![INIKAH RASANYA? [ END ]](https://asset.asean.biz.id/inikah-rasanya----end--.webp)
Setelah mencari-cari, akhirnya Vano berhasil menemukan Cilla. Segera ia peluk dan tetap memeluknya meski Cilla meronta, mencoba melepaskan diri. Vano berusaha menjelaskan perihal apa yang baru saja Cilla lihat.
"Bukan urusanku Van, kamu bebas melakukan apa pun," ucap Cilla.
"Jangan salah paham! aku tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya. Dia menyatakan perasaannya tapi aku menolak. Sungguh-sungguh langsung kutolak."
"Kamu juga tidak perlu mengatakannya padaku."
Vano melepaskan pelukannya lalu memegangi kedua pundak Cilla, menatapnya dengan tajam sembari memperhatikan raut wajah yang Cilla tunjukkan.
"Kamu cemburu?" tanyanya kemudian.
"Aku mengerti, ini juga lah yang kamu rasakan setiap kali melihat aku bersama kak Saka. Baiklah, sudah jelas semua sekarang. Kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan gadis mana pun. Tidak ada ikatan apa-apa di antara kita. Tidak perlu saling cemburu dan saling melukai," jelas Cilla seraya menghindar dan beranjak pergi.
"Tunggu!"
Panggilan Vano membuat langkah Cilla terhenti.
"Kapan kamu akan sadar? kalau kamu bisa terluka dan merasa cemburu saat ada gadis lain yang mendekatiku, itu artinya ada aku di hatimu. Kamu pun juga menyukaiku. Jangan lagi menghindar! terima itu dan kita bisa memulainya dari awal!"
__ADS_1
Ucapan Vano benar-benar membuat Cilla terhenyak. Namun, Cilla tetap melangkah pergi dari sana tanpa menoleh lagi ke belakang. Vano pun membiarkan Cilla sebab menurutnya, hal ini sudah membuktikan perasaan mereka. Ia pun yakin, cepat atau lambat, Cilla akan datang kepadanya. Sedikit waktu lagi, tidak lah menjadi masalah.
...🍁🍁🍁...
Sepanjang malam, Cilla sulit untuk memejamkan mata. Tiap kali terpejam, bayangan gadis yang memeluk Vano selalu terlihat. Pada awalnya, Cilla enggan mengakui. Namun, perlahan mulai ia sadari kalau memang benar, Vano telah bertahta di dalam hati.
"Bagaimana memutuskannya? aku terluka ketika melihat kak Saka dengan kak Meta. Aku pun juga terluka ketika melihat Vano dengan gadis yang memeluknya."
Cilla menggelengkan kepalanya, merasa bingung dengan perasaannya sendiri.
...🍁🍁🍁...
Keesokan harinya, kak Saka menghubungi Cilla untuk janji jalan berdua yang telah keduanya sepakati. Cilla bergegas turun dari asrama dan kemudian berjalan berdua dengan kak Saka. Keduanya pergi ke sebuah taman hiburan kota. Saling bergandengan tangan sembari memainkan berbagai wahana. Makan berdua dan saling melempar candaan. Sungguh terlihat seperti pasangan yang tengah di mabuk asmara. Begitu nyaman nan hangat, Cilla sangat menikmatinya.
"Terima kasih!" ucap Cilla, menerimanya.
"Aku akan pergi ke luar kota untuk melakukan pertandingan. Ikutlah denganku!"
"Hah? aku?"
__ADS_1
"Iya."
"Mana boleh seperti itu? aku hanya akan merepotkan kak Saka dan menganggu latihan kakak nantinya? pelatih kak Saka pun pasti tidak akan setuju."
"Selama aku bersedia untuk bertanding, pelatihku hanya akan menyetujui permintaanku."
"Jangan-jangan, terdengar kurang pantas. Kak Saka dan pak pelatih saling membutuhkan. Tidak boleh bersikap demikian!"
"Cilla ku memang yang paling pengertian tapi bagaimana kalau kamu adalah jimat keberuntungan? aku harus membawamu agar dapat selalu menang."
"Hemm.. bisa saja kak Saka."
"Aku jujur, tolong ikut ya! aku tidak akan macam-macam. Semua akan diatur dengan sangat baik. Mulai dari perjalanan, makanan hingga penginapan. Kamu akan memiliki kamarmu sendiri."
Cilla terdiam sesaat sebelum menjawab.
"Sepertinya, aku harus memikirkan ulang tentang hal ini!"
"Baiklah, waktumu hanya sehari karena lusa, kita sudah harus pergi."
__ADS_1
Cilla menganggukkan kepalanya, kak Saka tersenyum begitu manis.
...🍁 Bersambung.... 🍁...