INIKAH RASANYA? [ END ]

INIKAH RASANYA? [ END ]
PERTIKAIAN


__ADS_3

"Ada yang tidak beres," benak kak Saka ketika panggilan teleponnya tiba-tiba ditolak.


Kak Saka pun meminta izin pelatih untuk kembali ke asrama sebentar. Dia segera berlari ketika izin telah diberikan.


"Vano lepasin!"


Cilla mendorong Vano dengan sekuat tenaga. Keduanya pun mulai bertikai hingga kemudian, kak Saka datang. Pada akhirnya, ia tahu alasan dibalik terlambatnya Cilla.


"Cill.." panggil kak Saka, pelan.


"Kak, maaf! tadi ada sedikit kendala. Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Cilla seraya mengambil ponselnya dari saku celana Vano.


Kak Saka melihatnya dan merasa sedikit kesal karena Vano pasti mengambil paksa ponsel milik Cilla.


"Jangan pergi!"


Sekali lagi Vano melarang. Kali ini, kak Saka yang maju, pasang badan membela Cilla.


"Apa yang akan Cilla lakukan, sama sekali tidak ada hubungannya denganmu," sela kak Saka.


Vano hanya memandang kak Saka sesaat lalu kembali menarik Cilla. Merasa tidak dianggap, kak Saka pun menarik paksa tangan Vano agar melepaskan genggamannya. Keduanya saling bertatapan dengan tajam membuat Cilla tiba-tiba menciut takut.


"Apa niatmu mengajak Cilla keluar kota berdua?"


"Aku akan bertanding dan Cilla hendak mendukungku."


"Mendukung tidak harus ikut ke sana juga."


"Akan lebih bersemangat kalau dia ada di dekatku."


"Penggemarmu sudah sangat banyak."


"Yang ada di hatiku, hanya ada satu."


Vano terhenyak lalu berbalik arah, berjalan menuju asramanya. Kak Saka merasa lega karena hambatannya telah menghilang. Namun, berbeda dengan Cilla. Ada perasaan aneh yang muncul dalam batinnya. Rasa yang sangat familier. Semacam rasa bersalah yang mana seolah, ia dan Vano telah memiliki suatu hubungan. Cilla merasa bersalah seolah ia telah berkhianat. Padahal, keduanya masih berstatus sebagai teman.


{"Perasaan apa ini? aku dan dia.."}


"Ayo Cill kita berangkat!" ajak kak Saka.


"Iya kak."


...🍁🍁🍁...


Perasaan Vano betul-betul hancur. Ia bertekad untuk melupakan Cilla. Baginya, apa yang Cilla lakukan barusan adalah jawaban atas perasaannya. Cilla lebih memilih pergi dengan kak Saka dan meninggalkan dirinya. Sementara itu, Cilla sedang bersama kak Saka dalam perjalanan ke luar kota dengan hati yang bisa dibilang, tidak merasa tenang. Kak Saka bisa melihat kegusaran di wajah Cilla dan kemudian, ia pun bertanya:

__ADS_1


"Masih memikirkan yang tadi ya?"


Cilla hanya mengulas simpul senyum.


"Apa bedanya aku dan dia. Beberapa waktu yang lalu, kamu bersama teman-teman kelasmu juga berlibur bersama. Sekarang, kita juga bersama dan masih ada pelatihku juga. Bukankah sama saja?"


Cilla mengangkat kedua bahu. Kak Saka lantas memegang kedua pundak Cilla, berusaha menghiburnya dan memintanya untuk kembali ceria.


"Kamu adalah semangatku Cilla! bagaimana kekasihmu ini bisa bertanding dengan tenang kalau wajahmu terus menerus ditekuk?"


"Hah?"


"Oke aku ralat, calon kekasih," imbuh kak Saka disusul tawa cekikikan.


Cilla pun tersenyum.


"Sebentar lagi kita sampai di bandara. Buat dirimu lebih nyaman!"


"Iya kak."


"Terima kasih!" ucap kak Saka lirih.


"Terima kasih untuk apa?"


Cilla menjadi salah tingkah.


...🍁🍁🍁...


Vano membanting ponselnya ke atas meja dengan sangat keras membuat kedua teman sekamarnya terkejut. Arka mengambil ponsel itu seraya lekas memeriksanya.


"Kamu kenapa Van? apa yang membuatmu begitu marah?" tanya Arka sembari terus memelototi ponsel milik Vano.


"Apa gara-gara Cilla?" tanya Fian.


"Ada apa dengan Cilla?" tanya Arka yang lekas penasaran.


Fian melirik Vano sesaat sebelum menjawab pertanyaan Arka.


"Heis, buruan katakan ada apa?" desak Arka.


"Kalau tidak salah dengar, hari ini Cilla pergi dengan kak Saka keluar kota. Menemani kak Saka yang akan berkompetisi renang."


"Oww.."


"Dan juga kabarnya, mereka akan menginap di hotel yang sama."

__ADS_1


"Hooowww!"


Respon Arka semakin heboh membuat Vano kian merasa kesal lalu beranjak pergi dari kamar.


"Hei, apa itu benar?" tanya Arka seraya mendekat ke arah Fian.


"Kalau tidak benar, kenapa Vano sampai semarah itu sekarang?"


"Oww.. masalah hati memang sukar."


"Jangan meledek terus, sebagi teman, kita harus menghiburnya!"


"Gimana caranya?"


"Mana aku tahu?"


"Hemm..."


...🍁🍁🍁...


Di tempat lain, Cilla dan kak Saka telah sampai di bandara. Melakukan serangkaian pemeriksaan lalu duduk di kabin pesawat. Kak Saka mengulas senyum ke arah Cilla. Merasa sangat senang karena selama dua hari ke depan akan selalu bersama gadis pujaannya.


...🍁🍁🍁...


"Ah, betapa senangnya kalau bisa pergi jalan-jalan dengan kekasih hati," ucap Lina sembari merebahkan diri.


"Iya, siapa pun yang akan dipilih Cilla, aku akan mendukungnya," sahut Nita.


"Benar, itu adalah hatinya, cintanya dan kebahagiaannya. Tidak pantas kalau kita terlalu memaksakan kehendak."


"Betul sekali."


"Apa pun itu, aku merasa iri. Cilla diperebutkan oleh dua orang yang semuanya sangat tampan."


"Iya Lin. Kapan ya giliran kita yang diperebutkan?"


"Entahlah."


"Hemm..."


...🍁🍁🍁...


Vano berjalan di tepi danau. Memandang angin yang mengempas permukaan air. Vano terdiam di tepian seraya duduk di bawah pohon nan rindang. Tubuhnya di sini tapi pikirannya melayang. Terutama apa yang Cilla dan kak Saka ucapkan. Terekam dan terus mengulang bagai kaset rusak dalam otaknya. Vano merasa sangat kesal, begitu sakit dan sangat marah. Di satu sisi, Vano yakin kalau Cilla menyukainya. Namun, di sisi yang lain ia merasa sangat kecewa.


...🍁 Bersambung... 🍁...

__ADS_1


__ADS_2