Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Mantan


__ADS_3

Sudah seharian Dito dan Anggi berkeliling mencari sekolah yang tepat untuk Deo namun tampaknya tidak juga membuahkan hasil. Dari 5 sekolah yang mereka kunjungi, ada saja alasan yang membuat Anggi mengurungkan pilihannya. Fasilitas yang jelek lah, jarak yang jauh lah, biaya yang terlalu mahal, dan berbagai alasan lainnya.


Bukan hanya tubuh tapi otak Dito juga lelah menemani mereka berkeliling seharian. Di tambah Anggi yang selalu banyak maunya. Dito sendiri sampai bingung sebenarnya siapa yang ingin bersekolah? Anggi atau Deo?


Mereka bertiga akhirnya tiba di sekolah terakhir yang akan mereka kunjungi hari itu. Sekolah itu bernama Clover Playgroup. Terdapat tiga jenjang sekolah disana. Kelompok bermain untuk anak berumur 2 sampai 3 tahun, TK A untuk anak berusia 4 tahun, dan TK B untuk anak berusia 5 tahun.


Dito melihat sekelilingnya dan berpikir bahwa tempat itu cukup bagus untuk sekolah putranya. Ia menoleh ke Anggi yang tampak masih mempertimbangkannya. Entah apa lagi yang akan menjadi alasan Anggi kali ini untuk mencari sekolah yang lain. Yang jelas untuk hari ini Dito sudah letih dengan remeh temeh Anggi.


Dito dan Anggi berkeliling di area sekolah sembari memeriksa keadaan dan fasilitas sekolah. Sementara Deo bermain dengan seorang guru di halaman belakang sekolah.


"Bagaimana Bapak dan Ibu? Apakah sekolah ini sesuai dengan ekspektasi Bapak dan Ibu?" Tanya guru yang memandu mereka mengelilingi sekolah.


Dito mengangguk mantap.


"Kalau saya sih suka sekolah ini, Miss. Tapi saya juga harus mempertimbangkan pendapat istri saya." Ujar Dito sambil menyenggol lengan Anggi.


Anggi melihat sekelilingnya sekali lagi. Ia lalu mengangguk pertanda ia juga setuju dengan keputusan Dito.


"Kalau begitu, mari kita selesaikan administrasinya di kantor, Bu. Mari ikut saya, Bu." Ajak guru wanita itu kepada Anggi.


"Kamu tunggu disini aja ya, Mas. Biar aku yang urus." Kata Anggi sambil meninggalkan Dito untuk masuk ke dalam ruangan tata usaha sekolah itu.


Dito duduk menunggu istrinya selesai dengan urusannya sambil memainkan ponselnya. Ia membuka beberapa berita terbaru untuk menghilangkan rasa bosannya. Lalu Dito mendengar Deo memanggilnya.


"Pa! Papa! Ayo sini!" Seru Deo sambil berlari menghampiri Dito.


"Kenapa Deo?" Tanya Dito bingung.


"Ayo ikut aku! Aku mau kenalin Papa sama temanku yang kemarin!" Seru Deo penuh semangat sambil menarik tangan Dito ke arah taman bermain sekolah.


Dito tertawa sambil mengikuti anaknya. Teman apa? Anaknya kan baru pindah kesini, bagaimana bisa ia sudah memiliki teman? Dasar anak kecil.


Langkah Dito terhenti ketika melihat anak kecil yang berdiri tidak jauh darinya.


"Papa? Ayo! Ikut aku! Aku mau kenalin temanku! Itu orangnya!" Seru Deo sambil menunjuk anak laki-laki itu.

__ADS_1


Dito mengikuti langkah Deo sembari matanya tidak lepas dari anak itu. Itu adalah anak yang ia temui di mall kemarin. Anak yang mirip dengannya. Anak yang selalu mengganggu pikirannya beberapa hari belakangan.


Dan semakin Dito memperhatikannya, semakin Dito sadar bahwa anak itu seperti duplikatnya. Bahkan jika dibandingkan dengan Deo, anak yang tidak ia kenal ini malah lebih mirip dengannya.


"Ini temanku, Pa! Namanya Ansel!" Ucap Deo penuh semangat.


Dito langsung berjongkok di hadapan anak itu. Matanya memperhatikan anak di hadapannya dengan lamat-lamat. Dito mengangkat tangannya dan mengelus pipi anak itu seperti takjub.


"Hai Ansel." Kata Dito sambil tersenyum.


"Hai Om!" Seru Ansel sambil melambaikan tangannya lalu pergi bermain bersama Deo lagi.


Seperti enggan beranjak, Dito tetap berjongkok di tempat awalnya sambil memperhatikan kedua anak itu bermain. Tak berapa lama, ia mendengar suara seorang wanita dari belakangnya memanggil nama Ansel. Suara yang amat dikenalnya. Yang dulu selalu ia dengar setiap hari.


"Ansel! Ayo pulang, Nak!" Seru wanita itu sambil mendekat ke arah Dito.


Tidak salah lagi, Dito kenal benar siapa pemilik suara itu. Dito langsung berdiri dan memutar tubuhnya menghadap ke pemilik suara. Namun keduanya sama-sama membeku ketika melihat satu sama lainnya. Keduanya lalu menyuarakan satu nama yang terletak di kepala mereka secara bersamaan.


"Sarah?"


"Dito?"


Sarah sangat senang karena hari pernikahannya dengan Elton akan semakin dekat. Walaupun ia masih memiliki trauma pada ikatan bernama pernikahan, Sarah mencoba merelakan masa lalunya. Ia percaya bahwa semuanya akan berbeda bersama Elton.


Dan beruntungnya Sarah, karena Elton pun berhasil mendapatkan persetujuan untuk pindah ke Semarang. Sungguh Sarah sudah sangat tidak percaya dengan yang namanya hubungan jarak jauh. Keyakinannya sudah terlalu hancur hingga ia takut untuk memulai hubungan serupa. Tapi mungkin Tuhan mendengar doa Sarah, sehingga Elton pun dapat pindah dan berada di sisi Sarah.


"Kamu dimana, El?" Tanya Sarah kepada Elton melalui telepon.


"Aku masih di kantor, Sayang. Kenapa? Kamu sama Ansel mau pergi ya? Mau aku anter, Sayang?" Jawab Elton.


Sarah tertawa. Sejak Sarah dan Elton memutuskan untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius, Elton pun mengubah panggilannya pada Sarah. Yang awalnya hanya memanggil Sarah, kini berubah menjadi Sayang. Dan terkadang Elton memanggil Sarah dengan panggilan Mama Ansel.


Sejujurnya, Sarah mungkin tidak akan pernah terbiasa mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Elton. Karena itu ia selalu tertawa setiap mendengar Elton mulai bertingkah seperti seorang pacar yang memiliki cinta tanpa akhir untuk Sarah. Elton juga selalu bertingkah seperti seorang ayah bagi Ansel dan Sarah sangat bersyukur untuk hal itu.


"Engga, ga apa-apa. Aku cuma nanya aja kok, El. Aku mau jemput Ansel dulu ya. Kamu mau aku jemput sekalian ga?" Tawar Sarah pada Elton.

__ADS_1


"Boleh deh, nanti habisnya kita makan malem bareng ya, Sayang." Ajak Elton dengan semangat.


"Iya, Papa Ansel." Goda Sarah pada Elton.


Tiga kata singkat itu berhasil mengirim Elton terbang sampai langit ketujuh. Sungguh Elton adalah pria sederhana yang dapat merasa bahagia tujuh turunan hanya dengan hal sederhana. Mendengar panggilan spesial dari Sarah misalnya.


Sarah melirik jam tangannya, sudah waktunya ia menjemput Ansel. Dan mungkin setelah menjemput Ansel ia akan menghampiri Elton seperti janjinya. Setelah kurang lebih 15 menit menempuh perjalanan, Sarah tiba di sekolah Ansel. Ia segera berjalan ke dalam dan mencari putranya. Ternyata anak yang dicari sedang bermain di taman bermain bersama dengan seorang anak.


"Wah, Ansel lagi main sama siapa?" Gumam Sarah sambil berjalan menghampiri anaknya.


"Ansel! Ayo pulang Nak!" Seru Sarah memanggil Ansel.


Anaknya menoleh. Tapi bukan hanya Ansel yang melihat ke arahnya. Seorang pria yang berjongkok di depan kedua anak itu juga berbalik dan melihat ke arahnya. Sarah kira pria itu hanyalah orangtua murid lainnya, namun tubuh Sarah tampak membeku ketika melihat sosoknya.


"Dito?" Tanya Sarah seolah tidak percaya.


Sarah tercekat. Ia tidak percaya sosok pria yang paling dibencinya akan berdiri di hadapannya. Dan pria itu bersama dengan anaknya. Apa yang ingin dilakukan Dito sebenarnya?


Ansel berlari menghampiri Sarah dan memeluknya.


"Mama!" Seru Ansel bahagia.


Sarah menatap ke arah Ansel dan langsung menggendongnya. Ia hendak berbalik dan pergi meninggalkan Dito namun pria itu menahannya. Dito memegang tangannya dengan erat.


"Lepasin tanganku." Ucap Sarah dingin.


"Bisa kita bicara, Sar?" Pinta Dito.


Sarah melepaskan tangan Dito yang menahannya dengan kasar.


"Ga ada yang perlu kita bicarain lagi." Ucap Sarah singkat. Ia langsung berjalan sambil menggendong Ansel dan meninggalkan Dito.


Dito menatap Sarah yang berjalan menjauhinya sambil membatin.


Aku harus cari tahu semua hal tentang Ansel.

__ADS_1


__ADS_2