![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
Suasana hati Cilla membaik perlahan. Usai makan malam, ia pun berjalan kembali ke asrama. Saat itulah, Lina menghubunginya dan mengatakan kalau Vano, enggan menyerahkan ranselnya. Cilla membacanya seraya lekas menghubungi nomer Vano. Vano menatap diam, mendapati panggilan Cilla di layar ponselnya. Meski pada akhirnya, tetap ia angkat juga.
"Jika ini tentang ranselmu, ambil segera ke depan gedung asramaku!" ucap Vano tanpa berbasa-basi lebih dulu lalu segera ia akhiri sambungan telepon tersebut.
"Hah! Astaga Vano! menyebalkan sekali," gerutu Cilla seraya berbalik arah menuju asrama laki-laki.
[ Aku sudah di sini, cepatlah turun! kembalikan ranselku! ]
[ Baik. ] - Balas Vano.
Tak lama setelahnya, Vano datang membawa ransel miliknya.
"Vano! maafkan aku karena tidak memberitahumu lebih dulu!"
Vano hanya diam sembari menatap Cilla lekat-lekat.
"Sepertinya, kamu terlihat baik-baik saja," ucap Vano kemudian.
Cilla nyengir.
"Ini karena, aku sudah memakan obat dan sempat tertidur sebentar."
"Jadi karena itu, kamu baru datang untuk mengambil ranselmu?"
Cilla mengangguk cepat, Vano terlihat tidak terima tapi, ia tetap mengulurkan ransel Cilla. Cilla menerimanya dengan senyum lebar. Ternyata, Vano masih enggan melepas genggamannya membuat Cilla mengeluarkan sedikit tenaga untuk menariknya.
"Vano.."
__ADS_1
"Hah?"
Cilla mengerti kalau Vano tidak akan melepas ranselnya dengan mudah.
"Vano sialan!" gerutunya di dalam hati.
Ia pun berusaha untuk menarik kembali tapi, tenaganya jauh berbeda dengan Vano. Vano hanya perlu diam disaat Cilla berusaha keras menarik.
"Apa maksudmu Vano? serahkan ranselku!"
Vano mengayunkan wajahnya seraya berkata:
"Ambillah!"
Cilla mendengus sembari kembali berusaha menarik ransel miliknya hingga kemudian, Vano tiba-tiba melepas genggamannya membuat Cilla terhuyung, hilang keseimbangan. Dengan cepat juga, Vano menangkap tubuh Cilla, merengkuhnya dalam dekapan tangan. Keduanya beradu pandangan sesaat sebelum kemudian, Cilla mendorong dada Vano seraya berusaha untuk berdiri. Suasana canggung pun terjadi.
Tidak hanya Cilla, jantung Vano juga berdegup dengan kencang. Cilla segera mengambil ranselnya, mengucapkan terima kasih lalu bergegas berlari kecil menuju gedung asramanya. Vano hanya menatap Cilla tanpa mengucapkan apa-apa. Detak jantungnya tak beraturan. Cilla berlari hingg memasuki area asrama. Ia sentuh dadanya yang masih sulit ia kendalikan.
Cilla menarik napas perlahan lalu mengembuskannya lagi. Ia lakukan beberapa kali hingga jantungnya menjadi tenang.
"Sudah berhasil mengambil ranselmu Cill?"
"Iya Lin."
"Apa Vano marah besar? apa sandiwaramu ketahuan?" tanya Nita menyelidik.
"Entahlah, bisa iya, bisa juga enggak."
__ADS_1
Lina dan Nita saling berpandangan.
"Sudahlah, itu tidak penting. Bagaimana dengan kencan makan malammu dengan kak Saka?"
Cilla tersenyum getir mendengar pertanyaan dari Lina.
"Apa maksudnya ini? apa terjadi sesuatu yang buruk?' tanya Lina lagi.
Cilla menghela napas panjang.
"Ada apa Cill?" tanya Nita yang turut penasaran.
"Aku harus sadar diri. Kak Saka bagaikan pangeran berkuda sementara aku, hanya rakyat jelata."
"Apa maksudmu?"
"Ketika aku sampai di kantin, ada senior perempuan yang sedang duduk bersamanya. Keduanya berbincang dengan hangat. Terlihat begitu akrab dan... menyakitkan," jawab Cilla seraya merubah raut wajahnya disertai tangis yang dibuat-buat.
"Hais, belum tentu kalau itu pacarnya."
"Memang bukan Nit tapi yang pasti, dia termasuk ke dalam deretan gadis yang menyukai kak Saka."
"Huh, sangat wajar kalau kak Saka memiliki banyak penggemar tapi kamu, jangan menyerah dengan cepat! kak Saka secara khusus memintamu untuk makan malam bersamanya bukan? tentu ini, tidak terjadi pada setiap gadis."
"Kamu benar Lina tapi.. siapa yang tahu, ada berapa gadis yang pernah kak Saka ajak untuk makan malam, sebelum aku?"
"Emmm.."
__ADS_1
Nita dan Lina pun turut lemas seraya menepuk pelan pundak teman sekamarnya. Cilla manggut-manggut, isyarat kalau dia, baik-baik saja.
...🍁 Bersambung...🍁...