Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Perceraian


__ADS_3

Sebuah surat gugatan cerai dikirim ke rumah Dito di Ambon. Kebetulan hari itu Dito sedang ada di rumahnya dan ia sendiri yang menerima surat itu. Tinjunya mengepal hingga buku jarinya memutih. Ia marah pada Sarah yang lancang dan berani mengambil keputusan ini.


"Sialan! Beraninya Sarah gugat cerai aku?! Setelah ia beberin semuanya ke Mama Papa dan sekarang ini?!" Teriak Dito penuh amarah.


"Apa ga cukup bagi Sarah ngeliat aku dibuang Mama Papa?! Kenapa dia harus berulah gini lagi?!" Dito meledak dalam amarahnya.


Anggi yang mendengar ledakan amarah suaminya langsung menghampiri Dito untuk menenangkannya.


"Mas tenang Mas! Kamu kenapa?" Tanya Anggi.


Dito menunjukkan selembar kertas itu ke hadapan Anggi. Anggi membacanya.


"Gugatan cerai? Mbak Sarah gugat cerai kamu Mas?" Tanya Anggi memastikan.


Dito hanya mengangguk kesal.


Hati Anggi meloncat girang melihat kertas di hadapannya itu. Akhirnya sebentar lagi ia dapat menjadi istri sah Dito satu-satunya. Persetan dengan kedua orangtua Dito yang tidak mau menerima Anggi sebagai menantunya. Yang Anggi inginkan hanyalah memiliki Dito seutuhnya. Dan sekarang impian itu akan terwujud sebentar lagi.


Ponsel Dito berbunyi. Sebuah pesan masuk ke dalamnya.


"Siapa Mas?" Tanya Anggi penasaran.


"Sarah." Jawab Dito singkat.


Dito membaca pesan yang dikirim oleh Sarah.


Aku dapet kabar kalau surat gugatan ceraiku udah kamu terima, Dit. Tolong cepat tandatangani biar urusan kita bisa cepat selesai dan Anggi bisa secepatnya jadi istri kamu yang sah.


Dito merasa amarahnya sudah berada di ujung kepala. Ia membantingkan ponselnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Anggi terhenyak dan memegang pundak Dito. Berusaha menyadarkannya dari kemarahannya.


"Mas! Tenang! Kamu harus ingat, memang ini yang kita mau kan? Dengan kamu cerai dari Sarah, Deo bisa jadi anak kamu yang sah secara hukum Mas! Kamu jangan cuma pikirin ego kamu Mas, kamu harus pikirin nasibku dan Deo!" Anggi mengingatkan Dito.


Dito terdiam dalam amarahnya. Ia begitu kesal. Egonya terluka karena Sarah menceraikannya begitu saja dan memilih meninggalkan Dito. Memang benar kata orang, ego seorang pria selalu lebih besar dari otaknya.


...****************...

__ADS_1


Sudah 3 bulan semenjak Sarah pulang dari Ambon dan kembali menetap di Semarang. Sekarang usia kandungannya sudah memasukki bulan ketujuh. Besok adalah sidang pertama perceraiannya dengan Dito. Tidak ada hal lain yang ia harapkan kecuali secepatnya terbebas dari tali kekang tak terlihat yang mengikatnya selama ini. Untuk masalah anak, entahlah apa yang selanjutnya akan terjadi. Tapi yang jelas Sarah yakin Sarah mampu menghadapi semuanya sendiri apalagi demi anaknya.


Tapi sungguh, di antara sekian banyak kemalangan yang menimpanya, Sarah masih merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Ia memiliki ibu dan adik yang sangat suportif dan mendukungnya. Bahkan sekarang Baim berubah sangat dewasa dan menjadi sosok yang sangat protektif dan selalu melindungi Sarah mati-matian. Jika ada sesuatu yang terjadi pada Sarah, maka Baim adalah orang pertama yang akan maju membelanya.


"Nanti kalo anakku lahir, aku bakal ga bisa perhatiin kamu terus loh, Im." Goda Sarah suatu hari saat ia tengah bersantai bersama Baim dan ibunya.


"Yo wis kalo Mbak ga mau perhatiin aku, nanti anakmu tak ambil aja. Biar anakmu lebih sayang sama aku daripada sama kamu." Ucap Baim tidak mau kalah.


"Kayanya anakku bakalan nyesal punya Om kaya kamu." Sarah kembali menggoda adiknya.


Baim melotot.


"Heh?! Nyesel gimana? Anakmu itu bakal punya Om sekeren aku toh Mbak. Ga mungkin nyesal dia. Nanti kalo udah lewat 40 hari aku ajak dia sunmori sama temen-temenku biar dia ketularan kerenku." Jawab Baim lagi.


Sarah hanya tertawa.


Bukan hanya Mama dan adiknya, bahkan kedua orangtua Dito pun masih menyayanginya seperti dulu. Terkadang Mama Dito akan datang hanya untuk mengajak Sarah jalan-jalan. Tidak jarang pula Sarah akan pergi bersama kedua mantan mertuanya itu. Entah untuk makan malam atau sekedar membeli perlengkapan untuk cucu mereka yang lahir sebentar lagi. Yang jelas kasih sayang mereka masih sama dan bahkan menjadi lebih besar dibanding sebelumnya.


Dan Elton? Elton pun masih perhatian dengan Sarah seperti dulu. Meskipun terpaut jarak yang sangat jauh, tapi Elton selalu berusaha untuk menjaga komunikasinya dengan Sarah. Setiap hari Elton selalu menyempatkan diri untuk menelepon Sarah melalui panggilan video. Memang benar, jika seseorang menganggap kamu adalah prioritasnya, maka ia akan selalu memiliki waktu untukmu.


"Hai cantik, gimana kabarmu?" Tanya Elton seperti biasa.


"Baik, El. Baik banget. Kamu gimana? Disana baik kan? Ga lupa makan? Ga sakit?" Tanya Sarah khawatir.


Elton tertawa. Rasanya memang indah sekali diperhatikan oleh wanita yang ia cintai walaupun perhatian itu hanya sebatas sebagai seorang sahabat.


"Baik kok, jangan khawatir sama aku. Aku bisa urus diriku disini." Ucap Elton.


"Eh, ngomong-ngomong sidang pertamamu besok kan, Sarah?" Tanya Elton kembali.


Sarah mengangguk.


"Doain ya El, semoga sidangnya lancar dan ga berlarut-larut. Biar cepat putus dan selesai." Kata Sarah.


"Semoga masalahmu cepat selesai ya, Sarah. Semangat dong buat besok! Pokoknya inget, aku selalu ada buat kamu! Kamu jangan ragu cerita sama aku kalo ada masalah." Pesan Elton kepada Sarah.

__ADS_1


"Nanti pacarmu marah sama aku loh kalo aku keseringan nelpon kamu, El." Balas Sarah.


Elton hanya membalasnya dengan tawa. Seandainya Sarah tahu, sejak pertama Elton mengenal Sarah, hanya ia satu-satunya wanita yang menempati hatinya. Hanya Sarah wanita yang Elton cintai. Yang membuat Elton bahkan rela memberikan seluruh hidupnya demi kebahagiaan Sarah. Bagaimana Elton bisa mencintai wanita lain kalau di hatinya sudah dipenuhi cintanya pada Sarah?


...****************...


Hari ini adalah sidang pertama perceraian Dito dan Sarah. Sarah sudah menunggu di pengadilan sejak jam 8 pagi padahal sidangnya baru akan dimulai jam 10 pagi. Sungguh ia berharap semuanya akan berjalan mulus tanpa masalah.


Mata Sarah lalu menangkap sosok seorang pria yang amat ia kenal. Pria yang sudah memporak-porandakan hidupnya. Yang mengubah pandangannya tentang cinta. Cinta pertama sekaligus pengkhianatan pertama bagi Sarah. Dan pria itu adalah Dito.


Dito menghampiri Sarah. Mulutnya tampak ingin mengatakan sesuatu namun ia mengurungkannya.


"Kenapa? Kamu mau bilang apa?" Tanya Sarah.


Langkah Dito terhenti. Ia kemudian menoleh ke arah Sarah.


"Ga ada." Ucap Dito singkat dan segera berlalu meninggalkan Sarah.


Di dalam hatinya, Dito mengutuk dirinya sendiri yang begitu pengecut hingga tidak mampu mengucapkan sesuatu sesederhana maaf. Kenapa bibirnya kelu melihat Sarah? Apalagi melihat Sarah yang tengah hamil tua? Padahal Dito yakin anak itu bukan anaknya. Seharusnya ia tidak perlu merasa iba kepada Sarah.


Pukul 10 pagi, sidang pertama mereka dimulai. Untunglah sidang itu berjalan tanpa hambatan karena baik Sarah dan Dito sama-sama kooperatif. Namun yang tidak mereka ketahui adalah sebuah drama yang akan terjadi setelah sidang pertama mereka.


Sarah dan Dito berjalan keluar ruang sidang. Namun betapa kagetnya Sarah melihat adiknya Baim duduk menunggunya di luar. Padahal Sarah sudah berpesan pada Mamanya agar tidak memberitahu Baim bahwa tanggal sidangnya hari ini. Sarah takut Baim bertemu dengan Dito karena ia masih memiliki dendam kesumat pada Dito.


Dan benar saja, apa yang Sarah takutkan benar-benar terjadi. Tepat di saat momen Baim melihat sosok Dito, emosi di matanya kembali menyala. Dengan beringas ia berlari ke arah Dito dan melayangkan pukulan ke wajah Dito. Dito tersungkur telak. Dua kali dan keduanya mendarat di pipi kanannya. Wajar saja, karena tubuh Baim saja berukuran 2 kali tubuh Dito.


"Im, udah toh. Jangan begini, Mbak minta tolong!" Seru Sarah memegangi Baim. Mencegahnya berbuat lebih jauh.


"Aku udah janji kan Mbak, aku bakal kasih dia pelajaran. Dan sekarang udah lunas." Ucap Baim santai.


"Kamu mestinya bersyukur, Dit. Kalo ga ada Mbak Sarah mungkin kamu udah masuk ICU sekarang!" Bentak Baim kesal.


Tapi Dito juga tidak membalas dan diam saja. Mungkinkah karena Dito juga merasa ia pantas dihajar seperti ini? Atas kesalahan yang ia perbuat pada Sarah? Karena bagaimanapun juga wajar jika Baim ikut merasa sakit hati melihat kakaknya diperlakukan sebagaimana ia memperlakukan Sarah.


Sarah segera meminta maaf pada Dito dan pamit untuk pulang. Dito hanya mengangguk dan melihat Sarah berjalan menjauh darinya. Mungkinkah ini bercerai adalah keputusan yang tepat?

__ADS_1


__ADS_2