
"Sar, aku mandi duluan ya. Panas banget ini badanku." Jawab Dito begitu mereka tiba di dalam cottage yang mereka sewa.
Sarah hanya mengangguk sambil melambaikan tangannya. Memberi isyarat agar Dito mandi duluan. Matanya fokus pada televisi yang ada di depannya. Memilih-milih tayangan apa yang akan ia tonton malam ini. Karena Sarah yakin 100 persen tidak akan terjadi apa-apa antara dia dan Dito.
Tak lama kemudian, Dito keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian.
"Heran, kok panas banget sih padahal barusan kelar mandi." Kata Dito melepas kembali kaosnya karena gerah.
"Iya, aku juga gerah banget dari tadi. Cuacanya kali Dit." Jawab Sarah sambil mengibaskan pakaiannya agar udara masuk ke dalamnya.
"Eh handphoneku mana? Tadi aku titip di tasmu kan?" Tanya Dito mencari handphonenya.
Sarah berdecak kesal. Pasti Dito mau menelepon Anggi semalam suntuk. Sarah lalu mengambil tasnya dan mencari ponsel Dito. Matanya terbelalak kaget tidak menemukan benda yang ia cari di dalamnya.
"Ga ada Dit!" Seru Sarah seraya menumpahkan seluruh isi tasnya ke kasur.
"Serius Sar?" Tanya Dito panik.
"Iya! handphone aku juga ga ada!" Sarah bertambah panik karena ia juga tidak menemukan miliknya.
"Sialan! Handphone kita dicopet atau gimana ini? Siapa yang terakhir pegang tas kamu?" Tanya Dito.
Sarah mengingat-ingat apa yang mereka lakukan sejak pagi hingga malam tadi. Dan ia baru ingat, ibu mertuanya mengambil tas Sarah saat ia menyuruh mereka berdua berfoto di depan restoran.
"Mama, Dit." Jawab Sarah mengingat semuanya.
Dito langsung mencoba menelepon ponselnya. Dan benar saja, suara ibunya terdengar di ujung telepon menyambutnya dengan nada ceria.
"Iya kenapa, Nang?" Tanya Mama Dito tanpa rasa berdosa.
"Handphone aku sama Sarah ada di Mama? Mama yang ambil?" Tanya Dito penuh selidik.
Wanita itu tertawa terbahak-bahak.
"Iya lah, biar waktu berduaan kalian malam ini ga keganggu. Udah ya, Mama ga mau ganggu kalian juga. Selamat malam anak Mama!" Ucap Mama Dito terdengar bahagia.
__ADS_1
Dito kesal. Bagaimana dia akan menghubungi Anggi kalau handphonenya saja tidak ada bersamanya.
"Sialan! Handphone ga ada, mana disini panas banget lagi!" Gerutu Dito kesal.
"Udah, daripada ngedumel mending nonton TV sana. Aku mau mandi dulu." Ujar Sarah sambil berlalu meninggalkan Dito.
Dito menggonta-ganti channel yang ada di hadapannya namun ia tidak bisa fokus pada apa yang ada di hadapannya. Tubuhnya terasa panas dan otaknya terus berkelana. Entah kenapa malam ini gairahnya meningkat drastis seiring tubuhnya yang terasa semakin panas.
Tak lama terdengar jeritan dari kamar mandi.
"Sarah? Kenapa?" Tanya Dito menghampiri pintu kamar mandi.
"Engga, ga apa-apa Dit." Jawab Sarah ragu.
"Buka pintunya, Sar. Aku takut kamu kenapa-kenapa." Teriak Dito memaksa.
"Engga, beneran ga apa-apa. Kamu balik nonton aja!" Sarah berteriak dari dalam kamar mandi.
"Buka sekarang Sarah. Atau aku dobrak pintunya!" Dito memerintahkan Sarah. Jujur Dito panik. Ia khawatir Sarah terjatuh tapi ia sungkan meminta bantuan Dito. Kalau Mamanya tahu, pasti Dito akan ada dalam masalah.
Pintu kamar mandi lalu terbuka. Dan Dito terbelalak melihat Sarah yang ada di dalamnya.
...****************...
"Ini semua kerjaan Mama, Dit." Jawab Sarah pelan.
Tapi kata-kata Sarah sudah tidak digubris lagi oleh Dito. Ia berjalan menghampiri Sarah yang tampak ragu. Gairahnya sudah berada di ujung kepala sedari tadi dan Dito sudah sangat terbakar dalam nafsu birahinya.
Dito memulai permainannya yang begitu menggebu. Ia seperti menemukan sebuah oasis yang dulu sangat sering ia kunjungi dan nikmati. Rasa rindu dan gairah bercampur menjadi satu. Mengirim Dito pada birahi yang membutakan akal sehatnya.
Tak seperti biasanya, entah mengapa kali ini Sarah juga sama antusiasnya dengan Dito. Seolah ada keran tersumbat yang kini akhirnya dapat mengalir lancar, Sarah mengimbangi dan bahkan beberapa kali menyetir Dito dalam permainannya. Sarah merasakan kenikmatan yang ia rindukan dan tidak akan melepaskannya begitu saja malam ini.
Semalam suntuk mereka bergumul dan menari dalam nafsu yang membakar tubuh dan akal sehat mereka. Seperti tanpa rasa lelah, keduanya terus menerus berkejaran dan berulang-ulang mencapai puncaknya dalam semalam. Permainan yang brutal dan tak kenal ampun namun keduanya seperti gila dengan satu sama lain. Dari jam 11 malam hingga dini hari, hanya suara tubuh keduanya yang bergesekkan dan lenguhan sensual dari mulut Sarah dan Dito yang memenuhi ruangan itu.
Debur ombak di laut bagaikan musik latar yang mengiringi petualangan cinta mereka. Suaranya terdengar nyata namun sayup-sayup tanpa menenggelamkan betapa sensualnya ******* Sarah. Malam itu, baik Sarah dan Dito baru menyadari betapa besarnya rasa rindu mereka untuk berada di pelukan satu sama lain.
__ADS_1
...****************...
Paginya Sarah terbangun dan mendapati Dito yang tidur di pelukannya dengan kepala yang terbenam di dadanya. Sarah tersenyum lemah sembari mengusap wajah pria di hadapannya ini. Betapa rindunya ia menatap wajah yang tertidur pulas ini.
Dulu, ini adalah pemandangan yang Sarah amat sukai setiap pagi. Melihat Dito terlelap dalam mimpinya sembari mendengkur halus. Pria yang kemarin tampak sangat asing baginya, kini terlihat kembali seperti Dito yang ia kenal selama 10 tahun lebih. Tanpa sadar Sarah menitikkan air matanya. Menyesali keputusannya untuk menyatukan Dito dan Anggi.
Karena langkahnya yang salah inilah dunianya berubah 180 derajat. Kekasih hati yang dulu selalu menemani dan mendekapnya hangat kini berpaling pada wanita lain di depan matanya. Dan wanita lain itu juga tampak enggan berbagi apalagi melepas kekasih hatinya kembali.
Betapa bodohnya aku.
...****************...
Hari itu juga, pukul 10 pagi, Mama dan Papa Dito bersama Dito dan Sarah mengakhiri liburannya di Pantai Ora. Sarah senang sekali sudah bisa melepas stress yang selama ini menggelayuti tubuhnya. Entah karena pekerjaan ataupun karena beban kehidupan, menyimpan stress itu memang terbukti tidak baik untuk tubuh.
Terdengar suara ketukan dari arah pintu cottage yang Sarah dan Dito tempati.
"Iya?" teriak Sarah menanyakan si pengetuk pintu.
"Ini Mama, Nduk. Udah siap belum? Kita mau pulang sebentar lagi!" seru ibu mertuanya dari luar.
Sarah berjalan ke arah pintu. Sial! Pegal sekali rasanya. Segila itukah permainan yang ia dan Dito lakukan semalam? Bahkan sampai pagi ini pahanya masih terasa pegal seperti habis squat 1000 kali di gym!
"Dito mana?" tanya ibu mertuanya saat Sarah membuka pintu.
"Masih tidur, Ma." jawab Sarah sambil menunjukkan Dito yang masih bergumul dalam selimutnya.
"Kayanya kecapean banget ya semalem?" tanya ibu mertuanya sambil tersenyum.
"Maksud Mama?" tanya Sarah masih tidak mengerti.
"Jamu yang Mama kasih semalem kayanya manjur ya." ibu mertuanya masih tampak terus menggoda Sarah.
Sarah berdecak mengerti. Semuanya menjadi gambaran yang lengkap. Awalnya ia kira rencana ibu mertuanya hanyalah mengajak mereka liburan disini dan memberikan Sarah baju seksi untuk menggoda anaknya. Hanya sebatas itu. Sarah tidak pernah menyangka bahwa mereka berdua akan dicekoki jamu penambah stamina. Pantas saja semalam mereka begitu menggebu seperti tanpa kenal lelah.
"Mama!!!" teriak Sarah dengan wajah yang memerah. Ia malu karena melihat senyum ibu mertuanya yang merasa menang.
__ADS_1
"Udah, bangunin dulu Dito. Nanti baru kita pulang. Hahaha!" seru ibu mertuanya sambil meninggalkan Sarah yang sangat ingin melompat ke laut untuk menyembunyikan rasa malunya.
Tawa Mama Dito yang terbahak-bahak bahkan masih terdengar di telinga Sarah. Astaga, Sarah tidak bisa membayangkan betapa memerahnya wajahnya sekarang