Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Penantian


__ADS_3

Anggi memang tidak menemukan hal yang aneh sejak kepulangannya dari Bali. Setidaknya tidak di depan matanya. Anggi tidak pernah melihat Dito dan Sarah berduaan dan Dito memang selalu bersama Anggi. Apalagi sebentar lagi hari kelahiran anaknya. Tapi Anggi yakin ada yang berubah di antara mereka.


Sejak kejadian pertama Anggi menemukan bekas lipstick di kerah kemeja Dito, Anggi sudah merasakan sesuatu yang aneh. Atmosfir di antara Sarah dan Dito sudah mulai mencair. Dito tidak sedingin dulu lagi kepada Sarah. Walaupun ia masih memanggil Sarah dengan namanya saja, tapi Anggi mendapati Dito sesekali memberi senyum hangatnya kepada Sarah. Atau bahkan tertawa kecil melihat tingkah Sarah. Dan Anggi tidak merasa aman dengan semua ini.


"Dek, kamu cepat lahir ya. Mama ngerasa ga aman disini. Kamu bisa jadi pelindung Mama kan?" Tanya Anggi pada bayi yang masih ada diperutnya.


Beberapa hari yang lalu, Anggi selesai melakukan konsultasinya yang terakhir sebelum melahirkan. Dan menurut perkiraan dokter, harusnya Anggi akan melahirkan dalam waktu dekat. Ya mungkin dalam minggu-minggu ini. Anggi sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan putranya. Darah dagingnya bersama Dito.


Sejak pagi entah mengapa Anggi merasakan kontraksi sesekali di perutnya. Kadang beberapa menit muncul dan kadang hilang. Tidak menyakitkan. Tapi memang cukup mengganggu.


"Ma, perutku udah mulai kontraksi terus dari pagi. Kayanya aku bentar lagi lahiran deh." Jawab Anggi sambil memegangi perutnya yang sakit.


"Wah, bagus itu. Kamu itung dulu waktu kontraksinya, Nggi. Kalau udah mulai sering kamu kasih tau Mama dan Dito. Kita harus cepet ke rumah sakit itu." Jelas Bu Risa.


Anggi merasa lega karena setidaknya Mamanya banyak mengetahui soal hal itu. Maklum saja, Mamanya dulu pernah bekerja di sebuah klinik bidan saat muda. Sebagai juru catat sih. Tapi mungkin dari situ Mamanya banyak mengetahui seluk beluk tentang kehamilan. Apa yang boleh apa yang tidak. Obat apa yang bisa diminum dan mana yang berbahaya bagi wanita hamil. Mamanya tahu itu semua di luar kepala.


Dan benar saja, saat pukul 5 sore, kontraksi Anggi tidak berhenti. Tubuhnya menunjukkan tanda-tanda bahwa anaknya sudah meminta untuk keluar. Dan untung saja saat itu semuanya sedang ada di rumah.


"Mas, perutku sakit banget. Kayanya kita harus ke rumah sakit sekarang."


Dengan sigap Dito menggendong Anggi ke dalam mobil sementara Bu Risa membawa barang-barang Anggi yang sudah disiapkan di dalam koper. Mereka melesat keluar dan pergi ke rumah sakit dalam sekejap mata.


"Sar, aku titip rumah ya!" Pesan Dito sebelum pergi meninggalkan rumahnya.


"Iya hati-hati ya!" Jawab Sarah seadanya. Semuanya terlalu cepat dan ia butuh waktu untuk memprosesnya.


Sarah hanya duduk sendirian di ruang tamu. Pikirannya menerawang.


"Ah, sebentar lagi anak pertama Dito sama Anggi lahir ya. Entah gimana nasib aku setelah ini." Renung Sarah.


Untuk pertama kalinya ia merasakan kesepian yang begitu kuat. Selama ini ia selalu membuang jauh-jauh emosi negatifnya dengan menenggelamkan dalam pekerjaan. Terlantar di tanah orang sendiri tanpa bersama siapapun. Dan sekarang mungkin sebentar lagi ia akan diusir dari rumah ini. Walaupun hatinya masih bersumpah untuk setia pada suaminya, tapi suami yang beristri dua tidak akan bisa melakukan hal yang sama, bukan?


...****************...


Sarah baru pulang dari kantor. Karena Anggi mengalami komplikasi saat melahirkan, jadi Anggi harus berada di rumah sakit cukup lama.


"Komplikasi apa Dit?" Tanya Sarah di telepon saat Dito mengabarinya.


"Katanya Anggi ada darah tinggi sama jantung juga, Sar. Jadi mungkin dia bakal dirawat agak lama." Jelas Dito.


"Tapi bayinya sehat kan?" Tanya Sarah khawatir.


"Syukurlah bayinya sehat sempurna. Anak cowok, Sar. Aku bakal punya anak cowok!" Seru Dito senang.


Sarah meringis. Ia mendengar Dito tampak begitu bahagia. Hati kecilnya merasa pedih karena dalam kebahagiaan itu Sarah tidak ada di dalamnya. Dan mungkin selamanya tidak akan pernah begitu. Mana mungkin Anggi akan membiarkan Dito membagi kebahagiaannya dengan Sarah.

__ADS_1


Karena Anggi yang harus dirawat di rumah sakit, jadi Dito sangat sibuk bolak balik ke rumah sakit. Sarah dapat melihat dengan jelas walaupun Dito begitu lelah, tapi ia akan tetap menggerakkan tubuhnya untuk pergi ke rumah sakit melihat anaknya. Ah, seandainya Sarah yang ada disana dan memberikan semua kebahagiaan ini pada Dito. Sarah akan merasa puas dan tidak meminta apa-apa lagi pada Tuhan.


Sudah beberapa hari ini Sarah sendirian di rumah. Sepi sekali. Tapi mungkin sesekali sepi adalah sesuatu yang baik. Setidaknya dia bisa terbebas dari drama Anggi dan Bu Risa. Dan punya privasi sejenak. Rasanya sudah lama sekali ia tidak bermain dengan dirinya sendiri. Karena ia takut suara yang ia keluarkan terdengar oleh yang lain dan malah akan dijadikan bahan olokan oleh Anggi dan Bu Risa.


Bagaimanapun juga Sarah adalah wanita normal yang sehat jasmani dan rohaninya. Apalagi dia sudah menikah. Wajar kan kalau tubuhnya merindukan kenikmatan itu? Namun suaminya sangat jarang menjamah tubuhnya. Penyebabnya apalagi kalau bukan madunya yang selalu mengikuti suaminya kemana-mana. Jadi satu-satunya cara adalah dengan melakukannya sendiri, bukan?


Sarah membuka laci rahasianya yang terkunci. Ia lalu mengeluarkan benda andalannya.


DRTTTT!


Sarah menyalakannya untuk mengecek apakah benda itu masih berfungsi dengan baik. Dan untunglah iya. Sarah melihat sekeliling rumah dan memastikan situasi aman. Ia kemudian membawa benda itu ke dalam kamar mandi dan memulai ritual favoritnya.


...****************...


Dito baru saja pulang dari rumah sakit. Sudah 3 hari ini dia bolak balik antara rumahnya dan rumah sakit untuk mengurusi istrinya. Meskipun lelah, ada kebahagiaan besar yang menyelimuti hatinya. Ia memarkirkan mobilnya di halaman rumah dan membuka pintu rumahnya.


"Dikunci? Sarah ga di rumah?" Dito melihat sekeliling rumahnya dan ia menemukan mobil milik Sarah terparkir di garasinya.


"Mobilnya ada kok."


Dito memutar kunci cadangan yang ia punya dan membuka pintu depan. Hening. Seperti tidak ada siapapun di rumah.


"Sarah!" Dito mencari Sarah. Biasanya kalau ia pulang ke rumah dari rumah sakit, ia akan melihat Sarah sedang menonton televisi atau bekerja. Dan Sarah akan segera membantunya mengemasi barang-barang yang ia perlukan.


Tapi hari itu ia tidak melihat Sarah dimanapun. Dito mencarinya ke kamar, ke dapur, dan bahkan ke taman belakang tapi ia tidak melihat Sarah dimanapun. Kemudian ia terpikir untuk masuk ke kamar Sarah.


Ia kemudian masuk ke kamar Sarah dan berjalan ke arah kamar mandi. Dito mengangkat tangannya hendak mengetuk pintunya. Namun tangannya terhenti ketika ia mendengar sesuatu dari kamar mandi. Suara ******* halus yang terdengar seperti Sarah.


"Sarah ngapain?" Gumamnya pelan.


...****************...


Sarah menyelesaikan permainan tunggalnya. Mencabut alat itu dan mencucinya. Ia lalu membersihkan tubuhnya dan segera melilitkan handuk. Ah, setidaknya ketegangannya dapat berkurang sedikit karena ritual tadi.


Tangannya meraih knop pintu kamar mandi dan membukanya. Ia berjalan keluar kamar mandi sambil bersenandung kecil. Namun betapa kagetnya Sarah ketika melihat sosok yang ada di kamarnya. Dito sedang duduk di tepi kasurnya. Matanya mengawasi kamar mandi seolah memang menunggu Sarah untuk keluar.


"Eh, Dit? Kamu udah lama disini?" Tanya Sarah canggung.


Dito mengangguk.


Gawat! Apa itu berarti Dito mendengar semuanya? Suara ******* Sarah yang terbuai dalam kenikmatan sendiri? Sialan! Rasanya Sarah tidak dapat menatap Dito langsung karena Sarah yakin pasti wajahnya sudah memerah tak karuan.


"Kamu ngapain disini Dit? Ga balik ke rumah sakit?" Tanya Sarah membelakangi Dito. Pura-pura sibuk mencari benda yang entah apa.


Dito bangkit dari duduknya dan menghampiri Sarah. Ia lalu merangkul Sarah dari belakang.

__ADS_1


"Aku mau ketemu istriku, lah." Jawab Dito sambil menghirup aroma tubuh Sarah yang segar.


Sarah membeku. Astaga, ada apa dengan Dito?


"Kamu habis ngapain tadi di kamar mandi?" Tanya Dito dengan nada menggoda.


Sarah terdiam. Ia tertangkap basah oleh suaminya sendiri.


"Ngapain, Yang?" Dito bertanya kembali sembari menempelkan bibirnya di telinga Sarah.


Kata-katanya ia ucapkan dengan mengulur setiap suku katanya. Seolah-olah ingin menggoda Sarah.


"Engga kok. Aku ga ngapa-ngapain." Jawab Sarah gelagapan.


Dito mengambil tangan kiri Sarah yang sedari tadi disembunyikannya. Ia lalu mengambil benda yang Sarah sembunyikan.


"Ini apa?" Ucap Dito sambil tertawa. Sungguh tawa Dito terdengar gelap dan seperti seekor predator yang sedang mengincar mangsanya.


Sarah terdiam sejenak hingga akhirnya ia buka suara.


"Maaf Dit. Cuma itu satu-satunya cara buatku." Jawab Sarah sambil menunduk.


Sarah malu sekali rasanya. Suaminya baru saja memergokinya sedang bermain dengan dirinya sendiri. Rasanya Sarah ingin membuang wajahnya jauh-jauh. Pasti Dito akan menganggap Sarah wanita gila yang kecanduan ****! Sialan!


Dito tertawa kecil. Ia lalu membisikkan kata-kata yang membuat lutut Sarah lemas seketika.


"Aku bakal tunjukkin kalau mainan itu ga pernah bisa gantiin aku, Sarah."


...****************...


Tubuh Anggi rasanya lemas sekali. Bagian bawahnya baru saja dirobek dan sekarang terasa sangat pedih. Ditambah lagi beberapa komplikasi yang ia alami selama persalinan membuat tubuhnya semakin rapuh.


"Dito belum kesini Ma?" Tanya Anggi pada Bu Risa.


"Belum, Nggi."


"Dito kemana ya? Tumben belum kesini." Gumam Anggi sembari melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Seharusnya Dito sudah disini sejak pukul 8. Tapi mengapa ia belum tiba juga hingga sekarang?


Tak lama kemudian, Dito masuk ke ruangan tempat Anggi dirawat. Anggi sumringah melihat pria yang ia tunggu akhirnya datang. Dito pun langsung duduk di samping ranjang Sarah dan tidak berapa lama Bu Risa meninggalkan mereka berdua.


"Kamu kenapa lama banget kesininya? Terus keringetan gitu Mas? Abis lari?" Tanya Anggi yang heran melihat wajah suaminya penuh dengan peluh.


Dito hanya tersenyum lalu menjawab,

__ADS_1


"Iya, tadi macet parah makanya waktu sampai aku langsung lari dari parkiran kesini."


__ADS_2