Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Kebahagiaan Terbesar Sarah


__ADS_3

Dua hari yang lalu, keputusan atas gugatan cerai Sarah kepada Dito akhirnya keluar. Palu diketuk dan hasilnya sudah sah. Sarah dan Dito bukan pasangan suami istri lagi. Sungguh Sarah tidak ingin ada dendam yang tertinggal karena itu ia mengakhiri pertemuannya dengan berjabat tangan. Sarah hanya berharap kehidupan mereka masing-masing kini menjadi lebih baik dan bahagia.


Seperti biasa, malam itu Sarah juga sedang berbicara dengan Elton melalui panggilan video.


"Eh ngomong-ngomong tadi siang aku abis periksa ke dokter El." Kata Sarah.


"Oh iya? Terus apa kata dokter?" Tanya Elton antusias.


"Katanya kemungkinan bayiku bakal lahir kurang lebih seminggu lagi." Sarah melanjutkan.


Elton tersenyum bahagia mendengar kabar baik itu.


"Tapi El..." panggil Sarah ragu.


"Kenapa, Sarah?" Tanya Elton penasaran.


Sarah menggeleng.


"Engga, ga jadi." Jawab Sarah mengurungkan niatnya.


Tapi Elton sudah terlanjur penasaran.


"Kenapa? Ayo cerita sama aku, kamu ada masalah apa?" Elton mengulang kembali pertanyaannya.


"Kamu bisa ga dateng ke Semarang waktu aku lahiran? Tapi ga usah dipikirin, El. Aku tahu kamu sibuk kok. Jadi aku maklum." Ucap Sarah buru-buru melarang Elton untuk memaksakan dirinya.


Elton sangat bahagia mendengarnya. Sungguh ia merasa hatinya mengembang dipenuhi kebahagiaan karena wanita yang ia cintai mengharapkan kehadirannya. Betapa ia merasa bahagia mengetahui Sarah membutuhkan kehadirannya. Dan itu berarti Elton mulai menjadi bagian penting dalam hidup Sarah.


Tapi sialnya, Elton baru ingat kalau minggu depan adalah hari paling sibuk dalam kariernya. Mengapa tidak? Minggu depan adalah hari promosi jabatannya. Hari dimana Elton akan resmi diangkat jadi kepala cabang. Astaga! Sekarang Elton sungguh berada dalam posisi yang dilematis.


"El? Udah kalo kamu ga bisa, ga usah terlalu dipikirin El. Aku ngerti kok kamu sibuk. Lagian disini kan ada Mama sama Baim juga." Kata Sarah berusaha mengusir rasa khawatir Elton.


"Iya, Sarah. Aku minta maaf banget, aku ga bisa janji ya. Tapi nanti kalau aku ada waktu, aku pasti bakal ke Semarang buat nemenin kamu." Ucap Elton penuh sesal.


Sarah membalasnya dengan senyuman yang menurut Elton adalah senyuman paling indah di dunia.


"Iya, ga apa-apa, El."

__ADS_1


...****************...


Sejak pagi, Elton sudah sangat sibuk mengurusi promosi kenaikan jabatannya. Segala ***** bengek administrasi dan birokrasi yang harus diselesaikannya terasa seperti tidak kunjung selesai. Belum lagi hari persalinan Sarah yang semakin dekat, membuat Elton semakin gundah.


TING!


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Elton. Dari Sarah.


Hari ini aku udah masuk rumah sakit, El. Mungkin besok atau lusa aku bakal lahiran. Doain aku dan bayiku sehat ya.


Bahkan tanpa diminta pun, setiap hari Elton selalu meminta Tuhan untuk melindungi Sarah dan bayinya. Karena kedua insan itu sekarang adalah prioritas Elton setelah ibunya. Bahkan kebahagiaan mereka lebih penting dibandingkan kebahagiaan Elton sendiri. Elton mengetikkan balasan pesan itu.


Pasti dong. Aku akan selalu doain kamu dari sini ya.


Elton tersenyum senang. Pasti Sarah berpikir kalau Elton tidak akan bisa menemaninya di hari yang penting itu. Namun yang Sarah tidak tahu adalah Elton sudah menyiapkan kejutan untuknya.


"Pak Elton, pengajuan cuti Bapak sudah di acc. Kira-kira kalau boleh tahu, kenapa tiba-tiba Bapak minta cuti ya, Pak?" Tanya Miranti, sekretaris Elton.


"Ada hal penting yang saya harus lakuin." Ucap Elton.


Sebenarnya begitu mendengar bahwa Sarah akan melahirkan seminggu lagi, Elton berusaha mati-matian agar ia bisa berangkat ke Semarang dan hadir menemani Sarah. Karena itu ia begitu sibuk selama seminggu ini. Ia harus menyelesaikan urusan promosi jabatannya, upacara serah terima jabatan, dan akhirnya mendapatkan cuti. Tapi semua itu sepadan asalkan Elton bisa bersama Sarah.


Elton menyalakan ponselnya. Sebuah pesan dari Sarah masuk.


El, kemungkinan aku bakal lahiran jam 8 malam hari ini. Doain semuanya lancar-lancar aja ya.


"Apa? Jam 8 malem? Sialan, gara-gara delay aku jadi telat banget sampenya!" Seru Elton kaget.


Ia melihat jam tangannya. Pukul 7.15 malam. Dengan sigap Elton langsung memesan taksi yang akan mengantarnya ke rumah sakit tempat persalinan Sarah dilakukan. Ia bahkan tidak terpikir untuk mencari hotel dan beristirahat sejenak. Sekarang yang ada di pikirannya hanyalah ia harus menemani Sarah melewati masa gentingnya.


Pukul 7.45 taksi itu berhasil mengantar Elton ke rumah sakit. Dengan tergopoh-gopoh Elton berlari ke depan ruang operasi untuk menunggu proses persalinan Sarah selesai. Untungnya barang bawaan Elton hanyalah sebuah tas ransel di pundaknya jadi ia dapat bergerak dengan cepat.


Elton tiba di depan ruang operasi. Ia melihat nama Sarah tertulis di kolom pasien yang tertempel di depan pintu. Elton tidak bisa menghilangkan kepanikannya. Ia berkali-kali kulur kilir karena cemas dan khawatir dengan keadaan Sarah.


Tiba-tiba seorang wanita yang tampaknya berusia 50an datang menghampirinya. Elton mengenal wanita itu karena Sarah pernah mengenalkannya melalui panggilan video. Wanita yang mirip dengan Sarah itu adalah ibunya.


"Nak Elton?" Tanya Mama Sarah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


Elton tersenyum dan langsung mencium tangan wanita itu.


"Iya, Bu. Saya Elton." Ucap Elton memperkenalkan dirinya.


"Kamu beneran dateng kesini, Nak? Dari Ambon? Kata Sarah kamu lagi sibuk jadi ga bisa dateng." Ucap Mama Sarah.


Elton hanya tertawa malu. Bagaimana mungkin ia memberi tahu ibu Sarah bahwa Sarah adalah orang yang sangat penting baginya sehingga apapun yang Sarah minta pasti akan Elton penuhi saat itu juga. Ah rasanya sesuatu seperti itu lebih baik Elton simpan sendiri dalam hati.


Seperti menangkap kegelisahan di hati Elton, Mama Sarah menawarkan sesuatu pada Elton.


"Kamu mau masuk ke dalam? Kamu mau nemanin Sarah?" Tanya Mama Sarag berhati-hati.


Elton terkejut mendengarnya.


"Memangnya boleh Bu?" Tanya Elton bingung.


Mama Sarah membalasnya dengan senyuman. Ternyata senyuman indah yang selalu Elton sukai dari Sarah adalah warisan dari ibunya.


"Boleh, kok. Ayo sini ikut Ibu masuk. Tapi jangan takut ya nanti." Canda Mama Sarah sambil menggandeng Elton masuk ke dalam ruang operasi.


Setibanya di dalam ruang operasi, hati Elton terasa nyeri melihat Sarah yang sangat kesakitan. Betapa besar pengorbanan seorang ibu demi anaknya. Termasuk menahan rasa sesakit ini sendirian. Elton berjalan menghampiri Sarah dan berdiri di sisinya. Mata Sarah seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"El... kamu... dateng?" Ucap Sarah terbata-bata di antara erangan sakitnya.


Elton mengangguk.


"Makasih ya, El. Makasih buat semuanya." Ucap Sarah sambil tersenyum lemah.


Elton menggenggam tangan kanan Sarah dengan lembut. Menciumnya dengan sangat hati-hati. Tangan kanannya menyibakkan rambut Sarah dari keningnya yang sudah basah karena keringat dingin.


"Aku yang makasih sama kamu, Sarah. Makasih karena udah minta aku nemanin kamu." Ucap Elton lembut.


Matanya menatap tulus ke arah Sarah yang tampak sangat kesakitan.


"Kamu jangan takut, aku ada disini buat kamu. Kamu pasti bisa ngelewatin ini semua, Sarah." Kata Elton menyemangati Sarah. Kedua tangannya menggenggam lembut telapak tangan Sarah sambil mengusap-usap punggung tangannya pelan.


Sarah menatap Elton dan membalasnya dengan senyuman.

__ADS_1


"Aku pasti bisa, El."


__ADS_2