INIKAH RASANYA? [ END ]

INIKAH RASANYA? [ END ]
HATI MANUSIA


__ADS_3

Usai sarapan di hari berikutnya, Saka, Cilla dan pelatih kembali melakukan perjalanan untuk pulang. Setelah turun dari pesawat, Saka meminta izin kepada pelatihnya untuk pulang sendiri sebab, masih ada tempat yang ingin ia kunjungi.


"Oke, hati-hati saja untuk kalian! saya duluan!"


"Iya pak," jawab kak Saka.


Tinggallah Saka bersama dengan Cilla.


"Kak Saka mau ke mana?" tanya Cilla.


"Toko bunga."


"Toko bunga?"


"Iya, aku ingin membelikanmu satu."


"Emm..."


Keduanya pun pergi berdua ke lokasi penjual tanaman. Ada banyak sekali penjual bunga yang berderet di sisi kiri dan kanan. Warna-warni yang begitu memanjakan indra penglihatan. Vano meminta Cilla untuk memilih yang paling ia sukai. Dengan senang Cilla mengiyakan.


"Mawar saja," celetuk Cilla setelah memilah dan memilih.


"Apa alasan kamu menjadikan bunga mawar sebagai pilihan?"


"Karena perawatannya jauh lebih mudah ketimbang anggrek yang di sana," jawab Cilla sembari mengalihkan pandangannya ke stand penjual bunga anggrek dengan beragam warna.


"Hemm.. baiklah, mawar melambangkan rasa cinta, boleh juga. Pilih saja, mau warna apa?"


"Merah kak, terlihat begitu cantik dan berani."


"Oke, ada lagi yang kamu inginkan?"

__ADS_1


"Tidak ada."


"Baiklah, tunggu sebentar!"


Usai membayar satu pot bunga mawar, keduanya pun beranjak dari sana. Sebuah taksi dicegat untuk mengantarkan keduanya kembali ke asrama.


...🍁🍁🍁...


"Rawat dengan baik ya bunganya!" pinta kak Saka ketika ia dan Cilla sedang berjalan beriringan.


"Iya."


Tidak lama kemudian, kak Saka menghentikan langkah kakinya karena mereka telah sampai di depan gedung asrama.


"Kita sudah sampai, masuklah, beristirahat dan terima kasih untuk semuanya!"


Cilla tersenyum seraya mengulas simpul senyum.


"Masuklah, aku juga akan kembali ke asramaku!"


Sesampainya di kamar, Lina dan Nita lekas mencercanya dengan banyak pertanyaan. Cilla harus menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab itu semua.


"Intinya benar, aku dan kak Saka sudah resmi berpacaran."


"Waaahhhh.. harus dirayakan!" seru Nita.


"Sejujurnya, apa pun pilihanmu, aku selalu mendukung tapi, Vano kasihan. Fian sempat cerita kalau Vano jadi sering uring-uringan (marah-marah)," sahut Lina.


Cilla mendengus seraya duduk di tepian ranjang.


"Bagaimana pun, aku tetap harus memilih salah satu di antara mereka dan di setiap pilihan, pasti ada yang dikorbankan."

__ADS_1


"Benar juga."


"Sebenarnya, aku merasa dijebak."


"Dijebak gimana?" tanya Nita menelisik.


"Ketika kak Saka berbicara seperti itu di depan awak media. Sama sekali belum ada kesepakatan apa pun di antara kami. Aku cukup terkejut tapi, tidak mungkin kubuat dia menjadi malu kan?"


"Artinya, hubungan kalian ini atas dasar paksaan?"


"Bukan sepenuhnya paksaan sih Lin. Bagaimana ya menyebutnya? memang benar kalau dia mengklaim hubungan kami secara sepihak tapi pada akhirnya, aku menerimanya."


"Kalau itu sih, menurutku gak masalah. Yang terpenting adalah perasaan yang sama di antara kalian berdua," sahut Nita.


"Iya tapi ada masalah yang lain lagi."


"Apa itu?"


"Di sini (sambil menunjuk ke dadanya) ada tempat untuk Vano juga."


"Wah, susah kalau begini. Kamu sudah memilih secara status tapi hatimu masih terjebak."


"Itu dia Lin, aku merasa bahagia dan merasa bersalah di waktu yang bersamaan. Sebelum aku dan kak Saka berangkat, Vano mencegahku di depan asrama. Ia berusaha keras untuk membuatku untuk tidak jadi berangkat."


"Tapi akhirnya, kamu tetap berangkat juga."


Cilla menganggukkan kepala.


Kedua teman sekamarnya pun turut terduduk seraya menghela napas dalam-dalam.


"Hati manusia sungguh mudah dibolak-balikkan," gumam Lina.

__ADS_1


"Iya," sahut Nita.


...🍁 Bersambung...🍁...


__ADS_2