Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Skak Mat


__ADS_3

"Kita harus bicara, Sar." Ucap Dito tajam.


Sarah bingung. Ada apa ini? Kenapa Dito tampak begitu marah padanya? Seingat Sarah ia tidak melakukan kesalahan apa-apa.


"Ada apa Dit?" Tanya Sarah sembari duduk di depan Dito.


"Kamu darimana?" Tanya Dito lagi.


"Dari kantor. Memangnya kenapa?" Sarah balik bertanya. Kebingungannya semakin menjadi.


"Bukan habis pergi sama pria itu?" Dito kembali menguji Sarah.


"Pria siapa? Apa maksud kamu?" Sarah masih tak kunjung mengerti.


Akhirnya Dito meletakkan satu tumpuk foto ke meja di hadapan Sarah dengan kasar. Sarah dapat merasakan amarah Dito hanya dengan melihatnya.


"Siapa dia? Selingkuhanmu?" Tanya Dito tajam.


Sarah mengambil foto itu dan memeriksanya. Pria yang dimaksud Dito adalah Elton. Semua itu adalah foto Sarah dan Elton. Sebuah foto menangkap momen ketika Elton menemani Sarah checkup kandungannya ke rumah sakit. Foto lainnya memperlihatkan Sarah dan Elton yang sedang makan berdua. Dan foto terakhir adalah ketika Elton memakaikan helm pada Sarah.


Sarah mengerjapkan matanya tidak percaya. Siapa yang melakukan semua ini? Dan untuk apa? Untuk menghancurkan hubungannya dan Dito?


"Siapa yang kirim foto ini?" Tanya Sarah balik.


"Kamu ga perlu tahu. Sekarang jawab aku! Siapa laki-laki di foto itu?!" Ucap Dito dengan nada meninggi. Emosi sudah mulai tampak menguasainya.


"Dia Elton. Rekan kerjaku! Kamu ga perlu marah-marah ga jelas kaya gini! Aku dan Elton ga lebih dari sahabat." Jawab Sarah.


"Sahabat? Sahabat macam apa yang romantis kaya kalian?! Berani-beraninya kamu selingkuh di belakang aku hah?!" Seru Dito.


Hati Sarah berdegup kencang. Ia tidak pernah menyangka akan terjadi kesalah pahaman sebesar ini dalam hubungannya.


"Kalo kamu ga percaya, kamu bisa periksa chat aku sama Elton. Ga lebih dari urusan pekerjaan Dit." Kata Sarah.


"Ah! Aku ga perlu baca semua itu! Foto-foto ini udah ngebuktiin kalo kalian lebih dari rekan kerja! Mana ada rekan kerja yang nemanin periksa ke dokter kandungan?!" Dito semakin berapi-api.


Sarah menghela nafas. Letih ia menjelaskannya.


"Karena kamu selingkuh sama rekan kerjamu, bukan berarti aku juga bakal kaya gitu Dit! Ga semua orang sehina kamu!" Balas Sarah tajam.


"Sarah!" Seru Dito melayangkan tangannya namun ia menghentikan tamparannya di udara.


"Tampar aku. Tampar kalo kamu bisa. Kamu udah terlalu banyak nyakitin hati aku Dit. Tamparan sepele kaya gini ga bakal ngelukain hati aku lagi!" Sarah menantang Dito.

__ADS_1


Dito menurunkan tangannya. Sarah merasa jengah dan hendak meninggalkan Dito.


"Tunggu! Mau kemana kamu?!" Seru Dito menarik tangan Sarah.


Sarah menepiskannya.


"Apa lagi?!" Balas Sarah.


"Anak siapa yang ada di perutmu?! Pasti anak selingkuhanmu kan?!" Tanya Dito sambil menatap Sarah dengan emosi.


Sarah tercekat. Sehina itukah Dito memandangnya? Seorang wanita yang dengan sukarela memberikan tubuhnya pada selingkuhannya? Seorang wanita yang dapat dengan mudah berpaling dari suaminya?


"Aku ga akan semudah itu nyerahin tubuh aku ke orang lain Dit. Aku bukan Anggi!" Desis Sarah.


"Sarah!"


Dito kehilangan kesabarannya. Ia langsung menampar Sarah begitu mendengar nama Anggi terlontar dari bibirnya. Ia tidak terima istrinya dihina serendah itu.


Sarah kaget. Tamparan itu begitu keras hingga pipinya terasa sangat panas. Telinganya masih berdenging karena tamparan Dito. Tangannya memegang pipinya yang merah karena bekas tamparan.


"Ini anak kamu Dito! Apa yang harus aku lakuin biar kamu percaya?!" Seru Sarah emosi.


"Bukan! Aku ga akan ngakuin anak itu sebagai anak aku! Aku ga akan percaya sama kamu lagi!" Balas Dito.


"Kamu harus liat dirimu di kaca. Yang harusnya bilang kaya gitu itu aku! Bukan kamu! Kamu yang mengkhianati aku! Kamu yang selingkuh sama wanita sialan itu! Dan sekarang kamu balik nuduh aku?! Astaga Dito, kamu udah buta atau apa?! Amnesia?!" Sarah berteriak.


Dito akhirnya terdiam. Kata-kata terakhir Sarah berhasil membungkam mulutnya.


"Terserah kamu mau percaya atau engga. Itu bukan urusan aku untuk bikin kamu percaya! Aku capek Dit! Aku capek terus terusan dituduh kaya gini! Aku capek terus menerus dipertanyakan terus sama kalian! Aku capek harus ngejelasin dan ngebela diriku terus menerus! Bahkan aku capek diperlakukan kaya hantu di rumah ini! Kalian anggap aku apa?! Tamu ga diundang?! Perusak rumah tangga kamu?!" Sarah akhirnya meluapkan seluruh kekesalan yang ia pendam.


"Kamu jangan lupa, aku masih istri sahmu secara hukum! Bukan wanita itu! Dan aku pegang semua kartu as kamu!" Ancam Sarah tanpa takut.


Sarah pergi meninggalkan Dito yang masih berteriak memanggil namanya. Matanya menatap ke arah Bu Risa dan Anggi yang menguping pembicaraannya dan Dito sedari tadi. Sarah melihat ke arah Bu Risa yang tampak mengisyaratkan sesuatu dengan mulutnya.


"SKAK MAT." Ucap Bu Risa menggerakkan bibirnya tanpa suara.


Melihat gerakan bibir Bu Risa, Sarah kini mengerti apa yang terjadi. Semua ini akal bulus wanita tua itu. Dia menjebak Sarah dalam perangkapnya ketika Sarah lengah. Berarti foto itu mungkin diambil oleh pria misterius yang membuntuti mereka kemarin? Dan berarti yang menyuruh pria itu adalah Bu Risa?


Sarah kalah. Ia kalah telak dan tak akan memperjuangkannya lagi. Sudah cukup semua penderitaan yang ia alami. Ia lelah terus menerus merasa tersiksa. Ia lelah terus menerus merasa sendiri padahal suaminya ada di rumah yang sama. Dan ia lelah harus terus menerus bergelut dan bertarung untuk dirinya sendiri.


Rumah yang ia tinggali ini bukan dan tidak akan pernah menjadi rumah baginya. Tempat ini adalah medan perang dimana setiap orang selalu menyerang dan menjatuhkan Sarah. Tempat ini adalah neraka yang terus menerus menyiksa batin Sarah. Jadi untuk apa ia bertahan tinggal disini? Hanya demi haknya sebagai seorang istri? Yang bahkan suaminya saja tidak mampu memberikan hak itu kepadanya? Sudah, Sarah tidak akan menjadi keledai dungu yang diam saja. Lebih baik ia melepaskan ikatan ini. Ikatan yang hanya menyiksanya dan membuat dadanya sesak di setiap tarikan nafasnya.


Sarah masuk ke kamarnya dan mengambil kopernya. Dengan asal-asalan ia memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper itu. Barang-barang lain miliknya ia taruh ke dalam tas besar lainnya. Dalam sekejap, kamar yang awalnya menjadi tempat berlindung Sarah kini telah bersih. Seperti kamar tak berpenghuni.

__ADS_1


Sarah melangkah keluar kamar dan ia melihat dua wanita ular itu berdiri di hadapannya. Sarah menghampiri Anggi. Ia diam sejenak menatap Anggi. Sarah mengangkat tangannya. Anggi mengelak karena mengira Sarah akan menamparnya. Tapi Sarah malah menjabat tangannya.


Anggi bingung.


"Selamat, Nggi. Kamu pemenangnya. Kamu bisa ambil Mas Ditomu untukmu. Sepenuhnya. Seluruhnya buat kamu." Ucap Sarah tajam.


"Aku minta kamu sekarang jadi wanita yang baik. Kamu ga perlu lagi jadi wanita licik kaya selama ini. Udah ga ada lagi yang akan ngerebut Dito dari kamu." Sambung Sarah.


Sarah berjalan meninggalkan kedua wanita itu. Ia hendak pergi meninggalkan rumahnya namun ia harus melewati ruang tamu terlebih dahulu. Dan itu berarti bertemu dengan Dito.


"Mau kemana kamu?" Tanya Dito menahan tangan Sarah.


"Aku mau pergi. Aku ga mau lagi tinggal di neraka ini. Untuk apa aku tinggal sama suami yang ga akan pernah melindungi aku? Suami yang bahkan ga percaya sama aku! Suami ga guna kaya kamu!" Seru Sarah.


Dito masih menahan Sarah agar tidak pergi.


"Lepasin aku. Kamu mau aku mati disini?" Tanya Sarah tajam.


Dito melepaskan tangan Sarah.


"Aku bakal kirim surat cerai ke rumahmu dalam waktu dekat. Selamat Dito, sekarang kamu bisa jadi suami Anggi sepenuhnya. Dan maaf, aku ga bisa lagi nahan semua ini sendirian." Ujar Sarah.


"Maksudmu?" Tanya Dito bingung.


"Kamu tunggu aja apa yang terjadi selanjutnya." Ancam Sarah.


Sarah melangkah keluar meninggalkan rumah itu. Neraka dunia yang mengurungnya selama hampir dua tahun ini. Tempat yang sudah memporak-porandakan hidupnya dan mengacaukan semua kebahagiaan miliknya. Ah, mungkin bukan salah rumahnya tapi memang manusia yang ada di dalamnya adalah keturunan iblis?


Dito hanya memperhatikan punggung Sarah yang menjauh dan kemudian menghilang. Setelah sosok itu pergi, barulah penyesalan datang ke dalam hati Dito. Namun semuanya sudah terlambat. Kayu yang dipaku tidak akan hilang bekasnya meskipun pakunya sudah dicabut. Piring yang pecah tidak akan kembali utuh meski sudah di lem. Begitu juga dengan hubungan mereka. Sudah hancur dan tidak akan kembali seperti semula lagi.


...****************...


Sarah memacu mobilnya cepat entah kemana. Hingga akhirnya mobil itu berhenti dengan sendirinya entah dimana karena kehabisan bahan bakar. Sarah terdiam di dalam mobil. Tangisnya yang selama ini ia tahan, yang tidak ia biarkan menetes sedikitpun dihadapan ketiga manusia keji itu, akhirnya pecah juga. Sarah menangis sejadi-jadinya.


Entah apa yang ia tangisi. Kehancuran hubungannya? Tapi hubungannya sudah lama hancur bukan? Atau mungkin rasa kecewa Sarah karena suaminya menuduhnya melakukan perbuatan hina itu? Perselingkuhan dengan Elton? Sarah pun tidak mengerti. Mungkin rasa tangis ini adalah timbunan dari sakit hati dan luka yang selama ini ia pendam.


Sarah tidak sanggup lagi. Ia butuh seseorang untuknya bersandar saat ini. Ia tidak sanggup jika harus merana sendirian lagi. Dan hanya satu orang yang terlintas di pikirannya saat ini. Ia langsung menelepon orang itu. Hanya perlu waktu beberapa detik bagi Sarah untuk mendapatkan jawaban dari orang itu. Tidak seperti saat ia menelepon Dito yang bahkan seringkali tidak diangkat.


"Halo, Sarah?" Tanya si penelepon.


Sarah menangis tergugu. Susah sekali mulutnya untuk mengeluarkan kata-kata namun akhirnya ia berhasil berucap diantara isak tangisnya.


"Aku butuh kamu, El."

__ADS_1


__ADS_2