![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
Seperti yang telah dijanjikan, Cilla menghadiri kompetisi renang yang diikuti oleh kak Saka. Dia duduk di salah satu bangku penonton. Sebelum bertanding, kak Saka mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Cilla. Cilla melambaikan sedikit tangannya ketika keduanya saling berpandangan. Kak Saka lantas tersenyum seraya mengangguk pelan. Benar seperti yang kak Saka katakan, kak Meta juga ada di sana dan kini, tengah menoleh ke arahnya. Cilla mengangguk, memberikan sapaan. Kak Meta tersenyum lalu kembali menoleh ke arah kak Saka yang sedang bersiap untuk memulai pertandingan.
"Satu, Dua, Tiga mulai!"
Pertandingan pun dimulai, suara para pendukung meriuhkan suasana. Para peserta berusaha sekuat tenaga.
"Ayo! ayo! ayo!"
Dukungan terus saja terdengar. Namun, tak sedikit juga yang memilih diam, sesekali menahan napas. Menanti siapakah yang akan menjadi juaranya?
"Ayo! ayo! ayo!"
__ADS_1
"Wah itu dia, Saka perwakilan dari universitas Gamaraja berada di posisi pertama. Kita telah mendapatkan juaranya!" ucap si pembawa acara.
Kak Saka pun melemparkan tinju ke udara. Baik Cilla mau pun kak Meta merasa senang juga. Usai pertandingan, sang juara naik ke podium untuk mendapatkan piala dan medali. Setelah itu, masih-masing juara diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan serta ucapan terima kasih. Dimulai dari penyandang juara ketiga, juara kedua lalu terakhir juara pertama yakni kak Saka. Ia menerima uluran mikrofon dan mulai berbicara. Senyum bahagia tak lepas dari bibirnya. Dengan bangga, kak Saka mengucap syukur lalu berterima kasih. Tak lupa, ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah mendukungnya. Terutama pada kedua orang tuanya.
"Yang terakhir, kemenangan saya kali ini, saya persembahkan untuk seorang gadis paling istimewa yang hari ini turut hadir mendukung saya," ucap kak Saka sembari menatap lurus ke arah Cilla.
"Siapa? siapa gadis itu? yang mana?"
"Kami memang bersahabat, dia selalu datang di setiap pertandinganku. Terima kasih Meta! tapi persembahan ini, aku persembahkan untuk dia yang di sana," ucap kak Saka sembari menunjuk ke arah Cilla.
Rasanya hampir pingsan, wajah Cilla memerah. Merasa sangat malu dibuatnya. Kalau bisa, ia ingin menenggelamkan diri ke tanah untuk menghindari banyaknya pasang mata yang memandang ke arah dirinya. Kak Saka berjalan mendekati Cilla seiring para wartawan yang sigap mengambil gambar. Pertandingan ini pun turut disiarkan di televisi nasional. Menjadi salah satu acara yang sangat dinanti-nantikan. Namun, melihat adegan yang romantis ini membuat Vano marah besar. Di saat semua mahasiswa merasa senang, ia merasa cemburu dalam diam. Seolah ada api membara yang membakar dadanya.
__ADS_1
"Apa bagusnya dia? kekanak-kanakan!" gerutu Vano seraya beranjak dari tempat duduknya di kantin.
"Hei, ada apanya dengannya?" gumam Fian, bertanya-tanya.
"Astaga! masih belum mengerti juga? aku yakin, Vano menyukai Cilla. Begitu pun dengan senior kita, kak Saka. Sekarang, kak Saka sudah menyatakan perasaannya secara terang-terangan. Tentu saja, Vano cemburu berat."
"Owww..."
Kedua teman sekamar Vano tertawa cekikikan.
...🍁 Bersambung... 🍁...
__ADS_1