup putrinya memang berubah 180 derajat. Memang menjadi lebih bahagia. Tetapi lebih sibuk juga. Pasti waktu tidur Anggi berkurang sangat jauh dibandingkan dulu. Jadi mungkin tidak ada salahnya ia beristirahat agak lama hari ini.


Bu Risa melanjutkan kegiatannya menyapu rumah berukuran sedang itu. Namun matanya menangkap sebuah surat dalam amplop yang tampaknya berasal dari sebuah rumah sakit. Ia lalu mengambil surat itu dan membacanya.


"Punya Sarah?" Gumamnya saat melihat nama yang ada di surat itu.


Rasa penasaran mendorongnya untuk membuka surat yang ada di tangannya. Matanya terbelalak begitu melihat isi surat itu.


"Wanita mandul itu hamil?" Ucap Bu Risa terkejut.


Bu Risa mengira-ngira anak siapa yang dikandung oleh Sarah karena seingatnya Dito tidak pernah menghabiskan malam bersama Sarah.


"Apa mungkin?" Bu Risa tampak ragu meneruskan gumamannya.


"Waktu mereka liburan di pantai? Atau waktu Anggi melahirkan?" Bu Risa menerka-nerka kemungkinan yang terjadi.


Ia merasakan ancaman yang sedang datang untuk mengacaukan kebahagiaan putrinya. Dan ancaman itu adalah kehamilan Sarah. Bu Risa yakin kehamilan Sarah dapat membawanya kembali dekat dengan Dito. Dan itu berarti nasib hubungan putrinya juga dipertaruhkan.


"Aku harus menyingkirkan bayi itu." Ucap Bu Risa dingin.


Bu Risa berjalan ke arah kamar Sarah. Ia berusaha membuka pintu kamarnya namun pintu itu terkunci.


"Wanita sialan, pake acara pintunya dikunci segala!" Umpat Bu Risa kesal.


Ia lalu menelepon seseorang. Seorang pria tampaknya.


"Halo, Malik? Saya butuh bantuan kamu." Ucap Bu Sarah pada lawan bicaranya.

__ADS_1


__ADS_2