
Elton baru saja akan pergi mencari makan malam saat ponselnya berdering. Matanya berbinar senang saat tahu Sarah yang meneleponnya. Namun rasa bahagianya seketika berubah menjadi panik saat yang ia dengar hanyalah suara tangis Sarah di seberang telepon.
"Aku butuh kamu, El." Ucap Sarah lirih.
Dan jantung Elton langsung berburu dengan rasa paniknya. Ia takut terjadi sesuatu pada Sarah. Kenapa wanita ini menangis begitu hebat? Apa yang baru saja dialaminya?
Secepat kilat Elton memacu motornya ke lokasi yang dibagikan oleh Sarah melalui whatsapp. Pikirannya berkecamuk. Rasa takut menguasai dirinya. Tidak mungkin kan Sarah habis dipukul Dito? Dan berbagai teori lainnya bersliweran selama ia berkendara menuju tempat Sarah berada.
Setelah 10 menit mengebut, Elton akhirnya menemukan mobil Sarah. Terparkir sendirian di halaman sebuah minimarket. Elton langsung turun dari motornya dan mengetuk kaca mobil Sarah. Sarah menoleh melihatnya dan langsung membuka kuncinya.
"Ada apa, Sarah?" Tanya Elton panik ketika ia memasukki mobil dan duduk di sebelah Sarah.
Betapa kagetnya Elton melihat mata Sarah yang sembab dan bengkak karena air mata dan bibirnya yang bergetar karena tangisnya. Namun yang lebih membuat Elton tertegun adalah pipi Sarah yang berwarna kemerahan. Seperti bekas tamparan yang ada disana.
Elton mengangkat tangannya dan menyentuh bekas kemerahan di pipi Sarah.
"Aw..." Sarah meringis kesakitan.
Elton sungguh iba melihat wanita di depannya ini. Wanita yang ia cintai, yang selalu ia puja setiap hari, yang selalu ia mimpikan setiap malam, kini hancur berkeping-keping di hadapannya. Entah sudah berapa liter air mata yang tertumpah dari mata Sarah, tampaknya Elton pun tidak dapat menghentikannya.
"Kenapa Sarah?" Tanya Elton pelan.
Tangis Sarah pecah kembali. Ia langsung memeluk Elton dan menangis sejadinya di bahu Elton yang kuat. Elton membalas dengan merengkuh Sarah dalam pelukannya. Tangannya mengelus-elus punggung Sarah. Mencoba menenangkannya walau Elton tahu benar hal itu sia-sia.
"Aku mau cerai aja, El. Aku udah ga sanggup lagi hidup kaya gini." Ucap Sarah tergugu.
Elton tidak bertanya dan tidak juga menuntut Sarah untuk menjelaskan maksudnya. Ia hanya membiarkan Sarah menangis sepuasnya. Menumpahkan seluruh emosinya hingga ia tak mampu menangis lagi.
Setelah tangisnya reda, Elton memegang bahu Sarah dan menatapnya mata Sarah langsung. Dua mata indah yang Elton selalu pandang dengan hati berbunga, kini bengkak dan memerah karena air mata.
"Kamu mau cerita sama aku apa yang terjadi?" Tanya Elton pelan sambil mengusap pipi Sarah. Berusaha menghapus air matanya.
Sarah akhirnya membuka mulutnya, menceritakan setiap kejadian, setiap kata-kata, dan setiap tuduhan yang dilontarkan Dito kepadanya. Mulai dari tuduhan Dito bahwa Sarah berselingkuh dengan Elton, Dito yang ragu dengan anak di kandungan Sarah, hingga tamparan Dito yang tidak hanya melukai pipi Sarah namun juga hatinya.
Sungguh Elton sangat marah. Ia marah kepada Dito karena tega memperlakukan wanita yang selalu ia jaga seperti porselen seburuk ini. Bagaimana bisa Dito meragukan moral wanita yang sudah dikenalnya lebih dari 10 tahun hanya dengan satu hasutan? Padahal Elton yang baru mengenalnya sebulan saja selalu yakin pada moral dan kesetiaan Sarah. Bahkan Elton pun siap menjadi saksi atas kesucian cinta Sarah kepada Dito.
Tapi Elton lebih marah kepada dirinya sendiri karena tidak mampu melindungi Sarah dari kejamnya kehidupan. Nafas Elton memburu karena emosi. Sarah melihat perubahan pada raut wajah Elton dan tampak memahami emosi pria di depannya.
"El, kamu kenapa?" Tanya Sarah sembari menyentuh wajah Elton lembut. Tangannya yang lain menyentuh dada Elton, merasakan jantung Elton yang berlomba dengan deru nafasnya.
__ADS_1
"Aku bakal kasih pelajaran ke Dito." Jawab Elton masih dengan emosi.
Sarah menggeleng. Ia mengambil kedua tangan Elton ke dalam genggamannya. Jemari Sarah mengelusnya lembut.
"Ga perlu, El. Kamu ga perlu buang-buang waktu buat hal kaya gitu." Pinta Sarah pada Elton.
"Lagian udah ga ada lagi yang bisa diselamatin dari pernikahanku, El. Buat apa bertahan kalau yang aku dapat cuma luka?" Guman Sarah lirih.
"Tapi anakmu gimana? Ini anak Dito juga, dia harus tanggung jawab, Sarah." Elton mengingatkan.
"Lebih baik anakku besar tanpa ayahnya, El. Daripada dia nanti punya ayah yang ga bisa adil dengannya dan saudara tirinya. Aku bisa besarin anakku sendiri, El." Ucap Sarah pelan.
Elton menghela nafas. Ya Tuhan, betapa beratnya hidup wanita ini. Jika bisa Elton ingin mengambil beban itu agar Sarah dapat hidup bahagia.
"Jadi kamu sekarang mau gimana?" Tanya Elton.
Sarah terdiam sejenak. Kepalanya berpikir tentang solusi yang terbaik. Akhirnya ia pun menemukan solusinya.
"Aku mau balik ke Semarang, El."
...****************...
"Barang-barangmu udah siap semua, Sarah?" Tanya Elton. Sedari tadi ia terus menemani Sarah. Ia tidak tenang jika harus melepas wanita ini sendirian.
"Sudah El, kamu tenang aja. Gih pulang sana, kamu udah dari pagi nemenin aku lo." Ucap Sarah sambil tersenyum.
"Ga bisa, aku ga tenang ngelepas kamu sendirian dalam kondisi kaya gini." Ungkap Elton penuh rasa khawatir.
"Engga apa-apa, Elton. Beneran. Bentar lagi aku check in terus masuk. Kamu istirahat ya? Pulang terus istirahat. Besok kan kamu harus kerja." Sarah menatap wajah Elton yang tampak khawatir sambil menyentuh pipinya.
Elton hanya diam. Ia tidak bisa beralasan lagi untuk tetap berada di bandara bersama Sarah.
"Kalau udah sampe, kamu kabarin aku ya." Pesan Elton pada Sarah.
Sarah mengangguk. Ia lalu memeluk Elton erat. Elton balas memeluknya. Sarah terlihat sangat kecil di dalam pelukan Elton yang sebesar beruang teddy.
"Makasih banyak ya El buat semuanya. Karena selalu ada buat aku, karena selalu nolongin aku, dan karena udah mau jadi satu-satunya sahabatku. Aku bakal kangen banget sama kamu, El." Ucap Sarah pelan.
Aku juga Sarah. Mungkin aku bisa jadi gila karena kamu ga ada di samping aku lagi. Elton membatin.
__ADS_1
Panggilan check in untuk para penumpang sudah disuarakan dan Sarah pun bergegas untuk masuk ke dalam terminal keberangkatan. Dengan berat hati Elton melambaikan tangannya melepas Sarah. Semakin jauh sosok itu berlari, semakin besar pula rindu yang menelusup ke hati Elton. Tapi biarlah semua ini terjadi. Mungkin memang ini adalah solusi terbaik bagi semuanya.
Pukul 2 siang, pesawat yang akan membawa Sarah kembali ke kampung halamannya lepas landas. Sarah menatap ke arah gedung-gedung yang kian lama kian mengecil dan berganti menjadi awan. Tak pernah ia sangka bahwa akan seperti ini cerita hidupnya. Dikhianati oleh satu-satunya pria yang ia cintai. Bahkan hingga tetes air matanya yang terakhir pun sang pria tidak sedikitpun menunjukkan penyesalannya.
Selamat tinggal Ambon.
Kota tempat kehidupan pernikahanku dimulai dan juga diakhiri.
Kota tempat pengkhianatan terbesar terjadi padaku.
Dan kota dimana perahu yang selalu kuperjuangkan malah karam.
Terimakasih untuk semua kenangan. Aku pamit dan mungkin tak akan menginjakkan kakiku disini lagi.
...****************...
Sarah akhirnya menginjakkan kakinya kembali ke kampung halamannya. Rasanya ia sudah sangat rindu dengan udara Semarang yang walaupun terasa kering namun baginya selalu menghangatkan hati. Sarah sudah jatuh sejatuhnya. Hatinya sudah hancur dan penuh luka. Ia tidak punya tempat lain untuk pulang selain ke dalam pelukan ibunya.
"Ma? Mama? Baim?" Sapa Sarah saat ia memasukki rumah masa kecilnya.
Ternyata kebetulan hari itu Mama dan adiknya ada di rumah. Mendengar suara putrinya, Mama Sarah langsung berlari ke arah pintu. Ia bingung kenapa putrinya bisa tiba-tiba ada disini.
"Loh, Sarah? Kok pulang ga bilang-bilang, Nduk?" Tanya Mamanya bingung.
Sarah hanya tersenyum tipis.
"Im, turun sini, Nang. Mbakmu pulang ini!" Seru Mama Sarah memanggil anak keduanya.
"Dito mana, Nduk? Ndak ikut kamu ya?" Tanya Mamanya celingukan mencari sosok menantunya.
Tak lama kemudian, sosok adik Sarah, Baim yang berbadan tambun turun setengah berlari menghampiri kakaknya.
"Oalah mbak, kok ga ngomong toh kalo mau pulang? Kan sampeyan bisa tak jemput." Ucap Baim seraya memeluk kakaknya.
Sarah lalu duduk di ruang tamu rumahnya dan mengajak ibu dan adiknya duduk di dekatnya. Keduanya bertatapan bingung dan hanya menuruti Sarah tanpa banyak bertanya. Namun pertanyaan terbesar di kepala ibu dan adiknya hanyalah satu. Dimana Dito?
Sarah tersenyum lemah dan berkata pelan.
"Ada banyak hal yang harus aku ceritain ke Mama sama Baim."
__ADS_1