![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
Cilla berlari sekencang yang ia bisa sembari coba menghubungi kekasihnya. Namun, kak Saka malah mematikan ponselnya. Tak ada pilihan lain, Cilla memutuskan untuk menyelinap masuk ke asrama laki-laki. Kedatangan Cilla cukup mengejutkan teman-teman sekamar kak Saka yang tentu lekas tahu alasan dibalik kedatangannya.
"Kak Saka di dalam?" tanya Cilla.
Temannya hanya mengangguk pelan seraya membuka pintu kamar lebar-lebar. Kak Saka menatap diam ke arah kekasihnya sembari menimbang, hendak menyambut atau mengabaikan.
"Kak.."
Ternyata, kak Saka tidak tega. Alhasil ia hampiri Cilla seraya mengandeng tangannya untuk keluar dulu dari asrama.
"Itu asrama laki-laki, kenapa kamu nekat sekali?"
"Maafkan aku kak Saka!"
Kak Saka seketika melepas genggamannya.
"Aku salah," ucap Cilla lagi.
"Apa kesalahanmu?"
"Hari ini Vano berulang tahun. Dia memintaku untuk menemaninya mencicipi beberapa makanan ringan di dekat kampus."
"Ada yang memotretmu."
"Iya, aku tidak tahu kalau hal itu, akan terjadi."
Kak Saka menatap Cilla lekat-lekat.
"Sebenarnya apa yang kamu sesalkan? telah menyakiti hatiku atau karena perselingkuhanmu yang terbongkar?!"
Cilla terkejut karena kak Saka benar-benar marah besar. Kedua matanya pun berkaca-kaca.
"Aku.."
"Kamu tidak menyukaiku, aku salah menempatkan perasaanku."
"Bukan begitu, aku bersungguh-sungguh menyukai kak Saka."
"Tapi, kamu juga menyukainya."
"Kak..."
"Hatiku tidak begitu lapang, jika memang tidak bisa hanya berada di sisiku saja maka, kita lepaskan saja semuanya!"
"Kak.."
__ADS_1
"Pikirkan baik-baik sebelum memberiku jawaban!"
Cilla menangis terisak-isak, sementara kak Saka, meninggalkannya untuk kembali masuk ke dalam asrama.
"Apa kalian putus?" tanya teman sekamar kak Saka.
"Belum," jawab kak Saka, singkat.
"Setelah disakiti berulang kali?"
"Dia hanya sedang bingung."
Kedua teman kak Saka hanya bisa mendengus.
...🍁🍁🍁...
Cilla kembali ke kamarnya dengan keadaan yang menyedihkan. Duduk begitu saja di lantai sembari terus menitikan air mata.
"Apa kalian putus?" tanya Nita.
"Lebih buruk dari pada itu."
"Hah, apa yang lebih buruk dari putus?"
"Untuk pertama kalinya kak Saka marah besar dan di luar dugaanku kalau dia akan mengatakan hal itu."
"Dia memintaku untuk mempertimbangkan hubungan kami."
"Em.."
Lina dan Nita masih mencerna maksud dari apa yang kak Saka ucapkan.
"Kalian saling menjaga jarak untuk sementara?" tanya Lina.
"Entahlah, kehancuran sudah ada di depan mata."
"Hatimu merasa sakit?"
"Tentu saja sakit Nita."
"Itu artinya, kamu benar-benar menyukai kak Saka. Seharusnya, sudah tidak ada lagi keraguan. Kamu takut kehilangan dirinya maka, jangan memberi peluang orang laki-laki yang lain!"
Cilla terdiam.
"Tapi Vano.. "
__ADS_1
"Coba kamu rasakan! seberapa besar luka yang ditimbulkan kak Saka dan juga Vano? sebesar itu jugalah rasa cintamu kepada keduanya."
Cilla menyentuh dadanya yang masih teramat nyeri.
"Pikirkan baik-baik Cill!" ucap Nita sembari menepuk pelan pundaknya.
Kini, Cilla tenggelam dalam dunianya sendiri. Kembali ia ingat semua kenangan bersama Vano dan juga kak Saka. Dia sadar kalau keduanya memiliki tempat di dalam hatinya. Cilla pernah dibuat cemburu oleh Vano dan juga kak Saka. Pernah merasa bahagia juga oleh keduanya. Pernah terluka ketika Vano atau pun kak Saka marah kepadanya. Cilla benar-benar menyukai keduanya. Sungguh kebodohan jika terus mengelak dari fakta yang jelas tak terbantah.
...🍁🍁🍁...
Di tempat lain, Vano memeriksa postingan potret dirinya dan Cilla yang tiba-tiba hilang. Ia pikir, kak Saka yang mengaturnya agar postingan itu dihapus segera.
"Tidak masalah, semua sudah melihatnya," benak Vano.
"Apa kamu benar-benar ingin bertarung dengan senior kita?" tanya Fian.
"Jika memang harus, kenapa tidak?"
"Apakah sepadan?"
"Tentu saja."
"Kamu tampan dan banyak juga yang menyukaimu. Jika Cilla terus menggantung perasaanmu, kenapa tidak memilih gadis lain yang lebih cantik darinya? biarkan dia terluka melihat kamu yang bahagia!" sahut Arka.
"Yang kusukai adalah Cilla, bukan yang lainnya."
"Keras kepala!"
"Ini hati Ka, tidak semudah itu bisa berganti."
"Meski pun sekedar untuk bersenang-senang, kurasa bukan masalah. Yang terpenting, harga dirimu tidak diinjak-injak."
"Arka, jika kuturuti nasihatmu, hancurlah reputasiku."
"Kalau begitu, tetaplah bersikap tenang, dingin dan berkarisma tapi berhentilah mengejar Cilla!"
"Tidak bisa."
"Lihatlah! betapa gilanya kamu sekarang."
Vano tersenyum.
"Sudah tidak bisa disembuhkan dia (Vano)."
"Benar," sahut Fian.
__ADS_1
...🍁 Bersambung ... 🍁...