Ikatan Yang Usang

Ikatan Yang Usang
Pahlawan


__ADS_3

Elton baru saja hendak menjemput Sarah ketika ia mengecek ponselnya dan ternyata sebuah pesan dari Sarah ada di dalamnya.


El, Dito tiba-tiba dateng kesini ngajak aku pergi buat ngomongin sesuatu. Kamu ga usah jemput aku ke resto ya.


Sialan! Elton lupa mengecek handphonenya karena ia terlalu asik bermain dengan Ansel. Pesan ini dikirim Sarah 30 menit yang lalu. Apa yang ada di kepala Dito sampai ia mendatangi Sarah ke restorannya? Sebenarnya apa yang mau dibicarakan Dito dengan Sarah hingga ia harus membawanya pergi ke tempat lain?


Elton khawatir, hatinya tidak tenang dan ia takut terjadi sesuatu oleh Sarah. Pria itu, Dito, bisa menjadi sangat gila jika menginginkan sesuatu. Sarah pernah bercerita bahwa dulu Dito sangat terobsesi dengan Sarah dan berkali-kali mendekati Sarah. Hingga akhirnya Sarah dan Dito berpacaran saat mereka kelas 3 SMA. Bukankah seingat Elton hal yang sama juga terjadi pada Anggi? Dito bahkan rela berbohong demi bisa tidur dengan Anggi kan? Mengatakan bahwa ia pria lajang tanpa kekasih agar Anggi dapat jatuh dalam pelukannya.


Kepanikan menguasai pikiran Elton. Ia khawatir wanita yang ia cintai berada dalam bahaya dan akan terluka. Elton mencoba menelepon nomor Sarah tapi gagal. Handphone Sarah mati dan itu tidak pernah terjadi sebelumnya.


"Pasti ada yang ga beres. Sarah ga pernah matiin handphonenya kalau lagi diluar sendirian." Ucap Elton.


Elton bergegas masuk ke mobil dan memacunya ke restoran Sarah. Namun sudah tidak ada siapapun disana. Baik Sarah maupun Dito.


"Pak, maaf saya mau tanya." Elton menegur satpam yang sering menjaga komplek ruko tempat restoran Sarah.


"Oh iya, ada apa Mas Elton?" Balas satpam itu akrab pada Elton.


"Bapak ada liat Sarah lewat sini ga Pak?" Tanya Elton panik.


"Oh Mbak Sarah ya, tadi kalau ga salah saya liat Mbak Sarah pergi naik mobil sama laki-laki satu ke arah sana, Mas." Jelas satpam itu sambil menujuk ke arah utara.


Elton langsung mengangguk dan mengucapkan terimakasih pada satpam itu. Dengan sigap Elton kembali ke mobil dan memacu mobilnya meniti sepanjang utara jalanan yang ditunjuk oleh satpam tadi. Mata Elton berkeliaran ke segala arah, mencari sosok Sarah ataupun Dito. Tapi tak juga ia temui dimanapun.


Setelah mencari selama 15 menit, akhirnya pencarian Elton menemukan titik terang. Ia melihat Dito masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di halaman sebuah kafe.


"Tapi kok Dito sendirian? Sarah dimana?" Elton bertanya pada dirinya sendiri.


Instingnya mengatakan ia harus mengikuti mobil Dito untuk menemukan Sarah. Karena itu ia mengikuti mobil hitam itu secara perlahan. Menjaga jarak aman agar Dito tidak mencurigainya. Tapi betapa terkejutnya Dito melihat mobil itu berbelok dan masuk ke sebuah hotel. Elton yakin seratus persen ada sesuatu yang salah dengan seluruh keadaan ini.


Elton memperhatikannya dari mobil. Dito turun dan menggendong Sarah yang tampak pingsan.

__ADS_1


"Sarah pingsan? Kok bisa? Jangan-jangan Dito ngasih sesuatu ke Sarah." Gumam Elton.


Sungguh rasanya hati Elton terbakar dalam amarah melihat Dito yang menggendong Sarah masuk ke dalam hotel. Tapi Elton tahu, terburu-buru mengejar Dito tidak akan membuat Dito jera dan malah akan lebih membahayakan Sarah. Elton menunggu dan menunggu. Setelah 15 menit menunggu, Elton turun dari mobil dan segera melabrak Dito ke dalam hotel tersebut.


Dan sungguh, apa yang dilihat Elton malam itu mungkin akan menjadi sesuatu yang sulit dihapus dari ingatannya.


...****************...


Sarah pasrah. Ia gagal. Ia gagal mempertahankan harga dirinya. Ia gagal melindungi dirinya sendiri. Dan bahkan ia gagal menjaga kepercayaan Elton padanya. Sementara Dito sibuk menggerayangi tubuhnya dengan kedua tangannya, Sarah hanya dapat menangis. Tubuhnya lemas dari ujung kepala hingga ujung kaki. Untuk bergeser pun sulit apalagi mau melarikan diri dari tempat itu.


"Maafin aku, El. Maafin aku..." ucap Sarah lirih sementara Dito masih meneruskan aksinya.


Tapi mungkin ini yang dinamakan takdir berkata lain. Setelah harapan Sarah tampak pupus, ia mendengar pintu kamar itu dibuka. Tepat sebelum Dito akan memulai perbuatan hinanya, sebuah teriakan penuh kemarahan terdengar dari arah pintu.


"Sarah!"


Sebuah pukulan mendarat telak di pipi Dito. Ia jatuh tersungkur dan meringis kesakitan. Sarah mengenal benar suara itu. Suara pria yang selalu ia dengar dengan nada ceria dan penuh kelembutan, kini terdengar sangat marah. Seolah-olah ada sejuta kemarahan yang terkonsentrasi pada suara itu.


"Astaga Sarah, apa yang terjadi?" Ucap Elton panik.


"El... maaf..." Sarah hanya dapat berkata lirih di antara tangisnya.


Elton menenangkan Sarah dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. Tangannya mengelus kepala Sarah sembari membisikkan kata yang sama berulang kali seolah itu sebuah mantra.


"Udah, ga apa apa. Sekarang ada aku disini."


Dito berdiri di tempatnya sambil mengerang kesakitan. Pukulan Elton tampak benar-benar keras dan membuat sudut bibirnya berdarah.


"Kalau lo masih sayang muka lo, jangan berpikir buat kabur, Dit. Ngehabisin lo itu masalah kecil buat gue." Elton memperingatkan Dito dengan tajam.


Dan tampaknya ancaman Elton sangat manjur. Siapa yang tidak takut jika diancam seseorang yang berukuran dua kali tubuhnya dan memiliki sabuk hitam beladiri? Mungkin hanya orang bodoh yang berani melakukannya.

__ADS_1


Elton geram, rasanya ingin sekali ia menghajar Dito habis-habisan sampai orang-orang tidak dapat mengenali pria itu lagi. Namun wanita yang ada di pelukannya, menarik lengan pakaiannya dengan sisa tenaganya sambil menggeleng lemah.


"Jangan El..." ucap Sarah pelan.


Dua kata singkat yang terlontar dari mulut Sarah mampu memadamkan api kemarahan Elton secara seketika. Jika kriptonite adalah kelemahan superman, maka Sarah adalah kelemahan Elton. Dan apapun yang diminta Sarah, Elton akan dengan buta langsung mengikutinya.


...****************...


Elton dan Dito duduk berhadapan dalam sebuah restoran. Hari sudah sangat larut, mungkin waktu sudah mencapai pukul 1 malam. Tapi urusan keduanya belum selesai juga. Sarah sendiri terlalu takut untuk melihat Dito. Pikirannya terus menerus terbayang kejadian traumatik yang menimpanya barusan sehingga Elton memintanya untuk menunggu di mobil sementara ia menyelesaikan masalah ini.


"Apa maksud lo ngelakuin semua ini, Dit?" Tanya Elton tegas.


Dito hanya diam. Elton menggebrak meja di hadapannya. Kesabarannya sudah habis dengan semua yang terjadi malam ini.


"Jawab brengsek!" Geram Elton.


"Gue cuma mau Sarah dan Ansel balik sama gue! Gue ga mau kehilangan mereka lagi, Ton!" Jawab Dito.


"Lo lupa kalo lo sendiri yang udah ngebuang mereka, Dit?! Lo sendiri yang buat mereka pergi dari hidup lo! Dan sekarang lo mau minta mereka balik?! Lo gila Dit!"


"Gue menyesal, Ton. Beneran. Please biarin Sarah dan Ansel balik sama gue!" Pinta Dito.


Elton mendengus kasar.


"Bukan gue yang berhak nentuin itu, Dit. Semua itu tergantung sama Sarah dan Ansel. Mulai sekarang, lo jangan pernah berani ganggu mereka berdua lagi! Ini pertama dan terakhir kalinya gue ngingetin lo. Kalo lo berani berulah lagi, mungkin gue ga bisa nahan diri gue buat ngehabisin lo, Dit." Ancam Elton.


Elton beranjak pergi dan meninggalkan Dito. Namun seolah teringat sesuatu, ia kembali menghampiri Dito.


"Dan please, move on dan fokus sama hidup lo sendiri, Dit. Sarah dan Ansel udah bahagia dengan hidup mereka sekarang, dan lo harusnya juga begitu." Kata Elton lalu meninggalkan Dito pergi.


Dito mengepalkan tangannya geram. Ia tidak akan membiarkan Elton mengambil Sarah dan Ansel dari hidupnya. Jika Elton pikir dia bisa memulai hidup baru dengan keluarga kecil milik Dito, maka Elton salah. Dito akan mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.

__ADS_1


"Tunggu aja lo. Gue akan ambil apa yang jadi milik gue."


__ADS_2