
Bu Risa duduk di teras depan rumahnya. Ia tampak menunggu seseorang karena sedari tadi ia terus mengecek teleponnya. Tidak butuh waktu lama, orang yang ditunggunya pun datang. Seorang pria kurus tinggi dengan wajah yang tampak seperti seorang pecandu narkoba.
"Kamu telat 5 menit, Malik." Ucap Bu Risa dingin.
"Maaf, Bu. Tadi saya isi bensin dulu." Jawab pria bernama Malik itu tertunduk.
"Saya kira kamu ga mau bantuin saya lagi. Ya itu berarti saya harus stop kirimin kamu obat itu lagi." Ancam Bu Risa tanpa takut sedikitpun.
"Maaf Bu, saya janji ga akan ulangin kesalahan ini lagi. Tolong Bu jangan distop kiriman obatnya, saya bisa gila Bu kalau ga minum obat itu." Ucap Malik panik dan terus memohon pada Bu Risa.
Bu Risa hanya berjalan meninggalkan Malik dan masuk ke rumah. Malik lalu mengikutinya dari belakang seperti anjing yang setia membuntuti tuannya.
"Saya mau kamu buka pintu ini." Titah Bu Risa sembari menunjuk pintu kamar Sarah.
"Kamu bisa buat kunci cadangannya sekarang?" Tanya Bu Risa kembali.
Malik tersenyum dengan percaya diri.
"Ibu jangan ngeraguin kemampuan saya. Kalo cuma buat kunci gini sih 5 menit aja selesai Bu." Jawab Malik yakin.
"Bagus kalo begitu, saya ga salah udah pilih kamu. Ayo, kerjain sekarang!" Bu Risa kembali memerintah Malik tanpa segan.
Sungguh, mungkin kecanduan obat-obatan sudah membuat otak pria itu tumpul. Bagaimana bisa ia begitu menurut pada Bu Risa yang hanya berukuran setengah tubuhnya? Seorang pria bertinggi 180 sentimeter tunduk pada wanita 50 tahun yang tingginya pun tidak sampai 155 sentimeter?
Tak perlu waktu lama, Malik dengan terampil mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya. Lima menit kemudian, sebuah kunci cadangan yang akan membuka kamar Sarah sudah jadi.
"Ini Bu, kunci cadangannya." Ucap Malik sambil menyerahkan sebuah kunci pada Bu Risa.
Wanita itu lalu mengambil kunci itu dari tangan Malik. Sebagai gantinya, ia memberikan Malik sebuah obat dalam bentuk sirup.
"Wah makasih banyak Bu, ini gratis kan ya?" Tanya Malik menerimanya dengan mata berbinar.
Bu Risa mengangguk dan mengibaskan tangannya. Mengisyaratkan Malik untuk segera pergi. Bagai anjing penurut, Malik pun langsung pergi meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
"Dasar anjing bego, dikasih obat batuk aja udah senang." Ucap Bu Risa sambil tertawa penuh kemenangan.
Ia merasa benar-benar hebat. Ternyata pekerjaannya bertahun-tahun sebagai juru catat seorang bidan memang bermanfaat sekali. Ia bisa mendapatkan obat-obatan bahkan yang berbahaya sekalipun. Mulai dari obat yang bisa membuat melayang seperti yang diminum Malik, hingga obat keras yang bisa meluruhkan kandungan dalam sekali minum. Apa yang tidak bisa wanita ini lakukan?
Ia menatap kunci yang ada di tangannya. Dengan kunci ini, banyak hal yang bisa ia lakukan. Salah satunya menghilangkan bayi di perut Sarah untuk selamanya. Bu Risa memasukkan kunci yang ia terima ke dalam lubang kunci kamar Sarah. Mencoba apakah kunci itu berfungsi dengan baik.
CKLEK
Pintu itu berhasil terbuka. Bu Risa tersenyum dengan penuh kemenangan. Ia melangkah masuk ke dalam kamar wanita yang sering ia panggil sebagai wanita mandul itu.
"Mulai sekarang, nasibmu ada di tanganku, Sarah."
...****************...
Akhir-akhir ini Sarah tampak lebih berseri dari biasanya. Mungkin karena pengaruh kehamilannya yang membuat ia terus merasa bahagia. Seolah-olah Sarah yang tertutup itu kini telah sirna dan kembali seperti dulu. Wajah Sarah tampak lebih segar dan berbinar. Dan Elton sungguh suka melihat Sarah yang seperti ini.
"Hai El! Kamu lagi makan apa?" Tanya Sarah menghampiri Elton yang sedang menyantap kudapan yang baru saja ia beli.
"Gado-gado. Kamu mau?" Tawar Elton sambil menyerahkan sendoknya.
Elton tertawa. Lucu sekali melihat wanita hamil di depannya ini sedang mengidamkan sesuatu.
"Yok, aku temenin nyari martabak." Ajak Elton langsung berdiri dari kursinya.
"Beneran? Tapi kamu kan lagi makan." Sarah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Matanya berbinar cerah mendengar ia akan segera makan martabak yang ia idamkan sejak pagi.
"Udah, nanti aku sambung lagi makannya. Yok kita pergi sekarang." Ajak Elton sembari mengambil jaket dan dompetnya.
Sarah meloncat kegirangan. Rasanya ia sudah bisa merasakan nikmatnya martabak di ujung lidahnya. Ia mengikuti Elton dari belakang sambil bersenandung riang.
Sarah dan Elton langsung pergi menuju restoran martabak yang terkenal di Ambon. Elton mengendarai mobilnya dengan sigap dan berhasil sampai hanya dalam waktu 15 menit. Belumlah mobilnya berhenti dengan sempurna di depan restoran martabak, tapi Sarah sudah membuka pintu dan melompat keluar. Ia berlari dengan cepat menuju restoran.
"Hati-hati Sarah!" Teriak Elton dari dalam mobil namun tidak digubris oleh Sarah.
__ADS_1
Setelah memesan dan menunggu beberapa menit, akhirnya dua martabak spesial yang mereka pesan sudah siap. Tanpa basa-basi Sarah langsung menyantapnya.
"Seenak itu martabaknya?" Tanya Elton melihat mata Sarah yang berkaca-kaca dan tampak akan menangis.
Sarah mengangguk bahagia. Semenjak hamil, emosinya menjadi 100 kali lipat berlebihannya. Bahkan hal kecil seperti martabak yang lezat ini pun bisa membuatnya menangis terharu.
Elton tertawa melihat tingkah Sarah yang berubah seperti anak kecil sejak kehamilannya. Dan sungguh, jika ia terus seperti ini maka Elton bisa makin terjebak dalam cinta bertepuk sebelah tangannya untuk Sarah. Tapi Elton sendiri pun tampak tidak keberatan dengan hubungan tanpa nama yang mereka jalani.
"Kamu udah bilang ke Dito soal kehamilanmu?" Tanya Elton kepada Sarah.
"Belum. Aku bingung mau ngabarinnya gimana. Setiap aku telepon Dito, pasti yang jawab operator. Kadang nomornya ga aktif, kadang juga sibuk." Gerutu Sarah kesal.
"Jadi rencana kamu gimana?" Elton bertanya kembali.
"Aku bakal nunggu sampai Dito pulang aja, El. Tiga minggu lagi dia pulang kok." Jawab Sarah yakin.
Sarah menyantap martabaknya dengan lahap hingga potongan terakhir. Lalu ia menegak air minum yang ia bawa dari rumah. Infused water. Ini juga menjadi kebiasaan baru Sarah semenjak hamil karena ia pernah membaca kalau buah-buahan sangat penting bagi ibu hamil. Makanya sekarang ia tidak pernah lepas dari infused waternya.
"Heh? Kok pahit banget infused waterku?" Celetuk Sarah bingung.
"Mungkin udah ga bagus lagi? Ganti aja udah." Jawab Elton.
"Eh ga mungkin. Wong aku baru buat semalem kok. Kebanyakan daun mint kali ya." Ucap Sarah mengabaikannya dan kembali meneguk air tersebut.
Selama kurang lebih satu jam, Sarah dan Elton akhirnya menyelesaikan makan siangnya. Sarah dan Elton hendak berjalan menuju mobil Elton namun tiba-tiba Sarah merasakan nyeri hebat di perut bagian bawahnya. Seperti ada ribuan jarum yang menusuknya berbarengan.
"Argh!!!" Seru Sarah sambil memegangi perutnya.
Elton menoleh ke arah Sarah dan ia sangat kaget melihat Sarah terjatuh kesakitan. Ia langsung berlari menghampiri Sarah.
"Sarah! Kamu kenapa? Mana yang sakit?" Tanya Elton panik.
"Perutku. Sakit banget." Jawab Sarah terbata-bata.
__ADS_1
Elton baru akan menggendong Sarah, namun kemudian tangannya menyentuh sesuatu yang lengket. Cairan kental yang mengalir membasahi kedua kaki Sarah. Matanya terbelalak begitu melihat cairan apa yang menempel di tangannya.
"Sarah, kenapa ada banyak darah di kakimu?"