
Sarah, Dito, dan Ansel berjalan keluar dari wahana bianglala. Wajah Ansel sumringah bahagia. Ia langsung berlari menghampiri Elton dan memeluknya erat.
"Papa!" Seru Ansel bahagia.
Elton langsung mengangkat Ansel ke dalam pelukannya dan mencium kedua pipinya.
"Papa papa!" Seru Ansel seperti hendak menceritakan sesuatu.
"Iya kenapa, Ansel sayang?" Tanya Elton lembut.
"Sekarang Ansel punya dua Papa loh! Papa Elton sama Papa Dito!" Ucap Ansel senang.
Elton menatap Sarah dan Dito yang mengangguk. Seolah mengerti, Elton langsung tersenyum dan mencubit pelan pipi Ansel dengan gemas.
"Keren kan Ansel bisa punya dua Papa?" Tanya Elton.
Ansel mengangguk penuh semangat dan kembali berlari mengajak Elton membeli gulali.
Dito tersenyum simpul melihat Ansel begitu bahagia bersama Elton. Mulai sekarang Dito akan melepaskan keegoisannya. Ia rela Sarah dan Ansel hidup bahagia bersama Elton. Dito percaya Elton bisa menjaga Ansel bahkan lebih baik daripadanya.
"Makasih ya, Sar udah buat Ansel nerima aku." Ucap Dito tulus.
"Iya, Dit." Ucap Sarah sambil mengangguk.
"Aku pulang ya, kasian Anggi dan Deo. Mereka pasti khawatir sama aku." Pamit Dito.
Dito melangkah meninggalkan Sarah yang hanya menatapnya.
"Dit!" Seru Sarah memanggil Dito.
Dito menoleh. Bertanya-tanya apa yang mau dikatakan Sarah.
"Kamu bisa jemput dan ajak main Ansel sekali-kali kalo kamu mau." Ucap Sarah sambil tersenyum.
Bibir Dito merekah. Senyumnya sumringah menghiasi wajahnya. Dito mengangguk penuh semangat bagaikan anak kecil yang mendapatkan cokelat favoritnya. Sarah hanya dapat memperhatikan Dito yang berjalan menjauhinya. Selangkah demi selangkah hingga akhirnya Dito menghilang dalam kerumunan manusia.
Aku senang kamu bisa mengerti, Dit.
...****************...
Sarah tersenyum menatap pegunungan di depannya. Bulan madunya dengan Elton di Selandia Baru sangatlah indah. Pemandangannya indah, suasananya indah, dan bahkan hidupnya pun kini terasa indah. Tiba-tiba seseorang memelum Sarah dari belakang.
"El?" Tanya Sarah.
__ADS_1
"Hmmm?" Balas Elton sambil membenamkan hidungnya di rambut Sarah.
"Kamu suka bulan madu kita, Sayang?" Tanya Elton.
Sarah mengangguk. Apa lagi yang bisa ia minta selain ini? Rasanya semua kebahagiaan sudah ia dapatkan sekarang dan Sarah tidak ingin meminta lebih. Pernikahannya dengan Elton berjalan lancar. Ibu Elton pun sangat menyayangi Sarah. Keluarga Sarah dan keluarga Dito sangat menerima Elton sebagai anggota keluarga barunya. Ansel sangat lengket dan tidak bisa lepas dari Elton. Dan Dito sudah bahagia dengan Anggi dan Deo. Tidak terlintas sedikitpun di kepala Dito untuk mengusik hidup Sarah lagi. Sesekali Dito akan menjemput Ansel dan mengajaknya bermain bersama Deo.
"Makasih ya, El." Ucap Sarah sambil memutar tubuhnya dan menghadap Elton.
"Makasih untuk apa?" Tanya Elton bingung.
"Karena kamu udah ada di sampingku terus selama ini. Karena kamu engga pernah lari dan ninggalin aku. Dan karena kamu udah mau bersabar nungguin aku sampe sekarang. Kayanya makasih aja ga mungkin cukup deh buat ngungkapin perasaan aku ke kamu." Ucap Sarah sambil menatap Elton dalam-dalam.
Elton tertawa. Tidak pernah ia mendengar Sarah memujinya sebanyak ini.
"Kamu ingat waktu kita pertama kali ketemu?" Tanya Elton.
Sarah mengangguk. Tangannya masih mengelus pipi Elton. Entah sejak kapan rasa cintanya pada Elton menjadi sangat besar hingga melepaskan pria ini dari pelukannya saja Sarah tidak mau. Atau mungkin rasa cinta ini sudah ada sejak dulu? Sejak pertama kali Elton mengusap air matanya di mobil?
"Ingat kok. Kenapa emangnya?" Sarah bingung.
"Itu pertama kalinya aku jatuh cinta sama kamu. Sejak pertama kali kita ketemu, aku udah mantap untuk mencintai kamu seumur hidupku, Sayang."
Sarah tidak percaya. Pria setampan dan sesempurna Elton rela menghabiskan hampir lima tahun hanya untuk menunggu Sarah siap membuka hatinya?
"I love you." Bisik Sarah.
Elton mendengarnya. Namun Elton ingin sekali menggoda Sarah karena ini pertama kalinya ia mendengar Sarah mengatakan tiga kata itu.
"Apa tadi kamu bilang, Sayang?" Goda Elton lagi.
"I love you!" Ucap Sarah malu-malu.
"Apa? Aku ga denger!" Ucap Elton sambil menempelkan telinganya di dekat bibir Sarah.
"I love you, Eltonku Sayang!" Ucap Sarah sambil mencium pipi Elton.
Elton terhenyak. Gerakan mendadak dari Sarah seolah membuat saraf-saraf di kepalanya putus karena tersipu malu. Semburat kemerahan muncul di pipinya. Bukan hanya itu saja. Ini pertama kalinya Sarah memanggil Elton dengan sebutan Sayang! Setelah bertahun-tahun memanggil Elton dengan sebutan "El", kini panggilan itu berubah menjadi Sayang. Ini adalah hari yang sangat baik dan menakjubkan bagi Elton!
Lalu muncul sebuah ide nakal di kepala Elton.
"Tadi kamu bilang makasih ke aku ga bakalan cukup ya, Sayang?" Tanya Elton dengan senyum nakal.
"Hah? Apaan?" Ucap Sarah panik.
__ADS_1
"Kalo gitu, aku mau minta sesuatu yang lebih dari makasih itu." Ucap Elton tertawa sambil menggendong Sarah masuk kembali ke kamar.
Selama semalam suntuk mereka berdua terbenam dalam gelora asmara yang menggebu-gebu. Seolah-olah akhirnya mereka berdua tiba pada tempat yang mereka tuju. Udara dingin Selandia Baru tidak dapat mengalahkan panasnya cinta Elton dan Sarah, si pengantin baru. Keduanya tenggelam dalam hasrat dan kebahagiaan.
Akhirnya Elton dan Sarah sama-sama mencapai garis akhir dari penantian mereka. Berlabuh di pelukan satu sama lain. Sebuah hubungan antara dua orang yang saling memanggil sebagai belahan jiwa.
...****************...
"Sayang, gimana hasilnya?" Tanya Elton kepada Sarah dari luar kamar mandi.
Sudah 15 menit lebih Sarah berada dalam kamar mandi. Awalnya karena beberapa minggu terakhir, Sarah mengalami perubahan di tubuhnya. Ia jadi sering mual, bolak-balik kamar mandi, dan bahkan menstruasinya tidak kunjung datang. Semua hal ini pernah Sarah rasakan saat hamil Ansel dan Sarah berpikir mungkin ia hamil lagi.
Dan sekarang disinilah Sarah, duduk di toiletnya sambil menunggu testpack yang ia pegang menunjukkan dua garis. Hatinya sungguh-sungguh berharap bahwa ia memang tengah mengandung buah hatinya dan Elton. Selain karena Sarah ingin memberikan seorang anak untuk Elton, Ansel terus merengek meminta adik.
"Ansel tu ga punya teman, Ma! Ansel mau adek biar Ansel punya teman di rumah!" Pinta Ansel yang hanya dibalas tatapan kaget oleh orang serumah.
"Gimana Sayang?" Tanya Elton lagi dari luar kamar mandi.
"Mama lama banget sih! Jawab dong Ma!" Seru Ansel yang juga menunggu bersama Elton.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Wajah Sarah sumringah dan menunjukkan testpack itu kepada Elton.
"Beneran? Kamu hamil?" Tanya Elton.
Sarah mengangguk.
Elton meloncat senang dan menggendong Sarah dengan bahagia. Impian terbesarnya telah terwujud yaitu memiliki anak bersama wanita yang paling ia cintai dan selalu ia puja.
"Papa! Gendong aku juga!" Teriak Ansel.
Elton tertawa dan langsung menggendong Ansel ke dalam pelukannya. Ketiganya menari-nari dalam kebahagiaan.
"Ansel bakal punya adik lagi loh!" Ucap Elton senang.
Mata Ansel terbelalak. Berbinar dengan kebahagiaan.
"Beneran Pa?! Yeay! Ansel mau punya adek lagi! Yeay!" Seru Ansel girang.
Sarah tertawa melihat keduanya. Hatinya penuh oleh rasa bahagia. Sungguh Sarah merasa sangat bersyukur atas kesempatan kedua yang ia dapatkan. Dulu ketika Dito berpaling darinya demi Anggi, ia merasa hidupnya sudah selesai. Tidak akan ada lagi kebahagiaan yang tersisa. Dan hanya ada kesedihan untuk selama sisa hidupnya.
Namun pemikiran itu berubah semenjak Elton datang dalam hidupnya. Seolah membawa angin segar, Elton datang bak pangeran berkuda putih yang menghibur Sarah. Dan Elton perlahan berubah menjadi tamengnya yang paling kuat. Yang melindungi Sarah dari segala kekecewaan dan luka. Dan bagai diberikan tombol reset, Sarah mendapatkan kesempatan kedua untuk memulai lembaran baru. Bersama orang-orang yang ia cintai dan mencintai Sarah. Setiap potongan hidupnya kini kembali pada tempatnya dan menjadi satu. Tidak ada hal lain selain rasa syukur di hatinya kini.
Terimakasih untuk semuanya, Tuhan.
__ADS_1