![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
"Yes! akhirnya aku bisa kabur dari si wajah datar," seru Cilla mengangkat tangannya yang digumpalkan.
"Sekarang, aku akan menemui kak Saka," ucapnya dengan riang.
Namun, sedetik kemudian wajahnya berubah masam.
"Tasku, astaga! tasku masih di perpustakaan. Emm.. ah, Lina dan Nita.."
Cilla menelpon Lina, menceritakan perihal keadaannya sekarang lalu meminta bantuannya agar mengambilkan tas miliknya.
"Katakan saja kalau aku mengalami nyeri perut yang hebat sehingga tidak bisa melanjutkan belajar bersama dan langsung beristirahat di asrama!" pinta Cilla.
"Iya-iya, nikmatilah kencan makan malammu dengan kak Saka!"
"Ouww..., kamu memang teman terbaikku. Makasih ya!"
"Iya."
Cilla menutup panggilan ponselnya lalu lekas bergegas menemui kak Saka. Hatinya begitu riang tapi, senyum itu seketika sirna saat ia melihat gadis lain sedang duduk bersama seniornya.
"Itu.. siapa?" tanya Cilla, sedikit bergetar.
Dari apa yang Cilla lihat. Kak Saka dan gadis itu terlihat akrab. Senyum lebar sesekali terlihat. Cilla menjadi ragu hendak mendekat. Hatinya pun berdenyut hebat.
{ "Apa gadis itu kekasihnya?" }
{ "Ah tidak mungkin, untuk apa dia mengajakku makan malam kalau hendak bertemu dengan kekasihnya? bukan kah itu kebodohan?" }
{ "Aduh! rasanya tetap sakit. Bagaimana sebaiknya ya? kuhampiri mereka atau lebih baik kembali saja?" }
Cilla memegangi dadanya yang teramat nyeri.
...🍁🍁🍁...
Di perpustakaan, Vano telah menyadari kepergian Cilla. Vano beranjak dari kursinya menuju kamar mandi perempuan. Celingukan, menunggu seseorang keluar dari sana.
"Maaf! apa masih ada orang lain di kamar mandi?" tanya Vano pada mahasiswi yang baru saja dari kamar mandi.
"Tidak ada, hanya aku seorang tadi," jawabnya.
"Oh, terima kasih!".
{ Sudah kuduga, dia akan melakukan ini. }
Vino bergegas kembali ke mejanya hendak mencari Cilla ke kantin. Namun, Nila dan Lina lebih dulu menghampirinya.
"Kalian.."
"Hai Van! kami kesini untuk mengambil ransel Cilla," ucap Lina.
"Di mana dia sekarang?"
"Perutnya sangat sakit jadi, dia langsung kembali ke asrama. Dia akan mengirimu pesan singkat setelah perutnya membaik."
"Oh."
Lina dan Nita saling berpandangan seraya mengulurkan tangan hendak mengambil ransel Cilla. Namun, Vano menariknya cepat.
"Eh.."
"Biarkan Cilla mengambilnya sendiri!" ucap Vano seraya beranjak dari kursi lalu melenggang pergi membawa ransel Cilla bersamanya.
Kedua teman sekamar Cilla hanya bisa menatap diam.
...🍁🍁🍁...
Setelah menimbang beberapa saat, Cilla memutuskan untuk berjalan mendekat. Namun, tidak langsung menghampiri keduanya. Cilla berniat untuk mendekat dengan jarak tertentu. Asal terlihat saja oleh kak Saka. Untuk selanjutnya, biar kak Saka yang memutuskan. Entah memanggilnya atau malah mengabaikan keberadaannya.
"Astaga! aku pasti sudah gila memutuskan hal ini tapi aku, enggan pergi."
Cilla benar-benar berjalan mendekat dengan jantung yang berdegup dengan kencang. Mempertaruhkan hati untuk bahagia atau terluka. Apa pun hasilnya, Cilla sudah siap.
"Eh Cilla! kamu sudah datang?" sapa senior Saka.
__ADS_1
Rasanya, separuh bongkahan es meleleh di hatinya.
"Siapa dia?" tanya gadis yang tengah duduk berhadapan dengan kak Saka.
"Junior kita. Kenalkan! dia Cilla dan ini, seniormu Cill, namanya Meta."
Kedua gadis itu pun saling berjabat tangan.
"Kali-an.. sudah janjian?" tanya kak Meta.
Kak Saka menganggukkan kepala. Kak Meta lantas tertawa.
"Jangan katakan kalau rumor itu benar?"
"Rumor apa kak?" tanya Cilla yang tidak tahu apa-apa.
"Saka, apa benar kamu menyukainya?"
...Deg.....
Cilla gugup, sementara kak Saka malah memberikan jawaban yang mengambang.
"Benar atau tidaknya, sepenuhnya privasiku," jawab kak Saka.
"Baiklah, karena seperti itu jawabanmu maka, kalian belum memiliki ikatan apa pun. Ingat jadwal kita besok lusa ya!" pesan kak Meta.
Kak Saka menganggukkan kepala.
..."Nyuuttt..."...
Sekali lagi, dada Cilla berdenyut. Kak Meta melambaikan tangan lalu beranjak pergi dari sana.
"Duduklah Cilla!"
"Iya kak."
"Tunggu sebentar ya, kubelikan makanan!"
"Iya."
{ "Tenang Cilla, tenang! kamu masih belum mendapatkan penjelasan dari kak Saka. Lagipula, kamu bukan kekasihnya. Tidak ada kewajiban untuk menjaga perasaanmu bukan?" } - Cilla berdebat dengan dirinya sendiri.
...🍁🍁🍁...
"Mari makan!"
Kak Saka meletakkan dua piring makanan lalu membawakan dua gelas minuman juga.
"Terima kasih kak!"
"Jangan sungkan!"
"Itu tadi, kak Meta.. apa kalian.., apa aku mengganggu acara kalian hari ini?"
Kak Saka terkekeh.
"Sebenarnya, apa yang ingin kamu tanyakan Cilla?" tanya kak Saka mempertegas.
"Apa kalian, ada janji juga malam ini?" tanya Cilla kemudian.
"Tidak. Janjiku hanya denganmu."
"Oh, lalu.. apa kalian juga ada janji makan bersama besok lusa?"
Kak Saka berusaha menahan senyum lalu menggelengkan kepala.
"Oh, ya sudah."
"Hanya itu yang ingin kamu tanyakan?"
Cilla menatap seniornya lalu menganggukkan kepala perlahan. Kak Saka menegakkan tubuhnya lalu bersandar ke sandaran kursi.
"Aku akan memberimu kesempatan lagi. Tanyakan apa yang ada di pikiranmu sekarang!"
__ADS_1
"Sudah tidak ada lagi."
"Sungguh?"
"Sung-guh."
"Jangan sampai menyesal ya! tanyakan saja!"
Cilla lantas memperbaiki posisi duduknya seraya bersiap untuk kembali bertanya.
"Apa kalian saling menyukai?" tanya Cilla dengan jantung yang berdegup tanpa kendali.
"Hemm... mungkin," jawab kak Saka dengan santainya.
...Deg.....
Cilla lemas seketika, pandangannya menunduk seraya menyesap minuman di gelas miliknya.
"Ada apa?"
"Tidak ada. Sudah tidak ada lagi yang ingin aku tanyakan," jawab Cilla dengan wajah yang masam.
Kak Saka lekas tertawa.
"Dua hari lagi, kompetisiku berlangsung. Datanglah dan dukung aku! ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu."
"Kenapa tidak dikatakan sekarang?"
Kak Saka menggelengkan kepala.
"Tidak sekarang, kamu bersedia menunggu kan?"
Cilla menganggukkan kepala.
"Tapi kan.. besok lusa, kak Saka ada janji dengan kak Meta? sementara itu, kak Saka juga ada kompetisi di hari yang sama. Apa kak Saka juga meminta kak Mata untuk datang?"
"Tidak, aku tidak memintanya tapi kemungkinan besar, dia akan datang. Di setiap kompetisiku, dia selalu ada."
...Deg.....
"Kalau memang sudah memiliki dukungan, tidak perlu lagi kehadiranku."
"Tentu saja perlu, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu."
"Kak Saka akan sangat sibuk hari itu. Setelah kompetisi masih harus bertemu dengan kak Meta. Aku tidak ingin mengganggu."
"Janjiku dengan Meta adalah mengadakan perayaan bersama teman-teman jika nanti, aku menang. Bukan janji pribadi seperti aku dan kamu saat ini."
"Oh.. begitu."
Kak Saka mengusap pelan rambut Cilla sembari mengulas senyuman.
"Sudahlah, ayo makan!"
"Iya kak."
Meski nyeri masih terasa. Namun, telah sedikit berkurang sekarang. Cilla merasa lega karena kak Saka tidak melakukan janji pribadi dengan kak Meta.
"Makan yang banyak!"
"Iya."
...🍁🍁🍁...
Seperti yang telah Vano duga. Cilla sedang berada di kantin dengan kak Saka. Vano terlihat sangat tidak suka jika keduanya bersama. Bahkan, tanpa sadar Vano meremas kencang ransel milik Cilla sebelum kemudian memilih pergi dan kembali ke asrama. Vano membanting ransel Cilla ke ranjangnya membuat kedua temannya bertanya-tanya.
"Ransel perempuan, ransel siapa ini?"
"Astaga Fian! kamu lupa, itu kan tas milik Cilla."
"Oh ow... jadi.. ini.."
Vano mengambil lagi tas Cilla lalu memasukkannya ke dalam lemari. Fian dan Arka hanya tertawa melihat teman satu kamarnya yang terlihat tidak biasa.
__ADS_1
"Kalau memang suka, katakan saja! sebelum diambil orang lain," ucap Arka yang hanya dibalas dengan tatapan sinis.
...🍁 Bersambung... 🍁...