![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
Hari itu, dihabiskan dengan memanjakan diri di villa. Ada yang berenang, rebahan, karaoke hingga main bilyar. Di malam harinya, agenda barbeque sembari melanjutkan kegiatan karaoke bergantian. Di sela-sela acara, ketua kelas menyisipkan beberapa games untuk memeriahkan acara. Setelah itu, semua orang mendesak Vano untuk menyatakan perasaannya secara resmi di hadapan Cilla dan seluruh teman sekelasnya. Cilla yang tadinya minum lekas tersedak karena terkejut. Dia panik andai Vano benar-benar melakukannya.
"Ayo! ayo! ayo!" seru semua teman-teman.
Vano hanya mengulas senyum segaris sembari menatap Cilla lekat-lekat. Cilla sendiri merasa bingung sebab ia, belum bisa memberikan keputusan. Jika Vano benar-benar menyatakan perasaannya, Cilla akan dilanda dilema.
"Tidak menarik! ayo makan!" ucap Vano sembari menyambar sosis bakar lalu berjalan ke pinggiran kolam renang.
Tanggapan yang Vano berikan membuat semua temannya melongo dan kecewa. Namun, Cilla sendiri merasa lega. Sepertinya, Vano mengerti kalau Cilla tidak akan bisa memberikan jawaban di saat itu juga. Entah lebih berat ke siapa akan tetap membuat Cilla dilanda dilema.
"Syukurlah, Vano sangat pengertian," benak Cilla.
"Cill..." panggil Lina lirih.
"I am ok," jawab Cilla sembari menyunggingkan senyum lebar.
"Lanjut-lanjut, kita karaoke sampai pagi!" seru ketua kelas yang langsung disambut oleh teman-teman yang lain.
__ADS_1
Di pinggir kolam, Vano masih duduk sendiri menikmati gemerlap bintang dan deretan lampu-lampu rumah-rumah warga yang letaknya lebih rendah dari villa. Entah apa yang sedang ia pikirkan, gesturnya begitu tenang. Sesekali Cilla mencuri pandang tapi enggan untuk mendekat.
...🍁🍁🍁...
Keesokan harinya, semua bersiap untuk pergi ke tempat wisata. Sebuah taman bunga dan buah yang sangat luas. Di dalamnya juga ada danau buatan. Letak perahu sepeda disuguhkan. Selain itu, ada banyak titik lokasi yang sangat estetik untuk mengambil potret diri. Di tempat wisata tersebut, Vano mengatakan kalau ada mitos yang sangat dipercayai warga setempat.
"Mitos apa?" tanya salah seorang teman.
"Konon katanya, jika kalian memiliki kekasih dan bermain di perahu sepeda di sana bersama-sama maka, hubungan kalian akan awet dan bertahan hingga pernikahan. Satu hal lagi, jika kalian memiliki seseorang yang kalian idamkan di dalam hati, sebutkan namanya ketika mengayuh perahu sepeda maka, kalian akan segera dipersatukan."
"Wah... hebat!"
"Namanya juga mitos, bebas untuk percaya atau tidak," jawab Vano sembari berjalan pelan menuju danau buatan.
Gerakan Vano berhasil mempengaruhi teman-temannya yang lekas mendatangi danau buatan, cepat-cepat. Saat itulah, Vano berbalik arah lalu menarik Cilla untuk pergi berdua dengannya.
"Eh, mereka.."
__ADS_1
"Biarkan saja mereka!" ucap Vano sembari terus menarik tangan Cilla.
Keduanya berjalan ke taman buah strawberry dan memetik beberapa di antaranya. Mengobrol ringan seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Usai dari kebun strawberry, Vano mengajak Cilla menuju ke kebun bunga. Sekuntum mawar merah, ia petik dan kemudian, ia selipkan di telinga Cilla.
"Cantik!" puji Vano sembari menyibak anak rambut di wajah Cilla.
Cilla tersenyum seraya beringsut mundur dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Lahan seluas ini, butuh berapa pekerja untuk merawatnya ya?" celetuk Cilla sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Vano tersenyum lalu menjawab.
"Sangat banyak tentunya."
"Hemm.. kalau begitu jangan dipetik! Kasihan, mereka sudah bersusah payah merawat hingga mekar dengan sedemikian cantik."
"Kalau tidak dipetik, mereka tidak akan mendapat penghasilan. Bunga yang dipetik kan juga diperjual belikan."
__ADS_1
"Ah, benar juga," jawab Cilla seraya melangkahkan kakinya.
...🍁 Bersambung... 🍁...