INIKAH RASANYA? [ END ]

INIKAH RASANYA? [ END ]
KEKASIH CADANGAN


__ADS_3

Usai makan, keduanya kembali ke kampus sendiri-sendiri demi agar tak ada lagi rumor yang merebak. Cilla hanya sedikit melambai ketika hendak berjalan ke arah asrama perempuan berada. Vano tersenyum seraya mengangguk. Cilla berjalan masuk dengan suasana hati yang sedikit berbeda. Pikirnya, kesepiannya sedikit terobati dengan berbincang dan mengobrol panjang lebar bersama seorang teman. Namun, ia belum sadar kalau hal itu turut membangunkan perasaan yang seharusnya ia kubur dalam-dalam.


"Hei Cill, aku akan ke perpustakaan mengerjakan skripsiku!" pamit Lina ketika Cilla baru saja datang.


"Oke, di mana Nita?"


"Katanya, dia bertemu kakak kelas SMA nya tanpa sengaja dan sekarang mereka sedang jalan-jalan bersama."


"Ohya siapa? laki-laki atau perempuan?"


"Aku juga tidak tahu. Aku pergi dulu ya!"


"Iya."


...Kriieeet......


Lina menutup pintu kamar, tinggallah Cilla sendiri sekarang.


"Sendirian lagi? sepi lagi. Kak Saka sedang apa ya?"


Cilla coba menghubungi kekasihnya. Namun, tak satu pun pesan singkat atau panggilan teleponnya yang diterima.


"Ya sudahlah, mungkin kak sedang sibuk latihan."


Tiba-tiba ponsel Cilla berdering dan bergetar. Sebuah pesan singkat ia terima.


[ Sedang sibukkah? ]


Ternyata, itu pesan singkat dari Vano.


[ Tidak, ada apa? ]


Vano tersenyum seraya lekas mengirimkan capture percakapannya dengan adik perempuannya yang mengatakan kalau sang adik akan mengunjungi Vano di asrama dan meminta hadiah atas ulang tahunnya yang tidak sempat Vano rayakan.


[ Kamu memiliki adik perempuan? ] - tanya Cilla.


[ Benar dan sekarang, aku sedang berada dalam masalah. Dia akan membuat keributan kalau aku tidak memberinya hadiah. Maukah kamu menemaniku untuk mencarikan adikku hadiah? ]


Cilla menimbang untuk beberapa saat sebelum kemudian mengiyakannya.


"Tidak ada siapa pun yang menemaniku. Aku akan pergi sebentar dengan Vano untuk memilih hadiah."


[ Baiklah, kita bertemu di luar kampus! ]


[ Di halte bus saja! ]


[ Baik, aku ke sana! ]


[ Iya. ]


Cilla meraih ranselnya lalu bergegas turun daei asrama.


...🍁🍁🍁...


Cilla dan Vano pergi ke sebuah mall yang berada di tengah kota. Masuk ke satu toko lalu ke toko lainnya, untuk mencari hadiah yang tepat. Mulai dari toko baju, toko sepatu hingga toko aksesoris telah mereka masuki. Namun, belum ada satu pun barang yang Vano rasa cocok untuk adiknya.


"Lalu apa? coba kamu pikir ulang! kira-kira apa yang adikmu sukai?"

__ADS_1


"Hemm... apa ya?"


Vano mengerutkan dahinya.


"Aku tahu sekarang."


"Apa? di suka binatang."


"Hah? binatang peliharaan maksudmu?"


"Iya."


"Tahu begitu, kita bisa langsung ke toko binatang peliharaan. Tidak harus membuang waktu di sini."


"Maaf-maaf! aku akan menebus kesalahanku!"


"Dengan apa?"


"Aku akan mentraktirmu nonton."


"Hemmm..."


"Ayo!"


Vano menarik tangan Cilla menuju ke bioskop di mall tersebut. Segera setelahnya, ia memesan dua tiket lengkap dengan pop corn dan minumannya. Keduanya pun menonton film bersama.


{"Kenapa Vano mengajakku menonton film? apa dia masih berpikir untuk mendekatiku?"} - Cilla bertanya-tanya di dalam hati.


"Hei, jangan melamun! fokus pada filmnya! jangan sampai kerasukan ya!"


"Haaisss, tidak akan," jawab Cilla seraya kembali fokus pada layar besar di depannya.


...🍁🍁🍁...


"Kupikir, ini saja cukup," ujar Vano.


"Apa binatang diizinkan masuk ke dalam asrama?"


"Tidak masalah, aku bisa mengaturnya."


"Baiklah."


Vano membayar kucing tersebut lalu membawanya kembali ke asrama. Sepanjang perjalanan pulang, keduanya saling berbincang. Mengalir begitu saja seolah tiada yang salah dari apa yang mereka lakukan.


"Eh awas!"


Dengan Sigap Vano menarik tubuh Cilla ke dalam dekapannya. Beberapa saat yang lalu, nyaris saja ia ditabrak sepeda. Suasana canggung pun tercipta. Cilla salah tingkah seraya lekas melepaskan diri dari dekapan Vano.


...Dag.. Dig.. Dug... Dag.. Dig.. Dug.....


{"Gawat! perasaan ini kembali muncul"} - benak Cilla.


"Ayo jalan lagi!" ajak Vano.


"Iya," jawab Cilla.


Perjalanan berikutnya, suasana telah berubah canggung. Sedikit demi sedikit, Cilla menyadari. Tak seharusnya ia pergi bersama dengan Vano. Terlebih, perasaannya kembali bergejolak. Jika dilanjutkan, akan berpotensi memunculkan masalah besar dalam hubungannya dengan kak Saka.

__ADS_1


"Vano!"


Terdengar suara seseorang yang memanggil. Dari kejauhan terlihat, seorang perempuan berambut panjang berjalan ke arah mereka. Setelah mendekat, Cilla baru mengenalinya. Dia adalah mahasiswa di kampus mereka juga dengan jurusan yang berbeda.


"Vano.. kalian (Vano dan Cilla) jalan berdua atau tidak sengaja bertemu?" tanya gadis itu.


"Tidak sengaja," jawab Cilla cepat.


Namun, Vano lekas membuat bantahan.


"Kami memang pergi bersama. Ada apa memanggilku?"


{"Astaga Vano!"}


"Kenapa kalian pergi bersama? bukankah kamu (Cilla) sudah memiliki kekasih? semua orang tahu, siapa kekasihmu."


"Aku hanya menemaninya mencari hadiah untuk adiknya. Aku akan pergi sekarang, kalian lanjutkan saja urusan kalian!" ucap Cilla sembari berjalan menjauh.


Namun, Vano menariknya kembali seraya menggenggam tangan Cilla agar tidak bisa pergi ke mana-mana.


"Apa yang kalian lakukan? kalian berselingkuh? aku tidak menyangka kalau rumor yang berkembang benar-benar bertahan hingga sekarang."


"Itu bukan urusanmu," jawab Vano dengan ketus.


"Bukan-bukan, bukan seperti itu. Aku dan Vano hanya berteman."


"Berteman apa? setiap saat jalan berdua. Setiap saat kamu memberinya harapan. Di saat yang bersamaan juga, kamu mempertahankan hubunganmu dengan senior Saka. Menurutmu apa kalau bukan perselingkuhan?"


"Tidak seperti itu, kami hanya..."


"Hanya teman? hah bodohnya! menurutku, kamu memang sengaja menggunakan Vano sebagai kekasih cadangan."


...Deg......


Cilla tertegun.


"Sudah kubilang, itu bukan urusanmu!" tegas Vano dengan nada sedikit meninggi.


"Jika memang tidak ada urusan lagi, aku dan Cilla akan pergi!" imbuh Vano seraya menarik lengan Cilla.


Namun, Cilla meronta, ia empaskan tangan Vano lalu berlari menjauh dari sana. Vano berusaha mengejarnya tapi Cilla meminta Vano untuk menjaga jarak darinya.


"Jangan terlalu dipikirkan!"


"Dia benar Vano, aku yang keterlaluan karena selalu memberimu harapan."


"Aku bersedia, sama sekali tidak keberatan."


"Vano.."


"Terima kasih sudah menemaniku hari ini. Yang terpenting kamu bahagia. Tidak masalah statusku apa. Jangan dengarkan kata orang! Kebahagiaanmu yang paling utama."


"Tidak bisa, ini salah."


"Tidak ada yang salah kalau perasaan telah berbicara."


"Vano.. aku akan kembali sendiri ke asrama! terima kasih untuk semuanya! tolong jangan ikuti aku!"

__ADS_1


Cilla mengangguk perlahan seraya mulai melangkah. Vano hanya bisa membiarkan.


...🍁 Bersambung.... 🍁...


__ADS_2