![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
Kak Saka tidak membalas pesan Cilla atau pun mengangkat telpon darinya. Cilla cukup khawatir, ia takut kalau kak Saka merasa terpuruk akan hasil yang meleset dari harapan banyak orang. Barulah pada keesokan paginya, kak Saka menghubungi Cilla. Dengan cepat Cilla tahu kalau ada yang tidak baik telah terjadi pada kekasihnya.
"Kak Saka baik-baik saja?" tanya Cilla dengan sangat hati-hati.
"Aku baik."
"Juara berapa pun tidak masalah. Masih banyak kompetisi lain yang menunggu untuk kak Saka menangkan."
"Iya, maaf telah membuatmu khawatir seharian!"
"Tidak masalah selama kak Saka baik-baik saja."
"Terima kasih!"
"Apa kak Saka akan pulang hari ini?"
"Benar, aku akan berkemas setelah ini."
"Baguslah, aku tunggu di kampus ya!"
"Iya, aku tutup dulu teleponnya!"
"Iya kak."
Cilla menghela napas panjang. Dia tahu betul kehancuran hati yang kak Saka rasakan.
{"Apa yang bisa kulakukan untuk menghiburnya?"} benak Cilla.
...🍁🍁🍁...
Hari ini, Cilla bergegas kembali usai mengajar privat di rumah Riki. Alasannya tentu saja karena akan bertemu dengan kak Saka. Terlebih, suasana hati kekasihnya sedang tidak baik-baik saja. Tentu ia harus meluangkan lebih banyak waktu untuk menemaninya.
[ Apa kamu masih mengajar? ] tanya kak Saka dalam sebuah pesan singkat.
[ Tidak kak, sudah selesai. Ini sedang dalam perjalanan kembali ke asrama. ]
Vano yang dengan sengaja menunggu Cilla di halte bus tahu betul, alasan gadis itu begitu tergesa-gesa. Muncul niat untuk menahannya agar tidak bisa berjumpa dengan kak Saka. Namun, Vano lekas mengurungkannya sebab, ia tak ingin membuat Cilla kian membencinya. Alhasil, Vano memilih untuk menaiki bus berikutnya agar tidak melihat Cilla bergandengan dengan kekasihnya ketika sampai di asrama.
{"Bodohnya aku yang masih mengharapkan seseorang dengan penjaga sempurna di sampingnya."} benak Vano seraya kembali duduk dan menunggu.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
"Hai!" sapa kak Saka sembari melambaikan tangan.
"Hai! sudah lama kah menungguku?"
"Sebentar kok."
Keduanya berpandangan untuk beberapa saat. Menetralkan kerinduan yang begitu menggebu usai berpisah untuk beberapa saat.
"Aku merindukanmu."
Ucapan itu meluncur bebas dari bibir kak Saka, Cilla pun mengangguk.
"Aku juga."
...🍁🍁🍁...
Cilla dan kak Saka duduk di salah satu bangku taman di kampus. Meski pun senyum tak lepas dari wajahnya tapi, Cilla tetap bisa membaca kesedihan di mata kak Saka.
"Kak, katakan saja apa yang ingin kak Saka curahkan! aku tidak keberatan melihat sisi lemahmu. Aku bukan orang lain kan, bagimu?"
"Tentu saja bukan, kamu adalah orang paling istimewa untukku."
"Kemarilah!" pinta Cilla sembari menepuk pundaknya isyarat meminta kak Saka untuk bersandar padanya.
"Ada apa? ucapan apa yang membuat kak Saka terlihat sedemikian lemah?"
"Kekecewaan para pendukungku."
"Hemm... kak Saka telah berusaha maksimal. Tidak ada alasan untuk merasa terpuruk."
"Pelatih juga kecewa padaku."
"Em.. itu wajar, pelatih selalu memiliki standar tinggi untuk anak didiknya."
"Aku sempat membantahnya."
"Apa yang kakak katakan?"
"Pelatih sedikit menyinggung kegagalanku ini karena aku telah memiliki kekasih."
...Deg.....
__ADS_1
"Mungkin.. bukan, sejujurnya aku juga memikirkan hal yang sama. Aku adalah penyebab kemunduran prestasi kak Saka."
"Tidak-tidak, sudah berulang kali kukatakan kalau kamu adalah sumber semangatku tapi pelatih tetap bersikeras melarangku untuk bertemu denganmu hingga hal ini ( gagal menjadi juara satu ) terjadi, aku pun membantah ucapannya itu."
"Kakak tahu kan kalau itu tidak baik? pelatih hanya ingin yang terbaik untukmu."
"Aku sudah mengatakan tentang apa yang terbaik bagiku tapi pelatih tidak mau mendengar."
Raut wajah Cilla berubah kian sedih.
"Mungkin kak Saka lupa. Kak Saka sudah lama bersinar. Memenangkan banyak sekali perlombaan dan saat itu, belum ada aku di hatimu. Tentu saja kegagalan ini ada kaitannya denganku."
"Kamu salah."
"Aku benar kak, pelatih juga benar. Kak Saka saja yang enggan mengakuinya."
"Cilla."
Kak Saka menatap Cilla lekat-lekat.
"Apa maksud ucapanmu?" tanyanya kemudian.
"Aku.. mungkin akan lebih baik jika kita.."
"Stop! jangan katakan apa pun! jika memang benar ini dikarenakan fokusku yang terpecah setelah memiliki kekasih, berarti masalahnya ada padaku. Aku harus memperbaikinya agar bisa tetap fokus dalam segala situasi. Jangan mengatakan apa pun yang membuatku semakin buruk!"
"Maafkan aku kak!"
"Aku harus menghukummu kali ini agar tidak kamu ulangi ucapanmu tadi."
"Baiklah, aku terima, hukuman apa yang akan kak Saka beri?"
"Em.. belum terpikir, aku akan membuat perhitungannya setelah kupikirkan."
"Baiklah akan kunantikan!"
Kak Saka tertawa kecil.
"Setelah beberapa hari tak bertemu, kamu semakin berani dan percaya diri ya?"
Cilla tertawa, Vano melihat keduanya. Untuk yang kesekian kali, ia terluka. Untuk kesekian kali juga, ia mengizinkan dirinya untuk terluka dengan tetap mencintai gadis yang sama.
__ADS_1
...🍁 Bersambung... 🍁...